
"AAAAAAAAAAAAAA"
Bagaikan suara sirine yang bermasalah.
"K-Kau... kenapa kau kesini?" Teriakan Lazel membuatnya ikut panik dan menggunakan handuk itu untuk menutupi sesuatu yang berada di atas pinggulnya.
"KEMANA PERGINYA PAKAIANMU HAAAH?!" Teriaknya dengan wajah yang full memerah.
"Tunggu," wanita itu memperhatikan sekitarnya, terutama pada benda-benda yang nampak asing. "Dari mana peralatan ini datang?" Tanya Lazel yang diselingi dengan rasa malu dan kesal.
"Aku membawanya dari rumah." Jawab Hyunjae sembari mengarahkan jempolnya ke samping, dimana arah kediamannya berada.
"Kenapa tanganku..." Lazel berpikir sejenak dan memperhatikan kedua tangannya dan tubuh Hyunjae secara bergantian. "K-Kau! Ini keringatmu?!"
"Hm, itu benar." Jawab Hyunjae dengan bangga.
"JOROK! APA KAU TIDAK MEMBERSIHKANNYA?!"
"Itu karena kau yang tiba-tiba masuk."
"AAARGHHHH!!" Lazel membalikkan badannya dan berniat untuk pergi dari sana.
Akan tetapi, sebuah tangan yang besar menempel pada pintu yang ada di hadapannya.
"Jika kau ingin bertengkar kenakan dulu pakaianmu." Ujar Lazel yang kembali merasa malu karena kecerobohannya sendiri.
"Kau sendiri mau kemana?"
"Tentu saja mandi dasar sialan! Siapapun pasti akan melakukannya jika..." wanita itu seketika terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Jikaa~" suara lembut menghembus telingnya. "Hei, apa kau mau mandi bersama?" Ajak Hyunjae.
Dengan paksa Lazel membuka pintu, disaat itulah Hyunjae tidak memperhatikan apa yang ada di hadapannya dan membuat dahinya terbentur keras dengan pintu tersebut.
...◇• •◇...
Raut masamnya tidak berubah semenjak Hyunjae berusaha menggodanya. Lazel tahu jika itu hanyalah tipu muslihat para laki-laki, namun dirinya sama sekali tidak bisa menghapus kenangan yang ia lihat sebelumnya.
"Sialan... keparat itu..." ucapnya dengan geram.
Usai mandi, Lazel lekas bersiap dan menyempatkan diri untuk berbicara dengan Hyunjae perihal berita Jean dan dirinya.
...◇• •◇...
Ia masih membayangkan bagaimana rona merah di wajah Istrinya saat melihat sang Suami dalam keadaan vulgar.
Sebenarnya hal ini sudah menjadi biasa bagi Hyunjae. Bahkan disaat dirinya tidur di malam hari sering tidak memakai apapun dan hanya beralaskan selimut. Merasa bahwa itu rumahnya sendir, Hyunjae pun merasa semena-mena.
"Memangnya kenapa? Dia kan Istriku." Ucapnya dengan bangga.
Hyunjae kembali memikirkan rasa panik Lazel disaat berlari-lari hanya untuk menemui dirinya.
"Apa dia ingin menyampaikan sesuatu?" Pikir Hyunjae.
...◇• •◇...
Seorang wanita berpakaian biasa menuruni anak tangga dan membuat seseorang yang bersantai di atas sofa tertarik.
"Mau kemana wanita cantik ini?" Tanya Hyunjae dengan memasang wajah yang menggoda.
Ia menoleh karena ucapan seseorang, "ternyata kau disini bajing*n."
"Sepertinya aku harus memberi sihir pada mulut manismu itu."
"Jean sudah mengetahui siapa dalangnya." Ucap Lazel dengan serius.
Mendengar Lazel yang mengatakan hal itu membuatnya bangkit dari sofa.
"Lalu, apa rencanamu?" Bukannya merasa senang, justru Hyunjae menekuk wajahnya dan menurunkan kedua alisnya. Persis seperti seseorang yang sedang kesal.
"Bukan urusanmu."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi hingga mengatakan apa yang akan kau lakukan." Ujar Hyunjae yang mulai menghalangi Lazel turun ke lantai bawah.
"Seharusnya dia senang, tapi..." perasaan lama kembali terbuka begitu saja, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum, meskipun terlihat sedikit miris. "Apa kau khawatir jika-"
"Tentu saja aku khawatir padamu," sela Hyunjae yang membuat Lazel memakan kalimatnya sendiri. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang ceroboh sehingga membuat dirimu ikut terseret ke dalam masalah ini."
Kletak!
__ADS_1
Tanpa sadar Lazel menjatuhkan ponselnya ke bawah.
