Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Pekerjaan]


__ADS_3

Bentuk wajah yang sudah hampir dikenal oleh semua orang, sosok yang terkadang menunjukkan wajahnya melalui layar televisi. Sosok mata yang menatap dengan tajam. Dan hal yang paling mencolok adalah warna perak pada rambut panjangnya.


Penyamaran itu pada akhirnya terbuka secara menyeluruh dan membuat para gadis-gadis yang meramaikan ruangan itu terdiam dan merasa sangat terkejut.


"Baik Nona." Jawab perempuan berambut pendek berwarna pirang itu.


"Haah... seharusnya aku tidak perlu membuka semuanua seperti ini, lihat... mereka sampai ketakutan seperti itu." Batin Lazel yang mulai mendapatkan kedamaian di dalam ruang tunggu.


Melihatnya saja, pemilik salon itu sepertinya jauh lebih tua dibandingkan dirinya. Oleh sebab itu Lazel memberinya penghormatan sebagai rasa terima kasih. tulah alasan utama Lazel melakukan semua itu.


Hampir menghabiskan dua jam, akhirnya Kara usai dalam perawatannya.


"Lazel, ayo pulang." Ujar Kara yang sudah mempersiapkan dirinya untuk kembali.


"Hm," Lazel berdiri dari tempat duduknya, sekilas ia melihat semua kepala penggosip itu menunduk dan tidak mengucapkan apapun, "kenapa kalian tegang seperti itu?" Tenang saja, aku tidak akan mengucapkan apapun pada Hyunjae mengenai hal ini."


Setelah mendengar hati malaikat Lazel berbicara, para gadis muda itu mulai tersenyum tak karuan.


"Karena aku bisa menyelesaikan semuanya sendirian tanpa bantuan pria itu." Sambungnya dengan nada yang sedikit mencekam.


"Hm? Kau bicara dengan siapa?" Tanya Kara.


"Tidak dengan siapa-siapa~" jawabnya santai.


...◇• •◇...


Beberapa hari kemudian...


Pagi hari dengan setumpuk cahaya matahari yang ada dimana-mana.


Pria berlengan besar itu berdiri di sampingnya sembari memperbaiki dasinya.


"Lazel, untuk saat ini kita akan tetap sibuk dengan pekerjaan Kantor. Apa aku harus membuatmu tetap berada di rumah?"


"Tidak perlu, aku juga harus mengurus sesuatu."


Kedua pasangan Suami Istri itu masing-masing memiliki kesibukan yang sama. Setidaknya mereka akan mengatur pekerjaan terlebih dahulu, setelah itu akan berlanjut pada persiapan acara pernikahan Hyunji dan Kara.


Lazel sudah siap terlebih dahulu dan akan meninggalkan kamar, Hyunjae yang masih dalam keadaan belum siap karena terus memandang wajah Istrinya membuatnya sedikit telat. Oleh karena itu dengan jahil ia menarik Lazel lalu ia bawa ke atas ranjang dengan memberi pangkuan untuk Istrinya.


"Hyunjae jangan sekarang... aku harus memenuhi pertemuan hari ini." Ucap Lazel yang sedikit kesal dengan tindakan ritual Hyunjae di setiap hari.


"Pertemuan? Dengan siapa?" Tanya Hyunjae dengan diam-diam mendekatkan wajahnya pada tengkuk kanan Lazel.


"Bukan urusanmu." Jawab Lazel yang berusaha melepaskan pelukan erat Hyunji pada perutnya.


"Hm... bukan urusanku..." suaranya berubah, hal itu membuat bulu kuduk Lazel berdiri.


"D-Dengan Dewan Menteri mengenai penjualan perhiasan menuju negara lain." Jawabnya dengan terbata-bata.


Dengan cepat Hyunjae menempelkan wajahnya pada leher Istrinya, "Lazel, aku mau mencium-"


DUAK!


...◇• •◇...


"Sampai jumpa sa-"


"Laazeeeelll!!" Sapaan dari suara pria membuat Hyunjae mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.


Alisnya berkerut saat melihat pria berkepala pirang mulai menghampiri Lazel dengan wajah yang riang, "Lazel berhati-hatilah pada setan di siang hari." Ujar Hyunjae yang terdengar seperti nasihat.


"Hahh? Pria otak otot sepertimu memangnya mau melakukan apaaa?" Ejek Gyuu pada Hyunjae.


"Haaa??!! Apa kau mau ber-"


"Hyunjae cepatlah pergi, kau hanya membuang-buanh waktu disini." Sela Lazel dengan nada yang ketus.

