Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Tantangan]


__ADS_3

Semua orang berdiri dari tempat mereka masing-masing dan menatap ke arah yang sama secara bergantian. Dimana semua tatapan itu mengarah pada Hyunjae dan juga Lazel.


Mulanya hanya Hyunjae, Jean dan Ja Heul yang terlibat dalam masalah ini. Namun Hyunjae kembali membuka mulut dan memberi perintah pada Ja Heul untuk meminta maaf pada Lazel yang tidak ada hubungannya dengan perkara kejadian ini.


"M-Minta maaf?? Memangnya apa yang kulakukan sehingga harus meminta maaf padanya?!" Ja Heul memberontak dan mengabaikan permintaan atau lebih tepat perintah dari Hyunjae.


"Menodongkan senjata seperti itu bukanlah hal yang main-main," Hyunjae mengeraskan rahangnya dan berusaha untuk menahan emosinya. "Bukan karena wanita itu adalah Istriku aku bersikap seperti ini. Karena tidak ada jaminan nyawa akan selamat dari senjata seperti itu, hal ini juga berlaku bagi semua orang." Jelasnya.


"B-Baik, kami akan memintanya untuk meminta maaf." Ujar pria yang mendampingi Ja Heul, yang dikenal sebagai Ayahnya.


Lazel yang biasanya akan ikut ribut dalam hal apapun kini terdiam dan mematung melihat tindakan Hyunjae.


Sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan keadilan tanpa imbalan berupa harta. Hidupnya hampir dibilang miris karena sangat berbeda dengan kehidupan orang lainnya. Namun untuk kali ini, meskipun bukan untuknya, bukan demi dirinya. Hyunjae mengatakan hal yang begitu bisa mengubah cara pandangan orang terhadapnya, termasuk Lazel sendiri.


Hyunjae yang dulu sama sekali tidak pernah peduli pada sekitarnya. Entah itu menyangkut nyawa, kehidupan atau harga diri. Dulu pria itu buta mengenai kehidupan, namun saat ini... dia berhasil membuat Lazel bungkam.


Kesunyian menyelimuti ruangan nan besar itu.


Pandangan yang tertunduk ke bawah seolah-olah berusaha untuk mengatakannya meski ada benci di dalam hati.


"M-Maaf... maafkan aku." Ucap Ja Heul.


"!!!!" Lazel tidak menyangka jika perempuan itu akan mengatakannya.


"Jangan merasa senang dulu dasar sialan, aku melakukannya karena rasa bersalahku pada Hyunjae, tidak lebih dari i-"


"Benarkah?" Lazel tersenyum dengan ekspresi anggunnya, "permintaan maafmu itu belum tentu ku terima begitu saja, jadi jangan merasa tinggi lebih dulu dibandingkan kesalahan utamamu." Ucapnya dengan kedua tangan yang menyanggah pada sandaran kursi yang ada di depannya.


...◇• •◇...


Atas permintaan dan penambahan dari Hyunjae, permasalahan itu menjadi sedikit panjang. Namun setelah Lazel berhasil menyekak Ja Heul dengan kalimatnya maka semua pun usai.


Ja Heul yang merupakan dalang dari masalah ini pun mulai meminta maaf di hadapan publik melalui Konferensi Pers yang diadakan secara mendadak dari pihak kedua orangtuanya.


Hyunjae tidak menuntut apapun pada Ja Heul hingga harus menembus segala kesalahannya di balik jeruji. Hal itu juga karena permintaan Lazel secara diam-diam. Wanita itu sama sekali tidak ingin memperpanjang semuanya, kasus pada keluarga besarnya saja masih belum usai, apalagi harus menambah masalah lainnya.


Lazel menjelaskan pada Hyunjae bahwa hari ini akan menjadi pelajaran baginya. Dan berharap tidak akan terjadi lagi di waktu yang akan datang, sehingga Hyunjae harus mengambil langkah seorang diri.


...◇• •◇...


Wajahnya menoleh kesana dan kemari seperti sedang mencari seseorang.


Di sisi lain, seorang perempuan dengan pakaian rapi tengah duduk di pinggir tangga dengan wajah yang melamun. Paparan matahari sedikit menerobos pohon rimbun dan memberi cahaya bintik di setiap kepalanya yang ditumpukki dengan rambut perak cantiknya.


