
"Huh??"
Wajahnya saat ini terlihat sangat bodoh, perkataan Ian hampir membuatnya tidak bernafas.
"Apa kau tidak dengar?" Tanya Ian dengan ekspresi kesal.
"K-Kau mengizinkanku mem-membawa Lazel kembali??" Hyunjae bertanya balik dengan wajah yang terkejut.
"Ya."
"T-Tapi bukankah kau menolaknya?"
"Haa?? Jadi apa aku harus menolaknya lagi?"
"T-Tidak, jangan lakukan."
Hyunjae merasa penasaran dengan perubahan pada Ian, sebelumnya, pada saat mereka bertemu. Pria berambut perak itu menatap dirinya dengan pehh dendam, namun saat ini semuanya berubah, bahkan sampai mengizinkan Lazel untuk pergi bersamanya.
Sebenarnya ia sedikit ingin merasa tahu apa alasannya, tapi setelah melihat raut wajah Ian yang cukup terlihat baik, dia pun mengurungkan niat.
"Kalau begitu, kau juga akan ikut bukan?" Ujar Hyunjae.
"Hm, tapi sebelum itu ada yang harus ku bicarakan dengan Kakak," Ian memiringkan posisinya dan mendapatkan Hyunjae yang berdiri di sampingnya. "Aku juga ingin memberitahukan sesuatu padamu." Ujarnya.
"????"
...◇• •◇...
^^^"B-Benarkah?!"^^^
"Hm! Aku awalnya juga tidak paham, tapi Ian akan membicarakan sesuatu pada Lazel, begitulah yang dia katakan padaku."
^^^"Hm... cukup aneh mendengar Ian mengizinkan Lazel pergi begitu saja, ditambah dirinya sendiri ikut kembali."^^^
^^^"Jangan bilang aneh! Bukankah bagus jika keduanya berniat untuk kembali?!"^^^
Suara Gyuu terdengar sangat jelas jika dirinya ikut berkomentar dalam hal ini.
Sebelumnya Ian memang mengajaknya bertemu, padahal awalnya ia sama sekali tidak menyadari atau tidak mengetahui siapa yang menghubungi dirinya. Tanpa tahu, orang itu adalah Ian sendiri.
Dia datang dengan niatnya sendiri, dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dia sangka.
^^^"Tapi Hyunjae, kau masih belum bisa membawa keduanya kembali sebelum masalahmu dan Jean berakhir."^^^
"A-Aku hampir melupakannya," Hyunjae mengusap rambutnya ke belakang dengan helaan nafas yang cukup berat. "Aku akan melakukan sesuatu, kalau begitu ku tutup panggilan ini."
^^^"Hm, sampai jumpa."^^^
Pria bertubuh sexy itu menap dirinya sendiri dari balik pintu kaca geser yang dapat menemukannya dengan balkon. Cahaya gelap membuat kaca itu memantulkan dirinya di suasana yang terang.
Wajahnya terlihat kosong sembari memikirkan apa yang Ian katakan padanya mengenai Lazel. Sejauh ini, yang dia ketahui, Lazel sama sekali tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya pada siapapun, atau bahkan sesorang diri. Dan yang semakin membuatnya depresi adalah, tangis Lazel bermula pada saat ia membuka hadiah pemberiannya.
Dan hal itulah yang membuat Ian merubah pikirannya.
Sebenarnya Hyunjae juga tidak berniat untuk melakukan apapun pada Lazel melalui hadiah tersebut. Namun siapa sangka jika benda-benda itu dapat membuat Ian merubah keputusannya dalam sekejap.
Perlahan ia berdiri dan melangkah menuju pintu serta menggesernya ke samping. Pembatas balkon itu ia gunakan sebagai sanggahan kedua tangan besarnya. Saat ini adalah posisi Hyunjae sebenarnya.
Pria bajing*n sepertinya yang berusaha membuat wanita pilihannya jatuh hati padanya, padahal sebelumnya ia selalu berharap agar drama itu lekas selesai dan tidak ada lagi masalah yang terikat.
Akhirnya takdir menerima permintaan itu dan memisahkan keduanya. Dan disaat itulah Hyunjae merasa frustasi dengan harapannya sendiri.
Meskipun di malam hari, anginnya tidak begitu sejuk. Hyunjae mesti membuka pakaian atasnya dan meninggalkan bawahnya dengan ****** *****. Hal ini merupakan kebiasannya dari dulu, namun sempat tinggal bersama dengan Lazel ia tidak melakukannya.
