
Dengan paksa Lazel menarik tangannya kembali.
"Hm? Kenapa? Bukankah kau menyukai pria yang bertubuh seksi?"
"HAAAAAAAHH?! DARI MANA KAU TAHU?!" Teriak Lazel dengan wajah yang sangat merah karena malu.
"..............." Hyunjae menaikkan salah satu alisnya sambil menatap Istrinya dengan wajah yang mengggoda.
"Tidak... maksudku omong kosong dari mana itu berasal?" Lazel mengubah kalimatnya sendiri dengan raut wajah yang serius, namun Hyunjae tidak akan tertipu semudah itu.
"Hahahaha... informasi yang diberikan Ian memang sangat berguna. Siapa sangka jika Lazel sangat menyukai perut laki-laki yang terlihat segar." Batinnya.
...◇• •◇...
"B-Bagaimana bisa dia memiliki tubuh sekekar ini..."
Hyunji masih berdiri sesuai dengan permintaan Lazel, lalu dengan cepat Lazel mengukurnya dan juga mencatatnya.
"Sudah selesai?" Tanya Hyunjae.
"Ya, sebelum kita pergi ke kantor, aku akan mengantar- whoa!!" Hyunjae menarik lengan Istrinya ke atas ranjang dan meletakkannya di bawah naungannya.
Dari sana ia dapat melihat pose Hyunjae yang seperti ingin menerkamnya, "bajing*n... apa yang-
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat pada leher jenjangnya yang tidak terhalang atau terjaga oleh apapun.
"Breng-"
Cup!
Kecupan yang sama terulang namun di tempat yang berbeda.
"Sialan! Apa yang kau lakukan?!" Lazel segera menutup wajahnya.
"Bicara kasar aku akan menghukummu."
"Itu bukan hakmu sialan! Cepat menyingkir."
"Haah..." pada akhirnya Hyunjae menidurkan dirinya di samping Lazel. "Kau cantik sekali." Ucapnya.
Brak!
"Eh??" Kepalanya menoleh ke samping dan melihat Lazel yang sudah tidak ada di tempatnya.
Dengan secepat kilat Lazel pergi dari sana dan memasuki kamar mandi sehingga Hyunjae hanya menyadarinya saat pintu kamar mandi tertutup keras.
...◇• •◇...
Layaknya anak kecil yang sangat membenci sesuatu yang tidak mereka sukai. Lazel terus menggerutu di kamar mandi karena tindakan bodoh Hyunjae padanya.
Air shower terus mengalir membasahi kepala dan juga tubuhnya. Rasa panas dan malu di wajahnya sama sekali tidak ingin hilang.
"Dasar pria keparat itu..." umpatnya dengan kesal.
Aksi jahil Hyunjae tidak berakhir disitu. Seharusnya Lazel juga harus berpikir sebelum bertindak, karena apapun yang dia lakukan bisa saja akan membuat dirinya jatuh ke dalam langkahnya sendiri.
Karena sudah merasa aman, handuk putih melilit di tubuhnya dan meninggalkan belahan dada yang terlihat sempurna.
Cklek!
Kakinya melangkah ke dalam, "huft... segar seka-"
Suara siulan terdengar dari suatu arah dan membuatnya menoleh dengan cepat. Disana dia mendapati seorang pria bertelanjang dada tengah bersandar pada sandaran ranjang dan menatap ke arahnya yang dalam keadaan vulgar.
"Sialan..." sebuah pajangan berbentuk tongkat siap melayang ke hadapan pria itu. Namun dengan cepat Hyunjae meninggalkan kamar dan tertawa puas di luar sana.
...◇• •◇...
Cup!
"Berhenti menciumku dasar ba-sialan!" Dengan sigap Lazel mengubah kalimatnya agar mencari aman di hadapan Hyunjae. Karena pria itu bisa saja menyambar dirinya dengan liar.
"Haah... sepertinya kau boleh melanggar larangan itu demi kebaikanku." Keluhnya dengan wajah yang menyedihkan.
"Jangan macam-macam." Ancam Lazel yang kembali memegang sesuatu di tangannya.
...◇• •◇...
"Sepertinya kau harus pulang sendiri, Vicy akan menjemputku untuk menemaninya mencari hadiah pernikahan Kara dan Hyunji nanti, jadi aku akan-
"Kita akan mencarinya bersama." Sela Hyunjae yang tersenyum di hadapan Lazel.
"Ha?? Bukankah lebih baik jika-"
"Aku mau memilihnya denganmu, oke."
"B-Baiklah terserahmu."
"Sampai jumpa~"
Semakin lama ia merasa bahwa sangat banyak memaklumi tingkah laku Hyunjae yang terkadang seperti kekanak-kanakan. Padahal sebelumnya ia dapat menolaknya dengan kata-kata kasar.
