Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Sebuah Butik


__ADS_3

Sebuah perbutikan yang dijalankan oleh seseorang yang cukup terkenal di negara itu. Negara yang dimana sangat Lazel sukai dengan keindahan alam dan juga kotanya. Sebenarnya menuju kesana adalah salah satu tujuannya setelah berkuliah, namun sebuah pernikahan tanpa orang yang dikenali harus membuatnya melupakan mimpi itu.


"Yanra, bisakah kau kemari?"


"Ada apa?"


Baru saja ia mendapatkan panggilan dari atasannya yang merupakan pemilik butik tersebut.


Yanra... seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Tidak mungkin pendatang baginya akan mengaku sebagai Lazel Pietra atau Zoclis. Siapapun hampir mengenali seorang pengusana hebat dari sebuah negara.


Bagaimanapun juga, ia tidak ingin sampai terlibat dengan masa lalu. Lagipula tidak ada salahnya untuk menyamarkan nama, karena tidak ada seseorang yang berhak mengatur dirinya lagi seperti dulu.


"Hm! Kau baru saja bekerja dalam beberapa bulan namun mahir dalam hal ini." Ucap wanita itu dalam bahasa yang sesuai dengan negara yang dia tinggali.


"Ah... bukan apa-apa, lagipula Ibuku juga mahir dalam menjahit atau mengukur tubuh seseorang." Jawab Lazel dengan bahasa yang sama.


Dengan pendidikan yang dia tempuh, untuk saat ini dirinya mahir salam berbahasa luar. Terutama Inggris, Jepang dan juga Rusia.


...◇• •◇...


Matahari saat ini cukup bagus. Banyak pejalan kaki yang terus berlalu-lalang di depan butik dimana tempat dia bekerja saat ini.


Butik yang memiliki ukuran sebesar rumah mewah, serta warna unik berwarna cokelat dengan beberapa ukiran kayu atau seni-seni lainnya. Fasilitas itu membuatnya nyaman untuk bekerja disana, lagipula dia memiliki atasan yang cukup baik.


Tempatnya cukup terkenal, pekerjaan juga hampir memenuhi tiap harinya. Mulai dari gaun pernikahan hingga pakaian couple yang biasa digunakan oleh beberapa pasangan atau kelurga besar.


Sejujurnya... terkadang ia merasa iri atau cemburu. Dapat memiliki sebuah keluarga saja sudah membuatnya bahagia. Namun setelah kehilangan mereka, dirinya sendiri tidak yakin akan medapatkan orang lain. Namun hari itu tetap datang dan menjemputnya hingga ke pelaminan. Dan ternyata, hidup serta kesabarannya menjadi imbalan dari perbuatan itu.


Dari awal dirinya memang pantas dipuji sebagai wanita yang unik dan cantik. Tapi patut disayangkan, ia merasa jika dirinya merupakan malapetaka yang dapat menimbulkan masalah apapun jika dia mulai menjalin hubungan dengan siapapun.


Wonhae pergi terlebih dahulu sebelum kedua orang tuanya. Setelah itu hal yang sama terulang kembali. Pada akhirnya ia menyerah dan memutuskan segalanya dan akan hidup meskipun hanya seorang diri.


Ian yang semakin beranjak dewasa tidak mungkin akan terus menempel padanya atau berkeluh kesah dengannya. Lazel sebenarnya khawatir dengan perkembangan seorang pria seperti Ian yang mulai hidup tanpa kedua orang tua.


Akan tetapi... ia bersyukur jika sifat Ian yang seperti itu masih memikirkan dirinya dan terus meminta izin darinya untuk melakukan sesuatu. Terkadang untuk menolak pun sulit.


"Kak, katakan saja jika kau tidak memperbolehkanku untuk pergi."


"T-Tapi..."


"Kau khawatir bukan~"


"Diam!"


"Ahahahahaha~ kalau begitu aku akan di rumah saja denganmu malam ini."


"B-Benarkah?"


"Apa aku pernah berbohong?"


Ian memang menjadi pria yang dewasa, namun sedewasa apapun Adiknya. Dia akan tetap menjadi Ian, yang merupakan Adik kecilnya.


...◇• •◇...

__ADS_1


Di tengah-tengah pekerjaannya, beberapa orang sedang menjahit, melipat bahkan mengukur sebuah badan.


Lazel yang memiliki tinggi yang di atas rata-rata sering digunakan untuk mengukur tubuh pelanggan. Karena pada saat pria menghampiri butik itu memiliki tinggi yang sulit dicapai perempuan pada umumnya. Oleh karena itu Lazel yang memiliki tubuh tinggi selalu dapat diandalkan.


"Haah~ kau memiliki tubuh yang bagus serta tinggi yang hampir menyamai para pria. Tapi mengapa kau memilih pekerjaan seperti ini?" Tanya atasannya dengan menatap wajah Lazel.


