Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Adam & Lazel]


__ADS_3

"S-Suami?!"


"M-Maaf! Maafkan kami!"


"Ck!"


Pada akhirnya gerombolan para gadis itu pergi secepat mungkin.


Kedatangan Lazel membuat Hyunjae mematung dan membisu sejenak. Karena apa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya akan dia lihat kembali. Ditambah dengan perbincangannya dengan para gadis tadi.


Rambut perak panjang, kedua iris yang berwarna merah muda seperti layaknya caramel. Bibir berwarna merah serta tinggi tubuh yang hampir menyamai dirinya. Ditambah dengan setelan yang dia kenakan. Hanya menggunakan celana hitam longgar persis dengan yang digunakan Hyunjae namun berbeda merek. Serta kaos polos putih berlengan panjang namun tergulung hingga sikunya


"M-Memangnya apa yang kau katakan pada mereka?" Pertanyaan yang diajurkan Hyunjae sudah ia tebak jika tidak akan mendapatkan jawaban, namun untuk basa-basi akan dia lakukan.


"Jangan mengganggu Suamiku." Ujar Lazel yang sedikit berbeda dengan ucapannya sebelumnya.


"Hm... kupikir-APA?! SUAMI?!" Kejut Hyunjae yang terlihat sangat syok.


"Jangan berteriak."


"B-Bagaimana ini... aku terlalu senang sehingga tidak tahu harus melalukan apa." Hyunjae berlutut di bawah pohon dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Wanita berambut perak itu menduduki sebuah kursi yang terdapat beberapa bintik cahaya matahari karena masih berada di bawah perlindungan pohon sakura.


"Apa Ibu dan Ayahmu tahu tentang keberadaan diriku dan juga Ian?" Tanya Lazel yang langsung pada pembahasan.


"Hm, mereka tahu."


"..............." Lazel terdiam sejenak, dan Hyunjae pun menyusul dan ikut duduk di sampingnya. "Seharusnya tidak seperti ini..." batin Lazel.


Sejujurnya, Lazel memang tidak berniat untuk kembali lagi atau memunculkan dirinya. Karena dirinya sendiri merasa bahwa semua ini lebih dari cukup, jadi tidak perlu untuk kembali atau melakukan apapun yang berkaitan dengan masa lalu.


Pergi ke tempat ini ia rasa sudah lebih dari cukup. Karena kemanapun dirinya pergi maka disanalah dirinya yang baru akan hidup.


Namun pertemuannya dengan Jean terjadi begitu saja, siapa sangka musuh di waktu kecil akan menjadi teman dekat di waktu dewasa.


Dalam masalah ini, Jean memiliki peran atau mengambil peran yang besar. Karena informasinya maka Hyunjae dan orang-orang disana mengetahui keberadaannya dan juga Ian.


"Apa kau benar-benar tidak berniat untuk kembali?" Tanya Hyunjae yang memecahkan keheningan.


"Tidak." Jawab Lazel tanpa berpikir.


Kedua tanganbya terus bergeming tanpa henti, "tapi... aku tidak tahu harus me-"


"Itu adalah jawabanku disaat ada Ian. Namun saat ini mungkin sedikit berbeda." Sela Lazel dengan kedua tangan di depan dada.


"M-Maksudmu?"


"Ian... dia adalah satu-satunya orang yang mungkin tidak akan mendengarkan ucapanku jika berkaitan dengan kalian," Lazel mengubah posisinya sehingga berhadapan dengan Hyunjae. "Bahkan dia bisa saja memutuskan ikatan denganku hanya demi keegoisannya."


"Jika Ian menetap, berarti kau akan menetap juga bukan?" Tanya Hyunjae yang merasa sedikit ragu dengan kalimatnya sendiri.


"Serahkan ponselmu." Ujar wanita itu dengan mengadahkan tangannya.


"Hm? Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Serahkan."

__ADS_1


Mau tak mau Hyunjae menuruti ucapan Lazel dan menyerahkan ponselnya dari dalam saku celana.


"Apa-apaan ini, apa kau berniat menyimpa dendam?" Lazel mengarahkan layar ponsel itu ke hadapan Hyunjae, "sejak kapan kau mengambil fotoku saat tidur?"


"B-Bukankah kau ingin menggunakan ponselku? Maka gunakanlah. Aku tidak menyimpan apapun disana." Jelas Hyunjae.


"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya. Bahwa aku tidak peduli dengan para selirmu. Termasuk kau sudah menikah kembali atau belum."