__ADS_1
...◇• •◇...
Setelah mendiskusikannya dengan Hyunjae, mereka pun berniat membatalkan perjanjian pada William, selaku Putra kedua dari perusahaan yang dia duduki di Amerika.
Jujur saja ini membuat Lazel sedikit senang. Padahal dirinya sangat tahu jika Amerika adalah negara yang diimpikan Hyunjae, namun impiannya itu terhalang oleh dirinya. Mengingatnya lagi membuat Lazel merasa bersalah.
Saat ini Lazel akan mempersiapkan apa yang akan dilakukan oleh kliennya nanti. Pertemuan seperti ini, hingga harus membuatnya merasakan lelah dua kali.
"Ngomong-ngomong... apakah Tuan Hyunjae akan ikut pergi bersama Anda?" Tanya Byul.
"Tidak, dia harus tetap berada disini." Ujarnya.
"Hm... memangnya beliau mau?" Pikir Byul.
...◇• •◇...
Setelah usai bekerja, membolak balik pikiran mengenai perusahaan. Akhirnya Lazel menemani Vicy untuk mencari hadiah untuk pernikahan Hyunji dan Kara.
Beberapa pusat perbelanjaan sudah mereka temui satu persatu demi mendapatkan apa yang digemari oleh Hyunji dan Kara nanti.
Sembari melihat-lihat sekitar, Lazel mendapati sebuah pakaian bayi yang memiliki corak unik dan lucu.
...◇• •◇...
"Terima kasih Nona~"
"Hm, hati-hati," sapanya balik. "Sepertinya Vicy tetap memanggilku dengan sebutan Nona." Sambungnya.
Kedua kakinya melangkah memasuki rumah. Sejenak ia menoleh pada Villa yang dulunya di tempati oleh Hyunjae. Namun saat ini tempat itu benar-benar kosong.
Ia mengurungkan niat untuk masuk dan melihat-lihat sekitar rumah yang memiliki halaman yang sangat luas.
"Sepertinya rumah seperti ini tidak diperlukan lagi." Ucapnya.
...◇• •◇...
"Panggung? Kurasa Gyuu akan mempersiapkannya."
^^^"..............."^^^
"Hm, aku akan mengantarnya besok."
^^^"..............."^^^
^^^"^^^
Ya, sampai jumpa."
"Siapa?" Tanya Lazel yang baru saja tiba di Ruang Tengah sambil membawa Gilver.
"????"
Hyunjae bertanya pada Lazel tentang apa yang menjadi hadiah Vicy untuk Kakak Sepupunya. Dengan santai Lazel pun menceritakannya dengan detail dan apa yang dia lihat disana.
"Hyunjae aku akan pergi setelah acara Kara dan Hyunji selesai." Ucap Lazel tiba-tiba sembari memainkan ponselnya.
"Byuuuuurrr!!" Susu yang baru saja ia minum tersembur keluar, "s-sendirian?!"
"Tentu saja, kau pikir aku kesana liburan?"
"Tapi aku mau ikut."
"Tidak usaaaaahh! Kau hanya menyusahkanku saja!"
"Tapi aku tidak mau sendirian di rumah."
"Tidak! Jawabanku tetap tidak! Bantulah orang-orang untuk membereskan peralatan nanti."
"..............." mendapatkan tegasan dari Lazel membuatnya tidak ingin melawan atau memberi jawaban lagi.
...◇• •◇...
Setelah menandatangani kertas itu, ia pun menerima beberapa tas, "terima kasih." Ucapnya sopan.
Ia memasuki rumah dan mendapati Lazel yang sedang bersantai di Ruang Tengah.
"Sayang, pakaiannya tiba." Ucap Hyunjae yang membawa dua tas besar yang berisi dengan seragam.
"Apa? Mereka mengantarnya kesini?"
"Iya."
Lazel memeriksa pakaian itu dengan teliti, dibantu dengan Hyunjae. Saat ini, untuk sementara mereka tidak bekerja dan akan menyerahkannya pada Sekretaris yang mereka miliki sebagai pengganti.
Hari H hampir tiba, oleh karena itu Lazel harus melakukan banyak hal, karena dirinya tidak banyak membantu jika selesai nanti.
"Hyunjae, hubungi Ibu dan Kara."
Pria berkaos kembar dengan yang dikenakan Lazel itu langsung meraih ponselnya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Istrinya.
Lazel merasa puas pada desain yang dia gunakan, namun dirinya masih tidak tahu bagaimana pendapat orang lain mengenai bentuknya.
"Babe."
__ADS_1
"Hm?"
"!!!!"
"Ada apa hei?"
"K-Kau menoleh saat ku panggil babe?"
"Benarkah? Aku tidak mendengarnya. Ulangi."
"B-Babe..."
"..............."
"Lazel."
"Ada apa?"
