
"AHAHAHAHAHAHAHA!!!"
Selagi menunggu Lazel menyelesaikan mandinya, Hyunjae menghabiskan waktunya dengan menonton televisi.
Tubuh besarnya terbaring di atas sofa dengan tawa yang terus menggema seisi rumah.
Drrt!
"????" Hyunjae menoleh pada ponselnya yang berdering di atas meja, "pesan dari Ibu?"
Ia meraih secangkir susu yang dibuat oleh Lazel untuk dia minum sendiri, namun Hyunjae menghiraukannya dan menginginkannya juga.
^^^'Besok bawalah Lazel dan Ian kerumah. Kemungkinan besar Ibu akan segera mendapatkan Menantu baru'.^^^
"Bffftttttt!!"
...◇• •◇...
Rambut panjangnya yang tebal sedikit merepotkan jika menatanya. Namun Lazel memiliki rambut yang lembut mirip dengan mendiang Ayahnya, sama halnya seperti Ian.
Ia melepaskan handuk putih yang menutupi dirinya dan berbalik membelakangi pintu dan segera memakai pakaian dalamnya.
Duak!
Suara pintu terbanting terdengar begitu kuat hingga membuat Lazel berlutut di atas lantai dan meraih handuk yang ada di sampingnya.
"Lazel! Ada be-"
"Huh?!"
"!!!!" Wajahnya memerah bukan main disaat melihat Lazel yang meringkuk di atas lantai dengan rambut perak panjangnya serta handuk yang sudah tak tertata dengan rapi berusaha menutupi tubuhnya, "m-maaf! Aku..."
"K-Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?! Keluar!!"
"B-Baik!"
Ia menutup pintu itu kembali namun tidak beranjak pergi dari sana, melainkan menutup sebagian wajahnya yang merah padam karena melihat sesuatu dari Lazel.
"M-Maaf Lazel... seharusnya aku mengetuk pintu terlebih dahulu." Ucapnya dengan perasaan yang menggebu-gebu.
Cklek!
"O-Oh! Kau sudah se-"
"Apa kau melihatnya?" Tanya Lazel dengan wajah yang tertekuk.
Hyunjae menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan membalas tatapan Lazel dengan rona wajah yang memerah, "ti-tidak! Aku sama sekali tidak melihatnya meskipun aku mau tapi aku tetap tidak melihatnya!"
"Jangan tidur denganku!"
Buak!
Lazel hanya menampakkan dirinya sebentar lalu masuk kembali dengan melarang Hyunjae untuk tidur satu ranjang dengannya.
"H-Ha?! Lazel! Aku benar-benar tidak melihatnya!" Hyunjae merasa bersalah namun pada faktanya ia tidak melihatnya karena rambut panjang Lazel memberi keutungan untuk menutupi bagian belakangnya. Lagipula Lazel begitu gesit dan menunduk begitu cepat dan menutupi tubuhnya.
"Lazel kumohon percayalah, aku tidak melihatnya. Meskipun aku mau tapi aku tidak melihatnya."
...◇• •◇...
Di dalam sebuah kamar dengan lampu tidur berwarna keemasan. Ia menggulung dirinya di atas ranjang dengan selimut tebal hingga tidak menampakkan tubuhnya sedikit pun.
Tok! Tok! Tok!
"Lazel... aku bersumpah, aku tidak melihatmu. Memangnya apa yang harus ku lakukan agar kau percaya?"
Ia sama sekali tidak memberikan jawaban. Bintang di luar sana nampak cantik dan cerah. Tirai belum tertutup secara menyeluruh sehingga untuk menatap para bintang sudah sangat memalukan baginya.
Perlahan wajahnya terangkat dan akhirnya memperlihatkan rona merah di wajahnya karena malu.
__ADS_1
"Aku tahu jika kau tidak melihatnya, tapi aku malu." Ucapnya pelan.
Di balik pintu yang terkunci rapat itu selalu terisi dengan suara Hyunjae yang meminta maaf dan membiarkan Lazel membuka pintunya dan membiarkannya masuk.
Namun Lazel belum bisa menyembunyikan rasa malu yang ada di wajahnya. Ia sama sekali tidak penah bertingkah seperti ini meskipun di hadapan laki-laki. Namun Hyunjae selalu dan selalu membuatnya salah tingkah dan selalu membuat wajahnya memanas.
Perlahan ia turun dari ranjang dan melangkah pelan bersama dengan selimut yang masih mengulum tubuhnya.
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu.
"Tidurlah di kamar lain."
"L-Lazel? Tidak! Aku tidak mau!" Tolak Hyunjae dari balik pintu.
