
Beberapa hari kemudian, dimana segala kasus telah terselesaikan...
Di sebuah Villa, lebih tepatnya di salah Villa yang ada di dalam satu lingkungan yang sama.
Matahari sudah terlihat tinggi di atas kepala dan menyinari apapun yang ada di sekitar, salah satunya sorotan yang masuk ke dalam kamar yang saat ini masih ditempati oleh satu orang.
"BANGUN DASAR PEMALAS!!"
Dobrakan pintu tetap membuatnya tertidur pulas tanpa pergerakkan sedikit pun.
Wanita yang mengenakan pakaian lengkap itu baru saja memasuki sebuah kamar yang telah ditempati oleh sepasang Suami Istri di setiap harinya.
Lazel yang bahkan belum mengikat rambutnya masih harus berteriak hanya untuk membangunkan Suaminya, meskipun ia tidak pernah menganggapnya seperti itu.
Langkahnya mendekati pria yang setengah telanjang itu, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menjaga jarak dari Hyunjae.
"Tidak tidak, dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya." Pikir Lazel.
Saat Lazel hendak berbalik dan berniat membiarkan Hyunjae tertidur pun gagal. Pria itu bergerak dengan cepat dan menyusul Lazel lalu dengan tangan kanannya yang sangat besar dan berotot meraih tubuh Lazel lalu ia bawa ke atas ranjang.
"Bajing*n!! Kau melakukannya lagi!!" Ucap Lazel yang saat ini berada di pelukan erat Hyunjae tanpa helaian benang di tubuh atasnya.
Cup!
"!!!!" Sebuah ciuman singkat mendarat di pipi kanannya dengan cepat sehingga membuat Lazel mematung.
"Hm... hanya sekali, aku berharap kau mengatakannya lagi sehingga aku akan melakukannya diii..." tatapan Hyunjae dan jempolnya mengarah pada bibir merah Lazel.
"A-Ampun..." seketika Lazel menjadi wanita yang penurut.
"Ha? Tidak dengar." Goda Hyunjae pada Istrinya.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Lazel dengan keringat dingin di wajahnya.
"Hm... seharusnya begini," Hyunjae benar-benar memegangi Lazel dengan erat. "Sayang, biarkan aku memberimu sebuah hasrat yang meng-"
DUAK!
"Cukup! Aku akan pergi sendiri!" Ucap Lazel dengan hentakkan kaki yang lucu dilihat oleh Hyunjae.
"Aw." Lirihnya dengan memegang tulang rusuknya.
...◇• •◇...
Untuk dalam satu minggu ini, Lazel maupun Hyunjae harus aktif dalam pekerjaan mereka. Beberapa masalah di waktu sebelumnya menguras begitu banyak waktu sehingga pekerjaan diabaikan begitu saja. Lagipula Musim Panas masih berlangsung, yang berarti musim liburan masih bisa dilakukan.
Hanya beberapa staff dan karyawan khusus yang hadir dalam kantor. Mereka yang hadir biasanya masih memiliki urusan yang berkaitan dengan pekerjaan pribadi terhadap Bos mereka.
Lazel yang cukup lama tidak duduk di meja Direktur hampir melupakan apa yang harus dia lakukan. Bahkan dirinya sempat merasa panik sendiri karena tidak tahu harus menyelesaikannya dari mana.
Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik karena bantuan dari Byul, Sekretarisnya. Sehingga Lazel hanya perlu menyelesaikan sisanya seorang diri.
Di sisi lai, di waktu yang bersamaan. Hyunjae hampir mati seketika disaat pekerjaannya menumpuk tanpa bantuan dari Leo. Awalnya Sekretaris Leo sudah menjalankan tugas yang diberikan Hyunja, namun siapa sangka jika Leo akan menyelesaikan tugasnya sendiri tanpa membantu mengerjakan yang lain.
Hal ini membuat Hyunjae hampir tidak sanggup melihat lembaran-lembaran di atas mejanya.
...◇• •◇...
Di sela-sela kesibukanya, ia kembali mengingat dimana Lazel berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah saat mendapatkan godaan darinya.
Wanita bermulut kasar berhati malaikat itu tidak sadar bahwa tidak semudah itu menyembunyikan apapun dari Hyunjae. Pria Mata Keranjang sepertinya sudah sangat sering atau bahkan hampir di setiap harinya, di setiap waktu selalu menggoda Lazel dengan cara apapun sehingga wanita itu semakin sulit menyembunyikkan rona merah di wajahnya.