...◇• •◇...
"Hah??"
"Ck! Mengapa tanggapan kalian begitu sama? Apakah ucapanku memang terdengar aneh?"
"T-Tidak, hanya saja aku terkejut saat kau memperbolehkanku pergi, dan aku bisa pergi bersamamu."
__ADS_1
"Yah... aku su-"
"Tunggu, kalian? Apa kau menemui orang lain selain diriku?"
"Sebelum bicara denganmu, aku menemui Hyunjae secara pribadi."
"H-Hyunjae?! Kapan?!"
"Saat aku meminta izin darimu untuk pergi keluar untuk bermain."
"T-Teryata dia menemui Hyunjae untuk membahas sesuatu."
Ian langsung to the point untuk membahas masalah sebelumnya, meskipun begitu dadakan. Ia masih tidak menyangka jika Ian dapat merubah keputusannya secepat ini.
"Apa kau diancam olehnya?" Tanya Lazel dengan wajah yang serius.
"Aku? Diancam dengan pria bangs*t sepertinya? Apa kau bercanda."
"Y-Ya aku paham."
Sama seperti Hyunjae sebelumnya, ia juga merasa penasaran apa yang membuat Ian mengambil keputusan secepat ini. Dirinya sedikit khawatir jika Adiknya itu melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dia sadari.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal ceroboh." Ucap Ian seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran kakaknnya.
"Y-Ya."
...◇• •◇...
Suara jangkrik terdengar begitu jelas, para anak-anak di sekitar menghabiskan waktu mereka untuk bermain di tengah Musim Panas. Keringat yang bercucuran disela-sela permainan heboh mereka, Lazel hanya menanggapinya dengan senyuman.
Saat ini dirinya sudah tidak bekerja lagi atas permintaan Hyunjae pada Bos pemilik Toko Butik tersebut. Mengingat kejadian yang terjadi pada Lazel sebelumnya pada saat Festival, Hyunjae sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Lazel ke depannya jika terlalu lelah.
Lagipula pemilik butik itu sudah mengetahui identitas Lazel jauh sebelum dirinya memperkenalkan dirinya dengan nama palsu atau samaran.
Suara klakaon bergeming sehingga membuatnya menoleh ke bawah dan menemukan seorang pria dengan pakaian biasa yang selalu terlihat bagus jika dia yang memakainya.
Lazel tidak memberikan respon apapun dan pergi begitu saja ke dalam serta menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang empuk.
"Jahat! Mengapa kau tidak menyapaku atau menjemputku?!" Seorang pria dengan ciri-ciri yang sama seperti sebelumnya membuka pintu begitu saja dan berbicara panjang lebar pasa seorang wanita yang sedang berduduk santai.
"Oh, kau datang." Sahut Lazel tanpa menoleh ke belakang.
"Kau kejam sekali."
"Diamlah, bukankah aku sudah mempersilahkan dirimu masuk ke dalam? Lagipula aku tidak menguncinya." Ujarnya dengan kedua mata yang fokus menatap layar televisi.
"Oh... benar juga."
"Pria ini bodoh sekali, perasaan dia tidak seperti ini pada saat yang dulu." Pikir Lazel.
Kedatangan Hyunjae tanpa alasan itu sudah terjadi di setiap harinya, bahkan Lazel mulai bosan jika harus bertemu dengan pria bertubuh besar sepertinya.
"Lazel, ayo ja-"
"Tidak, aku ingin menghabiskan waktu disini." Selanya dengan menggenggam sofa seerat mungkin.
Kedua matanya melebar, tangan kanannya menutupi sebagian wajahnya yang memerah, "d-dia seperti anak kecil."
Pada akhirnya Hyunaje menuruti apa yang Istrinya katakan, bahkan dirinya juga ikut berbaring di bawah serta menatap layar televisi yang dipenuhi dengan tulisan atau bahasa yang sama sekali tidak pernah dia pahami.
"Hei Lazel, bagaimana bisa kau menguasai bahasa ini?" Tanya Hyunjae yang mengambil posisi terlentang, sehingga dapat melihat wajah cantik Lazel dari sana.
"Bukankah kau tahu jika aku menyukai Negara Jepang? Dulu aku berniat untuk bekerja disini. Tapi siapa sangka jika aku akan menikah secepat itu."
"Oh... benar juga."
Meja yang terletak di tengah-tengah sudah berada di pinggir. Bahkan meja itu saat ini dipenuhi dengan cemilan yang sebelumnya dibawakan oleh Hyunjae.