"Dia seperti anak kecil," pikirnya dengan tanpa ia sadari senyuman kecil terukir dalam bibirnya. "Untuk hari ini biarkan aku sendiri."
"Tidaaak! Aku tidak mau! Apa ada sesuatu yang bisa membuat amarahmu mereda? Aku pasti akan melakukannya."
"Tidak ada yang perlu kau lakukan, hanya saja turuti permintaanku ini."
"Tidak mau."
"Mengapa kau begitu keras kepala?! Bukankah aku hanya mengusirmu dalam sehari?!"
"Aku tidak mau... itu mengingatkanku disaat kau pergi meninggalkanku. Aku tidak mau merasakannya lagi."
Memangnya seberapa parah yang dia rasakan dibandingkan perasaan yang Lazel timbun selama ini. Dia berbicara seolah-olah tahu mengenai perasaan orang lain. Bahkan Lazel sendiri sama sekali belum bisa meninggalkan masa lalu yang terus menghantui dirinya. Namun entah mengapa di posisi saat ini Hyunjae seperti seseorang yang mengalami keputusasaan yang besar.
Perlahan ia melepas selimut itu dari tubuhnya dan manatap datar ke arah pintu namun dengan kedua alis yang sedikit tertekuk.
"Kau bisa tidur dengan berbagai wanita di luar sana." Ujarnya dengan dingin namun perasaannya sama sekali tidak ingin menerimanya.
"Apa kau tahu... meskipun mereka menikmati diriku, aku sama sekali tidak pernah membalaskannya pada mereka. Pada satu gadis pun tidak pernah kulakukan,"
"Aku menganggap mereka sebagai mainan yang hanya bisa meringankan beban yang kupikul selama Ayah menyerahkan perusahaannya padaku,"
"Lagipula mimpi untuk menikah sama sekali tidak pernah terlintas di dalam pikiranku,"
"Akan tetapi... bagaimana kau bicara, bagaimana kau bertindak, bagaimana kau memandang orang lain, bagaimana kau menghadapi setiap masalah. Perlahan itu membuatku terpaku padamu,"
"Lazel... aku tidak pernah melakukannya pada siapapun di luar sana. Jadi tolong jangan terus membuat jarak,"
Lazel yang tidak menanggapinya dengan ekspresi akhirnya mulai tergerak dimana suara Hyunjae tiba-tiba menjadi serak dan mulai seperti terisak dalam tangisan.
"Aku tahu jika selama ini kau masih membenciku, tapi kumohon berikan satu kesempatan untukku dan memperbaiki semuanya,"
"Bukankah sangat menjijikan jika harus tinggal bersama pria yang sudah tidur bersama ratusan wanita?"
"Ya, aku memang brengs*k yang bahkan tidak pantas dimaafkan. Aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu mengenai maaf, namun kumohon jangan membenciku."
Dari semua ucapan itu Lazel merasa bahwa saat ini dirinyalah yang salah. Masa lalu begitu menyeramkan baginya, bahkan perasaan trauma tidak bisa lepas begitu saja.
Kedua tangannya tergenggam erat serta bibirnya yang tergigit pelan, "maaf... kau terlalu menyakitkan bagiku." Ujarnya dengan suara yang lirih.
...◇• •◇...
Pagi harinya...
Malam ini ia tidak tidur dengan cukup. Di balik pintu itu ia merasa bahwa ada seseorang yang terus menunggu dirinya untuk membukakan pintu.
Bahkan untuk beranjak dari ranjang ia tidak ingin melakukannya. Saat ini mungkin dunia melihat dirinya sebagai seseorang yang angkuh dan tidak terima kesalahan.
Seisi kamar masih rapat dengan tirai-tirai jendela sehingga menghalangi sinar matahari yang ingin menerobos masuk.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu membuatnya terlonjak kaget.
"Lazel, apa kau sudah bangun? Aku ingin membicarakan sesuatu mengenai tadi malam denganmu."
__ADS_1
"H-Hm, tunggulah di bawah." Ujarnya.
"Baiklah~"
Perbincangan itu seperti biasa, masalah tadi malam semudah itu dilupakan. Bahkan Lazel sendiri tidak tahu harus menasang wajah seperti apa di hadapan Hyunjae.
...◇• •◇...
Sebelum benar-benar menuju lantai bawah, ia memastikan terlebih dahulu bagaimana suasana hati Hyunjae setelah malam tadi.
Karena merasa bahwa semuanya baik-baik saja, Lazel pun segera menuruni anak tangga dengan santai.