"Hm? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Hyunjae sembari mengambil ponsel Lazel yang terjatuh dan meluncur ke bawah.
"T-Tidak," ia melanjutkan langkahnya dan merebut ponselnya dari genggaman Hyunjae. "Aku tidak bodoh sepertimu yang pantas untuk di khawatirkan." Ucapnya dengan sedikit kasar.
"Hm? Apa kau pernah mengkhawatirkanku?" Tanya Hyunjae yang bersandar pada pagar tangga.
"Tidak pernah! Dan aku tidak berniat melakukannya!"
...◇• •◇...
Untuk pertama kalinya seseorang menyelesaikan masalah demi dirinya. Apalagi itu dari Lazel yang selalu membenci dirinya.
Ia tidak bisa melakukan apapun untuk Istrinya, bahkan dirinya hanya bisa berdiri dan menatap dari kejauhan. Meskipun wanita itu selalu beralasan melakukannya demi Jean, yang merupakan temannya.
Tanpa dilihat siapapun, kedua tangannya terkepal kuat. Tatapannya terlihat dingin. Penampilannya seperti itu adalah penampilannya di masa lalu, dimana dirinya masih tidak mengenal apapun.
"Siapapun pelakunya, akan kubuat berlutut di hadapan Lazel." Ujarnya dengan nada yang sedikit tertekan.
...◇• •◇...
Jean tidak berharap bahwa akan ada negosiasi dalam hal ini. Selagi ada Gyuu sepertinya semuanya akan baik-baik saja. Ditambah dengan Lazel yang tak kenal ampun.
Sebagai langkah awal, dirinya hanya mengetahui pelaku utama yang mengantarkan berita itu ke penerbit dimana mereka membuat kesepakatan dengan Hyunjae.
Suara klakson mobil terdengar.
"Itu mobil Lazel," Jean bersiap-siap untuk berangkat. "Wu, dengarkan Ibu. Jadilah anak baik, maka Ibu akan mengabulkan seluruh permintaanmu." Ucap Jean pada Putrinya.
"Hm!" Angguk anak itu dengan senang.
Sebelum ada yang melihat, Jean membawa Putrinya dengan cepat memasuki mobil dengan bantuan Vicy.
...◇• •◇...
Seharusnya mereka membiarkan Jean untuk menetap di rumah bersama dengan Putrinya. Sama seperti yang Hyunjae lakukan saat ini. Namun Jean bersikeras untuk tetap ikut karena merasa bersalah hingga membuat masalah sejauh ini.
"Jean harus membawa Putrinya..." pikir Lazel yang saat ini sedang menyetir.
"Bagaimana dengan Gyuu? Apa dia akan ikut?" Tanya Jean.
"Dia sudah berada disana, kita hanya akan menyusulnya."
...◇• •◇...
"Apa ini rumahnya?" Tanya Lazel sembari memperhatikan sekitar.
Jean tidak ikut keluar bersama mereka, sedangkan Vicy juga berada di dalam mobil untuk memantau sekitar atau menghubungi bantuan jika terjadi yang tidak-tidak.
"Lazel." Panggil Gyuu yang baru saja terlihat.
"Gyuu, apa yang terjadi? Kau sudah bertanya?"
"Dia menyembunyikannya."
"Hah?"
"Melakukan hal ini juga menguntungkan dirinya, oleh karena itu dia berusaha untuk terdiam."
"Jadi, apa kau tidak berusaha untuk memanggilnya?"
"Aku tidak bisa melakukannya."
Lazel meninggikan lengannya dan melangkah ke depan, "kemari, aku akan menendang-"
Dengan cepat Kara menghalangi Lazel, "tu-tunggu dulu! Kau tidak bisa memainkan emosi begitu saja. Saat ini kita berada di permukiman penduduk, bukan di gunung."
"Aku tahu harus melakukan apa." Seketika wajahnya berubah menjadi seorang briliant.
...◇• •◇...
Saat ini Hyunjae merasa gelisah dengan apa yang akan dilakukan Lazel. Ia sangat mengenal wanita itu dengan baik, tentu saja. Karena dirinya adalah Suami dari wanita liar itu.
Biasanya Lazel tidak bisa menahan emosinya disaat rencana tidak berjalan sesuai keinginannnya.
Hari juga mulai malam, sedangkan kabar dari Lazel belum juga tiba.
Drrt!
__ADS_1
"Vicy?"
Hyunjae pun mengangkat panggilan itu, "ada apa?"
^^^"Anda memang memiliki Istri yang luar biasa."^^^
"Hah?"
Panggilan terputus begitu saja.
