Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Hyunjae Vs Jean II


__ADS_3

Sungguh tidak disangka, seseorang mengetahui dimana Lazel dan Ian berada. Padahal selama ini mereka selalu melakukan apapun demi menemukan kedua orang itu.


Hyunjae tidak bisa gegabah, pendesakan yang dia berikan pada Jean untuk mengetahui dimana Lazel berada hanya akan membuat perempuan itu semakin enggan untuk mengatakannya.


Seperti yang diucapkan Gyuu sebelumnya, setidaknya saat ini mereka memiliki harapan, daripada tidak sama sekali.


Jujujur saja... meskipun ia sangat tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Lazel, saat ini ia mulai merasakan senang. Lazel dan Ian berada di sebuah tempat yang tidak ia ketahui, dan menurut ucapan Jean di tempo hari sudah menandakan bahwa mereka berdua baik-baik saja.


...◇• •◇...


Cahaya kamera dan lampu sorot memenuhi ruangan itu. Untuk saat ini pekerjaan mereka kembali tersusun dengan baik tanpa masalah, terutama masalah yang ditimbulkan oleh Jean.


Setelah kejadian hari itu, ia tidak bertingkah dengan aneh. Setidaknya itu dapat menghilangkan rasa khawatir temannya yang lain.


Wanita berambut hitam itu sedang mendata di sebuah meja yang disediakan untuknya. Tatapannya begitu serius sehingga orang-orang tidak menyadari keberadaannya.


"Selesaiii~" ucapnya dengan peregangan badan yang dia lakukan.


"Oh, kau disini rupanya." Ujar temannya yang tidak menyadari jika Jean berada di satu ruangan dengannya.


Drrt!


"Hm?" Jean meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya, "..............."


"Siapa?"


"Tuan Direktur itu." Jawabnya dengan asal.


"A-Apa?! B-Beliau menghubungimu dan memberitahu bahwa kerja samanya akan diputus?!"


"Itu tidak akan terjadi!!" Jean memutuskan panggilan itu, "bukankah sudah ku katakan jika kerja sama ini tidak akan terlibat?"


"Jeaaaaan! Mengapa kau memutuskan panggilan penting seperti itu!!"


"Kau berisik! Pergi!" Jean mendorong temannya agar menjauh.


Untuk sekali lagi ponselnya kembali berdering dan mendapatkan panggilan dari sumber yang sama.


"Apa?" Pada akhirnya Jean mengangkat panggilan itu.


^^^"Apa kau benar-benar tidak akan memberitahu dimana Lazel dan Ian berada?"^^^


"Ingat ucapan yang terakhir kali kau dengar dariku."


^^^"Aku mengingatnya lagipula, kau memiliki hubungan seperti apa dengan Lazel maupun Ian? Aku tidak menyangka jika kau bisa mengenal mereka."^^^


"Bukan urusanmu."


^^^"..............."^^^


Hyunjae yang bebicara panjang lebar hanya mendapatkan jawaban yang mengesalkan.


Seisi ruangan yang cukup berisik membuatnya sulit untuk berbicara dengan mendengar. Ia pun memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut dan mencari tempat yang nyaman.


...◇• •◇...


^^^"Seharusnya kau itu berusaha, bukan memaksa."^^^


"Y-Ya aku tahu tapi kau tahu sendiri bukan? Kami sudah berpisah cukup lama."


^^^"Bukan urusanku."^^^


"Aku ingin memotong perempuan ini," batin Hyunjae dengan kesal. "Bisakah kau tidak bermain-main dengan perbincangan ini?"


^^^"Kenapa? Apa hanya kau yang boleh bermain-main terhadap perasaan orang lain? Jangan sesekali menganggap dirimu benar. Perasaan seperti itulah yang membuatmu dibenci oleh orang lain."^^^

__ADS_1


Hyunjae menekuk kedua alisnya, "sebenarnya sejauh apa rasa tahumu mengenai Lazel."


^^^"Aku sedang bekerja, lain kali lagi. Sampai jumpa."^^^


"Ck!"


Situasinya berubah secara perlahan, namun Jean tetap mempermainkannya dengan tidak memberitahukannya dimana Lazel Ian berada.


Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa berukuran besar dan meregangkan seluruh tubuhnya. Ia berusaha berpikir dengan baik tentang dirinya yang tidak disukai oleh Lazel.


