
"Haaah~ jika seperti ini terus. Rasanya aku seperti orang pengangguran."
"Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk resign?"
"R-Resign?! Y-Ya meskipun awalnya memang itu yang kurencanakan, namun Hyunjae sendiri akan menyuruhku istirahat atau vakum dalam beberapa waktu." Jelas Kara.
Musim panas di Jepang juga mereka alami. Letak Jepang dengan negara yang mereka diami memang cukup jauh, namun iklim mereka tetap sama.
Untuk menghabiskan waktu, Kara dan Vicy pergi ke sebuah kafe yang cukup terbuka dengan tempatnya. Lagipula untuk beberapa saat ini mereka tidak melakukan apapun selain menyelidiki kasus Hyunjae dan Jean.
"Pfffftt!!" Minuman yang berada di dalam mulutnya tersembur keluar sehingga mengenai Kara yang duduk berhadapan dengannya.
"V-Vicy! Apa yang kau lakukan?!"
Vicy dengan wajah terkejutnya melihat layar ponselnya, "g-gawat... kurasa berita ini akan semakin panas."
...◇• •◇...
Sebuah butik dengan dekorasi yang cukup mengesankan dan unik. Disitulah saat ini Hyunjae dan Lazel berada.
Kedatangan Hyunjae bersama dengan Lazel membawa kehebohan. Lazel sudah menduga hal ini, sudah pasti jika para gadis yang bekerja disana akan heboh dengan kedatangan Hyunjae.
Di sisi lain, Hyunjae yang berdiri hanya berdiri dengan tatapan bingung sekaligus tidak memahami apa yang para wanita itu katakan, "Yanra?"
"Hyunjae, untuk saat ini biarkan aku yang berbicara. Paham atau tidaknya jangan menyela." Ujar Lazel dengan nada yang pelan.
"H-Hm baiklah."
Lazel menghampiri mereka dan berbicara seperti biasa. Karena menggunakan bahasa asli dari negara itu sendiri, Hyunjae pun tidak memahami apapun yang para wanita itu katakan.
Jika diperhatikan baik-baik, rata-rata pekerja di butik adalah seorang perempuan. Hanya beberapa saja kumpulan pria.
"Hm? Who is this handsome man?" Seseorang muncul dan tanpa sadar menggunakan bahasa internasional.
"Ahahahaha~ i'm Lazel's husband." Hyunjae yang tidak sadar langsung menjawabnya begitu saja.
Lazel yang menatapi kedua orang itu dari kejauhan, ia pun berjalan mendekati Hyunjae dengan wajah suram.
Duak!
"Ack! Apa yang kau lakukan?"
"Kenapa kau berbicara semaumu?" Tanya Lazel dengan kesal.
"O-Oh... maaf."
Karena ulah Hyunjae, mau tak mau Lazel akan memberitahu Bosnya mengenai masalah ini. Lazel akan menyamarkan sedikit permasalahan pribadi mereka, karena semua orang yang ada di butik ini tidak perlu terikut pada masalah hubungan mereka berdua.
Saat ini Lazel tengah berdiri di hadapan wanita dengan wajah yang sudah cukup tua namun memiliki hati yang ramah pada siapapun. Sedangkan Hyunjae ia gunakan sebagai pengalihan, karena untuk sementara ia tidak ingin diganggu.
"M-Maaf... sebenarnya dia adalah-"
"Lazel Pietra, pemegang Perusahaan Pietra Aplic. Dimana pemegang penjualan perhiasan dengan besar-besaran."
"!!!!" Lazel terkejut saat Bosnya mengatakan sesuatu yang sama persis dengan identitasnya, atau memang itulah identitas sebenarnya, "A-Anda..."
"Dengar, kau adalah orang yang cukup penting di negara yang kau tempati. Namun bukan berarti di negara lain tidak ada yang mengenalmu." Jelas Bosnya dengan lekukan bibir yang selalu tersenyum.
__ADS_1
"T-Tapi... kenapa selama ini Anda hanya diam?"
"Kau juga, mengapa kau menyebut namamu sebagai Yanra?" Kini ia membalas ucapan Lazel dengan sesuatu yang tajam bahkan tidak bisa dijawab langsung oleh wanita berambut perak tersebut, "karena kau punya alasan tersendiri, jadi jangan pernah berpikir untuk menyalahkan dirimu."
