
Ia benar-benar memanfaatkan keadaan itu. Di bawah langit yang redup, serta di dalam mobil hanya berdua. Ditambah dengan lampu merah yang terhitung cukup lama. Dirinya sangat tahu mengenai durasi pergantian warna lampu lalu lintas, oleh sebab itu ia nampak menikmatinya tanpa harus mengkhawatirkan hal lainnya.
Tangan kanan yang semula-mula berada di bundaran stir saat ini berada di punggung kepala wanita itu dan memegangnya dengan erat.
Beberapa saat bersamaan dengan henti nafas yang mereka lakukan. Lampu kembali normal, kendaraan-kendaraan lain mulai kembali beraktivitas seperti biasa.
Dengan santainya ia melepaskan tangannya dari Lazel dan kembali meletakkan kedua tangannya di tempat yang semula.
Tangan kanan yang mulai menyetel kembali gigi mobil bersamaan dengan selipan lidahnya yang membersihkan area bibirnya dengan smirk yang menggoda.
"Baiklah... jika kau ingin mengamuk jangan lakukan disini. Aku sedang menyetir," ujarnya dengan nada yang berat. "Lagipula kau ada disini, jadi aku tidak ingin melakukan apapun yang bisa melibatkanmu." Sambungnya.
"..............."
Tiga puluh detik? Tidak. Sepertinya hampir satu menit lebih. Pikirannya kosong sesaat akibat tindakan konyol Hyunjae pada dirinya, meskipun hal itu sah sah saja atau memang sebuah keharusan bagi pasangan seperti mereka.
Sepertinya malam ini memang sedikit memberikannya keuntungan. Dimana dia akan menyembunyikan wajah gugup dan warna merah merona pada wajahnya. Kedua pupilnya masih tidak bisa berhenti bergetar. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya sebisa mungkin ke arah lain dan menghindari tatapan langsung dari Hyunjae.
Pria berahang kuat itu melirikkan tatapannya sejenak pada Lazel dan tersenyum bangga.
...◇• •◇...
"Sayang, apa kau akan pergi saat subuh?"
"Ya, aku sudah mengatakannya dengan Ian juga." Jawab Lazel yang sibuk merapikan beberapa barangnya di dalam koper berwarna merah besar tersebut.
Hyunjae yang hanya memakai celana panjang longgar berwarna abu-abu dan membiarkan bagian atasnya terbuka bebas begitu saja. Lazel yang belum menyadarinya hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun selain fokus pada persiapannya untuk besok.
Suara ranjang mulai berbunyi, menandakan bahwa ada yang menempatinya. Spontan Lazel pun mengarahkan kepalanya ke belakang lalu-
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di dahinya.
"!!!!" Meskipun sudah terdapat bekas, ia tetap akan menjauhkan dirinya, "h-hentikan! Kau selalu melakukan hal-hal yang aneh!" Ujar Lazel dengan wajah yang sangat marah namun tertabur sedikit perasaan malu dan gugup.
"Hm~ bukankah kau harus meninggalkan rumah mulai besok?" Hyunjae merentangkan posisi tidurnya dan menatap Lazel dengan kepala yang menggantung ke bawah, "seharusnya kau menghibur Suamimu sendiri sebelum kau mening-"
Duak!
Sebuah boneka melayang ke arah wajahnya sehingga membuatnya terbungkam.
...◇• •◇...
Karena besok membutuhkan waktu yang sangat pagi untuk pergi ke bandara. Bukannya ia harus tidur di awal justru harus terjaga seperti ini, bahkan untuk menyentuh ranjang dirinya tidak akan melakukannya.
Tangan kanannya menyanggah kepalanya yang menoleh miring. Serta tangan kirinya mengelus alas ranjang di sampingnya, yang dimana tempat biasa Lazel tidur.
"Kemarilah~" ujar Hyunjae dengan nadanya yang sedikit aneh.
"Cepat menyingkir." Ucap Lazel yang masih berdiri dan memberikan tatapan maut pada Suaminya sendiri dengan kedua iris cantiknya.
"Haah... apa kau tidak punya rasa nurani? Bagaimana bisa kau membentak Suamimu sendiri yang akan ditinggalkan selama berbulan-bulan..."
Lazel mengangkat tangan kanannya dengan kepalan, "berbulan-bulan? Bahkan kemungkinan terbesar aku berada disana selama tiga minggu." Ucapnya dengan kesal.