"Oh, kau sudah disini. Ayo sarapan terlebih dahulu, setelah itu aku akan memberitahumu sesuatu dari Ibu." Jelas Hyunjae pada Lazel yang sudah berada di dekat sofa.
"Ibu?"
"Ya, jadi ayo kemari."
Selama tidak ada pelayan, Hyunjae harus terbangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan hal lainnya. Jika di hari biasa mungkin dirinya akan kelelahan karena diiringi dengan pekerjaan kantor yang amat padat.
"Lazel, apa aku boleh tidur denganmu malam ini?" Tanya Hyunjae yang memasang wajah ceria seperti sebelumnya.
"Hm, lagipula memang itu kesepakatannya." Jawabnya.
Melihat Hyunjae dalam raut wajah seperti itu sangat jarang ia lihat sebelumnya. Dulu... yang diperlihatkan pria itu hanya kekerasan dalam rahangnya, serta tekukan alis yang selalu ia lihat sepanjang waktu.
Membawa gadis lain dan meninggalkannya seorang diri. Semua itu hanya demi uang, namun saat ini mungkin Lazel tidak sanggup untuk melaluinya lagi.
"Jadi... apa yang ingin kau sampaikan? Bukankah itu dari Ibu?"
"Oh! Dia berkata seperti ini," Hyunjae belum menyelesaikan makannya, oleh karena itu ia menyerahkan ponselnya pada Lazel dan membiarkan wanita itu membancanya sendiri. "Sepertinya kau akan terkejut." Ucap Hyunjae sebelum menyerahkan ponselnya.
Lazel meraihnya dan membaca pesan singkat yang sudah dibuka oleh Hyunjae. Disana tertera jelas identitas sang pengirim, tak lain adalah Nerza, Ibu mereka sendiri.
"A-Apa?? Menantu? Kak Hyunji akan menikah??" Tanya Lazel dengan terkejut, terutama Hyunji yang menjadi topik pembicaraan mereka.
"Aku dengar jika Kara menyukainya, aku penasaran bagaimana perasaannya saat ini." Ejeknya.
"Sialan! Kau seharusnya tidak berkata seperti itu." Tukas Lazel dengan memukul pelan lengan atas Hyunjae.
"M-Maaf sayang."
Hal ini membuat Lazel khawatir sekaligus was-was. Setelah berakhir dari masalah Ja Heul, Lazel memang tidak pernah atau jarang bermain dengan Kara atau mendengar kabarnya seperti apa.
"Aku akan-"
"Hentikan, jangan menghubunginya. Itu hanya akan membuatnya semakin down." Sela Hyunjae pada Istrinya.
"Y-Ya kau benar, tapi..."
"Dia juga seorang manusia, oleh karena itu biarkan dia sendiri," Hyunjae megelus pelan pucuk kepala Lazel. "Setelah ini kita akan pergi ke Rumah Utama." Ujar Hyunjae lalu pergi ke dapur.
Sejauh ini... Lazel sangat mengetahui bahwa Kara sangat menyukai Hyunji. Rasa sukanya terbilang sangat lama, hal itu sudah terjadi semenjak ia bekerja di bawah perintah Hyunjae.
Kara selalu bercerita apapun padanya mengenai rasa sukanya pada Hyunji. Sebagai teman, Lazel pun memberi dukungan yang lebih pada Kara. Namun ia pernah mendengar bahwa Kara sudah mengetahui bahwa Hyunji pernah menyukai dirinya sehingga membuatnya merasa bersalah pada Kara.
Oleh karena itu Lazel tidak berniat untuk membahasnya kembali atau berusaha menempelkan Hyunji dan Kara, hal sederhana seperti itu merupakan sasaran empuk untuk sebuah fitnah.
"Kara... bagaimana keadanmu saat ini."
...◇• •◇...
Pikirannya saat ini benar-benar kosong, atau lebih tepatnya ia tidak tahu harus memikirkan apa atau melakukan apa. Hari kemarin sungguh membuat tidak habis pikir dan membuatnya harus mengungkapkan semuanya sebelum pria itu yang mengatakannya terlebih dahulu.
Sebuah kediaman besar sudah terlihat jelas, bahkan pagar sudah terbuka lebar sejak tadi.
"Ada apa Kara?" Tanya pria berkemeja rapi itu.
"Ti-Tidak, jangan menghadap kesini. Kau membuatku grogi." Ucap Kara yang membuang wajahnya dari tatapan Hyunji yang duduk di sampingnya sambil memegang kemudi mobil.
__ADS_1
"Hahahaha~ tenang saja, semuanya akan baik-baik saja."