Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Tiba-Tiba?!


__ADS_3

Dari awal ia sudah salah besar, seharusnya ia tidak perlu melakukan apapun pada seseorang yang sudah berbaik hati padanya. Pada akhirnya ia memutuskan akan tetap bertahan demi Adiknya.


Namun... sebuah penawaran berhasil mengejutkan dirinya. Siapa sangka jika ada seseorang yang menginginkan dirinya sebagai perancang perhiasan di tempat yang luar biasa seperti ini. Bukan hanya untung, justru ia dapat pergi kembali dan langsung mendapatkan lowongan pekerjaan yang memadai.


Lagipula karena perancang adalah pekerjaannya saat ini, ia sudah terbiasa dengan hal itu.


Lazel mengarahkan wajahnya pada pria berkemeja itu dengan tersenyum sopan, "terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, saya harus menolak penawaran itu." Jawabnya dengan wajah yang ceria


"..............."


"Lagipula Saya sudah bekerja di tempat yang tepat, dan... memiliki seorang Suami."


"Hm... ternyata hal itu benar."


"Hm?"


"Tentang kau sudah memiliki Suami."


"Ha??"


"Kupikir kau belum menikah. Jadi aku sempat ingin melamarmu."


"..............."


Ucapan itu memang sedikit mengejutkan dan blak-blakkan. Sehingga Lazel sendiri yang mendengarnya hampir tertawa sekaligus terkejut.


...◇• •◇...


Jason Ćalē, seorang CEO muda di Negara Prancis. Dia terkenal karena wajah dan juga kekuasaan yang dia miliki. Selain belum menikah, para wanita juga sering memperebutkan dirinya. Dengan sifat dingin seperti itu, semua orang semakin mengagumi dirinya.


Yang menjadi masalah utama adalah, jika dia mulai menyukai seseorang. Maka orang itu tidak akan lepas dari pengawasannya. Lazel yang merasa jika dirinya adalah korban, maka dia sudah mempersiapkan sesuatu yang meyakinkan agar tidak membuat kericuhan.


Yaitu dengan menghancurkan seseorang yang berniat memaksakan kehendaknya. Siapapun dirinya, seperto apapun kekuasaan yang dia miliki, Lazel yang memiliki sosok tak kenal ampun bisa saja membuat masalah yang lebih dari perkiraan.


"Aku sudah memiliki Suami."


"Aku tidak bertanya."


"ARGH! KAU INI MENGESALKAN SEKALI!" Kini emosi yang berusaha ia tahan pada akhirnya keluar secara meluap-luap.


"Haah... memangnya apa yang hebat darinya? Bukankah aku yang lebih tampan darinya?"


"Hm... itu benar- tapi! Aku tidak berniat untuk menikah kembali atau memiliki Suami lebih dari satu!"


"Pemikiranmu itu naif sekali, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu bahkan aku sendiri tidak sempat memikirkannya."


Lazel menarik pipi Jason dengan kuat, "diam dasar keparat! Tingkah lakumu ini mengingatkanku pada seseorang  (Gyuu) yang ku kenal! Dia juga juga menyukaiku."


...◇• •◇...


Awalnya ia berpikir bahwa pertemuannya dengan Klien di Prancis akan membutuhkan mental yang kuat. Ternyata yang perlu dia hadapi adalah manusia asing yang tiba-tiba menginginkan dirinya agar menjadi seorang Istri. Ditambah dengan penawaran terhadap pekerjaan.


Hal itu memang sangat sayang untuk ditolak, karena tidak mungkin ada kesempatan yang lain. Lagiula posisinya yang saat ini sudah lebih dari cukup. Jika bukan untuk Hyunjae, setidaknya ia akan melakukannya demi Ibu dan Ayah angkatnya, Nezra dan Adam.


"Aku mau ini!"


"????"


Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam, akhirnya gadis muda itu sudah menentukan pilihannya. Lazel sudah tidak ingin berlama-lama disana.


"Perlihatkan kepadaku."


Sebuah cincin berwarna perak, dengan sebuah permata merah yang di tutupi oleh tiga kelopak bunga. Kelihatannya memang tidak mewah dan cukup simpel. Namun harganya bukan main-main.


"Sebentar, aku akan menghubungi seseorang." Lazel menjauhkan dirinya sejenak dan mulai mengambil ponselnya di dalam saku celana.

__ADS_1


"Apa dia Suamimu?" Tanya Jason dengan wajah penasarannya.


"Diamlah! Kau terlalu banyak bicara!" Teriaknya, "ah... Hyunjae aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


...◇• •◇...


