Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Good Bye Paris


__ADS_3

Selain penuh amarah dan kesabaran, mereka berdua juga sering menghabiskan waktu di luar dan memperhatikan pemandangan kota Paris. Negara yang penuh keunikannya itu membuat Lazel mulai menyuakainya setelah Jepang.


Menurutnya, Eropa terkenal dengan bangunannya yang mirip dengan Istana Kerajaan pada zamannya, atau mansion mewah yang biasanya dimiliki oleh keluarga bangsawan.


Sedangkan Jepang, ia lebih menyukai adat serta pakaiannya dan juga sakura. Taman di Jepang nampak asri dan kuil-kuil disana terkadang membuatnya tertarik. Kini ada dua negara favorit Lazel yang di kemudian hari akan ia kunjungi kembali.


Pesawat dengan XXX sudah berada di tempat dan menunggu penumpang memasukinya.


Sebelum bergerak, sekilas ia berdiri di depan dibding yang terbuat dari kaca dan melihat sebuah menara yang nampak dari sana, "hiks! Aku ingin tinggal disini..." ucapnya dalam hati.


"Ada apa Lazel? Ayo pergi." Ujar Hyunjae yang membawa dua koper di kedua tangannya. Sedangkan Lazel membawa ransel Hyunjae dan juga tas punggungnya.


"H-Hm..."


Sangat menyedihkan rasanya untuk meninggalkan tempat seperti ini. Meskipun waktu itu ekonomi tidak memadai, namun karena prestasi di bidang non akademik yang dia miliki membuatnya bisa menginjakkan kaki di negara-negara asing.


Dan sekarang... ia telah menikahi pria kaya sehingga tidak perlu menunda atau memikirkan masalah biaya untuk melakukan liburan ke berbagai negara.


Setelah dia pikir-pikir lagi. Selain mempunya perasaan, justru keuangan Hyunjae lah yang bisa membuatnya bertahan.


"Hm... tidak buruk." Gumamnya.


Ruangan besar itu nampak ramai dengan orang-orang yang terkenal. Gedung yang Hyunjae pilih tentu saja gedung papan atas yang biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang berprofesi di segala bidang. Termasuk hiburan dan lain-lain.


"Tidak ada yang tertinggal kan sayang?" Tanya Hyunjae.


"Tidak, aku sudah memeriksanya ulang sebelum matahari terbit." Jawab Lazel.


Kini mereka tiba di lapangan bandara dan juga sebuah pesawat yang akan mereka naiki.


...◇• •◇...


"Haah... siapa sangka jika aku akan pergi secepat ini?" Ucapnya dengan wajah yang lesu.


"S-Sayang... apa ini tidak salah?"


"Hah? Apa yang salah? Kurasa semuanya baik-baik saja." Balasnya dengan wajah yang tidak bersemangat dan meratapi kepergiannya dari balik jendela.


"T-Tapi..."


Beberapa penumpang sudah berada di dalam dan mulai menduduki kursi mereka masing-masing yang telah disediakan.


Ia menganggap bahwa kesehariannya di Paris adalah liburan. Meskipun tidak memakan waktu satu bulan, setidaknya mereka sudah bersantai sejenak dari pekerjaan.


"Selamat pagi Nona, kita berada di satu tempat yang sama." Seseorang memberikan sapaan hangat untuknya dalam bahasa Inggris, sehingga Lazel dengan mudah memberikan tanggapan atau balasan yang tepat.


"????" Lazel pun menolehkan wajah malasnya, "o-oh... pagi. Silahkan." Ujar Lazel yang langsung memperbaiki posisi duduknya.


Alasan Hyunjae terus berbicara dan mengeluh adalah...


"Astaga? Hyunjae, tempat dudukmu di depan?" Tanya Lazel yang akhirnya merasakan ada yang menjaggal.


"Kau baru tahu?! Bagaimana ini bisa terjadi sialan!" Keluh Hyunjae yang terlihat frustasi.


"Sudahlah... lagipula kita sudah mendapatkan tempat duduknya dengan nomor yang sesuai." Ucap Lazel dengan malas.


"T-Tapi aku tidak mau berpisah denganmu! Lagipula bagaimana bisa kita tidak di tempat yang sama?!"


"Tutup mulutmu dan diamlah! Itu hanya kesalahan kecil! Seharusnya kau bersyukur jika mendapatkan tempat duduk yang tidak jauh dariku!"


"B-Baik Sayang..." mendapatkan omelan keras dari Lazel membuat Hyunjae seketika bungkam dan tenang dalam duduknya.


