
"Haah... aku tidak menyangka. Sejauh apapun kami berpisah, saat kembali lagi rasanya tidak ada yang berubah." Ujarnya seorang diri di depan cermin yang berukuran besar.
Hyunjae mencuci mencuci wajahnya karena ulah Lazel yang melemparkan bantal tepat ke arahnya. Partikel itu mudah masuk lalu membuat alat pernafasannya terganggu.
Nuansa kamar mandi yang putih bersih, serta terdapat cermin lebar yang hampir mengisi sebagian dinding yang kosong.
"Baiklah, aku-" Hyunjae yang hendak mencari ponselnya seketika terdiam jika benda serbaguna itu tidak bersamanya. "D-Dimana ponsel-sialan... jangan-jangan..."
Ia bergegas pergi dari kamar mandi dan berlari ke luar.
"Lazel, apa kau-" kini ucapannya kembali terputus.
Dirinya melihat seorang wanita yang masih berstatus sebagai Istrinya sedang berdiri dengan kedua pandangan yang mengarah padanya serta ponsel yang diketahui milik Hyunjae berada di genggamannya.
"Hyunjae... apa yang terjadi disana?"
...◇• •◇...
"!!!!"
"K-Kau bercanda bukan..." Kara masih tidak menduga dengan ucapan Jean.
"A-Apa tadi benar-benar L-Lazel?" Tanya Vicy dengan wajah yang terkejut.
Semuanya berdiam tak berkutik, Jean mengerahkan kemampuannya dengan menutup panggilan itu sebelum ia mengatakan lebih banyak hal lainnya.
Satu hal yang sama sekali atau tak pernah mereka duga adalah, Lazel. Bagaimana bisa ponsel Hyunjae ada bersama dengan Lazel? Apakah mereka sedang melakukan pertemuan? Jika iya bagaimana bisa jika Lazel yang mengangkat panggilan itu?
Jean hanya berdiri terdiam menatapi ponselnya yang dia gunakan untuk menghubungi Hyunjae. Akan tetapi karena kecerobohannya dan juga Hyunjae, mau tak mau Lazel akan mengetahui semuanya.
Sikap keras kepala yang dia miliki tidak main-main, apalagi rasa keingintahuannya yang sangat tinggi.
"L-Lazel... dia pasti akan mengetahui masalah ini..." ucap Jean dengan keringat dingin.
...◇• •◇...
Berada di situasi yang sama seperti sebelumnya yang dialami Jean, Kara dan Vicy.
Saat ini Hyunjae melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan. Dia melakukan kecerobohan disaat suasana hatinya membaik.
"L-Lazel... apa yang kau lakukan pada pon-"
"Ini," Lazel meletakkan ponsel itu kembali ke posisi semula lalu kembali menatap Hyunjae yang berdiri di hadapannya berjarak beberapa langkah. "Masalah? Bisa kau jelaskan apa yang dimaksudkan Jean?"
"I-Itu hanya ma-"
"Maaf aku harus mencampuri hal ini karena Jean terlibat dalam masalah itu. Jadi... apa yang kalian hadapi?" Tanya Lazel yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Hyunjae.
"Tidak ada apa-apa."
"Ck! Jean adalah seseorang yang sudah banyak membantuku! Lalu apa kau berhak menutupinya?!"
"Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu, tapi kami sudah sepakat untuk tidak melibatkanmu." Jawab Hyunaje yang lebih tenang dibandingkan Lazel yang sudah menaikkan emosinya duluan.
Ia mengerutkan kedua alisnya dan memberikan tatapan amarah, "apa aku harus menghubunginya terlebih dahulu?"
"T-Tidak! Kau tidak harus-"
Lazel mengambil ponsel itu kembali lalu berlari ke kamar Ian lalu menguncinya. Hyunjae yang berusaha mencegatnya pun gagal, wanita itu lebih gesit sehingga berhasil memisahkan jarak di antara mereka berdua.
Pukulan pintu yang terdengar dari luar cukup membuatnya bising.
__ADS_1
"Lazel! Sudah ku katakan jika tidak ada masalah apapun disana!"
"Tidak ada apanya, jika itu bukan masalah yang besar, seharusnya kau tidak perlu panik seperti itu." Ucapnya dengan kesal.
Di sisi lain, Hyunjae sama sekali tidak mempercayai jika Lazel akan tahu secepat ini.
