
Beberapa gambar telah diambil dengan beberapa gaya yang berbeda. Lazel yang dari tadi terus berfoto pada akhirnya mulai terbiasa dengan arahan Hyunjae.
Rambut perak panjangnya, dengan kedua sisi kanan dan kiri dikaitkan sedikit ke belakang. Lalu sebagai hiasan tambahan, Lazel menutupi ikatan itu dengan pita kupu-kupu berwarna hitam serta dengan beberapa hiasan lainnya, seperti mutiara berbentuk kalung yang mengikuti ikatan rambutnya.
"Aku akan memperlihatkannya pada Jean. Dan memintanya untuk membuat foto kita sebagai figuran yang berukuran besar."
"H-Hah?! Apa kau harus melakukan itu?"
"Tentu saja, memangnya kapan lagi aku bisa seperti ini denganmu?"
"..............."
Sebagai pose terakhir, Lazel mendapat arahan dari Sang Penata untuk meletakkan kedua tangannya pada dada Hyunjae dalam jarak yang dekat dengan wajah yang menoleh ke kamera.
Iris mata Lazel sangat unik, berwarna pink caramel sehingga membut fhotografer mengaguminya. Selama Hyunjae ada disisi Istrinya, dia tidak akan membiarkan siapapun meletakkan lirikan pria pada Lazel selain dirinya sendiri.
...◇• •◇...
Acara berjalan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Lazel yang cukup kelelahan pada akhirnya duduk manis dan menyantap makanannya.
"Aku juga lapar." Ucap Hyunjae yang duduk di samping Istrinya.
"Ambil sendiri." Jawabnya singkat.
"Aku mau kau menyua-"
"Jangan macam-macam, aku tidak bisa menghajarmu di tengah keramaian seperti ini."
"B-Baik."
Lantunan lagu terus berbunyi. Beberapa tamu yang berdatangan juga menyumbangkan lagu untuk pengantin baru.
Hal itu mengingatkan Hyunjae pada Lazel yang pandai dalam memainkan piano.
"Lazel, bisakah kau memainkan piano untukku?"
"Dasar pria kejam! Seharusnya aku akan melakukannya untuk Hyunji dan Kara."
"Lalu?" Hyunjae mendekatkan wajahnya pada Lazel, "apa aku terlihat peduli? Di dunia ini... selagi ada dirimu, orang lain sama sekali bukan urusanku." Seringainya.
...◇• •◇...
Kakinya melangkah dengan pelan menuju piano hitam tersebut.
Semua pandangan mengarah padanya dan bertanya-tanya tentang apa yang ingin dilakukan Lazel.
Ian yang sedang berkumpul dengan teman-temannya sudah dapat menduga apa yang akan Kakaknya lakukan.
Wanita bergaun merah itu mengambil posisi duduk, secara perlahan kedua tangannya terangkat dan mulai menekan salah satu tuts sebagai pemanasan.
Irama mulai terdengar dan membuat ruangan seketika sunyi dan membuat lantunan musik itu menerobos ke setiap pendengar yang ada. Jari-jari lentiknya terus bergerak, irama yang dia ciptakan semakin lembut di dengar.
Siapa sangka jika salah satu Anggota Keluarga ada yang bisa memainkan piano selain Nezra. Sebuah kehormatan besar dapat ikut bermain dalam acara penting seperti ini.
Hyunjae yang perlahan hanya duduk di tempatnya mulai bergerak dan berjalan mendekati wanita berpita kupu-kupu tersebut.
Iringan irama yang ia mainkan menceritakan sosok yang tidak memiliki apapun namun memiliki perasaan pada sesuatu yang tidak mungkin dapat diraih. Kehadirannya hanya dapat disaksikan di malam hari, di tengah-tengah kumpulan titik cahaya yang nampak seperti kunang-kunang.
Bukan hanya jarak, sudah sangat mustahil untuk berharap padanya. Sinarnya memang terlihat lembut dan hangat, namun jika dirasakan sangatlah dingin.
Yang dapat dilakukan hanya menatapnya dari bawah dengan kepala yang mengadah ke atas. Meskipun cahayanya tidak seterang matahari, namun keredupan yang dimilikinya dapat membawa suasana hati menjadi tenang.
__ADS_1
Hidup ini tidak rapuh, hanya siapa saja yang sanggup menjalaninya maka dia yang hebat. Tidak perlu kau raih, cukup cintai dia dalam diam. Takdir pun tidak akan sekejam itu akan memisahkan dua insan yang diputuskan untuk bersama.