Tanpa sadar, teriakkannya itu menimbulkan lirikkan dari beberapa orang di dalam pesawat. Namun Lazel tidak peduli, perasaan sedihnya masih terasa dikala ia akan meninggalkan Paris.


...◇• •◇...


Sebelum melakukan pemberangkatan, Lazel sempat memberitahu Ian terlebih dahulu dan melupakan orang-orang yang berada disana.

__ADS_1


Wanita berambut perak berikat satu itu tidak melepaskan pandangannya dari jendela dan melihat-lihat awan yang terus mereka lewati.


"Aku mau makan sesuatu."


"Hm? Apa Anda membutuhkan sesuatu? Mungkin Anda membutuhkan bantuan Saya." Ucap perempuan asing itu dengan ramah.


Lazel menarik ucapannya sendiri mengenai perbedaan tempat duduk dengan Hyunjae. Setidaknya ia bisa menggunakan pria itu sebagai penerjemah yang handal tanpa merepotkan orang lain.


"Jika aku memanggilnya, apa dia akan menyahut?" Pikir Lazel dengan gugup, "tidak mungkin, saat ini dia pasti marah."


Kedua tangannya merapat dan telapak tangannya saling bertemu, "m-maaf merepotkan Anda. Kebetulan aku sangat susah berbicara atau mengartikan bahasa Prancis. Bisakah kau membantuku?"


"Of course!"


Karena berasal dari Prancis bahasanya mungkin akan sedikit berbeda. Oleh karena itu ia membutuhkan orang yang ada di sampingnya tersebut.


...◇• •◇...


Karena merasa bosan, oleh karena itu Lazel berniat membeli sesuatu yang gurih ataupun kue kering. Akibat bantuan dari seoarang perempuan yang ada di sampingnya.


"Hm? Dia tidak bersuara. Apa dia baik-baik saja?" Lazel mulai mengkhawatirkan Hyunjae yang tidak bersuara sedikit pun.


Kini Lazel perlahan mulai berdiri dan melihat ke depan bagaimana keadaan Hyunjae.


"N-Ngomong-ngomong, siapa yang duduk dengannya?"


Lazel pun akhirnya mengambil kesempatan untuk melihatnya sekaligus memberikan cemilan yang baru saja ia beli.


"Hyunjae? Apa kau-" ucapannya terputus begitu saja saat melihat pria itu tertidur dengan ear phone yang menutupi kedua telinganya.


"Hm? Ada yang bisa Saya bantu?" Perempuan asing yang duduk bersama Hyunjae menoleh ke arahnya dan bertanya.


"T-Tidak, maaf mengganggu." Merasa tidak enak, Lazel pun kembali duduk dan terdiam.


"Ada apa Nona? Bukankah pria yang di depan adalah Suamimu?" Perempuan di sampingnya itu mulai bertanya kembali pada Lazel.


"Lalu? Mengapa Anda tidak kembali memanggilnya?"


"T-Tidak perlu, dia sedang tertidur," jawab Lazel. "Lagipula pria itu terus melakukan hal yang tidak masuk akal sepanjang malam." Ucapnya dalam hati yang masih merasa kesal dengan Hyunjae.


"Benarkah tidak apa-apa?"


"Hm, kau tenang saja."


"Baiklah, aku hanya khawatir pada kalian yang tidak duduk bersama."


Lazel cukup senang dengan orang itu yang sangat ramah padanya. Apalagi terus mengajaknya berbicara. Saat melakukan penerbangan dari Jepang ke Prancis, ia juga menemukan orang yang asik. Meskipun orang itu jauh lebih muda darinya.


...◇• •◇...


Sebenarnya keberangkatan awalnya menuju Jepang bisa secara langsung. Namun mengingat kepergian Adiknya, ia harus dua kali menaiki pesawat yang berbeda. Saat melakukan penerbangan pertama, Ian akan berhenti dan akan mendiami Jepang untuk beberapa tahun ke depan. Sedangkan Lazel melanjutkan menuju Prancis.


Wajahnya terus menoleh ke arah jendela dan menatapi semuanya yang ada di bawah sana.


"Ohh... lapangannya sudah terlihat." Ucapnya pelan.


Sembari menunggu pesawat yang benar-benar mendarat, Lazel segera membereskan barang-barang kecilnya yang berada di sekitar tempat duduknya.


"Hyunjae, apa kau sudah bangun?"


"Hm, ada apa?"


"Kemasi barangmu yang tergelak di luar."


"Aku tahu."


