Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Lazel, Kara & Vicy]


__ADS_3

Ia meraih ikat rambut itu dengan perlahan dan meninggalkan pria yang sudah tertidur pulas itu di atas ranjang yang berukuran besar.


Kembalinya dirinya bukanlah mengembalikan segalanya seperti semula. Saat ini seperti memulai pada titik awal dimana mereka tidak pernah saling mengenal.


Hyunjae terlalu banyak bercerita dan mengeluhkan segala perasannya pada Lazel, hingga tanpa sadar pria itu sudah lelap dalam tidurnya. Lazel sudah memaklumi hal ini, belakangan ini Hyunjae juga jarang menyempatkan waktu untuk beristirahat.


Lazel menghentikan langkahnya, "ck! Pria ini pasti histeris saat tidak melihatku." Ucapnya pelan.


...◇• •◇...


Tidak begitu lama ia meninggalkan negara itu, hanya dalam beberapa bulan ia mulai kembali dan menganggap semuanya seperti biasanya.


"Jadi, dimana kau tinggal saat ini?"


^^^"Aku akan mengirimkannya lewat pesan."^^^


"Baiklah."


Ia menginjak gas dengan semakin cepat.


Lazel akan melanjutkan pencarian masalah Hyunjae dan Jean dengan cara menemui Jean secara langsung.


...◇• •◇...


Tangannya baru saja menutup pintu mobil itu dengan cukup kuat. Kedua matanya mengarah pada sebuah ruamah minimalis yang sesuai dengan arahan yang ditunjukkan.


Untuk lebih menjaga privasinya, Lazel mengenakan jaket dan menutupi kepalanya dengan penutup kepala dari jaket yang ia pakai. Meskipun di tengah-tengah Musim Panas seperti ini, dirinya sama sekali tidak boleh memperlihatkan identitasnya sedikit pun.


Tok! Tok! Tok!


Terbukanya pintu beriringan dengan pelukan hangat dari sang pemilik rumah.


"Lama tidak bertemu denganmu, Zel." Ucap Jean yang memeluk Lazel dengan erat.


"Haah~ dulu musuh. Sekarang aku harus menyelesaikan masalah ini." Keluh Lazel.


...◇• •◇...


Sebelum langsung membahas permasalahan ini. Lazel menginginkan penjelasan langsung dari Jean tanpa harus bertanya pada Hyunjae atau melihat dari tumpukkan berita yang menyebar luas.


Perkiraan mereka sudah dapat, yaitu mengarah pada Ja Heul. Dimana dirinya pernah menjadi kekasih Hyunjae dalam waktu cukup lama hanya karena ingin membalas tindakan Lazel padanya. Atau bisa dibilang membalas kecemburuan Hyunjae terhadap Lazel yang ia kira sedang menjalin hubungan dengan pria lain.


Lazel sendiri sudah mengingat berulang-ulang kali. Bahwa masalah ini sama sekali tidak pernah mengarah pada dirinya. Karena apa yang dia ingat hanyalah perasaan Heul pada Hyunjae yang sama sekali tidak pernah ia ikut campuri.


Lazel mulai berpikir sejenak untuk melakukan langkah awal secara langsung di tempat.


"Pengirim berita ini harus kita ketahui. Jika kita terus melakukannya, maka pelaku akan mudah ditemukan. Lagipula aku sudah memberikan ancaman secara langsung melalui Konferensi Pers." Jelas Lazel secara rinci.


"Lazel... sebenarnya aku tidak ingin membawamu ke dalam masalah ini. Karena tidak akan ada yang tahu jika dirimu akan ikut terlibat."


"Itu tidak akan terjadi," sahut Lazel dengan kepercayaan dirinya yang tinggi. "Jika dia merasa terancam maka berita ini akan terjeda sementara. Dan di waktu itulah sang pelaku akan menjalankan rencana lainnya."


"Haah~ sepertinya keahlianmu sejak kecil tidak berubah." Puji Jean pada Lazel.


"Kunci utama dari sebuah masalah adalah tidak bersembunyi dan memahami dua kali lipat efek tindakanmu ke depannya."


"Hahaha! Ngomong-ngomong. Aku tidak menyangka jika Hyunjae akan membawamu secepat ini."


"..............."


"Pilihlah apa yang menurutmu benar, dan tinggalkan lah jika itu harus. Meskipun akan menyakiti hatimu sendiri."


"Bukan karena tidak mendukungmu untuk kembali pada Suamimu."