__ADS_1


"H-Hm baiklah."


Mobil hitam itupun pergi dari hadapannya dan perlahan menghilang dari pandangannya.


...◇• •◇...


Kesibukan mengenai pekerjaan akan dimulai sekarang, terkadang kesalahan pegawai dalam menangani sebuah dokumen dapat memperlambat atau membuat masalah pada Bos. Semua hal itu bergantung pada mood Bos mereka.


Namun Lazel lebih sering melakukan pekerjaan inti seorang diri. Sedangkan untuk masyarakat ia serahkan pada Byul dan juga pada para pegawai di bawah pengawasan Byul.


Tubuhnya duduk dengan tenang di hadapan sebuah laptop yang menyala dan menampilkan beberapa diagram mengenai perhitungan atau perbandingan angka saham di hari-hari yang lalu.


Meskipun perusahaan yang Lazel pegang merupakan penghasil atau pembuat perhiasan yang terkenal. Namun banyak perusahaan di luar sana yang jauh lebih pro dibandingkan dirinya. Oleh karena itu terkadang Lazel meninggalkan negara untuk menuju ke negara lain sebagai pertemuannya dengan orang-orang terkenal di luar sana.


Sembari mempelajari beberapa hal, ia juga berusaha membuat perjanjian kerja sama dengan perusahaan Amerika. Tindakan Pietra akan sangat menguntungkan bagi negaranya, oleh karena itu ia berusaha untuk membuat perusahaan pusat disana.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Byul berjalan mendekati Bosnya dengan beberapa kertas di tangannya, "Nona, bulan ini Anda akan mendapatkan pertemuan lagi." Ujarnya.


Lazel menurunkan kedua tangannya dari papan keyboard dan mulai menatap Byul, "pertemuan?"


"Ya. Tempatnya berada di Prancis, lalu selanjutnya Anda akan diundang oleh Tuan William J. Holbert untuk membahas perjanjian."


"William? Berarti setelah mengunjungi Prancis aku akan terbang kesana?"


"Iya."


"Apa mereka berniat membunuhku?" Batin Lazel, "baiklah, tanggal berapa mereka membutuhkanku?"


Byul memberikan rinciannya pada Lazel dan membiarkannya untuk menghitung keadaan.


"Bukankah ini bertepatan dengan acara Hyunji dan Kara?" Lazel mengambil ponselnya dari dalam tas, "Byul, terima undangan mereka. Tapi setelah aku menghubungi salah satu perwakilan dari keduanya."


"Baik Nona."


...◇• •◇...


^^^"..............."^^^


"Selamat pagi."


Sambungan itu akhirnya terputus dan membuat Lazel menghempaskan dirinya di atas sofa.


"Aku hampir melupakan salah satu kalimat Prancis saat kami berbicang tadi..." keluhnya dengan wajah yang lesu.


Lazel sudah mempersiapkan segalanya untuk nanti. Ia berhasil mengundurkan tanggal pertemuan yang akan dia lakukan setelah acara Hyunji dan Kara berakhir.


Sepertinnya di bulan ini dirinya akan sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan yang ada.


Nontifikasi dari komputer membuat tubuh lelahnya harus berjalan dan menghampiri kembali tempat duduknya.


"Kartu undangannya sudah tersedia."


Lazel kembali mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Hyunjae.


^^^"What happen babe?"^^^


"Cepat sekali dia mengangkatnya," pikir Lazel. "Setelah pulang nanti bisakah kita pergi ke tempat desain undangan pernikahan Kara? Mereka sudah membuatnya."


^^^"Permintaanmu sama sekali tidak akan mendapat pe-"^^^


"Baiklah akan ku tutup."


^^^"T-Tunggu! Apa hanya itu saja?! Apa tidak ada yang-"^^^

__ADS_1


"Aku harus menghubungi Kara jadi DIAMLAH DAN LANJUTKAN PEKERJAANMU!"


^^^"Y-Ya, akan ku lanjutkan. Sampai jumpa sayang."^^^


Setiap melakukan panggilan dengan Hyunjae sudah sangat dipastikan jika Lazel harus menguras banyak emosi.


...◇• •◇...


Lazel memperhatikan salah satu kartu undangan itu dan memeriksanya dengan teliti. Dia tidak ingin ada kesalahan dalam proses pembuatannya.


"Hei, kau bisa melakukannya di rumah." Ujar Hyunjae pada Istrinya.


"Tidak bisa... aku tidak ingin melihat wajah kekecewaan Kara saat dia tahu jika ada kesalahan dalam pembuatan kartu undangan pernikahan mereka." Jelas Lazel.


