
Terasa geli, namun karena berkali-kali dan berulang-ulang dilakukan, ia pun mulai sedikit memberi respon tanpa penolakan.
Tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang dengan rambut yang acak-acakan. Jujur saja, yang saat ini ia kenakan hanya piyama dengan dalaman. Sedangkan tidak ada jaminan bagi pria itu untuk mengenakannya.
Tangan kirinya menapak pada sandaran ranjang yang menahan tangan wanita itu agar tidak bergerak, sedangkan tangan lainnya meraih kepala sang Istri dan menekannya ke dalam sehingga tidak ada ruang untuk bernafas di sela-sela ciuman panas itu.
Tangan yang terbebas bukannya mendorong atau memberikan penolakan. Justru mencengkram kuat piyama yang Hyunjae kenakan.
Penampilan Lazel saat ini sangat berantakan. Saat ini Hyunjae mungkin akan memberikan semuanya pada Lazel, sedangkan wanita itu akan mengerahkan apa yang seharusnya milik Pria itu.
Merasa ada yang menjanggal, ia pun secara intens memegang leher kanannya, "ack! Apa yang kau lakukan?!" Tanya Lazel dengan wajah yang memerah dan juga sedikit panik.
"Ck! Seharusnya berdarah." Ucap pria itu dengan kesal.
"Huh??"
Di duga bahwa Hyunjae memberikan gigitannya pada leher jenjang Lazel dengan kuat sehingga wanita itu merintih kesakitan.
Akibat dirinya yang merasa sakit karena hal itu, Lazel pada akhirnya mulai sadar atas apa yang sedang dia lakukan meskipun itu tidak apa-apa untuk dilakukan.
"Cukup. Aku mau tidur." Ucap Lazel disela-sela Hyunjae yang mulai menenggelamkan dirinya pada Lazel.
"Hah?? Setelah kau menggeliat seperti itu lalu menyuruhku berhenti? Apa kau bercanda?" Balas pria itu dengan kesal.
"Hahh?? Lagipula kau yang terlebih dulu menggangguku!"
Karena merasa bahwa Lazel perlahan mulai menerima dirinya, ia pun mengabaikan ucapan itu dan melanjutkan aktivitasnya sehingga membuat Lazel terkejut.
Dengan piyama longgar seperti itu, tali maupun belahan dada Lazel sudah terlihat.
...◇• •◇...
Di selingi dengan lampu-lampu redup, serta suara gemercik air yang berada di kolam renang. Pantulan rembulan di malam hari terlihat begitu jelas dari langit-langit di atas sana.
Pria itu seakan-akan tidak akan melepaskan Istrinya begitu saja. Bagaimana tidak? Dirinya saat ini sudah dipenuhi oleh nafsu yang entah kapan akan mulai benar-benar menguasai Lazel.
Wanita yang tidak berdaya itu hanya bisa terlentang bebas di bawah naungan pria bertelanjang dada itu. Piyama yang ia kenakan sudah terturun hingga pinggangnya.m dan perlahan mulai menguasai Lazel dengan hasratnya.
Lazel tidak bisa memikirkan apapun, apapun yang dia lihat dari Hyunjae hanyalah tatapan liar dan juga bernafsu. Jujur saja, itu sangat menakutkan baginya, tapi apa boleh buat. Ketakutan itu terus berusaha ditenangkan oleh Hyunjae yang dalam beberapa waktu memberinya kecupan hangat agar lebih tenang.
"!!!!"
"Lazel..."
Ia tidak menyangka jika pria itu mulai meraih tubuh dalamnya melalui sela-sela piyama depannya.
"Hy-Hyunjae! Aku tidak memakai-argh!"
Pria itu kini beralih pada bawah leher Lazel dan mulai memberikan kiss mark.
Hyunjae masih dalam keadaan yang sama, tubuh besarnya perlahan mulai mendekap Lazel dan membantu wanita itu melepaskan piyamanya.
"T-Tidak-"
"Diamlah." Sela Hyunjae yang sudah menurunkan pakaian atas Lazel sehingga menampakkan bagian sempurna dari apa yang dia miliki.
Bra berwarna hitam itu mulai diambil alih oleh Hyunjae.
"Cukuuupp!" Teriaknya dengan mengambil selimut dan mulai menggulung tubuhnya serta menjaga jarak dari Hyunjae.
"K-Kenapa... apa aku menyakitimu?" Tanya Lazel dengan rambut berantakannya menatap Lazel dengan khawatir.