Saat ini pikirannya sama sekali belum terbilang tenang. Usai dari ini dirinya merasa bahwa akan ada masalah lagi yang menghampiri dirinya.


Paman dan Bibinya saat ini sedang menembus kesalahan mereka di dalam penjara. Sedangkan Sepupunya berada di dalam rumah dengan banyak penjaga yang mengitari area rumahnya.


Ja Heul yang membuat berita palsu akan diperlakukan sama seperti Miel. Ia tidak diperbolehkan keluar untuk beberapa waktu atau bulan ke depan. Perusahaan yang dijalankan oleh kedua orangtuanya juga harus tutup sementara.


Jujur saja... jika dibandingkan dimana ia mengabaikan semuanya dan hanya fokus pada harta dan uang, semuanya lebih baik sebelum hari ini terjadi. Namun uang tidak bisa membuat perasaannya puas, melainkan membuat keinginannya terpenuhi.


Kedua matanya menatap ke bawah dengan sedikit sipit, bibir merahnya terus tertekuk tanpa mengucapkan apapun.


"Ternyata kau disini." Ucap seseorang yang begitu dekat dengannya dari arah belakang.

__ADS_1


Kedua tangan yang cukup familiar merangkulnya dari belakang. Begitu pula kedua kakinya yang berada di kedua sisi posisi duduknya.


"Berat, singkirkan tanganmu." Ujar Lazel pada pria yang meletakkan dagunya pada kepala Lazel.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Hyunjae yang menurunkan tangannya ke atas lututnya sendiri.


"Cara untuk mendapatkan uang tanpa bekerja." Jawab Lazel sembarang.


"Hm... kau hanya cukup tidur di bawahku maka semua ucapanmu itu menjadi kenyataan."


"Jangan samakan aku dengan para selirmu di luar sana."


"Hm? Siapa yang menyamakanmu? Mereka adalah mereka, dan kau adalah Istriku. Lalu apa yang sama?"


"Bicara denganmu hanya memancing pertengakaran." Lazel hendak beranjak dari tempatnya namun Hyunjae menariknya kembali hingga wanita berambut perak itu terjatuh ke dalam pelukannya.


"Hyunjae, aku tidak mempunyai tenaga untuk bertengkar denganmu." Keluh Lazel yang tidak memberikan tolakan pada apa yang dilakukan Hyunjae padanya.


Diam-diam Hyunjae mendekatkan wajahnya pada wajah Lazel, "aku mau mencium-"


Duak!


"ACK!"


...◇• •◇...


"Jadi... apa yang akan kalian lakukan sekarang?"


"Menurutmu Lazel?"


"Kembali ke Jepang." Jawabnya dengan polos.


"HAAAAAAAAAAAAA?!"


"KE-KEMBALI KE JEPANG?! LALU BAGAIMANA NASIB HYUNJAE YANG BELUM SEPENUHNYA SEMBUH DARI SAKIT HATINYA?!" Teriak Kara dengan urat-urat yang begitu terlihat kesal.


"TEGAAAAA KAU TEGAAA PADA KAMIIIII..." Sahut Gyuu yang sama narsisnya dengan Kara.


"Ian yang akan kembali, bukan aku." Ucapnya tiba-tiba.


"Ian??"


...◇• •◇...


Akhirnya kehidupan aman dan damai dimulai, mungkin.


"Daaaahhh~ lain kali ayo jalan-jalan." Ucap Kara yang diiringi dengan lambaian tangan.


"Ya."


Setelah mengantar beberapa babu pulang ke rumah masing-masing. Mereka berniat kembali ke rumah.


Kini Lazel harus menyelesaikan apa yang belum usai, Jean pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata sedikit pun. Bahkan Lazel sempat menghubunginya berulang kali namun panggilannya sama sekali tidak aktif. Ia berpikir bahwa Jean mematikan total daya ponselnya agar tidak ada yang menghentikannya.


Hyunjae juga sudah memberitahukan sebelumnya mengenai Jean yang pergi secara tiba-tiba, meskipun itu menurut pemikirannya sendiri.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, sebuah gerbang kediaman mereka terlihat. Mobil yang sedang dibawa oleh Hyunjae memasuki halaman dan terparkir di depan rumah Lazel.


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan dari tadi?" Bukannya langsung bergegas keluar dari mobil, justru Hyunjae memutar posisinya dan menatap Istrinya dari samping.