Hingga saat ini, Hyunjae benar-benar berbeda dengan yang dulu. Ia tidak pernah mendekati wanita manapun, ia tidak pernah berniat untuk kembali menyakiti Lazel seperti dulu. Justru yang dia lakukan saat ini adalah berusaha mencari keduanya dan membawanya kembali.


"..............."


Di ruangan yang sunyi dan rapi, serta cahaya cerah menerobos masuk ke dalam ruangan yang besar.


Lazel yang dia ingat memiliki wajah yang sedikit bulat, rambut perak panjangnya selalu terhiasi dengan pita kupu-kupu. Warna iris matanya terlihat seperti caramel, serta warna kulitnya yang lumayan cerah. Jika berada di tengah-tengah musim dingin warna kulitnya hampir menyamai warna putih salju.


Mulutnya yang selalu tidak bersahabat, ada saja yang mereka debatkan yang berunjung tawa.


Padahal tawa yang dia berikan tidak sesuai dengan perasaannya. Karena niat awal kehidupan bersama mereka adalah untuk uang dan demi uang. Oleh karena itu Lazel sama sekali tidak pernah mengingkar janjinya dalam kondisi apapun, tapi Hyunjae selalu melibatkan wanita itu ke dalam masalag yang dia alami.


Seiring berjalannya waktu, dan tahu jika mereka baik-baik saja. Hyunjae akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki sebagian sifat dari dirinya dan membujuk Jean.


...◇• •◇...


"Bffffftttt!!"


Kara menggunakan buku pesanan yang berukuran besar untuk menutupi dirnya terutama wajahnya dari semburan maut, "sudah kuduga." Batinnya.


"K-Kalian tahu dimana Lazel berada?!" Ucap Hyunji yang sedikit tidak percaya dengan penjelasan Kara.


"Shh! Pelankan suaramu."


"A-Ahahahahaha~"


Tangannya mulai menggeser layar ponsel, "a-aku akan memberitahu I-"


Dengan cepat Kara menyambar ponsel itu, "jangan lakukan itu! Dan dengarkan aku!"


Kini tempat pertemuan mereka sama seperti biasa. Di sebuah kafe yang terletak di pusat kota. Kara mendapatkan izin dari Hyunjae untuk memberitahu Kakaknya mengenai masalah ini. Tapi ia tidak dibiarkan untuk memberitahukan hal ini pada Ibu atau Ayahnya.


Saat Jean mulai mengatakan dimana Lazel dan Ian, maka disaat itulah Hyunjae akan mengatakan dimana Lazel berada.


Masalah ini sebenarnya tidak begitu rumit, mereka hanya perlu mengambil hati Jean dan membuatnya terlarut dalam kesenangan. Dan dengan begitu masalah mereka akan selesai.


Dan rencana utama mereka adalah cara agar Jean mengatakan semua yang dia tahu mengenai keberadaan Lazel dan Ian. Tidak perlu terburu-buru, selama mereka berdua baik-baik saja itu sudah cukup.


Hyunji memperhatikan Kara yang terus menyeruput minumannya, "hei." Panggilnya.


"Ha?" Kara menyahut dengan suaranya yang serak.


"Jika Lazel dan Hyunjae bertemu kembali, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hyunjae yang kini menatap Kara dengan serius.


"Kembali bekerja." Jawab Kara dengan wajah yang sedikit memelas.


Selama kasus hilangnya Lazel Ian, ia terbiasa untuk tidak bekerja selama beberapa bulan. Padahal hal itu terjadi karena rasa kesalnya pada Hyunjae, namun pria itu memutuskan Kara untuk vakum untuk beberapa waktu atau hingga Lazel dan Ian kembali.


"Apa kau tidak ingin menikah?" Tanya Hyunji dengan blak-blakkan.


"Memangnya ada yang mau dengan perempuan sepertiku?" Kara menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah yang menyedihkan.


"Kau tidak mempunyai kekasih?


"Aku merasa jika aku lebih hebat dibandingkan mereka."

__ADS_1


"..............." kalimat terakhir itu membuat Hyunji tertawa pelan.


"Apa yang lucu?" Tanya Kara dengan raut kesal di rahangnya.


"Kau merupakan salah satu bodyguard Hyunjae bukan? Kumpulan orang-orang yang terlatih."


"Kenapa memangnya?"


"Besok bersiaplah. Aku akan membawamu ke tempat itu lagi."


"M-Malam?"


"Tidak."