__ADS_1
"A-Ahahahaha~"
"Dari pada melamun dan tertawa sendiri seperti itu, bukankah akan lebih baik jika Anda fokus untuk menyelesaikannya secepat mungkin?" Ucap Leo yang tidak melakukan apapun dan hanya berdiri di samping Hyunjae yang bekerja ekstra.
"Diaaam! Ini semua karena kau tidak mau membantuku!" Teriaknya dengan model anak kecil yang menangis di atas meja belajar.
"Jangan menyalahkan Saya!!" Balas Leo sehingga membuat Hyunjae tertampar oleh angin mulut Leo.
"Hiks!"
"Berhenti bersandiwara! Cepat selesaikan!" Ucap Leo dengan menepuk telapak tangannya di atas meja kerja Hyunjae.
...◇• •◇...
"Hanya segini?"
"Hm, Saya berusaha untuk membantu Anda," ucap Byul dengan senyuman ramah. "Hanya disaat-saat seperti ini saja Anda tidak bisa melakukan apapun. Namun di waktu sebelumnya Anda sudah melakukan banyak tanpa harus turun tangan orang lain." Batin Byul.
Liburan Musim Panas masih berlangsung cukup lama. Beberapa karyawan sudah menjalaninya dan akan kembali sebelum Musim Panas berakhir.
Byul sudah menjelaskan segalanya pada Lazel semenjak dirinya tidak memegang perusahaan mengenai diagram investasi saham. Lazel sedikit tenang dan merasa sangat berterima kasih pada Byul mengenai usahanya.
"Saya pikir Nona akan terhasut oleh berita itu." Ucap Byul yang sedikit memberanikan diri untuk mengajak Bosnya berbincang.
Lazel menghentikan pergerakan tangannya, "kau mempercayainya?"
"T-Tentu saja tidak! Bahkan dari awal aku sudah menduga bahwa ada seseorang yang berusaha merusak hubungan antara Nona dan Tuan."
"..............." Lazel sedikit terdiam setelah Byul mengatakan beberapa hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan. "Tidak Byul... sejak awal hubungan kami tidak pernah sesuai dengan pandangan orang lain di luar sana."
"Haah~ pada akhirnya Saya merasa bersyukur jika hal itu menang ulah orang lain."
Lazel meninggalkan pekerjaannya sejenak dan menatap Byul yang berdiri di sudut meja, "hm... B-Byul?" Panggil Lazel.
"Ahh, tidak," ia bahkan tidak bisa memulainya lebih dulu atau bingung harus mengucapkan apa. "B-Bagaimana pendapatmu mengenai Hyunjae?"
"Ha??" Byul menanggapinya dengan ekspresi bingung sekaligus aneh.
"T-Tidak! M-Maksudku bagaimana pendapatmu mengenai sifatnya jika hanya dari wajah atau kepribadian sehari-harinya?"
"Hm... jika menurut pandangan Saya sendiri. Tuan Hyunjae itu seperti..." Byul menguras pikirannya untuk menemukan kalimat yang tepat. "Playboy." Jawabnya dengan senyuman yang polos.
"O-Oh..."
...◇• •◇...
^^^"Kau masih disana?"^^^
"Ada apa?"
^^^"Aku harus pergi ke suatu tempat, bisakah kau menungguku sebentar? Aku tidak akan lama."^^^
"Hm, itu bukan ma-"
^^^"Ingat hal ini! Aku tidak berniat melakukan apapun lagi di belakangmu! Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak!"^^^
Lazel tidak ingin menjawabnya, sebagai akhir ia langsung mematikan panggilan itu lalu membuat pesan singkat untuk Hyunjae yang hanya bertuliskan 'ya'.
Semenjak kembali atau lebih tepatnya kembali pada Hyunjae, pria itu membuat begitu banyak peraturan yang seharusnya dia taati seorang diri.
Mulai saat ini mereka akan pergi menuju kantor bersama, Hyunjae yang akan membawa mobil itu ke kantornya setelah mengantar Lazel. Minimal kembali di malam hari pukul sembilan. Sedangkan bangun di pagi hari minimal jam sepuluh pagi.