"..............." Lazel hanya terdiam dan tidak memberikan balasan apapun. Namun jika dikatakan karena sebuah alasan, itu memang benar. Bahkan dirinya sendiri tidak dapat menceritakannya pada siapapun.
Namun sebagai orang tua, Bosnya itu hanya menghargai apa yang Lazel ucapkan kepadanya, selagi itu adalah baik untuknya dan juga orang lain.
...◇• •◇...
Ada yang tahu namanya, namun tidak semuanya yang mengetahui wajahnya. Lazel merupakan satu-satunya wanita dengan penuh karir meskipun hasil itu dia dapatkan dari orang lain, yang dimaksud adalah kedua orang tua Hyunjae atau Mertuanya sendiri.
Tidak mudah orang miskin bisa menikah dengan orang kaya tanpa hujatan. Namun karena dirinya sudah mendapatkan tujuan awal, maka ia tidak perlu memikirkan ucapan orang lain mengenai dirinya. Lagipula tidak semua orang harus menyukainya.
Akan tetapi... seiring berjalannya waktu, dimana Lazel mendapatkan kepercayaan dari Nezra dan Adam untuk memimpin salah satu anak Perusahaan Pusat yang memiliki nama Aplic Pietra. Perusahaan tersebut dimpimpin oleh Lazel dan memiliki atasan tertinggi, dan dia adalah Hyunjae. Pria yang menduduki Perusahaan pusat atau saham terbesar.
Karena kerja keras yang dia lakukan serta terus menerus melakukan pertemuan dan juga rapat serta kerja sama. Pada akhirnya semua orang mulai mengakui dirinya. Sebagai pembuktian, meskipun masih dalam proses, namun keduanya berhasil membuat awalan dengan ketua perusahaan terhebat di Amerika. Dan hal itu adalah ide dari Lazel sendiri.
...◇• •◇...
"Aku tidak menyangka jika kau akan tinggal di apartemen yang murah seperti ini."
"Murah?!" Wanita beriris merah itu menoleh dan menatap Hyunjae dengan emosi, "aku harus membanting tulang demi mempertahankan tempat ini kau tahu! Lagipula hanya ada aku dan Ian. Untuk apa kami menempati sebuah rumah yang mewah?"
"M-Maafkan aku."
"Cih! Dasar bocah kaya!" Umpatnya dengan kesal.
Saat ini Hyunjae berada di sebuah apartemen yang ia ketahui adalah tempat tinggal Lazel dan juga Ian. Tempatnya cukup luas dan mewah, namun di mata Hyunjae yang selalu bergelimang harta sama sekali tidak mengtahui titik awal. Sejujurnya Lazel cukup kesal dengan sifat kayanya itu.
Apartemen yang memiliki keluasan yang berbeda jauh dengan perumahan seperti biasa. Bahkan rumah itu cukup luas jika hanya ditinggali oleh dua orang.
"Saat Ian kembali... jangan mengatakan apapun. Biarkan aku yang bicara dengannya." Ujar Lazel yang tiba entah dari mana.
Pria itu memperbaiki duduknya dan menatap Lazel yang berdiri di sampingnya, "apa kau rasa, ini akan baik-baik saja?" Tanya Hyunjae.
"Tentu saja tidak, bahkan aku tidak tahu harus berbuat apa di ha-"
Cklek!
"Aku pula... ng," tas yang ia pikul terjatuh disaat dirinya melihat sesuatu yang mungkin tidak perlu dilihat. "Kau... apa yang-"
"Ikut aku." Lazel menarik lengan Ian dan memasuki salah satu ruangan dimana hanya ada mereka berdua.
Kedatangan Ian cukup mengejutkan, bahkan Lazel masih tidak bisa memprediksikan bahwa masalah ini akan berakhir dengan damai.
Hyunjae memang tidak bisa mengatakan apapun, oleh karena itu dirinya tidak bergerak sama sekali dari posisi awalnya.
...◇• •◇...
Di sebuah ruangan yang sama... di hadapkan dengan rupa yang sama serta ciri-ciri yang sama. Yang membedakan mereka hanyalah jenis yang dimiliki.
Sang Kakak menatap Adik dengan pasrah, sedangkan Adiknya membalas tatapan Kakak dengan raut tak percaya serta bingung.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ian yang berusaha menerobos Lazel namun selalu terhalang.
