
Di malam itu, Lazel dikejutkan oleh seseorang yang baru saja ia pikirkan. Siapa sangka jika orang itu akan muncul secara tiba-tiba dan memarahinya sesuka hati berdasarkan perasannya yang khawatir. Hal itu membuat Lazel yang tidak memahami apapun semakin kebingungan.
Baru saja ia mengatakan apa yang tidak boleh dia beritahu pada siapapun. Namun pria itu... Lazel menduga bahwa dia tahu semuanya.
Namun pertanyaannya akan tetap sama, bagaimana bisa Hyunjae ada di negara dan di kota yang sama dengannya?
Hanya melihatnya saja dan mendengar intonasi nadanya saat berbicara. Lazel menduga bahwa saat ini Hyunjae sedang marah namun pria itu berusaha untuk menahannya.
Sifat yang seperti itu seperti mengulas masa lalu, dimana mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Lagipula bukan hal yang mengejutkan lagi jika Hyunjae akan mengangkat tangannya, karena sebelum itu, Hyunjae pernah menamparnya hanya karena kesalah pahaman.
"J-Jangan pukul aku... m-maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"!!!!"
Tanpa ia sadari, wajah amarah yang ia keluarkan membuat Lazel ketakutan dan perlahan memohon untuk melepaskan tangannya dari wajah Lazel.
"Ikut aku." Pria itu menarik Lazel dan membuat wanita itu mau tak mau mengikuti dari belakang dengan perasaan yang tidak beraturan.
...◇• •◇...
Di sekitar Menara Eiffel terdapat beberapa hotel yang terkenal. Salah satunya adalah yang Hyunjae tempati saat ini, dimana ia menyewa tempat itu bersama Lazel nantinya.
Lazel terkejut jika saat ini mereka memasuki sebuah hotel asing. Namun karena Hyunjae ada bersamanya, dirinya berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meskipun pada akhirnya akan terdengar pertikaian seperti dulu lagi.
Setelah menaiki lift dan menelusuri koridor, akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan khusus yang Hyunjae gunakan.
Ia menarik Lazel ke dalam lalu menutup pintu dengan rapat.
"Apa sekarang kau bisa mengatakannya padaku? Mengapa belakangan ini kau mengacuhkanku secara terus menerus? Lalu apa yang kau maksud dari pengakuan sebelumnya? Apa yang kau sembunyikan dariku."
"Apa itu adalah pertanyaan yang masuk akal bagi seseroang sepertimu? Lagipula pada awalnya kau dan aku. Masing-masing dari kita tidak pernah menyepakati hal apapun dan tidak pernah melakukan apapun yang saling menguntungkan."
"..............." karena terbalut dengan rasa emosi dan juga perasaan khawatir, Hyunjae harus melupakan tujuan awalnya. "Maaf... aku begitu takut karena kau tidak menjawab panggilanku sejak tadi."
"Lalu? Apa yang membuatmu kesini?"
"Yahh... sebenarnya..."
...◇• •◇...
Hyunjae merasa bahwa dirinya terlalu blak-blakkan dan juga terlalu keras dalam menghadapi Lazel hanya karena perasaan emosi dan khawatir. Oleh karena itu dia memutuskan akan menceritakannya terlebih dahulu.
Seiring Hyunjae menjelaskan semuanya, Lazel juga mempehatikan sekitarnya.
"Tempat ini... seperti..."
Seharusnya pertemuan mereka harus menjadi romantis dan juga memiliki kesan tersendiri. Namun karena masalah ini, Hyunjae harus meluapkan segalanya.
...◇• •◇...
Masih di situasi yang sama, namun sebuah panah baru saja menghunus perasaan Lazel hingga membuatnya terasa sesak sementara.
"A-Apa kau bilang?" Kini Lazel merasa bahwa ada sebuah kesalah pahaman yang terjadi. Dimana dirinyalah yang menjadi orang tersangka.
"H-Hehehe... sejak kau melakukan penerbangan menuju Amerika, aku juga melakukan penerbangan langsung menuju Prancis dan berencana akan menunggumu disini."
"J-Jadi... selama ini pemikiranku sangat salah!" Pada akhirnya Lazel menyadari bahwa hanya dirinya lah yang beramsumsi buruk mengenai Hyunjae, "dasar Lazel bodoh. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu." Batinnya dengan perasaan yang frustasi.
