Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
EROPA - PRANCIS


__ADS_3

Wanita berbalut jaket ungu itu mengangkat telunjuknya ke depan bibir merahnya dengan wajah yang tersenyum ramah.


"N-Nona L-L-La-La-La- aku tidak bermimpi bukan?!" Tanya perempuan itu dengan perasaan gugupnya.


Lazel memberikan anggukan sebagai jawabannya.


Sepertinya tujuan Lazel memang berniat menghentikan perempuan itu untuk membuat keributan. Dan hal lainnya adalah, ia berpikir bahwa gadis itu berusaha mencegah kedua perempuan yang duduk di depan mereka agar tidak berkata yang bukan-bukan mengenai Lazel.


"Hahaha! Jika aku menjadi dia, aku pasti akan sangat malu."


Perempuan di samping Lazel kembali memperlihatkan wajah kesalnya dan siap untuk kembali membuat keributan, "cih! Mereka itu-"


"Hentikan." Sela Lazel lalu menutup buku yang ia pegang dan membuka tudung jaket yang ia kenakan.


"Whoaaa... aku tidak menyangka jika Nona Lazel ada di sampingku," batinnya dengan senang. "T-Tapi... apa Anda tidak merasa risih dengan ucapan mereka? Lagipula apa yang mereka ketahui mengenai Anda." Ucapnya pelan dengan memosisikan badan menghadap ke arah Lazel.


"Mereka itu benar. Jadi untuk apa aku risih? Lagipula fakta mengenai diriku memang begitu mengerikan. Tapi apa boleh buat, lagipula kenyataan tetaplah kenyataan."


Pada akhirnya penyamaran yang dia lakukan gagal hanya karena menghentikan seorang gadis asing yang duduk bersebelahan dengannya. Tapi jujur saja, ia sedikit merasa tenang jika pandangannya mengenai Lazel tidak menggali kehidupan terdalam atau masalah yang diucapkan berulang kali.


Sepertinya perjalanan Lazel kali ini tidak akan membosankan. Setelah saling berkenalan satu sama lain, orang yang ada di samping Lazel adalah seorang gadis yang berumur dua puluh tahun, dan juga salah satu anggota penyanyi yang cukup Lazel ketahui nama anggotanya dan juga nama agensinya.


...◇• •◇...


"K-Kerenn!!" Ucap perempuan itu dengan kedua mata yang berbinar-binar.


"Shh! Kecilkan suaramu hahaha~"


"Hehehehe..."


Lazel mendapatkan pertanyaan dari gadis di sampingnya itu mengenai pekerjaan sehari-hari Lazel, dan kedudukan apa yang dia pososikan. Dan segala macam hal lainnya.


"Jadi saat ini Anda sedang menuju Paris untuk menemui Klien yang kabarnya akan melakukan pernikahan. Oleh karena itu mereka memanggil Anda."


"Hm... kira-kira seperti itu," angguk Lazel. "Hei, kita bukan di kantorku, setidaknya berbicara dengan santai saja. Lagipula umur kita juga tidak berbeda jauh."


"Hm? Berapa umur Anda?"


"Tiga puluh tahun."


"A-Apa?!"


"Shh!! Pelankan suaramu."


Ia menutup mulutnya segera, "g-gila... tapi pernikahan Anda dengan Tuan Hyunjae sudah berjalan sepuluh tahun lebih. Kupikir sudah memakan umur empat puluh tahun ke atas. Siapa sangka jika wajah muda Anda masih terlihat umur sembilan belas tahunan?"


"Hahaha! Ini hanya faktor rajin berolahraga. Jadi jangan memikirkannya terlalu serius."


Dua tahun sudah berlalu dari masa-masa beratnya saat bersama dengan Hyunjae. Dan tanpa sadar dua tahun berlalu, dirinya bahkan sama sekali tidak mengingat hari dimana dirinya berulang tahun.


"Haah... sudah kuduga jika Anda sangat baik meskipun sedikit bar-bar."


"A-Apa itu pujian?"


"M-Maaf! Saya tidak akan mengulanginya lagi!"


"Hihihi... aku tidak secantik tutur kalimatku dan juga perasaanku. Jadi jangan menilai diriku begitu cepat." Ujar Lazel sambil menggenggam kedua tangan gadis itu dengan wajah yang tersenyum lebar.


"!!!!" Sepertinya ia harus banyak-banyak bersyukur. Siapa sangka jika seseorang yang sangat dia kagumi ternyata satu pesawat dengannya dan berada di sebelahnya. Momen ini tidak akan dia lupakan begitu saja.


