Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Undangan William]


__ADS_3

"Seharusnya kau membangunkanku!"


"Tidak mau, lagipula aku tidak bisa membiarkan wajah tenang dalam mimpi itu terbangun begitu saja karena pekerjaan."


Lazel membuka pintu duduk belakang mobil dan mengambil beberapa barangnya termasuk kartu undangan yang tidak sempat ia kerjakan karena tertidur.


"Babe."


"Honey."


"Corazon?"


"Lazel."


"Apa?" Toleh Lazel dengan wajah datarnya.


"Apa sebegitu bencinya kau pada panggilan seperti itu?" Hyunjae menatap Istrinya, "apa yang ingin kau katakan tadi malam? Bukankah itu sangat penting?"


"Oh... ak-" Lazel memutuskan ucapannya dan menunduk ke bawah. "Akan ku beritahu nanti, jadi tunggu saja."


"H-Ha? Karena itu penting bukankah akan lebih baik kau beritahu sekarang?"


Lazel tidak menanggapi ucapan Hyunjae dan memutuskan untuk pergi ke dalam kantornya.


...◇• •◇...


"..............." ia sedikit bingung pada jawaban setengah yang dia berikan pada Hyunjae. Bukankah itu sangat standar untuk diberitahukan? Lagipula Hyunjae adalah kepala pusat saat ini. Dialah yang sebenarnya berhak tahu mengenai hal ini.


Tapi... jika diberitahukan, apa Hyunjae akan setuju begitu saja?


Semua rencana ini awalnya dibuat oleh Hyunjae sendiri untuk membuktikan pada Ibunya bahwa orang sombong berwajah Pangeran sepertinya bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Tapi tidak dengan Lazel, karena situasinya sudah lama berubah, pria itu pasti akan pergi dan mengajak dirinya juga.


Mengenai perjanjian pada perusahaan yang ada di Amerika. Jika berhasil, apa Hyunjae akan menjadi pemegangnya dan akan tinggal disana? Jujur saja, Lazel tidak terlalu bisa hidup disana. Ia kurang menyukai keadaannya dan juga sekitarnya.


Menurutnya tempat hiburan disana jauh lebih baik, serta terkenal dengan beberapa artis yang tinggal di negara itu. Namun Lazel sama sekali tidak bisa berbaur di lingkungan yang seperti itu. Dirinya lebih memilih untuk berada di Jepang dibandingkan di Amerika.


"Haah... jika tahu seperti ini untuk apa kau berniat kembali padanya? Bukankah terlihat simpel jika aku tetap berada di Jepang dan dia berada di Amerika?"


...◇• •◇...


Tangannya terus bergerak dan menulis tanpa henti. Semua itu ia harus sesuaikan dengan nama yang sudah dikirimkan oleh Kara dan juga Hyunji. Tinggal lima hari lagi adalah acara besar Keluarga Pietra untuk menerima Menantu.


Lazel tidak bisa membayangkan bagaimana wajah bahagia Kara. Wanita yang lebih tua dibandingkan dirinya itu akan merasakan sensasi yang sangat membahagiakan.


Bagaikan benang yang terputus begitu saja, tangannya juga berhenti bergerak, "b-bahagia?"


Lekukan bibirnya tiba-tiba memberikan senyuman yang pedih, "bahagia? Memangnya apa yang ku tahu mengenai pernikahan? Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu." Tawanya dengan remeh.


Ia tidak menyangka bahwa ada kalimat yang tidak sesuai keluar dari mulutnya dan akan berkata yang tidak-tidak atau bahkan yang tidak pernah dia alami.


Ekspresi wajahnya tidak terbaca, rambut perak panjangnya menutupi sedikit rupanya hingga tidak ada seorang pun yang bisa menilai apa yang saat ini Lazel rasakan.


Cahaya terang yang membelakanginya menerangi ruangan bernuansa cokelat muda itu.


"Aku tidak akan membuat kesalahan un-"


Drrt!


Ia menatap layar ponsel yanh tertera nama Ibunya. Tanpa membuat wanita itu darah tinggi, Lazel pun langsung mengangkatnya, "ada apa Ibu?"


^^^"Bisakah nanti kau ukur tubuh Hyunjae, Ian, Gyuu, Vicy untuk menepatkan ukuran pakaian nanti?"^^^


"B-Bagaimana yang lain?"


^^^"Mereka berkata akan pergi kesana sendiri, sedangkan untuk beberapa keluarga inti akan Ibu serahkan padamu."^^^


"B-Baik."