Yang dicintai saat ini bisa saja akan menjadi benci di keesokan harinya.
Pada akhirnya sosok itu hanya bisa mencintainya dari kejauhan tanpa bisa menggapai benda bersinar lembut itu.
...◇• •◇...
Sorakan tepuk tangan memeriahkan suasana. Permainan yang sangat menganggumkan. Irama yang dia mainkan seperti menuliskan sebuah puisi melalui angan-angan dan juga pikiran.
"Hahaha~ terima ka-"
Sosok pria yang memiliki rambut hitam itu tengah menatapnya dengan kedua iris matanya yang berwarna hitam lembut. Senyuman yang ia tunjukkan bukan semata-mata seperti tatapan yang biasa.
Lazel cukup terkejut melihat kehadiran Hyunjae di hadapannya yang sedang duduk di atas piano sembari melihatnya bermain.
"Sejak kapan kau kesini?" Tanya Lazel yang tanpa tahu tersenyum saat mulai berbicara dengan Hyunjae.
Tangannya mengusap rambut perak Lazel ke depan, "sejak aku mendengar irama itu." Jawabnya.
Lazel terkekeh pelan, "apa-apaan... bukankah kau sudah mendengarnya lebih dulu?" Ucapnya dengan sedikit tawa.
"Berarti aku termasuk orang yang spesial."
Wanita itu berdiri dari duduknya dan menatap Hyunjae dengan sebelah alis yang terangkat, "benarkah? Kurasa aku tidak pernah berpikir seperti itu." Sahutnya.
Lazel memberikan penutupan dengan menundukkan badannya sebagai ucapan terima kasih.
...◇• •◇...
^^^"Karaaaa!! Selamat atas pernikahannya!!"^^^
"Jeaaan! Kau kembali begitu cepat."
"Y-Yah... aku juga tidak sengaja mengucapkannya."
^^^"Apa?? Kau mengatakannya sendiri?"^^^
Lazel mengambil alih ponsel Kara, "HAHAHA! BUKANKAH DIA SANGAT BERANI?!" Ucapnya dengan suara yang kuat.
Mereka tidak melupakan Jean yang saat ini berada di Jepang. Meskipun wanita itu adalah pendatang baru yang sempat menjadi Maganer saat Hyunjae bekerja sebagai Model. Tanpa dirinya pun suasana akan tetap hampa.
Jauh sebelum harinya tiba, Lazel sudah memberi tahu Jean mengenai pernikahan Kara dan Hyunji di pertengahan Musim Panas. Jean yang hanya mengetahui perasaan Kara terhadap Hyunji terkejut bukan main. Dirinya tidak menyangka jika Hyunji akan benar-benar menikahinya.
Saat ini suasana panggung cukup riuh, dimana satu ponsel mereka menggunakannya secara beramai-ramai. Sebagai mempelai pria, mau tak mau ia menyerahkan singgahsananya untuk para wanita yang terus menghimpitnya agar bisa berbicara dengan Jean.
"Ahahahahahaha! Mempelai prianya turun." Tawa Hyunjae pada Kakaknya yang saat ini sedang duduk bersamanya sembari melihat kehebohan Lazel dan yang lainnya di atas panggung.
"Pfft! Posisimu dikalahkan oleh para wanita." Sahut Gyuu yang duduk di belakang Hyunjae.
...◇• •◇...
Kara merasa bahwa pernikahannya ini sangatlah luar biasa. Bersama dengan teman-temannya yang sangat dekat dengannya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa akan saling mengenal dengan Lazel dan keluarga Pietra lainnya.
Perasaan yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terkabulkan menjadi sebuah pernikahan. Semua itu karena pertemuannya dengan Lazel saat ia melihatnya di salah satu mall.
Jika diingat-ingat lagi Kara tidak bisa berhenti tersenyum. Meskipun pada dasarnya Lazel memang tidak melalukan apapun, namun Kara tetap merasa bersyukur dapat bertemu dengan sosok seperti Lazel.
Acara berlangsung selama seharian, sebagai penutup acara mereka akan mengambil foto lagi bersama dengan semuanya. Setelah pengantin pria dan wanita turun, Nezra mulai mengambil alih panggung dengan berfoto bersama dengan kedua Putranya.
Pria berjas biru tua itu memberikan senyuman terbaiknya pada Kara yang menunggunya di bawah. Alhasil Kara membuang wajah dan menghantupkannya pada Vicy.
__ADS_1
Sungguh suasana yang sangat membahagiakan bagi siapapun.
...◇• •◇...
Matahari mulai terbenam, langit berubah warna menjadi jingga.