Kini pria berambut hitam itu berdiri dari posisi duduknya dan mulai mendekati Lazel yang terlihat seperti orang bodoh.
"Jadi... apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi?" Kini Hyunjae mulai mendekatkan dirinya pada Lazel dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Istrinya.
"H-Hah?? K-Kau pasti salah dengar. Lagipula aku sibuk memikirkan pertemuan tadi, oleh sebab i-"
Cup!
__ADS_1
Sebuah bibir membungkam mulutnya. Hyunjae semakin memperdalamnya sehingga membuat Lazel melemah seketika, namun dengan sigap Hyunjae menangkapnya dengan tangannya yang besar.
"A-APA YANG KAU LAKUKAN BRENGS*K!"
"Hm? Kau mau lebih?"
"T-Tidak! A-Ampun-AHAHAHAHAHAHA!!!"
Hyunjae menggelitik seluruh tubuh Lazel dan membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak. Ia menuntun wanita itu ke atas ranjang dan mempermainkannya di atas sana.
"Jadi... apa alasanmu? Kau sudah membuatku bercerita sebanyak ini. Bukankah ini giliranmu?" Kini Hyunjae berhasil menahan Lazel agar tidak melepaskan diri.
"T-Tidak mau."
"Hm~ apa kau mau ku cium lagi?" Ia mendekatkan wajahnya ke arah Lazel.
"TIDAAAK! HENTIKAAN! MENGAPA KAU TERUS MENERUS MELAKUKAN HAL BODOH ITU!!" Lazel berusaha membelokkan wajahnya dan menjauhkan wajah Hyunjae darinya.
"Lihat kesini."
"T-TIDAK MAAAUUUU!!"
Hyunjae berusaha mempertemukan wajahnya dengan wajah Lazel agar ia dapat meninggalkan sesuatu disana.
"Ngh!" Tanpa sadar suaranya yang aneh keluar dari mulutnya. Lazel langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Apa kau baru saja mendesah?" Tanya Hyunjae yang kini semakin mendekatkan wajahnya pada leher Lazel.
"Diaaaamm!! Itu karena tanganmu yang tiba-tiba memasuki pakaianku dan menyentuh perutku!"
"Hahahaha! Kau malu?"
Lazel membuang wajahnya ke sisi lain sehingga memberikan Hyunjae punggungnya.
...◇• •◇...
Dan kini... pria itu ada di belakangnya dan terus bersuara sehingga membuat kedua telinganya memanas begitupula wajahnya.
Pelukan tangan besarnya itu juga masih menempel dan tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Aku mencintaimu Lazel." Ucapnya dengan lembut.
"..............."
"Maaf aku egois, tapi aku juga menginginkan pengakuan darimu. Tapi aku tidak berniat untuk me-"
"Ku pikir semuanya tidak berubah." Sela Lazel yang masih dalam posisi yang membelakangi Hyunjae.
"????"
"Aku salah karena menilai dirimu secepat ini... haah... malu sekali. Menduga bahwa kau ada di hotel dengan seorang perempuan. Apa-apaan pikiranku ini."
"Hah?! Kau berpikir seperti itu?! Kenapa bisa?!"
"Tentu saja bisa! Kau itu bodoh sekali! Setiap kau menghubungiku dengan video aku selalu memperhatikan sekitarmu dari layar!"
"Ja-Jadi alasanmu bersikap seperti ini..."
"Hm? Ada apa?"
"Lazel. Bagaimana dengan yang di dekat menara tadi?"
"Menara?"
"Pengakuan apa yang ingin kau sembunyikan..."
__ADS_1
"!!!!" Ada sebuah memori yang memaksa masuk dan membuat dirinya mengingat hal itu kembali, "k-kau tahu bukan jika ada sesuatu yang harus ku akui selama aku menilai dirimu sa-"
"Jujurlah... apa itu sangat sulit bagimu?"
"Hm, sangat sulit. Bahkan jika aku mengatakannya itu sama saja aku menyerahkan diri begitu saja," jawabnya. "Tidak sekali aku mengalami masalah. Mulai dari pelakuan Keluarga Besarku, kematian Wonhae lalu kematian kedua orang tuaku. Mereka semua adalah alasan bagiku untuk hidup hingga saat ini." Jelasnya.