"Dia wanita yang baik." Batin Hyunjae.


Sesuai permintaan Lazel. Sebelum mereka kembali ke rumah, Lazel meminta pada Hyunjae untuk mengambil kartu undangan yang sudah siap. Dan kini mereka akan mengantarkannya pada Kara dan juga Hyunji. Sisanya akan mereka kerjakan sendiri untuk mengundang para tamu.


...◇• •◇...


Ia menekan beberapa sakelar untuk menyalakan lampu di ruangan rumah mereka. Mereka tiba saat malam hari, seharian ini mereka melakukan banyak aktivitas pada perusahaan. Apalagi Lazel yang mengurus begitu banyak hal untuk acara perhikahan Kara dan Hyunji nanti.


Ia menyerahkan tas yang berisi tumpukkan undangan pada Hyunjae, "Hyunjae, tolong letakkan ini di atas meja. Aku akan mengerjakannya setelah mandi." Ujar Lazel yang sudah berjalan ke lantai atas.


Kedua alisnya berkerut, "apa kau tidak istirahat sejenak? Kau nampak kelelahan." Ujarnya dengan khawatir.


"Tidak, aku baik-baik saja, lagipula ada yang ingin ku bicarakan denganmu nanti. Ini penting."


"..............."


...◇• •◇...


Hyunjae baru saja menyelesaikan sedikit pekerjaannya di ruangan khusus yang ia gunakan untuk tempat bekerja.


Tatapannya dan juga kepalanya terus melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Lazel.


Ia menghampiri meja Ruang Tengah, dimana sebelumnya Lazel meminta pada Hyunjae untuk meletakkan kartu undangan yang telah ia bagi ke Ibu Nezra dan juga Kara.


Wanita itu berkata bahwa dia akan mengerjakannya setelah mandi. Namun hingga saat ini dirinya tidak melihat adanya Lazel.


"Apa yang dia lakukan di kamar?" Hyunjae beranjak naik ke lantai atas yang dimana terdapat tiga kamar, salah satunya adalah kamarnya dan juga Lazel.


Pria yang hanya mengenakan celana pendek di atas lutut itu mulai membuka knop pintu dan mencari Lazel. Namun sebelum dirinya memanggil Lazel, ternyata wanita itu berada di atas ranjang dengan wajah yang terlelap.


"Dia tidur?" Hyunjae menghampiri Lazel dan mendapati ponselnya yang masih berada di genggamannya.


Ia meraih ponsel Lazel dan memperhatikan apa yang ada di layar ponselnya.


"Hm? Deretan nama?" Hyunjae langsung dapat menebak jika deretan nama itu adalah orang-orang yang akan mendapatkan kartu undangan nanti, dan Lazel yang akan menuliskan nama mereka.


Lazel seperti tertidur secara tidak sengaja. Ia menduga bahwa Lazel sangat kelelahan hari ini dan juga sebelumnya. Sebenarnya Hyunjae sudah menebak hal ini sebelumnya jika Lazel lelah dengan semua aktivitasnya.


Hyunjae mengangkat tubuh Istrinya ke tempat yang sesuai dan menyelimutinya dengan benar.


"Bukankah kau memiliki perbincangan yang penting denganku? Lalu mengapa kau tidur begitu saja?"


Hyunjae juga mendengar dari Ibunya jika Lazel melakukan sedikit desain pada seragam yang akan mereka kenakan nanti. Hyunjae sedikit tertawa karena hal itu mengingatkannya pada pekerjaan Lazel pada saat masih di Jepang. Siapa sangka jika Wanita itu akan meneruskan bakatnya pada acara ini.


"Aku akan memasak, mungkin saat dia terbangun akan kelaparan."


Hyunjae mengambil ponsel Lazel dan membawanya keluar. Dia tidak ingin ada seorang pun mengganggu tidur kekasihnya.


...◇• •◇...


"Hm..." erangan Lazel membuat pria yang bertelanjang dada di sampingnya menoleh.


"Lazel?" Ia menutup buku itu lalu mendekati wanita berambut perak itu sembari mengusap wajahnya pelan, "apa kau-"

__ADS_1


"Aku lapar..." ucapnya dengan kedua mata yang terbuka sedikit. "Wajahmu dekat sekali, menjauhlah." Ia mendorong dengan pelan wajah Hyunjae. Namun pria itu hanya memasang wajah yang tersenyum.


Ia mulai memegang wajah Lazel dengan kedua tangannya yang besar, "Ayo sayang, bangunlah."


__ADS_2