
"Apa aku sangat terlihat seperti duda yang baru saja ditinggalkan oleh Istrinya?" Ucapannya penuh dengan keluhan yang tidak berguna.
Lazel pergi begitu saja dan meninggalkan dirinya seorang diri di depan sebuah apartemen yang tidak terlalu besar atau mewah.
Kembali pada permasalahan utama. Hyunjae masih penasaran dengan seseorang yang meletakkan dendam pada Lazel. Setahu yang dia alami, Lazel tidak pernah berniat untuk mengurus kehidupan orang lain, justru orang-orang yang selalu berusaha mencari masalah dengannya.
"Siapa... siapa yang menaruh dendam pada Lazel sehingga masalah ini cukup sulit untuk di singkirkan?"
...◇• •◇...
"Apa itu nama manusia?"
"Merek makanan?"
Gyuu dan Kara tidak mengetahui nama asing itu. Bahkan sangat asing untuk pertama kali mendengarnya.
"M-Marga Heul? Bukankah mereka yang memiliki akuarium termewah di bagian Kota Timur?" Ucap Vicy yang tidak menyangka sesuatu.
"Y-Ya... kurasa aku pernah mendengar namanya." Kini Hyunji juga merasa tidak asing dengan nama itu.
"Ha? Apa? Kalian mengenalnya?" Ucap Kara yang sama sekali tidak mengetahui apapun tentang nama itu.
"Ya... dia adalah salah satu Putri dari Keluarga Heul... Ja Heul. Yang memiliki akuarium termewah di bagian Kota Timur." Jelas Yana.
"Apa jangan-jangan..."
"Ya, dialah wanita yang berhasil mengusik kembali di antara Tuan dan Nona. Bahkan wanita itu merupakan Kekasih pelampiasan bagi Tuan Hyunjae."
"Ha? Maksudnya?" Tanya Vicy dan Gyuu bersamaan.
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!" Kara tertawa dengan lepas sehingga Hyunji yang berada di sampingnya merasa terkejut bukan main.
"K-Kara?"
"Aku tidak m-menyangka jika wanita itu hanya dijadikan pelampiasan. Apa Karena Hyunjae cemburu pada Lazel yang pernah mendekati pria lain?" Ucapnya dengan tawa yang masih menggema.
...◇• •◇...
Jika dikatakan Kekasih memang benar, namun dari tatapan yang diberikan Hyunjae jika dirinya hanya memancing emosi Lazel sehingga menampakkan rasa kecemburuannya terhadap Hyunjae yang dekat dengan wanita lain.
Hyunjae yang pernah bermain dengan para wanita di luar sana tetap memiliki seorang Kekasih tetap atau benar-benar merupakan Kekasihnya. Dan dia adalah Ja Heul. Bahkan Yana menyebutkan bahwa mereka sudah menjalin hubungan cukup lama.
"Sebenarnya Hyunjae menggunakan wanita hanya untuk rasa senangnya atau bagaimana?" Gyuu merasa bahwa tindakan Hyunjae cukup membingungkan.
"Entahlah. Namun sebelum mereka menikah, Tuan Hyunjae memang sering melakukan ini. Sehingga Nona Lazel menginjakkan kaki di kediaman Tuan, semuanya pun perlahan tidak memiliki alur yang jelas."
"Bagaimana menurutmu Hyunji, bukankah kalian adalah Saudara? Setidaknya kau tahu mengenai Adikmu sendiri." Ujar Kara.
"Hyunjae..." pertanyaan Kara membuatnya sedikit berpikir. "Pada dasarnya memang aku yang merupakan anak patuh pada orang tua, dan Hyunjae selalu membuat masalah di masa sekolahnya sehingga Ibu dan Ayah harus menghadiri sekolah secara bergantian karena kenakalannya." Jelasnya.
"Kurasa Hyunjae dan Lazel memang ditakdirkan untuk bersama." Ucap Kara yang diikuti dengan anggukan kepala Vicy.
"Tidak, Lazel ditakdirkan untuk pria berhati Malaikat sepertiku." Sahut Gyuu yang menentang ucapan Kara.
Yana memang sudah mengenal siapa itu Ja Heul dan darimana asal keluarganya. Oleh karena itu dia memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai masalah Heul dan juga Hyunjae meskipun ia tidak berniat untuk menceritakannya.
...◇• •◇...
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama di tempat tinggal Yana.