Berada di satu pesawat yang sama namun berbeda tempat duduk. Disisi lain, Hyunjae masih merasa bad mood karena Lazel membentaknya ditambah tempat duduk mereka berbeda. Dan seseorang yang berada di sampingnya adalah gadis muda dengan penampilan yang cukup mencolok. Yahh lagipula hal itu memang wajar di usia mudanya.

__ADS_1


"Hei, apa kau mau?" Ia menawarkan permen penyegat nafas.


"Hm? Boleh, terima kasih." Ucapnya dengan memberika senyuman kecil.


"H-Hm! Sama-sama," jawabnya dengan bersemangat. "G-Gila... Kakak ini sangat tampan dan tinggi."


"Kau..."


"Y-Ya?!"


"Bersemangat sekali..." batin Hyunjae. "Apa kah idol kecil atau..."


"Kecil?"


"Y-Yah... tubuhmu kecil sekali." Ucapnya dengan perasaan tak enak. Meskipun begitu ia tetap mengatakannya.


"Hmph! Aku tahu! Tapi dengan seperti ini aku sangat terkenal kau tahu!"


"Benarkah? Apa kau terkenal di kalangan anak-anak?"


"A-Anak-anak?!"  Gadis muda itu memang memiliki tubuh yang kecil, namun siapa sangka akan mendapatkan ucapan seperti itu dari pria yang tampan, "y-yahh... itu wajar saja. Lihat saja tubuhnya yang besar dan tinggi."


"Aku salah satu dari grup penyanyi."


"Whoaa... benarkah?"


"Hm!" Angguknya, "sudah kuputuskan! Dia adalah tipeku! Aku akan membuatnya menyukai diriku!" Ucapnya dalam hati sembari menggebu-gebu.


Sebagai rasa penghilang bosannya ditambah dengan rencana kecilnya untuk mengabaikan Istri cantiknya. Ia pun menghabiskan waktunya bersama anak kecil itu hingga mereka terpisah saat turun dari sana.


"Tunggu sebentar... bukankah tadi ada yang memanggil namanya? Dari belakang? Suara perempuan?! Siapa itu?!"


"Hm... pasti hanya bawahannya atau managernya saja. Lagipula pria sepertinya ini tidak mungkin mendapatkan perempuan begitu saja."


Akhirnya pesawat dalam mode pendaratan dimana semua penumpang harus mengenakan sabuk pengaman. Melihat betapa kasihannya anak kecil itu untuk bergerak, ia pun berinisiatif untuk membantunya mengenakan sabuk.


"Hm? Padahal aku bisa."


"Haha~ tidak masalah," ucapnya. "Melihat Lazel yang hampir menyamai tinggiku, melihat anak ini seperti salah satu anak TK yang kesasar." Batinnya.


Hyunjae mengambil ponselnya untuk memeriksa waktu.


"Whoaaa... cantik sekali. Apa dia Ibumu?" Tanya gadis itu yang sengaja melihat ke arah ponsel Hyunjae, "hm... wajahnya tidak asing."


"Cantik bukaaann~" Hyunjae menurunkan volume suaranya menjadi pelan. "Hahaha~ dia Istriku yang duduk di belakang mu."


"!!!!" Merasa seperti disambar oleh petir besar.


...◇• •◇...


Ia masih tidak menyangka jika tipenya sudah memiliki seorang Istri. Ditambah Istrinya ada di belakangnya, sekarang ia mengerti. Wanita yang sebelumnya memanggil Hyunjae atau tipenya adalah Istrinya. Dan... ia berpikir bahwa foto wanita yang ada di lookscreen itu tidaklah asing.


Hingga mendapatkan pengumuman, semua penumpang pun perlahan keluar secara berurutan dan tidak tergesa-gesa.


"Senang dapat berbincang denganmu." Ucap Lazel pada perempuan yang ada di sampingnya. Selain baik, dia sangat menghormati orang lain. Oleh sebab itu Lazel juga sangat menghormati orang itu dengan nilai yang lebih tingg


"Senang dapat berbincang dengan Anda, Nona Lazel." Balas perempuan itu dengan kepala yang menunduk.


"Hahaha-eh?"


"Sampai jumpa~"


"D-Dia mengenalku?"


Lazel pun kembali beralih pada Hyunjae yang ada di depannya. Sebelum itu, ia pun mengambil koper yang ada di bagasi atas.


"Ayo Hyu-" kedua matanya melebar saat melihat sesuatu yang ada di samping Suaminnya. "A-Anak hilang?! A-Apa kita perlu mengumumkannya?!" Ia tampak kaget dengan seorang anak kecil berpakaian mencolok.

__ADS_1


"Sudah kuduga." Batin Hyunjae.


__ADS_2