"Dengar Lazel, aku sudah berpengalaman untuk melalui semua itu dan tidak mudah untuk menjalankannya."

__ADS_1


"Oleh karena itu jangan berharap lebih atas apa yang akan kau lihat dan apa yang kau dengar."


"Seburuk-buruknya binatang yang menjijikan adalah lebih buruk lagi seorang manusia. Karena kebohongan dan dusta hanya bisa dilakukan oleh seroang manusia, bukan binatang."


Lazel hanya mendengarkan nasihat dan pembelajaran dari Jean yang lebih banyak menempuh kehidupan. Apalagi saat ini dirinya sudah memiliki seorang anak tanpa Ayah.


Bahkan dirinya sendiri yang belum mendapatkan lebih dari apa yang dirasakan Jean selalu merasa bersedih dan selalu merasa yang paling tersakiti. Justru ada ribuan orang di luar sana yang lebih sakit namun masih mengenal rasa syukur.


Ia tidak bisa membayangkan kehidupan seseorang bersama dengan anak tanpa di dampingi oleh seorang Suami.


...◇• •◇...


Jean memiliki umur tiga tahun lebih tua darinya, dan sudah memiliki Putri yang masih berumur sangat muda atau sangat kecil. Jean mendapat perpisahan atau penceraian dari Suaminya semenjak Putrinya masih berumur satu tahun. Disaat itulah Jean harus berusaha seorang diri tanpa orang lain.


Dalam hal ini sebenarnya Lazel dapat belajar banyak mengenai kehidupan.


Sehebat apapun dia, sekaya apapun dia, semua itu tidak akan menjadi jaminan bahwa kau akan selalu bersama. Karena pertemuan selalu di hadapkan dengan perpisahan.


"Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membantumu keluar dari masalah ini." Ujar Lazel yang memberikan senyuman pada Jean.


"Haha~ ternyata kau memang mempunyai wajah yang manis jika tersenyum. Namun kau harus menunjukkannya juga pada Hyunjae."


"Itu tidak mungkin." Sahut Lazel dengan cepat.


"..............." Jean seharusnya tahu jika saat ini bukanlah waktu yang pas untuk membahas permasalahan Rumah Tangga sekaligus hubungan Lazel dengan Hyunjae yang diambang perpisahan.


"Hei, apa kau tidak merindukan Kara dan Vicy?" Tanya Jean yang langsung merubah topik pembicaraan.


"A-Awalnya aku ingin bertemu dengan mereka. Tapi... disaat mereka tahu bagaimana diriku yang saat ini mungkin terlihat sangat memalukan."


"Hm? Kenapa?"


"Kau tahu sendiri bukan. Aku adalah perempuan yang lebih mencintai harta dibandingkan kepentingan orang lain, aku memiliki emosi yang terkadang tidak bisa dikendalikan dengan mudah, aku juga tidak bisa menjaga tutur bahasa ku sendiri."


"Di sukai? Bahkan Hyunjae selalu mengomentari ucapanku." Ucapnya kesal.


"Hm... tapi kurasa mereka sangat merindukanmu saat ini."


"Tahu dari mana? Apa kau peramal?"


"Hm."


"Jangan bercanda."


"Yaah buktinya mereka ada disini." Ucap Jean dengan sengaja sembari menatap ke arah lemari cokelat yang berdiri di samping televisi.


"Arrghh! Jean sialan! Mengapa kau memberitahu Lazel!" Teriak Kara dengan kesal.


"Haah~ kau tidak bisa dipercaya." Sambung Vicy dengan wajah yang putus asa.


"??!!" Wajah cantik itu terkejut, iris merah muda itu bergetar dan perlahan wajahnya mulai menoleh ke belakang, "K-Kara... Vicy..."


Kara berlari ke arah Lazel dan membentangkan kedua tangannya, "HUAAAA LAA-"


Duak!


"Diamlah! Wu sedang tidur!" Sela Lazel dengan kepalan yang melayang di atas kepala Kara.


"Jahaat! Padahal aku lebih tua dibandingkan dirimu." Ringisnya sembari mengusap kepalanya.


"Aku tidak peduli, lagipula sejak kapan kalian bersembunyi?"


"Oh, itu adalah ide anak ini." Kara meraih kerah belakang Vicy dan menyeretnya ke depan Lazel.


"Apa-apaan," Lazel menghela nafas dan juga tersenyum lebar di hadapan kedua wanita itu. "Ternyata kalian baik-baik saja." Ucapnya dengan senang.