Wanita itu sudah tidak bekerja lagi untuk melayani Hyunjae sehingga Lazel kembali. Sedangkan Glen, setelah Hyunji menjelaskan mengenai identitas pelayan pria itu akhirnya mereka mengurungkan niat untuk menemuinya.
Pada dasarnya Glen adalah pelayan khusus di Villa Hyunjae. Berbeda dengan Yana yang bekerja di bawah perintah Lazel. Namun karena jarang mengunjungi kediamannya sendiri, akhirnya Glen pun memutuskan untuk berhenti, sehingga dirinya tidak mengetahui apapun mengenai masalah lain antara Hyunjae dan Lazel selain hubungan palsu mereka.
Dan akhirnya... mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang masih lima puluh persen. Tapi dengan adanya petunjuk seperti ini, setidaknya mereka akan bertanya langsung.
Kara menghentikan langkahnya sehingga membuat teman-temannya menoleh ke belakang.
"Ada apa Kara?"
"Heul adalah pelakunya." Ucapnya dengan pasti.
"Ha?"
"Tidak salah lagi," kedua tangannya terkepal kuat sehingga wajahnya perlahan berubah menjadi merah padam. "Awal pertemuanku dengan Lazel adalah di salah satu pusat perbelanjaan yang dimana mereka juga memiliki arcade permainan yang beragam."
"Lalu?"
"Ku pikir saat itu Hyunjae sedang bertemu dengan klien kerjanya... ternyata dia adalah wanita yang bernama Heul."
"T-Tunggu dulu!" Vicy menggenggam kedua pundak Kara, "bagaimana jika keputusanmu itu salah? Kau juga bisa salah me-"
"Tidak mungkin jika Lazel akan ditinggal begitu saja! Sedangkan pria itu berjalan dengan wanita lain!" Selanya dengan bentakkan yang kuat.
"!!!!"
"K-Kara jangan berteriak. Beberapa orang sedang melihat kesini." Ujar Hyunji.
...◇• •◇...
"Aku tidak salah... meskipun aku tidak mengenalnya atau membahasnya secara langsung. Bagaimana bisa Hyunjae meninggalkan Lazel begitu saja?"
"Aku melihat Lazel yang berjalan keluar dengan membawa sebuah boneka besar. Hal itu membuatku tersadar bahwa mereka usai bermain bersama. Namun mengapa Hyunjae meninggalkannya dan membuat Lazel-"
"K-Kara... apa sebaiknya kita mengunjungi kediaman Heul?" Sela Vicy dan membantu Kara meredakan amarahnya.
"Wanita keparat itu... aku tidak akan membiarkannya lolos."
"Sebaiknya kita pergi ke Rumah Utama Pietra dan membahas masalah ini bersama mereka," Hyunji menyela dan bersiap-siap untuk menancapkan gas. "Jika Heul bisa memberanikan dirinya untuk bertindak sejauh ini pada sebuah keluarga yang terkenal. Berarti dirinya sudah mengetahui resiko apa yang akan menimpa dirinya. Kemungkinan besar... dia sudah mempersiapkan segalanya." Penjelasan Hyunji membuat semua temannya menyetujui ucapannya termasuk Kara.
...◇• •◇...
Jarinya terus menekan tombol remote itu dengan was-was. Tidak akan ada yang tahu jika berita masalahnya dengan Jean akan sampai ke Jepang. Bahkan sebuah perselingkuhan dapat tersebar luas begitu saja di media internet.
"Ck! Apa mereka baik-baik saja?" Ucapnya dengan segala kerisauan yang ada.
Saat ini Hyunjae sama sekali tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Meskipun ia sudah menemukan Lazel dan juga Ian, namun dirinya memiliki masalah lain yang bisa saja menjatuhkan dirinya dan jug seluruh keluarganya. Jean yang pernah mengalami kesulitan dengan Mantan Suaminya sudah tidak ingin menghadapi masalah apapun, namun sekarang ia harus mengalaminya lagi bersama dengan Putri yang dia miliki.
Lalu, Hyunjae berusaha agar Lazel tidak mengetahui masalah ini. Dirinya tidak tahu masalah apa yang akan terjadi lagi jika Lazel mengetahuinya. Bisa saja jika Lazel akan benar-benar menghilang dari permukaan bumi.
Meskipun ia tidak tahu apa akibatnya jika Lazel tahu, namun ia berusaha untuk membuat Lazel fokus pada Adiknya mengenai keputusan yang Lazel buat.