__ADS_1
"Sama saja! Aku tidak sanggup melihatmu pergi kemanapun tanpa diriku." Keluhnya seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh Ibunya.
"Selain itu..." Lazel mengarahkan telunjuknya. "Bisakah kau pakai pakaianmu?" Tanya Lazel yang hampir gila karena tindakan Hyunjae yang semakin melunjak.
"Tidak mau, aku akan membukanya selama kau ada bersamaku. Lagipula badan seperti ini sudah merupakan kesukaanmu bukan?" Hyunjae bertanya dengan alis yang naik turun, sehingga Lazel dibuatnya panas dingin.
Karena tidak sanggup menerima perlawanan mulut dari Hyunjae. Akhirnya Lazel berbalik badan, "aku akan tidur di kamar lain." Ujarnya dengan nada datar.
"Haah... baiklah. Naik, aku tidak akan mengganggumu." Sahut Hyunjae yang mengambil selimut untuk menutupi dirinya sendiri dan berbalik ke arah lain.
Akhirnya ia berhasil membuat pria itu terbungkam. Lagipula ia sedikit merasa aneh jika Hyunjae akan mendengarkan dirinya dan melakukan apa yang dirinya katakan.
Ia mengusap rambut peraknya ke belakang, "tidak ada waktunya untuk berpikir Lazel, besok kau harus bangun pagi dan melalukan perjalanan panjang." Pikirnya.
Dengan wajah yang sedikit sendu, dan Hyunjae yang sudah mematikan lampu tidur. Lazel pun berniat langsung merebahkan tubuhnya dan segera tidur.
Akan tetapi... gangguan kembali datang dengan cara yang sedikit liar.
Sebuah tangan berhasil menguasai tubuhnya dari belakang. Salah satu tangannya berusaha mendorong kepala itu agar menjauh darinya. Namun kekuatannya tidak sebesar yang dimiliki Suaminya, "H-Hyunjae! Bukankah kau sudah mengatakan untuk tidak menggangguku?" Kini Lazel tetap mempertahankan meskipun nafas Hyunjae sudah sangat terasa di tengkuk lehernya.
"Hm? Kenapa memangnya?" Sebuah kecupan akhirnya sampai pada leher jenjang Lazel dengan piyamanya yang sedikit longgar, "lagipula aku tidak janji." Sambungngnya.
"Arghhh!! Cepat lepaaas! Mengapa kau terus menggangguku! Aku mau tidur!" Kini Lazel berusaha memberontak namun pertahanan Hyunjae lebih kuat darinya.
"Silahkan, aku tidak akan melarangnya." Hyunjae semakin menenggelamkan wajahnya pada leher Lazel sehingga perlahan membuat wanita itu kehilangan kekuatannya. Belum lagi Hyunjae yang berusaha melakukan semaunya pada leher Lazel, sehingga wanita itu bergidik dan juga merinding.
"Agh!" Meskipun dia tak mengeluarkannya, namun yang Hyunjae lakukan sangat membuat pikirannya semakin sulit bekerja.
Hingga pada titik tertentu. Dimana Hyunjae harus menaikkan sedikit kepalanya ke atas leher wanita itu, "Lazel... aku-"
"..............." seketika pergerakkannya terhenti. Tangan besarnya mengelus kepala Lazel lalu mengecupnya. "Ayo tidur, kau harus pergi besok pagi." Ujar Hyunjae yang kembali pada posisinya namun tidak melepaskan pelukannya dari Lazel.
Lazel bersyukur jika Hyunjae dapat memahami dirinya, meskipun pria itu masih tidak bisa melepaskan dirinya. Setidaknya ia dapat mulai tertidur tanpa gangguan pria itu lagi.
Perlahan kedua matanya menutup. Nafasnya mulai berkontraksi dengan lembut dan juga normal.
Beberapa menit kemudian, ia merasa jika Lazel mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang dimana wajahnya menghadap ke atas dengan rambut-rambut peraknya yang bertebaran.
"..............." Hyunjae yang dari tadi tidak dapat tertidur lebih memilih menatap wajah Lazel yang sedang tidur. "????" Piyama yang dikenakan Lazel sepertinya sangat pas atau sedikit besar. Namun bagian dadanya sedikit terturun sehingga Hyunjae dapat melihatnya dengan jelas.
Sebelum pikiran lain mulai merasukinya. Ia memperbaiki pakaian Lazel dan kembali tidur dengan tubuh yang semakin menempel pada Lazel.
Seperti biasa, Hyunjae tidak akan melakukan apapun di luar batas sebelum mendapatkan izin dari Istrinya secara langsung.