__ADS_1


Vicy membalas senyuman Lazel lalu memeluknya dengan pelan. Kara yang awalnya hanya tersenyum mulai ikut ke dalam reuni pelukan itu.


"Ekhem! Aku tahu jika ini adalah reuni dadakan yang bahkan tidak mencapai satu tahun. Setidaknya bantu aku keluar dari masalah ini."


"O-Oh, kau benar."


Drrt!


"Siapa?" Tanya Vicy.


"Hyunjae," jawab Lazel yang sedang menatap layar ponselnya dengan bingung. "Dari mana dia mendapatkan nomor ponselku?" Pikirnya.


"J-Jangan-jangan dia sudah menemukan petunjuknya!" Ucap Kara dengan wajah yang serius.


"B-Benar juga."


Lazel pun mengangkat panggilan itu dengan cepat dan tidak lupa menyalakan speaker agar yang lain dapat mendengarkannya juga.


^^^"Lazel! Dimana kau saat ini?!"^^^


"A-Aku bersama dengan Jean dan yang lainnya. A-Apa semuanya baik-baik saja?" Mendengar suaranya yang tergesa-gesa saja sudah membuatnya khawatir.


^^^"Gawat!"^^^


"Ada apa?!" Semuanya pun mulai menatap layar ponsel itu dan mendengarkan Hyunjae dengan serius.


^^^"Tiba-tiba aku merindukanmu dan membutuhkan belaian darimu sayang~"^^^


"..............." tanpa menunggu lama, Lazel pun mengakhiri panggilan itu segera. "Baiklah... apa yang harus kita lakukan saat ini." Ucapnya dengan wajah yang datar.


...◇• •◇...


Beberapa hari kemudian...


Mereka telah kembali ke Villa yang dulu dan memutuskan untuk tinggal di satu atap yang sama, atau bahkan di atas ranjang yang sama.


Pria berjaket hitam itu masih ditimbuni dengan setumpuk boneka, sedangkan Lazel sudah terbangun dari tadi dan memperhatikan layar ponselnya.


Sudah terhitung satu minggu lebih dua hari, berita itu sama sekali tidak pernah muncul kembali atau mulai membuat berita yang baru. Hal ini sudah menjadi perkiraan Lazel sejak awal, sebelum berita lainnya muncul, disaat berita mulai berdatangan disaat itulah mereka akan mengunjungi penerbit.


Sebelumnya Hyunjae sudah berbicara dengan Bos penerbit dimana awal mula berita itu menyebar. Hyunjae meminta untuk merekam jelas atau mengambil foto dengan jelas pengirim berita itu sekaligus meminta biodata lengkapnya tanpa menarik kecurigaan.


Untuk beberapa hal, Hyunjae kadang berguna dalam sebuah negosiasi, meskipun Lazel tidak pernah melihatnya secara langsung.


"Baiklah, aku akan pergi ke rumah-"


"Tidak tidak tidak," sebuah tangan besar menghalanginya untuk bergerak. "Kau terlalu banyak meninggalkanku sendiri." Ujar Hyunjae yang menenggelamkan wajahnya di samping paha Lazel yang ditutupi dengan selimut tebal.


Duak!


"Jangan menghalangiku." Baru saja kepalan kuat mendarat di kepalanya hingga mengeluarkan asap.


...◇• •◇...


Selain menghabiskan waktu terlalu banyak bersama dengan Jean, Kara, Vicy bahkan Gyuu. Hyunjae sendiri tidak dapat keluar rumah hingga namanya bersih dari masalah hubungan palsu dengan Jean.


Lazel juga selalu mendapatkan gangguam langsung dari Hyunjae di setiap harinya.


Disaat dirinya benar-benar lelah, ia tidak mungkin terbangun di tengah malam. Justru yang melakukannya adalah Hyunjae.


Lazel sudah memutuskan untuk pisah kamar secara sementara. Namun Hyunjae selalu menggunakan cara yang sama di setiap harinya untuk menyelinap ke kamar Lazel dan menginginkan untuk tidur bersama.


Hyunjae memang terus melakukannya, dan Lazel mulai terbiasa dengan tindakan yang dilakukan pria itu. Lagipula Hyunjae tidak pernah melakukan apapun yang mungkin akan mengundang emosinya, hanya di pagi hari rutinitas Hyunjae untuk mengganggu Lazel terus terjadi.


Bukannya muak, justru Lazel menganggap itu biasa dan tidak terlalu repot untuk menangani Suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2