"Ian, ada sesuatu yang harus ku katakan padamu." Kedua tangannya bergetar hebat. Untuk pertama kali dirinya berbicara serius di hadapan Adiknya sendiri.
__ADS_1
Masalah ini memang tidak akan berjalan dengan baik, Lazel sudah menduga hal itu dari awal. Tapi apa boleh buat, ada sesuatu yang tidak boleh dia ingkari atau bahkan bisa namun mempertaruhkan tanggung jawab.
Ia menghela nafas dengan pelan lalu menatap Ian dengan kedua warna iris yang sama.
"Kita akan kembali." Ucap Lazel dengan serius.
"..............."
Ian menanggapinya dengan diam dan tidak berbicara sepatah katapun. Atau mungkin pikirannya yang saat ini cukup berantakan sehingga sulit mencerna ucapan Saudaranya.
Lazel merasa takut dengan tanggapan yang akan diberikan Adiknya, "maaf aku tidak membicarakan hal ini denganmu, tapi-"
"Hm... ternyata dugaanku benar." Sela Ian dengan helaan nafas yang panjang tanpa terlihat emosi sedikit pun.
Lazel yang melihat Ian yang terlihat santai membuat rasa gugupnya menghilang, "h-huh? K-Kau tidak marah?"
"Marah? Untuk apa?" Ian meletakkan tasnya di depannya sendiri dan menatap Lazel dengan ekspresi datar.
"Bukankah kau sangat membenci Hyunjae?"
"Kalau itu memang benar."
"Tapi..."
"Oleh sebab itu, aku tidak berniat untuk ikut bersama kalian." Ucap Ian dengan nada yang datar.
"!!!!" Merasa mendapatkan sebuah pukulan yang kuat, dimana Ian mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, "m-maksudku, kita ber-"
"Keputusanmu saat ini ada dua, dan itu tergantung dirimu sendiri," Ian melangkah mundur dan menatap Kakaknya tanpa ekspresi. "Tetap disini bersamaku, atau pergi tanpa diriku."
...◇• •◇...
"Apa mereka baik-baik saja? Tidak ada suara di dalam sana." Hyunjae merasa khawatir pada keadaan dua saudara itu.
Pikirannya cukup kacau, tidak ada yang tahu jika Ian akan kesal dengan keputusan yang diucapkan Kakaknya begitu saja. Lagipula dirinya tidak meletakkan banyak harapan untuk Ian. Tapi tidak mungkin bagi Lazel untuk pergi begitu saja demi orang lain dan meninggalkan Adiknya.
Kembali pada permasalahan utama, dimana Ian mulai bertindak di hadapan Lazel. Bahwa tidak selamanya mereka akan terus bersama meskipun terikat oleh hubungan darah.
"A-Apa yang kau katakan! Kau akan pergi bersamaku!" Bentak Lazel dengan amarah yang tinggi.
"Tidak akan," sahut Ian yang tidak memperlihatkan emosinya sedikit pun. "Bukankah kau akan kembali? Maka pergilah." Ujarnya dengan mempersilahkan Saudaranya untuk pergi.
"Tapi aku tidak akan pergi tanpamu!"
"Kalau begitu tinggallah. Tidak perlu kembali."
"T-Tapi-"
"Kalau begitu kembalilah." Sela Ian yang merasa cukup dengan ucapan Lazel.
Perkataan itu sudah jelas jika Ian akan memutuskan hubungan Kakak Adik dengan Lazel. Ucapan sebelumnya juga membuat Lazel sadar, bahwa setiap ada pertemuan selalu dihadapkan dengan perpisahan.
Meskipun terikat oleh hubungan darah, keputusan Lazel bisa saja memutuskan ikatan itu.
"Ian... aku tahu jika aku salah... tapi jangan tinggalkan aku," kini Lazel mulai menangis di hadapan Ian. "Aku sudah tidak memiliki apapun selain dirimu." Air matanya semakin menderu seiring berbicara dengan Adiknya.
"Tidak, kau masih memiliki seorang Suami, Kakak Ipar serta Ibu dan Ayah Mertua." Sahut Ian tanpa menunjukkan kesedihannya sedikit pun.
__ADS_1
"Tidak... aku tidak mau," pada akhirnya Lazel hanya bisa berpihak pada salah satu orang yang memang tidak akan pernah lepas darinya. "Aku... aku tidak akan kembali... jadi jangan lakukan ini..." pintanya dengan suara tangis yang semakin kuat.