...◇• •◇...


Total  perjalan Amerika >> Prancis sepuluh jam lewat lima belas menit.

__ADS_1


Pesawat XXX baru saja tiba dan menurunkan seluruh penumpang.


"Haah... cepat sekali, padahal aku ingin mendengarkan cerita Anda lagi." Keluh gadis itu dengan wajah masamnya.


Lazel menghela nafasnya pelan lalu tersenyum dengan manis. Ia merapikan dan melepas segala perlengkapannya, ada kabar bahwa bodyguard dari perusahaan yang ingin dia tuju akan menjemputnya hingga menuju hotel. Lalu esoknya baru dia akan berbicara mengenai perhiasan.


Satu persatu Lazel merapikan dirinya. Dimulai dengan melepaskan jaketnya, mengambil kacamata hitamnya agar terhindar dari pantulan cahaya matahari langsung. Rambut perak panjangnya ia ikat ke belakang dengan biasa.


Setelah mendapatkan perintah untuk dapat keluar, seuruh penumpang secara perlahan pun mulai turun. Salah satu dari pengurus pesawat yang mengetahui Lazel ada di dalam pesawat yang sama langsung mencari beliau dan memberinya bantuan.


"Nona, Saya akan membantu Anda membawanya."


"Bawa juga punya anak ini."


"Baik."


"E-Eh?! Padahal punyaku tidak seberat itu."


"Tenang saja~" ujar Lazel dengan menepuk pelan kepala gadis itu.


Saat mulai menuruni tangga, tak jauh dari pesawat ia melihat kedua bodyguard yang pernah dia lihat sebelumnya. Mereka adalah anak buah dari pemimpin perusahaan terkenal di Paris.


"B-Bukankah mereka adalah bawahan dari grup XXX?! Apa yang membuat mereka kemari?"


"Kau mengenal mereka?"


Bukan hanya gadis itu. Orang-orang yang ada di sekitar juga mulai berbisik satu sama lain saat melihat dua bodyguard yang berada tak jauh dari pesawat. Kini Lazel mulai berpikir, sebegitu terkenalnya kah mereka sampai hanya sepasang bodyguard menjadi bahan perbincangan publik?


Setelah hampir mendekati kedua pria bertubuh sigap itu, mereka dengan serentak menundukan kepala mereka dengan hormat.


"Bienvenue Mademoiselle. Nous vous emmèneros à votre destination." Sapa kedua bodyguard itu ke dalam bahasa yang masih sulit Lazel kuasai, namun ia masih memahami dasar-dasarnya.


"Merci," kini Lazel beralih pada gadis yang sudah memberikannya sedikit hiburan di dalam perjalanan tadi. "Hei, ambil ini." Ia menyerahkan sebuah pita kupu-kupu berwarna perak dengan manik-manik tambahan di kedua sayapnya.


"Tidak, itu hanya pita kupu-kupu biasa yang ku beli di toko pinggir jalan."


"K-Keren!!"


"Huft... baiklah. Kita akan berpisah disini."


Gadis itu membungkukkan badannya, "terima kasih kembali Nona Lazel."


Tidak buruk. Perjalanannya kali ini sangatlah berarti, setidaknya ia dapat menghilangkan rasa penatnya bersama dengan gadis berambut hitam sepunggung tadi.


...◇• •◇...


Drrt!


"Hyunjae..."


Kini semua orang pun akhirnya tahu jika tujuan anak buah dari perusahaan XXX itu untuk menjemput Lazel Pietra yang merupakan pemilik Aplic Pietra, atau yang lebih sering disebut sebagai perusahaan yang membuat dan merangkai perhiasan dan juga permata.


Lazel membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya lalu akan memeriksa hal lainnya. Setelah mengaktifkan kembali daya ponselnya ia tidak menyangka ada begitu banyak panggilan tak terjawab di setiap sepuluh menit.


"Apa-apaan pria itu. Apa dia juga menghitung beberapa saat untuk mengulangi panggilan yang sama?" Pikirnya.


Saat ini Lazel masih berada di aula dan sedang menuju keluar bersama dengan kedua pria itu. Lazel ditempatkan di tengah-tengah agar tidak mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan.


"Sepertinya aku harus benar-benar menjaga sikapku saat bertemu dengan pemimpinnya nanti." Ucap Lazel dalam hati.


...◇• •◇...


"Nona, apa Anda sudah memilih tempat penginapannya? Atau kami yang akan merekomendasikannya?"