Pria yang hanya mengenakan ****** ***** itu bangkit dari duduknya sehingga menampakkan lekukkan tubuhnya yang amat luar biasa.
Tangan kanannya terangkat ke atas serta telapak tangan yang mengusap rambut hitamnnya ke belakang, "Lazel... apa aku memang bisa membawamu kembali untuk diriku sendiri?" Ucapnya dengan wajah yang penuh dengan tekanan.
__ADS_1
...◇• •◇...
"Ian, apa kau mau makan?" Tawar Lazel pada Adiknya yang sedang bersantai di atas sofa tanpa pakaian atas.
"Kau... memasaknya sendiri?" Ucapnya dengan tegang serta sorot wajah yang menyedihkan.
"AKU MEMBELINYA! APA-APAAN DENGAN WAJAH MENGERIKANMU ITU!"
"AHAHAHAHAHAHA!" Tawa Ian yang mengejek Kakaknya lalu turun dari sofa.
Saat ini dimana hanya ada mereka berdua di tengah kesunyian. Seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian sepotong, sehingga menampakkan lekukan perutnya yang sempurna. Dihadapkan dengan wajah yang hampir serupa tanpa pakaian atas dan menimbulkan pemandangan sis pax dari perutnya.
"Apa aku harus memberimu mangkuk yang berukuran bak mandi?" Ujar Ian yang memperhatikan porsi makan Kakaknya.
Lazel mengarahkan sumpit itu ke depan dengan wajah yang santai, "apa kau mau ku tusuk dengan sumpit ini?"
Keduanya makan di tengah-tengah kesunyian, membutuhkan hampir setengah jam makan mereka pun usai.
"K-Kenyang..."
"Ian, ikutlah denganku kembali." Ucap Lazel secara terang-terangan.
"Idemu cemerlang sekali Kak. Membuatku menghabiskan makanan terlebih dahulu, lalu kembali membahas hal yang tidak bergu-"
"Lakukan ini demi Ibu Nezra dan Ayah Adam. Untuk mereka saja." Sela Lazel yang berharap tinggi pada keputusan Adiknya.
Ian terkekeh saat mendengar ucapan Kakaknya, "apa kau berniat mengumpulkanku dengan para penipu? Apa kau waras Kak?" Tatapannya mengarah pada Lazel dengan tidak serius.
"Ibu tidak mengetahui masalah ini." Lazel sama sekali tidak putus asa dengan usahanya untuk membawa Ian kembali.
"Bohong."
"Ha? Itu bukanlah-"
"Terlalu banyak kebohonganmu sehingga aku sulit mempercayai siapapun, termasuk dirimu sendiri."
"..............." kalimat yang cukup membuat Lazel tidak berbicara.
"Aku akan kembali." Ian berdiri dari duduknya dan meninggalkan Lazel yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Apa kau tidak ingin membalas budi pada mereka?" Kini Lazel mencoba sekali lagi untuk membujuk Ian agar menurut pada permintaannya.
Pria yang bertelajang dada itu menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
"Prioritasku setelah Ibu dan Ayah adalah dirimu. Orang lain yang bertindak baik atau buruk terhadapku bukanlah urusanku. Selama kau ada di depan mataku itu sudah lebih dari cukup."
Pada akhirnya ia tidak bisa mengatakan apapun. Sekeras apapun dirinya akan kalah di hadapan Ian yang pandai membuat orang lain bungkam karena ucapannya yang tajam.
Setelah semua yang ia lalui... dirinya mulai tersadar. Bahwa tidak selamanya Ian akan berlindung di baliknya, akan ada saatnya Adiknya itu akan berdiri di hadapannya tanpa menoleh ke belakang demi melindungi dirinya.
Kekerasan yang ia ajarkan pada Ian akhirnya mendapat tangkisan yang kuat dengan ucapan yang bijak.
Suara tutupan pintu terdengar. Dan kesunyian semakin menenggelamkan mereka berdua.
Di balik pintu yang ia tutup serta di tengah-tengah ruangan yang gelap, dirinya masih tidak bisa menyangkal apa yang dia katakan. Karena mau seperti apapun, kesalahan orang lain terhadap Kakaknya sangat mustahil untuk mendapatkan maaf.
Kedua matanya menoleh pada sebuah bingkai foto dimana Zoclis bersaudara menampakkan senyuman mereka, "maaf Kak... setidaknya aku melakukan apa yang harus ku lakukan. Jika tidak, manusia manapun pada akhirnya hanya akan membual demi keinginan egois mereka."
__ADS_1