Lazel mulai terlarut pada siaran yang dia tonton, sedangkan Hyunjae yang mendengarnya seperti bahasa planet luar, sehingga dirinya tidak melakukan apapun selain terus memandangi wajah Lazel dari bawah dengan kacamata yang terletak di tengah-tengah pangkal hidungnya.
"Oh! Lazel!" Panggilnya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"A-Apa?!" Disela-sela keseriusannya, Lazel sampai harus memasang wajah panik sehingga mengubah posisi duduknya.
"Aku mencintaimu."
Bruak!
Sebuah bantal sofa melayang tepat di wajah Hyunjae, "jangan menggangguku dasar sialan..."
"M-Maaf."
"Belakangan ini kau selalu mengenakan kacatama, apa penglihatanmu mulai bermasalah?" Tanya Lazel.
"Hm~" Hyunjae bangkit dari rebahannya dan bersandar pada sofa yang Lazel duduki. "Kau khawatir?" Tanya Hyujae pada Lazel dengan menolehkan wajahnya sedikit.
"H-Ha?! Siapa yang khawatir?! Lagipula kau terlihat semakin aneh jika mengenakannya!" Ucap Lazel dengan menggebu-gebu, "hm aneh, meskipun sulit mengakuinya, kacamata yang selalu ia kenakan semakin membuat pria sialan ini berkharisma."
"Tidak, aku hanya terlanjur nyaman menggunakannya, apalagi di tengah Musim Panas seperti ini. Aku juga menggunakan kacamata hitam saat mengendarai mobil."
"Hm... sebenarnya aku tidak membutuhkan penjelasanmu." Sahut Lazel dengan wajah angkuhnya.
"Kau ini jahat sekali!"
"Ha?! Bukankah kalimat itu cocok untukmu?"
"Untukku?! Yang bahkan berusaha untuk mendapatkan pahamu sebagai bantal tidurku?!"
"B-Bantal?! Apa yang kau pikirkan dasar brengs*k!"
"Kenapa kau melemparku?! Memangnya kau anggap aku sedang memikirkan apa?!"
"Aku tidak akan menyerahkan pahaku padamu dasar mesum!"
"Aku adalah Suamimu, bukankah itu hal yang wajar?!"
"Haaah?! Wajar apanya dasar pria bodoh!"
...◇• •◇...
"Ck! Dia itu mengganggu sekali."
Saat ini Hyunjae berada di kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari bantal-bantal yang sudah menumpukki wajahnya sebelum partikel-partikel kecil mulai menyumbat saluran pernafasannya.
Ruang Tengah yang sedikit berantakan itu mau tak mau harus ia bereskan sebelum pria itu kembali dan membuat keributan lainnya.
"Liburan Musim Panas Ian akan dimulai besok, apa dia sempat mengerjakan tugas-tugasnya nanti?" Gumamnya.
Drrt!
"Hm?"
Ponsel Hyunjae tertinggal begitu saja di sampingnya dengan mode getar yang menandakan bahwa ada panggilan masuk.
"Ohoo~ apakah panggilan itu berasal dari Ja Heul?" Ucapnya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Ia memutar tubuhnya seperti balet di atas ambal yang berbulu lalu meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi Hyunjae.
"!!!!" Ekspresinya berubah seketika saat melihat nama yang tertera di layar panggilan tersebut. "J-Jean!" Ucapnya dengan senang.
Sangking senangnya dapat menghubungi Jean Lazel pun mengangkat panggilan itu tanpa sadar jika ponsel itu bukanlah miliknya.
"J-"
^^^"Hyunjae, apa kau disana? Ku dengar jika kau berhasil membawa Lazel dan Ian kembali. Kalau begitu bisakah kau menundanya sebentar? Akan lebih baik jika Lazel dan Ian tidak mengetahui hal ini."^^^
"????" Lazel hanya bisa memasang wajah bingung dan juga merasakan tak enak pada ucapan Jean, "masalah? Apa yang dia katakan?" Pikirnya.
^^^"Sebelum Lazel dan Ian tahu, kita harus segera menemui Ja Heul untuk menghapus semua kebohongan itu."^^^
Ucapan Jean semakin membuat Lazel berpikir keras menganai apa yang tidak dia ketahui, "Jean, sebenarnya apa yang kau katakan..."
^^^"S-Suara perempuan?! T-Tunggu dulu, kau tahu namaku?! Kalau begitu kau..."^^^
__ADS_1
^^^"LAZEL?!"^^^