__ADS_1
Aturan terakhir itu mendapat sobekan maut dari Lazel yang senantiasa terbangun sebelum matahari terbit.
Tidak begitu lama mereka mendiami kantor, Hyunjae saat ini sedang pergi ke suatu tempat yang bahkan tidak diketahui oleh Lazel, meskipun Lazel sendiri tidak begitu penasaran kemana tujuan pria itu pergi.
Lagipula sensasi ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya Hyunjae selalu membuat alasan yang sama dan pergi bersama wanita di luar sana. Bahkan saat ini masih terbilang sama, namun Hyunjae menambahkan kalimat akhirnya bahwa dia akan kembali.
Lazel tidak berharap banyak pada ucapannya. Lagipula berubah sudah hal yang lumrah bagi seluruh manusia. Entah menjadi lebih baik atau perlahan akan sama seperti dulu. Daripada berharap, ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan wanita yang akan dibawa Hyunjae saat kembalinya pria itu.
"Haaah..." sudah terbilang lama, namun Lazel tidak bisa melupakannya. Hanya karena dirinya rela melakukan apapun demi uang, sehingga ia menganggap dirinya sebagai sosok yang mengerikan dan matre. Lazel samas sekali tidak peduli, selagi uang tetap mengalir padanya, masalah di luar dari itu bukanlah urusannya.
Namun saat ini, ia mulai merasakannya secara perlahan. Bagaimana hidup dengan persaan yang tidak terikat lagi dengan harta. Ia mulai merasakan dan membayangkan bagaimana mengerikannya ia di waktu itu.
Saat ini ia sedang menuruni anak tangga yang beberapa langkah akan menginjak lantai dasar. Rambut perak panjangnya terurai panjang dengan sebuah ikatan kecil di punggung kepalanya, disertai dengan pita kupu-kupu berwarna pink.
"Sepertinya akan lebih baik jika aku naik bus, tidak ada jaminan dia akan kembali..."
Langkahnya tidak begitu terburu-buru, dan kini ia hampir tiba di teras kantor serta berniat untuk tidak mendengarkan ucapan Hyunjae sebelumnya.
"Aku juga tidak ing-" secara spontan kakinya berhenti melangkah dan menatap ke depan dengan tak percaya.
Sebuah mobil dengan plat yang sangat dia kenal, serta lambaian tangan dari seseorang berkacamata hitam dari balik jendela mobil.
Ia pun membuka pintu mobil lalu keluar dari sana dan melangkah mendekati Lazel yang menatapnya dengan tatapan takjub.
"Apa kau menunggu lama sayang? " Tanya Hyunjae yang sengaja mendekatkan wajahnya pada Lazel hingga hampir membuat hidung mereka saling bersentuhan.
"Menjijikan." Tanggap Lazel yang memberikan jarak di antara dirinya dan Hyunjae.
"Come on, let's go home." Ajak Hyunjae dengan kepala yang mengarah pada mobil.
"Hm.
...◇• •◇...
Lazel turun dari atas mengenakan kaos berlengan panjang berwarna hijau gelap serta bawahan celana panjang menutupi mata kaki.
"Apa kau tidak panas mengenakan pakaian seperti itu?" Tanya Hyunjae yang hanya mengenakan kaos setengah lengan berkain tipis sehingga memperlihatkan sedikit lekuk-lekuk tubuhnya.
"Tidak."
"Oh, aku lupa jika kau itu pemalu dan tidak bisa mengenakan pakaian seksi."
"D-Diam! Aku memang tidak menyukainya!"
"Itu bagus, karena hanya aku yang boleh melihat semuanya."
Duak!
Sebuah bantal sofa melayang tepat di wajah Hyunjae yang sedang berbaring menatap layar televisi.
"Mengapa kau terus mengucapkan hal-hal yang berbau negatif!" Ucap Lazel dengan wajah yang memerah.
"Tidak apa-apa, lagipula kau kan adalah Istriku sendiri." Jawab Hyunjae dengan santai.
"Azkzkzkzkzkzkzk!"
Diam-diam Hyunjae hanya tertawa kecil melihat tindakan malu Lazel yang terus menerus mendapatkan godaan darinya.
"Ngomong-ngomong... bagaimana kau dan Jean saling mengenal?" Tanya Hyunjae yang masih dalam posisi ternyamannya.
"Itu karena dulu... kami adalah musuh."
__ADS_1
"Ha?"