
Saat ini suasana di kota cukup panas, namun beberapa pejalan kaki masih dapat menahannya. Banyak dari mereka yang mengenakan pakaian tipis, dan mengenakan topi sebagai penutup kepala.
Matahari meninggi dengan sempurna tanpa awan-awan yang menutupinya. Musim Panas Tahun ini sepertinya akan sedikit menarik.
Terlihat sepanjang jalan yang mulai terhiasi dengan beberapa corak. Malam ini akan menjadi malam yang meriah, dimana mereka akan merayakan Festival Musim Panas.
Sebuah jalan poros atau gang yang memiliki ukuran jalan yang besar, disana terdapat sebuah kuil. Dan di tempat itulah akan dijadikan tempat Festival.
...◇• •◇...
Pohon-pohon sakura yang sangat rimbun dan besar di sebuah taman terlihat begitu cantik.
Seseorang dengan kaos putih berlengan pendek, serta celana training panjang berwarna hitam terlihat sedang mengamati pohon-pohon itu dengan seksama. Wajahnya tidak begitu terlihat karena terhalangi dengan topi yang dia pakai.
Para gadis atau wanita yang berlalu lalang cukup berisik dan terus membicarakan tentang dirinya.
"Apa aku memang terlihat seperti pendatang?" Pikirnya.
Hambusan angin yang membuat pohon itu menari menggoyangkan kedua antingnya yang memiliki bentuk yang sama dengan awal huruf nama yang dia dimiliki.
Tak lain adalah Hyunjae. Pria itu berhasil berada di tempat yang Jean tunjukkan. Namun untuk saat ini ia akan berkeliling sendiri dan melihat-lihat sekitar.
Untuk masalah Lazel, itu tidak perlu lagi pikirkan. Lagipula saat ini ia berada di kota atau negara yang sama dengan Istrinya. Sebelum bersantai seperti ini, Hyunjae sudah menyebarkan mata-mata atau petugas untuk mengatur akses apapun yang berkaitan dengan lokasi, terutama untuk bandara yang ada disana.
Hyunjae menggunakan akses yang dia punya untuk mengumpulkan data mengenai sekumpulan pendatang atau yang akan melakukan penerbangan ke tempat lain. Ia tidak ingin membiarkan hal ini terlewati begitu saja, oleh karena itu dirinya sangat waspada jika berkaitan dengan masalah ini.
"B-Bisa kita berfoto bersama?"
"Hm?" Hyunjae menoleh dengan wajah yang heran, "Bahasa Jepang?"
Seorang gadis yang ia perkirakan masih duduk di bangku sekolah menghampiri dirinya dengan menunduk di hadapannya sebagai permintaan yang sopan. Sedangkan di belakang gadis itu terdapat orang lain lain yang dia duga sebagai sosok yang akan mengambil foto mereka berdua.
"Sorry, i'm not very good with this languange, what if i use another languange?" Tawarnya dengan wajah yang ramah.
"I-Iya! M-Maaf!"
"Hahaha tidak apa-apa~"
"J-Jadi... apa kau mau?"
"Ku hargai penawaranmu itu. Tapi maaf, aku yang seperti ini sudah memiliki seorang Istri." Ujarnya dengan bahasa yang mereka sepakati.
"A-Apa?? Anda masih sangat terlihat muda jika harus dikatakan sudah menikah." Gadis itu terlihat sangat terkejut saat mendengar pengakuan dari Hyunjae.
"Benarkah?"
Pada akhirnya mereka tidak mendapatkan apapun selain tundukkan serta ucapan maaf.
Sangat mudah untuk mengakuinya, disana mereka memiliki sifat atau sikap santun yang luar biasa. Walaupun para gadis yang tadi cukup berani menawarkan diri untuk berfoto.
Ada banyak pria tampan di luar sana, tapi tidak semuanya memiliki sifat seperti dirinya. Oleh sebab itu, terkadang hal ini sering dia khawatirkan.
__ADS_1
"Baiklah! Kira-kira dimana Festival akan dilakukan?" Tanya pria bertubuh tinggi itu dengan memandangi area kota.
...◇• •◇...
Jika diingat-ingat kembali, dia pernah mendatangi kota ini bersama dengan Ayahnya. Saat itu Adam mendapatkan pertemuan di luar negara disaat dirinya masih memegang Perusahaan Pusat Pietra. Untuk itu ia membawa Hyunjae berjalan-jalan dan memperkenalkannya pada beberapa teman kerjaanya.