"????" Hyunjae sebenarnya manusia yang sangat penyabar, namun kesabarannya harus diuji coba karena tindakan anak kecil.
...◇• •◇...
"B-Bagaimana bisa kau melakukan hal sekejam itu..."
"Kenapa memangnya? Bukankah semua orang juga sama."
"T-Tapi mengapa harus Black Card?"
"Dengar sayang~ jika kau mencari keadilan di dunia ini, itu sama sekali nihil. Bahkan seorang korupsi masih bisa menikmati tidur di atas ranjang empuk dibandingkan pencuri pisang yang merasakan dinginnya lantai penjara." Ujar Lazel dengan seringainya yang tajam.
"..............."
"Sejujurnya kalian harus bersyukur karena Lazel memilih melakukan ini dibandingkan menggunakan emosinya." Sahut Gyuu yang sangat memahami keadaan.
"Oh... benar juga."
"Ck! Padahal aku sangat ingin mencekik perempuan itu."
Pada akhirnya mereka berhasil membawa kebenaran dan akan menuntaskannya malam ini juga. Lagipula Lazel tidak ingin menunda-nunda masalah ini.
Meskipun terdengar menyedihkan, Lazel tidak mungkin membuang-buang uang hanya untuk membuka mulut seseorang. Akan lebih baik menipunya, itulah yang dipikirkan Lazel Pietra.
"Ja Heul..." tangannya terkepal sekuat mungkin sehingga cincin yang ia kenakan melukai tangannya sendiri.
...◇• •◇...
Sebuah cahaya biru menerangi malam, para ikan-ikan berenang kesana kemari dengan bebas. Pemandangan itu cukup indah untuk dilihat.
Akurium terbesar di kota, adalah milik keluarga Heul. Yang merupakan anggota keluarga Ja Heul.
Sebuah rumah mewah tepat berada di samping akurium besar tersebut dengan nuansa putih krim yang menyatu. Lampu emas bergelimang di langit-langit rumah sebagai penghias dan penerang teras.
Pintu rumah itu akhirnya terbuka setelah mendapatkan beberapa ketukan dari dua orang yang berdiri di depan pintu itu, "hm? Siapa kalian?" Seorang wanita yang sudah memiliki keriput di wajahnya di duga sebagai Ibu dari Ja Heul.
"Apa kami bisa bertemu dengan Ja Heul?" Tanya Kara.
"Ibu, siapa yang-!!!!" Seorang perempuan yang belum terlalu Kara kenal namun Gyuu sangat jelas mengenalnya.
"Ibu! Tutup pintunya!" Teriak Ja Heul dari dalam.
"H-Hah?!"
Tap!
Gyuu menghalangi pintu itu tertutup dengan menggunakan kakinya sebagai sanggahan agar pintu tetap terbuka.
Gyuu membuat jari telunjuknya berdiri di depan bibirnya dan berbicara pelan, "shh... Lazel ada bersamaku. Kau sendiri tahu bukan jika berhasil membuat emosinya ikut handil dalam masalah ini?"
Lazel saat ini lebih tertarik pada akurium besar yang menyinari malam hari dibandingkan permasalahan utama mereka. Hal itu membuat Gyuu dan Kara merasa sedikit lega, karena pada dasarnya Lazel tidak mungkin melakukan hal lain dengan niat yang setengah-setengah. Apalagi saat melihat Ja Heul yang ada di hadapannya.
"Biarkan kami bertanya mengenai beberapa hal padamu." Ujar Kara yang saat ini berusaha membantu Gyuu.
"J-Ja... apa yang terjadi?" Tanya Ibunya dengan wajah yang ketakutan.
"Masuk." Ujar Ja Heul.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, Gyuu dan Kara pun mulai memasuki rumah itu tanpa membuat keributan.
"Ja Heul... aku akan langsung bertanya pada intinya," kini Kara memulai pembicaraan dengan wajah yang sama sekali tidak ramah. "Mengapa kau mencari masalah dengan kami?"
"Setidaknya buatlah alasan yang masuk akal sehingga kami bisa mempercayainya." Sahut Gyuu.
Untuk beberapa saat Ja Heul tidak memberikan kalimat apapun atau melakukan apapun sebagai penjelasan. Namun disaat dirinya mulai bertindak, hal itu membuat Gyuu panik bukan main, sebuah pistol keluar dari balik tubuh Ja Heul.
"Dasar bajing*n! Seharusnya ini berjalan dengan la-"
BRUAK!
__ADS_1
Pintu utama hancur begitu saja karena ulah seseorang.
"Aku lupa... seharusnya Kara dan Gyuu ada disini." Ujar Lazel yang saat ini tidak mengenal kawan atau lawan.