"Perhiasan?"


^^^"Hm, apa aku menyerahkannya sekarang atau melalui pemeriksaan saat pulang nanti bersamaan dengan pembungkusnya?"^^^


"Apa kau tidak membawa cadangannya?"


^^^"Ck! Terlalu banyak yang kupikirkan sehingga melupakan hal sepenting itu."^^^


"Bisa kau bicarakannya terlebih dahulu? Jika bisa lebih baik kau mengirimnya setelah kembali nanti."


^^^"Hm, aku paham."^^^


Mendapatkan panggilan dari Istrinya membuat wajahnya senang bukan main. Apalagi setelah mendengar kabar dari Lazel bahwa pertemuannya dan juga akses jual-beli hampir selesai. Yang artinya ia dapat menghabiskan waktu bersama dengan Lazel untuk beberapa waktu di Paris.


"A-Apa Anda bisa mengangkatnya untuk Saya?" Seorang perempuan dengan wajah yang sangat menarik itu mulai memberi godaannya pada Hyunjae.


Sebuah beban yang terlihat tidak begitu berat secara sengaja membuat tubuhnya kesulitan dalam bergerak. Padahal Lazel saja mungkin bisa mengangkatnya dengan mudah.


"..............." tatapan biasanya melihat ke arah wanita itu. "Maaf, tanganku penuh." Tolaknya dengan senyuman lalu pergi meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke hotel.


...◇• •◇...


"Y-Yah... aku sama sekali tidak memaksa. Tapi jika kau-"


"Apa pembungkusnya akan terlihat indah?!" Tanya gadis itu dengan menyela pembicaraan Kakaknya dan juga Lazel.


"Tentu saja, apa kau mau melihat contohnya?" Tawar Lazel.


Lazel membuka ponselnya dan memperlihatkan kotak cincin pernikahannya dengan Hyunjae yang masih tersimpan di galerinya.


"G-Gilaa! Apa kotaknya dilapisi dengan berlian juga?!" Ia baru saja melihat gambar sebuah kotak cincin yang berwarna perak bagian sudutnya, serta bagian lainnya berwarna bening polosan dan terdapat titik-titik gliter yang telah di padatkan menjadi satu dengan bagian kotak cincin tersebut.


"Benar. Namun kami tetap mengaplikasikannya polos seperti ini, agar tidak terlihat mencolok."


"Ngomong-ngomong... apa kotak itu memiliki cincin?"


"Tentu, ini cincinya." Lazel memperlihatkan jari manis kirinya yang terbalut dengan cincin berwarna emas.


"W-Wahh! Cincin pernikahanmu?!"


"Hm."


Sebenarnya Lazel hanya mencari amannya saja, dimana ia dapat memberikan cincin itu ke dalam kotak cincin yang sesuai. Namun karena barang bawaan lainnya dan pikiran yang menumpuk, ia harus melupakan bagian penting dalam pekerjaannya.


"Bagaimana? Apa kalian mau?"


"Hm! Aku percaya padamu Nona!"


"Aku mengenal Tuan Adam dengan baik. Kalau begitu kupercayakan padamu."


"Hahaha! Terima kasih banyak."


...◇• •◇...


Akhirnya semua pekerjaan di kedua negara berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Sebelum itu, ia ingin kembali melalui rute kota yang dapat menemukan taksi dengan mudah. Sebelumnya Jason kembali memberikan perintah kepada kedua anak buahnya untuk mengantar kepergian Lazel hingga ke tempatnya. Namun wanita itu menolak. Lagipula pekerjaannya telah usai, oleh karena itu ia tidak ingin merepotkan mereka lagi.


Sepertinya matahari baru saja terbenam. Sebuah menara yang menjulang tinggi  itu perlahan mulai bercahaya emas dan menerangi sekitarnya.


"Wah... ini kedua kalinya aku pergi kesini. Tapi aku sudah melupakan momen-momen seperti ini."

__ADS_1


Lazel ingin menyempatkan dirinya sebentar untuk berjalan-jalan di sekitar menara. Lagipula ia berencana untuk langsung memesan tiket pesawat untuk kembali esok hari.


Langkahnya terhenti secara tiba-tiba, karena ia hampir melupakan sesuatu yang lebih penting. Ponsel yang sudah siap untuk memotret pemandangan itu terturun perlahan.


"Belakangan ini dia selalu di tempat yang sama. Apa kira-kira kepulanganku besok akan merepotkannya?" Ucapnya pelan, "sepertinya aku harus..." perasannya kembali lebih bimbang.