^^^"Dua hari akan selesai, jadi Ibu serahkan padamu."^^^


"H-Hm."


Panggilan itu berakhir begitu saja dan mendapatkan wajah hampa dari Lazel.

__ADS_1


Berusaha untuk menolak dibatalkan!


Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hyunjae disaat dirinya akan bertugas.


Dan itu semua membuat beban dalam hidupnya semakin meningkat.


...◇• •◇...


"Ada apa Kak?"


"Kenapa Lazel? Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Hm?"


Ketiga manusia itu sudah ada di hadapannya. Itu memang bagus, tapi ada sesuatu yang membuat dirinya akan merasa bunuh diri, yaitu ketidak hadiran Hyunjae karena rapat mendadak yang dia adakan untuk mempercepat pekerjaannya sebelum acara dimulai.


"Ya Tuhan... apa ini caramu saat membenci diriku?" Batin Lazel yang hampir tidak bisa memikirkan apapun.


Lazel pun sudah menyiapkan alat ukurnya dan beriap untuk mengukur tubuh ketiga orang itu secara bergantian.


"Buka pakaian atas kalian, kecuali Vicy. Kau tunggulah di kamarku."


"B-Baik."


"K-Kyaa! Aku malu." Ucap Gyuu dengan rona merah di wajahnya.


Gedebuak!


...◇• •◇...


"Ian, mengapa tinggi kita berbeda." Keluh Lazel yang sebenarnya mengejek Adiknya yang lebih pendek dibandingkan dirinya.


Gyuu menatapi kedua wajah Adik Kakak yang sangat mirip itu secara bergantian. Usai mengukur tubuh Adiknya, selanjutnya adalah giliran Gyuu.


"Hm... kau memiliki tubuh yang cukup bagus." Ujar Lazel pada Gyuu.


"Di-Di antara aku dan Hyunjae. Manakah yang lebih bagus?!" Tanya Gyuu dengan wajah yang bersemangat.


"Apa-apaan pertanyaanmu itu," sahut Lazel yang hampir melemparkan Gyuu dengan suatu benda. "Lagipula dia selalu berusaha menutupi tubuhnya sendiri, aku juga ti-untuk apa aku memikirkannya!"


Belakangan ini pria itu memang sering membiarkan tubuh atasnya terbuka dengan bebas. Namun jika ia melihatnya tanpa sengaja, Hyunjae selalu menutupinya dengan apapun sehingga Lazel tidak begitu memperhatikan tubuh sekarang yang dimiliki Hyunjae.


Pria itu juga sering melalukannya di malam hari. Di tengah-tengah kegelapan. Itu sangat membuat Lazel yakin bahwa Hyunjae tidak ingin membiarkan Lazel melihat tubuhnya.


"Baiklah... kalian bisa mengantarnya langsung. Milikku dan Hyunjae akan menyusul." Ujar Lazel pada ketiga orang itu.


"Baiklah sampai jumpa." Sapa Gyuu dan juga Vicy.


"Ian, mengapa kau masih disini?" Tanya Lazel yang menatap heran ke arah Adiknya yang menatapnya balik dengan tatapan datar.


"Aku khawatir... bukankah kau menyukai perut pria yang se-"


DUAGH!


...◇• •◇...


"Huft... apa Lazel baik-baik saja di rumah?" Sesekali ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang terlihat besar dan berurat.


Ia tidak menyangka jika rapat akan dilaksanakan cukup lama. Bahkan saat dirinya mulai keluar dari kantor terkejut melihat langit yang sudah menggelap. Perasaan khawatirnya pada Lazel membuat dirinya tidak bisa fokus.


Saat ini Hyunjae sudah menuntaskan rapatnya dan berencana langsung pulang. Sebelumnya Lazel juga menanyakan pada dirinya mengenai jam pulang, namun Hyunjae tidak dapat memprediksinya, ia juga tidak menanyakan alasannya. Oleh karena itu Hyunjae sedikit khawatir pada Lazel, apa wanita itu ingin membahas hal yang penting itu?


Dan kini... ia berniat untuk langsung pulang karena Lazel sedang sendiri di rumah.


Jas luaran yang sudah tidak terpakai ia letakkan pada bahunya dan hanya menggunakan kemeja dalam berwarna putih berdasi hitam.


Gelapnya malam sudah di terangi oleh cahaya lampu yang terletak banyak di pinggir jalan dan juga kantornya.