Hyunjae mengacungkan jari tengahnya sedangkan Lazel membalasnya dengan seringainya.
...◇• •◇...
Beberapa saat yang lalu, Hyunjae memberitahu dirinya jika Ibu membutuhkan dirinya saat ini. Oleh karena itu Hyunjae juga ingin pergi ke suatu tempat bersama dengan Ayahnya.
Saat ini aula pernikahan tampak ramai dengan banyaknya orang yang membuat dekorasi.
Lazel yang awalnya mendapat panggilan dari Nezra pada akhirnya melupakan hal itu dan beralih pada orang-orang yang sibuk mengangkat peralatan yang berat, Lazel pun memberi bantuan pada mereka meskipun dirinya adalah seorang perempuan.
...◇• •◇...
Rencana awal Adam ingin melakukannya di hotel atau di gereja. Namun Kara menolaknya dengan halus dan tetap memilih aula Lazel hingga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.
Jika di posisi Kara adalah Lazel, mungkin wanita itu akan memesan sebuah pulau dan kapal layar.
Di sela-sela kesibukan semua orang, Nezra mulai menyadari jika Lazel belum sampai.
"Nona Lazel sangat banyak membantu, kupikir bagiannya bukan mengangkat peralatan."
"Pffttttt!!" Gyuu yang ada di dekat Nezra tanpa sengaja hampir mengeluarkan tawanya.
"L-Lazel mengangkat peralatan?!"
Wanita berambut hitam itupun berkeliling mencari Lazel. Dirinya tidak menyangka jika Putrinya itu akan memilih pekerjaan yang lebih berat dibandingkan membantu dirinya merangkai bunga.
Sekilas ia melihat perempuan berjaket hitam dengan celana panjang tengah berjalan ke arahnya, meskipun tatapan mereka tidak saling bertemu, Nezra tahu sekali bahwa wanita beriris merah muda berambut perak merupakan Lazel, menantunya yang sangat cantik.
"Lazel, ternyata kau-APA YANG KAU BAWA!!" Nezra terkejut saat mendapati Lazel yang sedang membawa beberapa pilar berukuran sedang di kedua tangannya.
"Aku-Aaaaaa!!! Seharusnya aku membantu Ibu." Ucapnya dengan wajah yang bersalah.
...◇• •◇...
Pada akhirnya Nezra berhasil membawa Lazel bersamanya dan merangkai bunga sebagai hiasan dinding. Melakukan pekerjaan seperti itu bukanlah gaya Lazel.
Tanpa sepengetahuan Nezra, Lazel diam-diam meninggalkan tempat dan pergi ke arah lain untuk membantu para pendekor membawa alat-alat ke dalam aula.
"Kemari, Saya bisa membawanya." Dengan santai Lazel membawa tangga di tangan kanannya dan di tangan kirinya berisi cat dinding yang masih tersegel.
Karena sifat ramah pada orang yang lebih tua, itu membuat orang lain sangat menghargai bantuannya dan kerja kerasnya. Belum lagi jika Lazel adalah seorang perempuan.
Di tempat yang sebelumnya.
"Lazel, apa kau-" ucapannya terputus saat melihat Lazel yang menghilang dari tempatnya. "Kemana anak itu pergi!!"
...◇• •◇...
Kedua kakinya melangkah dengan hati-hati.
Hyunjae dan Adam baru saja kembali dari urusan mereka dan kini akan membantu di aula untuk membawa beberapa alat yang akan digunakan.
"A-Aku saja Pak! Aku pandai memasang lampu."
"T-Tapi..."
"Ahahahaha~ Saya baik-baik saja."
Hyunjae saat ini sedang mencari sosok idamannya, namun hingga kini belum ia lihat bahkan satu helai rambutnya saja sudah sangat langka.
"Hm?" Melihat Ibunya yang terus berkeliling dengan wajah yang berapi-api membuat Hyunjae bertanya-tanya.
"Sialan! Anak itu selalu menghilang!" Ucap Nezra dengan kesal.
"Ibu, apa Ibu melihat Lazel?" Tanya Hyunjae.
"Anak itu selalu menghilang dari hadapan Ibu!! Bisakah kau membantuku mencarinya?"
"L-Lazel hilang?!" Kini Hyunjae jauh lebih panik dibandingkan Ibunya.
"Wah Nona, kau memang memiliki energi yang luar biasa."
"Sebaiknya Anda cepat turun dari sana."
"Ahahahaha!! Aku memang hebat dalam hal apapun!" Ucapnya sombong.
__ADS_1
Hyunjae yang sangat mengenal suara itu, ia pun menolehkan wajahnya ke atas dinding. Disana terdapat seorang wanita berwajah ceria sedang tertawa.
"..............." Hyunjae tak habis pikir, apa yang sedang Lazel lakukan di atas sana.