"Fyuuh~ saat malam jalanan disana mengerikan," keluhnya. "Ngomong-ngomong... mau apa kesana?"


...◇• •◇...


Pertemuan awal mereka sedikit aneh dan juga sangat tidak ramah. Namun saat bertemu kembali, keadaan mereka semakin canggung. Dan saat ini mereka menambah anggota agar terlihat lebih ramai.


Kara yang hampir memiliki sikap sebelas dua belas dengan Lazel tidak dapat menahan rasa sabarnya. Jika saja Lazel ada di posisinya, mungkin wanita itu akan mencekik Jean dan memaksanya untuk berbicara. Wanita seperti Lazel sama sekali tidak tahu cara berbicara dengan baik, dia lebih memilih adu otot dengan emosinya yang membara.


"Hei... apa kalian berniat menyerangku secara bersamaan?"


"T-Tidak... kami hanya ingin tahu tentang Lazel darimu." Ucap Kara dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Untuk apa? Bukankah kalian sudah mengetahuinya lebih dulu?" Sahut Kara dengan santai.


"..............." Kara membalas ucapan itu dengan senyuman tulus.


Sedangkan Hyunji berusaha menahan kepalan Kara yang ingin terangkat, "dia benar-benar marah." Batinnya.


Hyunjae kembali membuat pertemuan dengan Jean yang awalnya Jean kira hanya berdua. Namun siapa sangka jika beberapa wajah asing juga ikut serta dalam pembicaraan mereka.


"Kalian adalah temannya?"


"Hm." Angguk ketiga orang itu, yakni Gyuu, Kara dan Vicy.


"Dia tidak mengetahui apapun tentang teman Lazel? Padahal dia tahu apa yang ku lakukan." Pikir Hyunjae dengan heran.


"Apa kalian akan menanyakan hal yang sama  seperti yang pria ini lakukan?" Ucap Kara dengan menunjuk ke samping kirinya, dimana Hyunjae duduk sejajar dengannya.


"Hei, apa kau benar-benar mengetahui dimana Lazel dan Ian berada? Aku tidak ingin terlibat dengan omong kosong ini." Tanya Gyuu yang untuk pertama kalinya bertemu dengan seseorang yang mengetahui keberadaan Lazel dan Ian.


"Masa bodoh, aku tidak peduli. Lagipula aku tidak memintamu untuk datang, dasar bocah." Sahut Jean dengan ekspresi meremehkan.


"HAAAA?! BOCAH?! BICARA APA KAU DASAR KEPARAT!"


"Haah~ penindasan." Rintihnya dengan wajah yang sedih.


"Aku benar-benar akan memukul dia." Ujar Gyuu yang ditahan oleh Vicy.


Pertemuan mereka begitu riuh sehingga mengganggu pelanggan lain. Vicy pun meminta pada Gyuu untuk tidak berteriak dan membuat keributan, begitupula pada Jean untuk  tidak memanas-manasi Gyuu yang pikirannya seperti anak kecil.


Hyunjae mulai bertanya tentang Lazel Ian, terutama lokasi mereka saat ini. Hyunaje sudah melakukan sesuatu yang harus dia lakukan, sebisa mungkin dia menggunakan wajah seriusnya dan tidak memberi kesan paksa dalam notasi ucapannya.


Mereka tidak tahu mengenai hubungan Jean dengan Lazel. Namun di luar pikiran bahwa dia tahu dimana Lazel dan Ian berada. Tentu saja masalah itu behasil membuat kericuhan.


"Kalian tahu bukan, jika aku tidak akan membuka mulut begitu saja?" Ucap Jean yang sama sekali tidak memberikan jawaban yang orang berempat itu tanyakan.


"Kami tahu, oleh karena itu kami berusaha untuk meyakinkanmu." Ujar Vicy yang merasa jika waktu yang mereka luangkan percuma.


"Apa aku harus tunduk padamu sehingga mengatakan dimana Lazel Ian berada?" Sahut Hyunjae.


"!!!!" Ketiga orang itu melebarkan mata mereka dan menatap Hyunjae tak percaya.

__ADS_1


"H-Hyunjae, jangan bercanda," ucap Gyuu dengan wajah yang terkejut. "Lebih baik kau berlutut di hadapanku saja." Batinnya.


Sulit dibayangkan, seseorang yang terkenal dibuat tunduk hanya untuk menjawab pertanyaan yang mudah.


__ADS_2