...◇• •◇...
Ia menggeser layar ponsel itu dengan cepat sehingga mendapatkan apa yang dia inginkan.
^^^"H-Hyunjae? Apa ini kau?"^^^
"Jean, apa yang terjadi disana?"
^^^"L-Lazel?! Ini masih kau?!"^^^
"JANGAN DITUTUP DASAR KEPARAT! DAN CEPAT KATAKAN APA YANG TERJADI!" Ucapnya dengan hentakkan yang kuat.
Di waktu yang berbeda namun disaat yang bersamaan, semuanya nampak bingung dan kikuk saat menghadapi Lazel meskipun melalui ponsel.
Jean menyalakan speaker agar semuanya dapat mendengar dengan jelas.
Misi pertama untuk melacak Lazel sudah berhasil, untuk membujuk Ian dan Lazel kembali juga berhasil, kini yang tersisa adalah menjaga rahasia agar Lazel tidak mengikut campurkan dirinya ke dalam masalah yang lain.
Semenjak datang ke Jepang, Lazel dan Ian tidak menyangka jika takdir akan mempertemukan mereka kembali. Kira-kira disaat itu Lazel masih sangat muda dan masih mengalami penindasan terhadap keluarganya sendiri.
Sungguh tidak dipercaya, dulu mereka adalah musuh. Namun saat ini keduanya saling membantu dan memberikan perlindungan.
Sepertinya sudah tidak bisa menghindar lagi, wanita seperti Lazel sangat sulit untuk dibohongi.
"L-Lazel... sepertinya kau harus mendengarkannya sendiri dari Hyunjae." Ucap Jean dengan suara yang lemah lembut.
"!!!!" Ketiga telinga mereka bisa saja tuli karena dengung teriakan Lazel yang sangat kuat.
"Bagaimanapun juga, kau harus mendengar langsung darinya!" Jean mengulangi ucapannya dengan sangat tegas.
Seketika panggilan itu ia putuskan dan secepat mungkin mematikan daya ponselnya.
"..............."
"Lazel menyeramkan sekali jika marah..." ucap ketiga perempuan itu dengan serentak.
...◇• •◇...
Seperti pupus dalam harapan, Jean sama sekali tidak membuka mulut pada masalah yang dia sebutkan saat sebelumnya. Belum lagi jika dia mematikan total daya ponselnya sehingga membuat pikiran Lazel semakin mendidih.
"Dasar Jean keparat... mengapa dia tidak mengatakannya secara langsung."
Merasa tidak berguna lagi, Lazel menyimpan ponsel itu di dalam sakunya dan membuka pintu kamar Ian dan menghentikan pukulan Hyunjae yang begitu berisik.
"A-Apa mereka mengatakannya?"
"Hyunjae, katakan apa yang terjadi disana," ujar Lazel yang kembali menyantaikan dirinya di atas sofa dan menatap pria itu dengan tajam. "Apa yang terjadi... apa Ibu dan Ayah juga terlibat? Apakah terjadi pembrontakkan saat semua media tahu jika aku sudah melakukan penceraian sepihak terhadap Hyunajae?"
Apa yang menjadi kenyataannya sangat berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Lazel. Dia merasa atau menganggap bahwa masalah itu ada kaitannya dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu ia berniat ikut campur dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Selain demi Jean yang sudah banyak membantunya, ia juga merasa jika permasalahan itu dimulai karena ulahnya sendiri.
"Bukankah sudah ku katakan jika aku tidak akan membiarkanmu tahu mengenai hal-"
"Aku tidak akan kembali." Sela Lazel dengan kesal.
__ADS_1
"Jangan bercanda!! Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?!"
"Dan kau pikir aku akan menyerahkan diri begitu saja?" Balasnya dengan wajah yang mengejek.
"T-Tidak... aku akan mengatakannya padamu." Hyunjae berlutut begitu saja dengan memasang wajah anak kucing.
...◇• •◇...
Hal utama yang Hyunjae takutkan dari permasalahannya dengan Jean adalah Lazel. Wanita itu rentan mempercayai apa yang dia lihat atau apa yang dia dengar, selain itu, tidak akan ada yang tahu jika Lazel akan ikut terlibat atau tidak. Karena Hyunjj yang awalnya mengasingkan diri dari Hyunjae akan tetap terkena imbasnya. Atau dapat diartikan seperti ini, siapapun yang memiliki hubungan apapun dengan Hyunjae aka tetap mendapatkan pengawasan.