...◇• •◇...
04.00
Ia melihat ke samping, dimana Lazel mulai memakai jaketnya dan menyiapkan beberapa barang khusus di dalam ransel hitamnya.
"Aneh... bukankah tadi malam dia bisa marah karena aku mencuri ciuman pertamanya?" Pikir Hyunjae yang sibuk memakai pakaian yang tertutup agar terhindar dari udara pagi buta.
Rambut peraknya terikat biasa ke belakang dan menyisakan beberapa helai di depannya.
"Ayo Hyunjae." Ujar Lazel yang meninggalkan kamar secara duluan.
__ADS_1
Pria bermantel hitam bermotif kotak-kotak itu segera keluar dan menyusul Istrinya yang akan terbang ke negara lain selama berminggu-minggu.
Mobil pribadi Hyunjae yang berwarna merah dengan plat asing. Ia akan menggunakan mobil itu untuk mengantar Ian dan Lazel menuju bandara.
Lampu mobil sudah menerangi halaman. Hyunjae baru saja keluar membawa koper Lazel dan akan dia letakkan di bagasi. Sedangkan Lazel saat ini kelihatan sedang menelpon seseorang yang diduga adalah Ian. Lazel berniat untuk membuat Ian sudah siap, dan jika sampai disana mereka harus lanjut pergi menuju bandara.
...◇• •◇...
Jalanan cukup ramai di pagi buta seperti ini. Ian yang sudah berada di dalam mobil kembali tidur seperti biasa. Sedangkan Kakaknya yang duduk bersampingan dengan Suaminya terus menelpon atau mendapatkan panggilan dari orang-orang yang berbeda.
Sebelum tiba disana, Lazel ingin terlebih dahulu menghubungi kliennya dan juga beberapa staff yang bekerja di bawah pimpinan perushaan di Prancis. Namun ia tak lupa dengan William. Siapa sangka usaha yang berjalan hampir belasan tahun akan dibatalkan begitu saja.
"Hyunjae, apa kau yakin?" Tanya Lazel sembari menutup ponselnya sementara.
"Tentang?"
Ia menggenggan kedua tangannya yang menyatu, "b-bukankah tujuanku kesana untuk membatalkan semuanya?"
"Tentu, lalu apa yang membebani pikiranmu babe?"
"Y-Yah... aku sedikit khawatir."
Hyunjae tersenyum dan mengarahkan tangannya pada pucuk kepala Lazel lalu mengelusnya dengan pelan, "saham Pietra tidak akan menurun atau jatuh begitu saja. Aku juga tidak akan kehabisan uang karena masalah sepele seperti itu." Jelasnya.
Setelah hampir setengah jam dalam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di tujuan. Terlihat beberapa orang ataupun kendaraan lain yang masuk.
Hyunjae memutar stirnya dan melihat ke depan dengan jelas.
"Ian, bangun." Ujar Lazel yang mulai memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"????"
Hyunjae mengambil parkiran yang tepat lalu membantu Lazel membawa kopernya.
"Sayang, apa tas itu berat?" Tanya Hyunjae pada Istrinya yang berjalan di sampingnya.
"Tidak, kau bawakan saja koperku." Jawabnya.
Lampu bandara menyala dengan terang. Terkhususnya di dalam gedung yang terdapat beberapa tahap untuk memasuki pesawat.
Lazel melihat jadwal pesawatnya yang akan tiba. Dan itu lima belas menit dimulai dari detik ini.
Setelah melakukan pengecekkan barang dan melakukan pemeriksaan lainnya. Lazel pun kembali duduk sembari menunggu pesawatnya tiba.
Hyunjae yang berada di sampingnya secara tiba-tiba merebahkan kepalanya pada pundak Lazel.
"Hm? Ada apa denganmu?" Tanya Lazel yang saat ini masih terlihat fokus pada layar ponselnya.
"Aku mau ikut." Ujarnya dengan nada yang rendah.
"Tidak boleh," sahutnya. "Pekerjaanmu cukup banyak, jadi jangan menundanya."
"..............." saat ini Lazel akan kembali pergi meninggalkan dirinya. Namun saat ini terlihat berbeda, dimana ia akan melihat Lazel secara langsung dan akan menyambutnya kembali.
"Pesawat XXX akan tiba dalam lima menit. Mohon penumpang untuk bersiap-siap."
__ADS_1
Sebuah pengumuman membuat Lazel dan Ian bergegas berdiri.