"K-Kau pernah bilang bahwa akan melakukannya atas izinku. La-Lalu apa yang coba kau lakukan?"
__ADS_1
"..............." pria itu bungkam dengan tatapan yang tertuju ke bawah. "Apa kau benar-benar tidak mau melakukannya?" Tanya Hyunjae dengan kepala yang masih dalama posisi yang sama.
Saat ini Lazel berada disisi lain ranjang dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya.
Sama seperti dirinya. Lazel tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Hyunjae.
"Kemarilah." Ujar Hyunaje yang kembali memperbaiki piyamanya dan memanggil Lazel ke sampingnya.
Melihat Hyunjae yang sudah dalam kondisinya yang stabil membuat Lazel perlahan mulai mempercayai pria itu. Ia pun mendekat dengan wajah yang masih terdapat rona merah.
Hyunjae bersandar pada sandaran ranjang. Lazel yang perlahan mendatanginya berada di hadapannya dengan wajah yang masih mewaspadai tindakannya.
"Haah..." pria itu membuka selimut Lazel dan memperbaiki piyamanya.
Awalnya Lazel terkejut, namun pada akhirnya Hyunaje hanya memperbaiki piyamanya meskipun hampir seluruhnya terlihat oleh pria itu.
"Ayo tidur." Tangannya meraih tubuh Lazel agar tetap menempel padanya.
...◇• •◇...
Tidur? Yang benar saja. Bahkan bernapas saja sudah sangat sulit untuknya. Detakan jantung Hyunjae terdengar tenang di pendengarannya. Wanita itu sedikit bersyukur bahwa Hyunjae tidak berada di posisinya. Karena jantungnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"H-Hyunjae... apa kau marah?" Tanya Lazel dengan tangan kanan yang terletak di perut Hyunjae.
"Marah? Padamu? Tentu saja tidak."
"H-Hm..."
"Di lehermu banyak bekas. Jadi usahakan gunakan pakaian yang lebih tertutup besok."
"Dasar bodoh! Tanpa kau beritahu aku sudah melakukannya lebih dulu!"
"Hahahaha! Itu karena aku pandai dalam bercinta. Padahal aku belum pernah melakukannya dengan siapapun." Jelasnya dengan tawa kecil.
Lazel masih mengkhawatirkan beberapa hal. Meskipun tidak begitu dia perlihatkan. Bagaimana bisa pria yang dulu sangat dia benci saat ini perlahan mulai meletakkan tanda padanya. Padahal rasa sakit yang dia alami jauh lebih kejam.
"Yang ku butuhkan saat ini hanyalah cintamu, aku tidak berharap pada apapun selain hal itu," ucap Hyunjae dengan kedua mata yang menatap pada langit-langit kamar. "Selagi aku memberikannya kau dengan otomatis menyerahkannya. Aku hanya mencoba untuk tetap tenang meskipun sebenarnya sangat sulit."
...◇• •◇...
Seperti yang sudah diperintahkan oleh Bos Besar mereka. Pembungkusan kotak akan tetap dilakukan oleh bawahan Lazel atas perintah Hyunjae. Sebelumnya Lazel juga sempat medesain bagaimana bentuk serta ukirannya, meskipun tidak detail, namun Byul dapat diandalkan dalam hal ini. Jadi ia tidak perlu khawatir.
"Pergi?"
"Hm, mau ikut?"
"Tidak."
"Mau beli sesuatu?"
"Ramen."
"H-Hm, baiklah."
Baru saja pria bertubuh tinggi besar itu meninggalkan ruangan untuk membeli makanan. Karena tidak ada satupun yang perlu dilakukan, kedua orang itupun hampir seperti orang pengangguran. Setidaknya Hyunjae memberikan atau menyisihkan sedikit waktunya untuk berlibur.
Musim Panas kemarin dihabiskan hanya untuk mencari dan membujuk Lazel dan juga Ian agar kembali serta pesta acara pernikahan Hyunji dan Kara. Oleh sebab itu Hyunjae akan melakukan refresing setelah semua kesibukan yang ada.
Drrt!
"Hm?"
Sebuah ponsel yang berada di atas meja bergetar.
__ADS_1
"Dia tidak membawa ponselnya?" Lazel menghampiri ponsel Hyunjae yang tertinggal dan melihat siapa yang menghubungi pria itu, "Iaaannn!!" Seketika wajahnya cerah saat melihat siapa yang menelponnya.