Setidaknya masalah itu sudah mereda baru Hyunjae akan memutuskan untuk membawa Lazel kembali dan menceritakan semuanya.
Seperti permintaannya sebelumnya, Hyunjae akan menuruti apapun yang Lazel perintahkan padanya.
Dan mau bagaimana lagi, dirinya sudah tidak ingin kembali ke titik awal dimana dirinya selalu depresi karena kehilangan Lazel.
Hyunjae menjelaskan sesuai dengan apa yang ada di dalam berita tersebut, Lazel sebagai pendengar pun sama sekali tidak melewatkan satu katapun dari penjelasan Hyunjae.
"..............." beberapa berita yang sama namun memiliki cover yang berbeda. Hal itu membuat emosi Hyunjae semakin tidak terkontrol. Sebaiknya Ja Heul mengucapkan banyak terima kasih pada Tuhan, karena pria keras seperti Hyunjae masih bisa membedakan perempuan dan laki-laki.
Sedangkan Lazel... wanita itu membaca dan memperhatikan dengan detail berita yang menghebohkan seluruh masyarakat tersebut.
"Hm... poligami? Peeselingkuhan? Skandal?" Lazel membaca satu-persatu judul yang membosankan itu melalui ponsel Hyunje, "cukup menarik."
"Menarik? Dari-!!!!" Hyunjae tidak melanjutkan ucapannya disaat melihat perubahan raut wajah pada Istrinya.
"Kami memang musuh, tapi aku tidak akan berguna disini tanpa dirinya." Ujar Lazel yang semakin merasa muak dengan tindakan seseorang yang melakukan itu.
"Benar juga... aku penasaran, bagaimana bisa Jean dan Lazel saling mengenal satu sama lain." Batin Hyunjae.
"Hyunjae, jika kau menginginkan kami kembali. Alasan apa yang kau gunakan jika sebenarnya kami melakukan pelarian."
"Liburan, untuk saat itu kepergianmu masih membuat semua orang panik. Termasuk Ibu sendiri."
"Tidak buruk," Lazel berdiri dari duduknya dan menghampiri Hyunjae yang berdiri di hadapannya untuk mengembalikn ponselnya. "Ayo kembali secepat mungkin." Ujarnya.
...◇• •◇...
Lazel tidak menyukai sesuatu yang kurang pasti, salah satunya adalah Ja Heul yang mereka duga sebagai pelaku penyebar gosip tak masuk akal itu. Namun bukan berarti amarahnya mereda begitu saja, siapapun pelakunya akan tetap mendapatkan akibatnya.
"Haah... aku pusing." Keluhnya yang terus memikirkan masalah yang sama berulang kali.
"Apa kau serius akan kembali besok?" Tanya Ian yang sudah menyiapkan kopernya.
"Mereka mengalami masalah, oleh karena itu aku ingin memberikan kejutan." Seringainya.
"Hm... wajahmu itu sudah mengerikan, jadi jangan membuatnya menjadi lebih aneh." Ujar Ian yang langsung pergi ke kamarnya begitu saja.
"..............."
Sebenarnya ia sama sekali tidak pernah berpikir atau menduga jika pelaku di balik masalah itu adalah Ja Heul. Karena dirinya sendiri tahu jika perempuan itu menyukai Hyunjae, lalu apa urusannya dengan dirinya?
Lazel tidak suka memperhatikan orang lain yang hanya membuang-buang waktunya. Masalah ini dia anggap ada kaitannya dengan Nezra dan juga Adam. Sebagai balas budi, Lazel akan memberikan sedikit serangan kecil untuk pelaku yang membuat hal buruk mengenai Jean dan juga Hyunjae.
Untuk saat ini dirinya tidak melakukan begitu banyak rencana, karena mungkin ornag itu tahu jika hubungan di antara dirinya dan juga Hyunjae mengalami kerenggangan.
"Membuat berita seperti ini..." Lazel menyipitkan kedua matanya. "Dia berusaha untuk memancing emosiku..."
Kepergian besok tidak akan ada yang tahu, karena hal itu hanya akan memudahkan pelaku untuk mengubah rencananya.
Nezra dan Adam... keikutsertaannya dalam masalah itu tidak lebih untuk mewakili kedua orang itu.
__ADS_1