"Perbedaan jam. Apa aku akan mengganggunya?"


Kedua matanya terlihat sayu, angin hembusan malam menyapu rambut perak panjangnya.


Tempat itu semakin ramai oleh pejalan kaki. Selain memiliki pemandangan yang cantik, menara itu seperti sebuah lentera malam yang tidak akan pernah padam.


Kedua iris merah muda caramelnya memperhatikan benda tinggi itu dengan kepala yang sedikit mengadah ke atas.


Pada akhirnya, keinginannnya untuk menghubungi Hyunjae dibatalkan. Dibandingkan rasa takut, dia lebih trauma dengan masa lalu. Apalagi ia memiliki seorang Adik yang sudah mempercayai dirinya dan juga Hyunjae. Namun ternyata semua sia-sia. Tidak ada perubahan melainkan kebaikan pria itu.


Drrt!


...◇• •◇...


Tangan kirinya yang menggenggam ponsel seketika memberikan getaran sehingga ia menduga bahwa ada panggilan masuk. Lagipula dirinya sudah menduga siapa yang menghubunginya. Tak lain adalah...


"Hyunjae..." ucapnya pelan dengan menatap layar ponselnya dengan datar.


Bukannya mengangkatnya dan memberikan jawaban, Lazel justru membiarkannya hingga mati secara otomatis.


"Haah... seharusnya dia tidak perlu repot-repot menghubungiku secara terus menerus."


Sebuah kursi panjang yang ada disana, ia mendudukinya sebagai tempat beristirahat. Pandangannya juga tak lepas dari menara eiffel tersebut.


Hampir satu jam ia tidak mengangkat kaki dari sana, dan hampir satu jam pula ia tidak mengangkat panggilan dari Hyunjae. Akan lebih baik seperti itu, jika ia mematikan daya ponselnya, maka Hyunjae akan kembali melakukan hal-hal lainnya yang mungkin akan membuat dirinya semakin merasa tidak enak.


"Aku tidak mau mengakuinya... tapi aku memang merasakannya,"


"Aku melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, dimana aku memang tidak diperbolehkan untuk menyukai siapapun..."


"Jika hal itu terjadi..." ia menggantungkan ucapannya sendiri dan memberikan tekanan pada wajahnya. "Wonhae... seharusnya aku tetap menyukainya saja."


Setelah beradu pikiran dengan diri sendiri, akhirnya wanita itu sadar pada dirinya dan kembali berdiri.


"Sudah kuputuskan, aku tidak akan mengakui pe-"


"Apa... apa yang sebenarnya kau katakan dari tadi?"


"??!!" Sontak badannya memutar ke belakang dan melihat siapa yang bersuara dan menanggapi dirinya berbicara. Terlebih lagi dalam suara yang sangat dia kenal.


Di tengah-tengah keramaian, dan di tengah-tengah cahaya yang beragam. Terutama cahaya cantik dari paparan Menara Eiffel di malam hari.


Ia tidak bisa berkata-kata lagi, secara langsung sosok itu menampilkan dirinya.


Sekujur tubuhnya bergetar dengan hebat, kedua kakinya perlahan mundur ke belakang, "k-kau... bagaimana bisa..."


Pria itu datang dengan wajah yang kelelahan, keringat yang membasahi seluruh wajah dan juga rambutnya. Ia mendekatkan dirinya pada wanita itu dan memegang kedua pundaknya dengan erat.


"Ku tanya sekali lagi. Kenapa kau tidak menjawab panggilanku? Apa kau tahu dimana posisimu saat ini? Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan dirimu karena berada di negara lain." Begitu banyak pertanyaan yang terlontar lantaran khawatir pada Lazel.


"T-Tunggu dulu, kenapa kau disini?"


"Jawab, kenapa kau tidak menjawab panggilanku! Seharunsnya-"


"Lepas," dengan paksa ia membuat Hyunjae melepaskan tangannya. "Mengapa kau disini? Bagaimana bisa kau berada di tempat ini? Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Kini pikirannya sama sekali tidak bisa berjalan dengan baik.


Kedatangan Hyunjae tanpa sepengetahuannya membuat Lazel terkejut sekaligung panik. Karena seharusnya pria itu berada di rumah.


"Dengar," pria itu membuat kedua tangannya berada di kedua sisi wajah Lazel dan menatapnya dengan jarak yang dekat. "Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sejauh ini tanpa pentauan dariku." Ucapnya dengan rahang yang terlihat mengeras.

__ADS_1


__ADS_2