__ADS_1


"Y-Yah... itu... maaf, aku sedikit kesulitan berbicara dalam bahasa Prancis. Bisakah aku menggunakan bahasa nasional saja?"


"M-Maafkan kami Nona! Kami tidak bermaksud memberatkan Anda."


"H-Hahaha...  tidak apa-apa. Aku senang jika kalian mengizinkannya."


Sebelumnya Lazel sudah mengatur semuanya, sehingga dirinya bisa mengakses apapun di Prancis dengan mudah. Oleh karena itu Lazel berusaha akan mencari penginapannya sendiri tanpa merepotkan kedua bodyguard itu.


Drrt!


Seujurnya ia tidak ingin diganggu oleh siapapun untuk sementara waktu ini, tapi Hyunjae terus menerus meneror dirinya. Pada akhirnya Lazel mengangkat panggilan itu, "ada apa?"


^^^"Akhirnya kau mengangkat panggilanku! Apa kau baik-baik saja?!"^^^


Seperti badai yang memasuki telinga kirinya, Lazel sempat menjauhkan ponsel itu dari pendengarannya, "jangan berteriak Hyunjae, aku baru saja tiba di Prancis."


^^^"B-Benarkah?!"^^^


"Ya, kalau begitu akan kuhubungi lagi nanti."


^^^"H-Hm, berhati-hatilah."^^^


...◇• •◇...


"Terima kasih atas batuannya. Lalu, kapan aku bisa menemui pemimpin perusahaan kalian?" Tanya Lazel pada kedua bodyguard itu.


"Besok siang Nona, kami akan menghubungi Anda jika akan melakukan penjemputan."


"Baiklah."


Lazel telah mendapatkan pilihannya, lagipula hal itu dibantu dengan kedua bodyguard yang tadi dalam melakukan pemilihan.


Saat ini ia memesan hotel yang cukup bagus, dan terlebihnya lagi jika biayanya akan ditanggung oleh bos perusahaan yang memanggil dirinya.


Dimulai dari pengecekkan data dan juga kamar oleh salah satu Staff yang bekerja di bagian lobby. Seperti biasa, mereka yang tidak asing mendengar nama Lazel langsung diperlakukan khusus. Yahh... ini sudah biasa bagi Lazel, jadi tidak ada yang spesial menurutnya.


"Hei kau," Lazel menunjuk perempuan yang terus sibuk memilih kamar yang sesuai dengan permintaan Lazel. "Aku akan pergi ke ruanganku sendiri."


"T-Tapi Nona-"


"Jangan membuatku mengulangi kalimat yang sama."


"B-Baik Nona. Maafkan Saya."


Ia cukup lelah dengan semua urusan ini. Dari Amerika dan hanya bermalam selama satu hari, lalu selanjutnya akan terbang menuju Prancis. Ini benar-benar gila, saat dirinya akan kelelahan emosinya tidak akan stabil. Oleh sebab itu dia mulai risih dengan sikap melayani dengan sempurna seperti itu.


Lazel menarik koper merahnya menuju lift dengan wajah yang sedikit tidak bersahabat.


Setelah pintu lift tertutup, akhirnya membuat para pekerja di lantai utama bisa bernapas dengan leluasa.


"A-Aku tidak menyangka jika Nona Lazel merupakan tamu terhormat di perusahaan XXX nanti."


"Hampir saja aku membuat beliau mengamuk."


"Jika kau melakukannya, Tuan Muda Hyunjae dan Tuan Jason pasti akan meratakan tempat ini."


...◇• •◇...


Akhirnya ia dapat beristirahat dengan tenang. Kamarnya cukup nyaman meskipun tidak terlihat mewah. Sebelum benar-benar istirahat. Lazel akan terlebih dahulu memeriksa agenda yang akan ia sampaikan besok pada pemimpin perusahaan terkenal di negara itu.


Mendengar atau melihat bagaimana orang-orang menghormatinya. Bisa saja jika orang itu memiliki kharisma yang lebih tinggi dibandingkan siapapun, atau bahkan perkembangan sahamnya lebih tinggi dibandingkan Pietra.


"Hm... kira-kira apa beliau mau menggunakan bahasa nasional?" Kini pikiran Lazel mulai menjalar pada hal-hal yang akan membuatnya frustasi, "y-yahh... hal seperti itu memang tidak salah sama sekali, tapi apa boleh? Lagipula ini pertama kali bagiku."

__ADS_1


__ADS_2