Saat itu dirinya masih berumur delapan atau sembilan tahun. Setelah itu tidak pernah mengunjunginya lagi. Namun siapa sangka jika di umur yang sudah dewasa dirinya akan berkunjung lagi untuk membawa seseorang kembali ke dalam hidupnya.
Setelah tiba di tengah malam, ia menyempatkan dirinya untuk beristirahat sejenak di sebuah hotel yang cukup dekat dengan Ibu Kota. Beberapa perumahan biasanya terletak di dalam gang yang besar.
...◇• •◇...
"Selamat pagi~" seorang wanita kaos hitam polos berlengan panjang baru saja memasuki sebuah butik yang sama di setiap harinya.
"Pagii~" sapaan di dalam toko membuatnya sedikit bersemangat.
"Seperti biasa, penampilan mudamu selalu terlihat jika kau-" mulutnya seketika terbungkam oleh temannya sendiri.
"T-Tidak, dia tidak mengatakan apapun. Silahkan bekerja Yanra." Sahut temannya yang lain sembari menahan mulut seseorang yang ingin menabur kesedihan lagi bagi Lazel.
"Y-Ya, baiklah."
Bahkan di tengah Musim Panas tidak akan ada berlibur dan tetap akan bekerja. Lagipua pekerjaan yang dilakukan Lazel terkadang cukup mudah, dirinya hanya sering mengukur tubuh seseorang dan mencatatnya dengan detail.
Rambut peraknya terkepang ke belakang dengan pita kupu-kupu berwarna biru laut dengan beberapa hiasan putih lainnya.
Lazel tidak pernah bersantai di dalam tempat kerjanya. Jika ada sesuatu yang harus dia lakukan, maka dia akan melakukannya. Seperti membantu temannya yang lain saat sedang menjahit.
Lazel yang memiliki tubuh tinggi dan ramping selalu digunakan sebagai model percobaan untuk membuat pakaian atau gaun.
Terlepas dari itu, dirinya juga memiliki beberapa teman yang kini berada di tempat yang cukup jauh. Rasa khawatir terkadang menghantui dirinya, rasa takut mengubur dirinya. Sehingga berpikir bahwa semuanya sudah melupakan dirinya. Lagipula memang ini yang dia harapkan, untuk apa terus berharap? Karena Lazel dan Ian tidak pernah memutuskan atau berniat kembali ke masa lalu.
Lazel tersenyum tipis di tengah-tengah berdiri di hadapan sebuah patung dengan gaun pengantin, "semoga perasaan Kara terbalaskan." Batinnya dan harapan kecilnya.
...◇• •◇...
"Yahh... lagipula sudah tidak diragukan lagi, pria seperti Hyunjae pasti memiliki salah satu wanita yang menyimpan dendam padanya." Ucap Gyuu tanpa menyaring ucapannya.
"Hm, aku juga berpikir seperti itu." Vicy setuju dengan ucapan Gyuu, meskipun berbumbu dengan sindiran yang langsung menusuk pada hati Sang Ibu.
Seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, meskipun Hyunjae pergi sesaat untuk membawa Lazel dan Ian kembali, mereka tetap akan mencari seseorang yang berada di balik layar. Masalah itu tidak bisa dihindari begitu saja, saat ini nama Hyunjae akan tercoreng begitu saja karena berita yang tidak masuk akal.
"Menggunakan sumber penerbit... serta sumber yang belum diketahui. Belum lagi jika pusat ini cukup terkenal, bahkan aku pernah meminta pada mereka secara pribadi untuk meliput sebuah acara di perusahaan." Keluh Nezra dengan panjang lebar.
Gyuu dan Vicy yang sudah mendapatkan pendapat atau pemikiran mereka, sedangkan Hyunji dan Kara belum mengatakan apapun. Keduanya masih memperhatikan berita itu dan berusaha untuk menemukan sesuatu yang berlawanan dengan pendapat Gyuu dan juga Vicy.
"Jean berasal dari Jepang... sudah pasti jika dia adalah pendatang. Tapi... dengan Hyunjae? Apa ini masuk akal?" Hyunji masih nampak bingung dengan berita itu, sedikit tidak masuk akal, tapi untuk menjelaskannya sedikit sulit atau akan terdengar kasar.