"Jean... mengapa dia pergi begitu terburu-buru." Ucap Lazel yang sedikit khawatir.


"Cobalah dalam waktu ke depan, mungkin saat ini dia hanya fokus untuk kembali kesana."


"..............."


...◇• •◇...


"Hyunjae apa kau melihat-"


Langkah dan ucapannya terhenti disaat pria yang sedang dia cari saat ini tengah tertidur pulas di atas ranjang dengan boneka jerapah sebagai benda peluknya.


Belakangan ini Hyunjae memang terus beraktivitas tanpa henti. Lazel yang mengamati hal itupun berniat untuk tidak mengganggu dan bergegas keluar dari kamar dengan perlahan.


"Haaah... rumah ini tidak ada yang berubah." Ucapnya dengan langkah kaki yang turun ke bawah tangga.


Sebelum tiba di lantai bawah, sebuah sofa mengingatkannya pada masa lalu, dimana Ja Heul dan Hyunjae pernah saling bersama. Mengingatnya saja sudah membuat Lazel merubah kepribadiannya menjadi wanita yang datar dan dingin.


"Kembali... apa ini adalah jalan yang baik bagiku?"


"Jika Ayah dan Ibu ada disini, apa mereka akan menghalangiku atau mendukungku?"


Kedua kaki telanjangnya menapakki setiap langkah yang berakhir di hadapan sebuah jendela besar yang terbuka. Hambusan angin yang hangat menyapu dirinya.


Mulai beberapa waktu ke depan hanya menghitung hari dimana Ian perlahan akan lepas dari pengawasannya. Dimana anak itu akan menentukan sendiri bagaimana masa yang akan dia hadapi. Lazel sepenuhnya berharap jika Ian akan lebih baik menjalani hidupnya dibandingkan dirinya.


Rasanya sungguh tentram jika sepi seperti ini, kekosongan dalam hatinya terkeluar begitu saja dan membuatnya banyak berpikir dan tanpa sadar mendapat pelukan seseorang dari belakang.


"Sepertinya kau baru saja kutemui dalam keadaan setengah mati."


"Kasar sekali..." ucap pria itu dengan suaranya yang terdengar berat.


Lazel tidak memberi penolakan atau tindakan apapun setelah Hyunjae memeluknya dari belakang, sehingga dirinya sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Hyunjae saat ini. Pria itu hanya mengenakan kaos setengah lengan dengan celana pendek berwarna hitam.


Tangannya yang melingkar pada tubuh Lazel terlihat sangat berotot.


"Apa begini caramu menggoda setiap wanita yang ada di luar sana?" Tanya Lazel yang membuat Hyunjae perlahan melonggarkan pelukannya.


"Mengapa kau terus membahas hal itu? Yang berlalu biarlah-"


"Yang berlalu biarlah berlalu?" Lazel memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Hyunjae dalam jarak yang sangat dekat, "aku hanya tidak ingin disentuh oleh seseorang yang sudah melekatkan tangannya pada puluhan atau ratusan wanita di luar sana." Ucapnya dengan wajah yang datar.


Hyunjae meneguk liurnya dan menatap Lazel dengan keringat dingin. Wajah Lazel yang dulu mulai kembali, dimana wanita itu menatap dirinya dengan acuh tanpa perasaan yang sedikit terbesit.


"Jika kau menginginkan diriku untuk menjadi salah satu dari mereka. Maka aku minta maaf, aku menolaknya." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Hyunjae yang berdiri terpaku tidak bisa membalas ucapan Lazel.


...◇• •◇...


Yang harus ia ketahui adalah hal yang lain. Di masa lalu bukan hanya dirinya saja yang merasa sakit hati, bahkan Lazel yang sudah menjalaninya selama sepuluh tahun masih sanggup berdiri dan menghadap rintangan lainnya.


Mendapat perlakuan dari Lazel merupakan karma baginya. Suka atau tidak suka Lazel hanya akan menunjukkan wajah tak pedulinya.

__ADS_1


Oleh karena itu Hyunjae harus melakukan beberapa langkah untuk memenangkan hati Lazel. Mau selama apapun itu... mau sesulit apapun itu... mau seberat apapun itu... ia akan berusaha membuat Lazel mulai mencintai dirinya tanpa paksaan.


__ADS_2