Hyunjae masih di tempat sambil menunggu Lazel kembali untuk ikut mengantar Hyunji dan Kara menuju hotel. Sambil menunggu Lazel kembali, dirinya akan memesan tiket untuk keberangkatan Lazel besok menuju Amerika.
Suara klakson berbunyi dan membuatnya menoleh.
Tanpa menunggu lama, ia mengambil alih kemudi dan Lazel berpindah tempat ke samping.
...◇• •◇...
Lampu malam sudah terlihat di pinggir jalan. Acaranya berakhir sejam yang lalu dimana matahari akan terbenam. Seharusnya mereka sudah tiba di rumah. Namun Lazel bersikeras untuk ikut mengantar kedua mempelai untuk pergi ke hotel sekaligus melihat keadaan kamar untuk malam pertama.
"Haah... seharusnya kau mendengarkanku. Besok pagi pesawatmu akan tiba dan kau tidak memiliki waktu istirahat yang cukup." Ujar Hyunjae pada Lazel.
"Apa kau tahu, kamarnya sangat bagus! Aku ingin mengambil foto tapi Gyuu menarikku keluar," Lazel mengepalkan tangannya dengan kuat. "Sialan... bajing*n itu menghalangiku."
"????" Hyunjae heran jika pembahasan Lazel lari dari pertanyaannya dan kembali membahas Kara dan juga Hyunji, "benarkah? Apa kalian juga membantu Kara melepaskan gaunnya?" Kini Hyunjae hanya ingin mengikuti alurnya saja.
"Hm! Aku membantunya, bukan hanya itu, aku tidak menyangka jika hotel yang mereka pesan sangat mahal." Seketika Lazel mulai tergiur hal-hal yang berbau dengan uang.
"S-Sangat jarang nelihatnya bercerita seperti ini." Hyunjae tidak menyangka jika Lazel bisa seterbuka ini padanya.
Untuk sementara ini dia akan mendengarkan cerita dari Lazel. Hal ini sangat jarang dia temui, apalagi mengenal ciri-ciri sifat Lazel yang mudah sekali marah. Sepertinya ada banyak hal yang belum ia ketahui mengenai Lazel.
Dan setelah memperhatikan apa yang terjadi di seharian penuh itu. Ternyata situasi yang menyenangkan seperti acara pernikahan Kara sebelumnya dapat menampakkan rasa senang Lazel.
"Hahahaha! Apa kau tidak mengambil gambar kamarnya?" Tanya Hyunjae yang mulai tertarik pada dongeng Lazel yang mendetailkan keadaan kamar Kara.
"T-Tidak."
"Ck! Padahal aku ingin melihat bagaimana dekorasinya."
Ia mengambil ponselnya kembali yang terletak di samping, "aku akan meminta Kara untuk-"
"Hahahahahaha!" Tawa Hyunjae membuat Lazel mendadak bingung dan menatap Suaminya dengan heran, "jika seperti ini aku akan semakin menyukaimu." Ucapnya pada Lazel.
"!!!!" Kini Lazel akhirnya sadar atas apa yang sudah dia katakan pada Hyunjae, "a-aku baru sadar jika mulutku terus mengoceh tanpa henti." Batinnya.
Karena Hyunjae menegurnya seperti itu, Lazel pun mendadak diam dan seketika tenang. Wajahnya pun menoleh ke arah lain karena menyembunyikan perasaan malu.
Hyunjae mengelus kepala Lazel dengan halus lalu turun ke arah pipinya dan mencubitnya pelan.
Lampi merah yang sudah dua meter ada di hadapannya membuat mobil itu perlahan berhenti sejenak.
"Lazel... apa hal seperti ini dapat membuatmu senang?" Ia mulai bertanya kembali meskipun Lazel tidak ingin menolehkan wajah ke arahnya.
"T-Tidak juga."
"Apa kau tidak mau berbicara jujur?"
"Jujur? Apa itu terlihat seperti bohong?"
"L-Lazel! Lihat itu!"
"A-Ada apa?! Apa ada bintang ja-"
Dirinya sangat tahu mengenai apa yang akan membuat wanitanya akan menoleh. Dan hal itu dia akan lakukan untuk yang pertama kalinya bagi Lazel, namun tidak dengan dirinya.
__ADS_1
Ucapannya terbungkam sesaat. Sebuah bibir berhasil membungkam bibirnya dengan cara yang eksotis. Bukannya segera menjauh, justru Hyunjae lebih memperdalam ciuman itu dan lebih merasakan sensasi mulut Lazel yang terus berbicara tanpa henti.