"Pemikiran setiap orang berbeda," kini Kara mulai menatap Hyunji. "Bayangkan saja, jika beberapa dari orang yang melihat ini mudah percaya? Hyunjae yang memiliki paras tampan memikat hati wanita pendatang dari negara lain." Ujarnya.
"Bukankah itu terlalu mencolok? Seharusnya Hyunjae sudah melakukan tindakan sialan berulang kali. Bahkan aku yakin jika banyak wanita di luar sana yang mengetahui jika Hyunjae tidak pernah bertahan dengan satu perempuan saja. Benar bukan?" Jelas Kara.
__ADS_1
"Jadi masksudmu... pelakunya tidak meletakkan dendam pada Hyunjae?" Tanya Hyunji.
"Menurutku ya. Karena apa untungnya? Hyunjae yang dulu begitu liar tidak pernah membiarkan siapapun mengekspos dirinya. Namun yang satu ini, dia seolah-olah mengetahui apa yang harus dia lakukan." Kara menatap lembaran berita itu dengan kesal.
"Lazel... wanita itu dendam pada Lazel. Yang sudah pastinya sebagai Istri sah dari Hyunjae." Kini Gyuu mulai terhubung dengan pemikiran mereka berdua.
...◇• •◇...
"De-Dendam pada Lazel?!"
^^^"Itu menurut kepastian kami. Lagipula untuk apa mereka mengekspos dirimu seolah-olah tidak akan terkena akibatnya?"^^^
Hyunjae mendapatkan panggilan dari Hyunji, namun yang berbicara saat ini adalah Kara. Wanita itu memberitahu lewat panggilan jika sasaran pelaku itu adalah Lazel. Sehingga membuat pikiran mereka menyatu. Yaitu... dengan berita seperti itu, Lazel yang menjauh akan semakin menjauh.
Dan intinya adalah... Sang Pelaku mengetahui keadaan buruk Keluarga Pietra dan berusaha untuk memperburuknya lagi.
Meskipun Hyunjae berada di tempat lain, namun mereka yang mencari pelaku itu harus tetap menginformasikan pada Hyunjae.
Dari sekian banyaknya masalah yang buruk. Yang lebih buruk lagi adalah seseorang yang mengetahui keadaan Keluarga Pietra saat ini, dimana mereka telah kehilangan kedua anggota keluarga.
Pria berambut hitam itu membanting tubuhnya pada sofa yang ada di ruang televisi dan menghadap pada dinding kaca atau jendela yang berukuran besar.
"Apa Ibuku baik-baik saja?"
^^^"H-Hm, beliau baik-baik saja."^^^
"Kara berbohong," ujarnya dalam hati. "Apa... apa aku harus kembali?"
^^^"T-Tidak! Jangan bodoh! Kau pikir kesempatan ini akan kembali dua kali?!"^^^
Terdengar suara teriakan Gyuu yang bergeming di gendang telinganya.
"Meninggalkan masalah seperti itu pada kalian... sedangkan aku..." Hyunjae membawa dua masalah sekaligus di masing-masing tempat yang berbeda.
^^^"Bawa Lazel dan Ian kembali."^^^
Suara seorang wanita yang sangat dia kenal mulai berbicara lembut padanya.
^^^"Apa kau terus berpikir jika hanya kau yang bisa menyelesaikan ini tanpa bantuan orang lain?"^^^
"T-Tapi Ibu..."
^^^"Apa kau mau Lazel mengetahui hal ini?"^^^
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya ikut terlibat." Ucapnya dengan suara yang lantang.
^^^"Seiring kami berusaha mengungkapnya, bawalah mereka kembali."^^^
"..............."
Pembicaraan mereka usai dan diakhiri dengan suara Ibunya serta nasihat yang diberikan.
__ADS_1
Hyunjae tidak menyangka jika Lazel yang sudah pergi ke tempat lain akan tetap menjadi sasaran bagi seorang pelaku. Hingga saat itu terjadi, maka tidak ada alasan lagi bagi Lazel akan berdiam diri. Bahkan tanpa tahu wanita itu benar-benar berkumpul di tempat yang sama namun dengan penampilan yang berbeda.
Ia tidak akan membiarkan Lazel mengetahui masalah ini, karena untuk beberapa saat ke depan, dirinya akan berusaha membujuk Ian dan Lazel untuk kembali.