"Halo? Kau baik-baik saja? Bagaimana suasana disana? Hei kau tidak bermain hingga larut malam kan? Aku akan-"
^^^"Syukurlah, aku berencana memang menghubungimu Kak. Bukan Hyunjae. Kemana ponselmu?"^^^
"Mati, aku lupa mengisi dayanya. Ngomong-ngomong ada apa menelponku? Kau merindukankuuu~"
^^^"Bisakah kau mengirimkanku pulsa? Disini hujan deras. Bahkan menggunakan payung mungkin akan sia-sia."^^^
"Hanya itu?"
^^^"Ya, kalau begitu akan ku tunggu. Sampai jumpa."^^^
"..............." entah harus kesal atau apa. Namun Adik laki-lakinya itu memang irit bicara melalui telpon dibandingkan berucap secara angsung.
...◇• •◇...
Hampir satu jam lebih Hyunjae belum kembali. Tidak perlu dikhawatirkan. Lagipula pria itu telat jika ada para segerombolan wanita yang mengerumuninya. Padahal sudah ada satu wanita yang lebih dari cukup untuknya.
Suasana hari ini nampak bagus, cerah dan terdapat banyak gumpalan awan putih yang cantik. Pantulan matahari mengenai kolam sehingga membuatnya seperti bintang di atas air.
Wanita berpakaian panjang itu berjalan mendekati kolam dan memperhatikan ke dalam.
"Semenjak kesini aku tidak pernah bermain air," gumamnya. "Tidak! Tidak! Selagi ada Hyunjae itu sangat mustahil untuk kulakukan." Tukasnya dengan panik.
"Hm?" Ada sebuah cermin di dekat pintu masuk. Cermin itu cukup lumayan besar sehingga dapat memperlihatkan wajahnya. "..............."
Angin yang berhembus ke arahnya membuat rambut-rambut peraknya terkibar sehingga memperlihatkan bercak-bercak merah serta bekas gigitan di sekeliling lehernya. Hal itu membuat Lazel mendadak malu dan segera menurunkan kembali semua rambutnya.
"Sial... meskipun memakai pakaian tertutup seperti ini. Pada bagian leher ada yang tidak bisa disembunyikan oleh baju selain rambut." Ucapnya kesal.
Alasan Lazel tidak mengikat rambutnya dan membiarkannya terurai begitu saja adalah untuk menutupi apa yang tidak ingin ia perlihatkan.
"Sepertinya akan menyenangkan jika berenang sekarang," kepalanya menoleh ke belakang dan memperhatikan ruangan yang sepi sunyi. "Hyunjae mungkin akan pulang lama, jadi... apa sebaiknya aku menyegarkan diri?" Senyumnya.
Kedua tangannya berada di pinggang dengan pose wajah bahagia, "HAHAHAHA! Ayo la-"
"Sayang, aku pulang~"
"!!!!" Lirikkan tajamnya mengarah ke belakang, dimana ia mendengar suara familiar sudah memasuki rumah.
"Lazel, apa yang kau lakukan disana? Bukankah aku sudah melarangmu berada di sekitar kolam jika aku tidak ada?" Ucap Hyunjae dengan nada yang tidak suka.
"Apa kau harus menggunakan pesawat hanya untuk membeli ramen?"
"Antriannya panjang sekali, lagipula aku keluar hanya karena mengambil barangku yang tertinggal di gym."
...◇• •◇...
Kehidupan mereka saat ini terlihat seperti benar-benar lepas dari pekerjaan yang menggunung. Menikmati waktu berdua hanya dengan pasangan di dalam ruangan yang cantik.
"HAHAHAHAHAHA-Ups," tawanya terhenti dengan menutup mulutnya sendiri. "A-Apa suaraku begitu kuat?"
"Hm, mungkin suaramu akan tetap meraih langit meskipun berada di dalam ruangan kedap suara." Sahut Hyunjae yang sibuk memainkan rambut Lazel dari samping.
"Lazel, apa kau mau ikut malam ini?"
"Kemana?"
"Jalan."
"Aku lelah, lagipula-"
__ADS_1
"Hm... benar juga. Bukankah kemarin kau hampir usai karena diriku?" Tangannya menyingkirkan rambut Lazel dan menurunkan kerah pakaiannya, "lihat, ada begitu banyak bekas disini."
"Hentikaaann!!"