"..............." Hyunjae terdiam dan tidak mengatakan apapun, sehingga kalimat Lazel membuatnya semakin merasa bersalah.


"Oh, lama tidak berjumpa." Ucap Lazel dengan ponsel silver yang menempel pada telingnya.


Wanita berkaos putih itu berdiri dari duduknya sembari berbicara. Untuk sesaat ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara teriakan dan juga bising.


"Lazel menghubungi siapa?" Hyunjae sangat penasaran, namun rasa penasarannya tidak bisa terbayar begitu saja.


"Aku baik-baik saja, apa Ayah Adam ada disana? Tolong berikan panggilan ini untuknya." Ujar Lazel.


Hyunjae berdiri dari duduknya dengan wajah terkejut,


"L-Lazel menghubungi Ibu?!"


Saat Lazel meminta untuk berbicara dengan Adam, suasananya sedikit berbeda dan juga sedikit berat.


"Lama tidak bertemu." Sapanya dengan wajah yang datar.


...◇• •◇...


Persis dengan cerita yang pernah Lazel ucapkan, selain Hyunjae yang terlibat dalam sepuluh tahun itu, Adam juga menjadi salah satu tokoh dalam permasalahan itu. Bahkan Hyunjae sendiri tidak tahu.


^^^"Aku tidak menyangka jika kau mengingat kesepakatan itu."^^^


"Aku adalah tipe orang yang bertanggung jawab. Selain itu, kalian berdua telah merawat kami dengan baik."


^^^"Hm... sesuai yang ku harapkan dari Putra Gion dan Lena."^^^


Hyunjae merasa bahwa pembicaraan Lazel dan juga Ayahnya tidak dilakukan dengan rahasia atau sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu ia berpikir bahwa mendengar percakapan mereka bukanlah masalah yang besar.


"Kau ingin aku kembali bukan? Maka aku akan mengabulkan ucapan kalian." Ucap Lazel dengan wajah yang serius.


Hyunjae melebarkan telinganya dan berusaha mencerna apa yang Lazel ucapkan, "A-APA?! KAU... KAU AKAN KEMBALI?! LAZEL! A-AKU!-"


Lazel mendorong wajah Hyunjae agar tidak berisik dan menjauh darinya, "diamlah! Aku belum selesai bicara!" Ucapnya dengan kesal.


Begitu senangnya dengan ucapan Lazel sehingga Hyunjae tidak bisa berhenti untuk tersenyum dan merasa senang. Dirinya tidak tahu jika akan semudah ini membawa Lazel kembali, tapi... sebelumnya ia mendengar sebuah kalimat kesepakatan di antara Lazel dan juga Ayahnya.


Sebenarnya tujuan Hyunjae memang membawa Lazel dan Ian kembali tanpa syarat atau ketentuan apapun. Namun setelah mendengar kesepakatan lagi ia mulai berpikir yang tidak-tidak sehingga menimbulkan masalah yang baru.


...◇• •◇...


Sembari menunggu Lazel usai dengan pembicaraannya dengan Adam. Hyunjae berpikir sejenak tentang apa yang akan dia lakukan ke depannya. Lazel dengan keinginannya sendiri berniat kembali semudah itu, tapi tidak akan ada yang tahu  bagaimana sikapnya jika kembali bergabung. Kerena semua orang sudah mengetahui sisi gelap Lazel yang dulunya selalu ia sembunyikan.


"Baiklah, sampai nanti."


Lazel memutuskan panggilan terlebih dahulu dan kembali ke tempat semula.


"Hei, kesepakatan apa lagi yang kau buat dengan Ayah?" Tanya Hyunjae, pertanyaan itu adalah yang utama.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Jawab Lazel dan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.


"Apa kau berniat mengembalikan masa lalu dengan hidup bersama dengan perjanjian?"


"Bukankah sudah kubilang jika ini bukan urusanmu?"


"Bahkan aku sendiri tidak menyangka jika selain aku dan Hyunji ada orang lain yang tahu."


"Sebelumnya aku pernah membuat perjanjian dengan Ayah Adam mengenai akhir dari semuanya. Dimana aku akan pergi kemanapun yang ku inginkan." Lazel akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada saat itu.


Awalnya Lazel sudah menduga, bahwa cepat atau lambat semuanya akan usai. Akhir apa yang terjadi, disaat itulah perannya akan berakhir. Akan tetapi, Adam yang kini merupakan orang tua kedua dari Ian dan juga dirinya membuat penolakan yang serius, dimana dia tidak akan membiarkan Lazel dan Ian pergi.