Tangan kanannya mulai meraih gagang pintu mobil,lalu di hentikan oleh getaran ponselnya yang menandakan bahwa ada yang menelponnya.


Bahkan ia belum membuka atau mengetahui siapa yang menghubunginya, namun wajahnya berubah menjadi merah matang.


"L-Lazel... pasti Lazel, dia sangat ke-" bagai harapan yang di sambar oleh kilatan petir. "Ian?"

__ADS_1


Wajahnya lesu dan menghela panjang atas kesialannya hari ini.


"Ada apa Ian? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Hyunjae sembari memasuki mobilnya dan menyalakannya.


^^^"Tadi Kak Lazel..."^^^


"??!!"


...◇• •◇...


Kedua tangannya terlipat ke depan dada dan menatap sinis ke arah jam. Jika benda itu adalah manusia, dia lebih memilih menangis dibandingkan adu mata dengan Lazel.


Suasana di Ruang Tengah sangatlah sepi. Saat ini Lazel tengah menunggu kepulangan Hyunjae. Pria itu terlalu lama berada di kantor. Setidaknya ia akan segera mengukur tubuh Hyunjae agar sesuai dengan pakaiannya nanti.


Cklek!


"Babe, sorry i'm late." Ucapnya dengan suara beratnya yang khas.


"Huh??" Lazel terkejut mendengar suara pintu yang terbuka dan suara Lazel yang tiba-tiba menggema.


Pria itu datang dengan kondisi yang sangat kusut, melihatnya saja membuat Lazel merasa prihatin.


"Aku akan mandi terlebih dulu."


"Ya," Lazel memasang wajah yang kebingungan. "Eh?? Mengapa harus meminta izinku?"


...◇• •◇...


Suara langkah kaki dari atas tangga terdengar. Hyunjae dengan rambut hitamnya yang terturun mendatangi Lazel yang sedang bersantai di Ruang Tengah.


"La-"


"Aku lupa, pengukurnya ada di dalam kamar." Lazel beranjak dari tempatnya dan menaiki tangga untuk mengambil alat pengukur yang tertinggal.


Setelah mendapatkannya, seseroang mengejutkan dirinya saat ingin berbalik badan, "ba-HUWAAA!!"


"Mengapa kau berteriak?" Tanya Hyunjae.


"Mengapa kau mengikutiku hingga kesini? Kau bisa menunggu di bawah!" Bentak Lazel dengan kesal.


"Apa itu untuk mengukur ukuran tubuh?" Tunjuknya pada alat pengukur yang dipegang oleh Lazel.


"H-Hm, I-Ibu me-"


"Aku akan melakukannya sendiri." Selanya


"..............."


"Hm? Ada apa Lazel?"


Wanita berambut perak itu menggenggam kedua tangannya dengan wajah yang menunduk, "sendiri? Setidaknya ada dua orang yang melakukannya."


"Y-Ya aku tahu... tapi-"


"Apa-apaan kau ini! Kau selalu melakukan sesuatu yang membuatku terus berpikir buruk! Yang kulakukan hanyalah membantumu tidak!-" mulutnya seketika terbungkam dan merasa malu dan juga benci pada dirinya sendiri. "Lakukanlah, maaf membentakmu."


Lazel meletakkan benda itu di atas meja dan berniat untuk pergi dari sana.


Namun sebuah tarikan membuatnya kembali dan terkejut.


"Kenapa kau marah?" Tanya Hyunjae yang terkejut dengan perubahan emosi Lazel.


"Marah? Aku tidak marah. Aku ha-"


"..............." Hyunjae menutup pintu kamar lalu menguncinya dan ia buang kunci itu ke sembarang arah.


"A-Apa yang kau-"


"Kemarin... apa yang ingin kau katakan? Bukankah itu penting?" Tangannya memegang erat kedua lengan atas Lazel dan menatap wanita itu dengan sangat dekat.


"Ck! Jangan-"


"Jika kau keras maka aku akan lebih keras. Apa permintaanku begitu sulit? Aku tidak membutuhkan tindakanmu, yang ku butuhkan hanyalah ucapanmu." Jelas Hyunjae.

__ADS_1


Hyunjae berhasil membuat Lazel tenang, ia mendudukkannya di pinggir ranjang dan akan menunggu Lazel membuka suara.


"William memanggilku, jika dia menyetujuinya maka Perusahaan Pusat akan dipindahkan kesana. Lalu... apa aku juga harus pergi kesana?"


__ADS_2