Dirinya sangat tahu bagaimana kehidupan sulit Lazel dengan Keluarga Besarnya waktu itu. Lalu kematian Wonhae yang dia ketahui merupakan sosok pria yang pertama kali Lazel sukai. Semua itu memang tidak bisa disepelekan, seharusnya dirinya sadar bahwa perasaan Lazel yang masih tersembunyi masih memiliki luka yang dalam.
"Kau cemburu?"
"H-HAH?! APA MAKSUDMU?!"
"Kau menduga bahwa aku bersama dengan wanita lain di hotel. Dan ternyata itu alasanmu mengapa sikapmu mendadak aneh. Bukankah itu karena kau menyukaiku dan merasa cemburu?"
"Keparat! Aku mempertanyakannya agar aku tidak mengganggu kalian! Lagipula aku tidak cemburu sama sekali!"
"Benarkah? Padahal aku berharap bahwa kau akan benar-benar cemburu sehingga aku bisa melihat wajahmu."
"Aku mau kembali," seketika Lazel bangun dari tidurnya. "Aku juga belum mandi setelah kembali dari perusahaan XXX."
"Pulang?"
"Tentu saja, kau pikir aku mau kemana?"
"Terus? Kau mau apakan Suamimu ini?" Tanya Hyunjae yang berposisi miring dan menyeringai di hadapan Lazel.
"Oh! Aku lupa," kedua tangannya bersiap untuk mencekik pria itu. "Tapi bagaimana bisa kau juga menyusul kesini! Karena kau aku terus ter-"
"Ter?? Terpuruk?"
"T-Tidak ada apa-apa." Baru saja ia melakukan kesalahan.
Tap!
"Sekarang apa lagi yang mau kau lakukan?" Tanya Lazel yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan.
"Kau pandai sekali berbohong meskipun terlihat sangat jelas." Ucap Hyunjae yang menahan Lazel di bawah tubuhnya dengan kedua tangan yang menahan kedua tangan wanita itu ke atas.
Hyunjae mendekatkan wajahnya lalu kembali mendaratkan ciumannya pada Lazel sehingga membuat wanita itu memberontak. Mengenai kekuatan, Hyunjae jauh lebih kuat dibandingkan Lazel.
Gerakan lidah yang Hyunjae berikan semakin eksotis, dimana membuat Lazel perlahan mabuk dan tidak bisa memberikan perlawanan.
"Pusing... kenapa bisa..."
Mungkin karena merasa jika Lazel melemah, Hyunjae pun menurunkan kedua tangannya atau melepaskan genggamannya dari Lazel dan beralih pada tubuh wanita itu.
Lazel memang tidak membalas gerak gerik itu, namun ia hanya pasrah dan membiarkan Hyunjae melakukan apa yang dia inginkan. Tangan kiri besarnya beralih pada belakang kepala Lazel dan semakin menekan ke arah wajahnya sehingga ciuman panas itu semakin membara.
Lazel yang sudah tidak memiliki nafas tersisa mencengkram pakaian Hyunjae dengan tangannya yang lemah.
Slurrp~
Hyunjae melepaskan sejenak ciumannya dan menjilat area bibirnya dengan lidahnya sendiri. Lazel membalas tatapan itu dengan kedua mata yang sendu.
Situasi yang semakin memanas membuat Hyunjae membuka pakaian atasnya dan kembali menerkam Lazel menggunakan ciumannya. Untuk saat ini ia akn menyicipi bagaimana reaksi Lazel setelah ia memberikan semuanya.
Pakaian atasnya yang terlempar ke lantai, Hyunjae melanjutkan aksinya dengan menggigit seluruh leher jenjang Lazel sehingga membuat wanita itu mengerang.
"H-Hyunjae c-cukuph! Shh!!"
Tangan besarnya mulai menjalar ke dalam tubuh seksi Lazel sembari melanjutkan ciumannya. Tanpa sadar, Lazel yang awalnya hanya pasrah dengan keadaan kini mulai melingkarkan kedua tangannya pada leher besar Hyunjae dan membalas ciuman itu.
"!!!!" Hyunjae terkejut dengan tindakan Lazel yang mulai mengikuti irama.
Kini kedua pasangan itu saling memberi satu sama lain meskipun Hyunjae masih menunggu dan menghargai hal yang berharga yang Lazel miliki untuk tidak disentuh hingga wanita itu mengizinkan dirinya untuk melakukannya.
__ADS_1