Namun dengan ego yang kuat serta argumen yang menguras emosi, Adam tidak bisa membuat Lazel tunduk padanya atau medengarkan ucapannya.


Untuk menaklukkan wanita keras seperti Lazel, Adam membuat beberapa kesepakatan, yaitu... berlari tanpa meninggalkan jejak.


Akan tetapi, jika Adam yang menemukan jejak itu maka Lazel memutuskan akan kembali bagaimanapun caranya. Namun jika tidak berhasil, maka pencarian tentang Lazel dan Ian akan semakin sulit, atau bahkan hampir tidak ada tanda untuk menemukan dirinya.


Hingga kehadiran Jean membuat semuanya berbalik arah. Wanita itu selama ini bertindak sebagai takdir yang memang atau mengharuskan Hyunjae dan Lazel kembali bertemu.


Tidak ada yang bisa menentang takdir, sejauh mana dia pergi, cepat atau lambat akan tetap kembali.


...◇• •◇...


Lazel menceritakan semuanya dengan teliti, lagipula Jean juga tidak akan tinggal diam. Beberapa temannya yang ada bersama dengan wanita itu mungkin sudah mengetahui sebagian fakta mengenai dirinya. Oleh karena itu, ia akan memberitahu Hyunjae secara pribadi.


"J-Jadi... jika kita tidak pernah bertemu dengan Jean, maka..."


"Mustahil bagi kalian untuk bisa menemukanku dan Ian." Sambung Lazel.


Hyunjae tidak menyangka jika permainan yang Adam buat telah direncanakan terlebih dahulu oleh Lazel. Namun karena kehadiran Jean, jejak-jejak tak terlihat mulai timbul dan takdir akhirnya menemukan mereka berdua.


"Haaaah~ mungkin aku akan bunuh diri jika tidak bisa menemukanmu." Ujar Hyunjae yang cukup ngeri dengan pertemuan mereka.


"Aku tidak peduli. Karena memang ini yang ku rencanakan." Ujar Lazel dengan wajah datar.


"Jadi..." Hyunjae mengangkat wajahnya kembali dan mendapati wajah Lazel yang sedang memperhatikannya. "Apa kau dan Ian akan kembali?"


"Seperti yang kuucapkan sebelumnya. Ian mungkin tidak akan mendengarkan ucapanku lagi, atau bahkan dia akan memutuskan ikatan di antara kami begitu saja demi egonya." Jelas Lazel.


Hyunjae merasa bahwa permasalahan ini mulai berpusat pada Ian. Karena bagaimanapun juga, mereka berdua adalah Saudara Kandung.


"Jika dari keinginan pribadimu, apa kau ingin kembali?"


"Hei, aku tidak sebodoh yang kalian pikirkan. Tentu saja tidak," jawab Lazel dengan terang-terangan dengan ekspresi tanpa belas kasih. "Kau pikir menyenangkan selalu berdebat dengan selirmu? Kau pikir mudah selalu mempeributkan hal sepele denganmu?"


Hyunjae yang mendapatkan kalimat itu membuatnya sedih dan merasa sakit hati. Tapi Lazel sama sekali tidak memperdulikan hal itu, karena belas kasihan hanya akan menempatkan dirinya di posisi semula.


Wanita berambut perak itu berdiri dan menatap Hyunjae, "aku kembali karena sebuah perjanjian, tidak lebih dari itu. Jadi jangan berharap terlalu banyak mengenai keputusanku." Ucapnya dengan nada yang terdengar datar.


...◇• •◇...


Rasa sakit yang pernah dia alami tidaklah semudah yang orang lain pikirkan. Beribu rasa khawatir dan juga takut jika harus memasuki lubang yang sama. Karena dirinya selalu berpikir bahwa semua ini sudah lebih dari cukup, hanya demi mengejar uang dan kedudukan harus membuat dirinya tertekan seperti ini.


Perselisihan di antara para wanita Hyunjae sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran Lazel. Karena pada awalnya dirinya sendiri tidak berniat untuk ikut campur dalam masalah mereka.


"Lazel..." Hyunjae ikut berdiri dan meraih beberapa helai rambut panjang Lazel yang berhembus ke depan. "Aku mengajakmu kembali bukan semata-mata akan mengulangi hal yang sama, melainkan... membuat semuanya menjadi baru meskipun terdapat luka di dalamnya."

__ADS_1


__ADS_2