"Hm... sebenarnya tidak ada alasan khusus. Lagipula aku melakukan sesuatu yang memang bisa ku lakukan." Jawabnya dengan ramah.


"Kau memang gadis yang baik." Puji wanita berkacamata itu.


"G-Gadis? Apakah itu sebutan yang layak bagi seorang wanita yang sudah menikah seperti ku?" Pikir Lazel.


"Apa kau mau menikah? Aku memiliki keponakan yang mungkin seumuran denganmu." Tawarnya dengan wajah yang bersinar sehingga membuat Lazel silau dengan kebahagiaan itu.


"T-Tidak! Itu tidak perlu," tolaknya dengan halus. "Menikah... meskipun kami sudah bercerai." Batin Lazel.


...◇• •◇...


Seperti yang dikatakan oleh atasannya sendiri, Lazel memiliki tubuh yang sangat bagus dan cukup disia-siakan untuk bekerja di sebuah butik yang hanya bisa menjahit dan juga mengukur.


Beberapa karyawan disana juga selalu menanyakan hal yang sama padanya. Namun jawaban yang dia berikan tidak jauh berbeda atau sama sekali tidak berbeda.


Sebuah studio permodelan jumlahnya cukup banyak, sama halnya dengan ada yang di negara tempat asalnya. Namun dia sendiri tidak pernah berpikir untuk melakukannya.


"Seorang gadis berumur duapuluh sembilan tahun sepertimu belum menikah. Ada apa dengan dunia ini?" Ucap seseorang yang begitu mengidam-idamkan pria yang akan menikah dengan Lazel.


"A-Ahahahaha," Lazel menanggapinya dengan tawaan saja. "Benar juga... aku tidak sadar jika tahun kemarin hari ulang tahunku berlalu." Batinnya.


"Memangnya apa yang salah denganmu?! Kau sangat buaaik! Cantik! Perhatian! Kurang apa lagiii?!" Sahut salah satu teman seperkerjanya.


Semenjak Lazel menginjakkan kakinya disana, tak seorang pun tahu jika dirinya pernah menikah dan menjalin hubungan selama sepuluh tahun lebih. Namun dalam beberapa bulan yang lalu, ia memutuskan untuk bercerai. Hingga saat ini penceraian mereka hanya sepihak, lagipula Lazel sudah memastikan jika saat ini Hyunjae sudah mendapatkan kembali seorang perempuan di luar sana dan mendapatkan banyak anak.


Oleh karena itu tidak ada gunanya untuk memikirkan dia lagi. Itu hanya membuang-buang waktunya.


"..............." tangannya berhenti menggerakkan pena itu dan mulai terdiam.


"Ada apa Yanra?" Tanya temannya yang merasa aneh dengan tingkah Lazel.


"Kau menangis?" Ujar salah satu temannya yang lain saat melihat buku yang ada di bawah wajahnya mulai ditetesi dengan sebutir air.


"A-Ada apa?!"


"Ini kesalahanmu karena kau terus memaksanya untuk menikah!"


"Bukankah kau yang terlalu memujinya hingga menangis?!"


"Seharusnya saat dipuji dia akan senang, bukan bersedih!"


"Itu adalah keharuan! Apa kau tahu!"


Bahkan dirinya sendiri tidak tahu, memangnya apa yang harus ditangisi? Lagipula pernikahan mereka yang berjalan sepuluh tahun hanyalah akting dan drama. Jadi untuk apa terus mengingatnya?


"..............." dirinya harus berpikir dan mengingat, bahwa Hyunjae merupakan sosok yang sangat berbalik dengannya. Tidak ada yang spesial darinya selain memiliki sifat yang kotor.

__ADS_1


"Tidak... aku tidak apa-apa. Hanya mengingat sesuatu mengenai kedua orang tuaku." Ucap Lazel yang menghapus air matanya.


"B-Benarkah? Apa kau yakin? Tolong maafkan kami jika terus mengusikmu dengan pertanyaan bodoh ini."


"H-Hm! Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun lagi atau bertanya apapun lagi."


"Alasanku untuk tidak menikah itu simpel," Lazel tersenyum di hadapan teman-temannya. "Aku ingin menghabiskan waktuku dengan seorang diri, itu membuatku lebih nyaman." Sambungnya dengan lekukan bibir yang cantik.


...◇• •◇...


Pernah menikah kembali bukan berarti pernah mendapatkan kebahagiaan meskipun hanya sekali. Kesedihan hingga menuju bahagia, semua itu selalu terjadi dengan drama. Dengan itulah ia dan Hyunjae bertahan di sekeliling orang.


Di bawah keramaian mereka berdua bagai malam dan siang. Sedangkan di bawah kesunyian, Lazel akan tetap menjadi kegelapan di setiap cahaya yang ada. Karena bahagia yang dia tampakkan selalu berakar dengan rencana.


Semua tindakan yang dia lakukan demi uang, harta dan apapun itu yang bisa membuatnya kaya. Masa bodoh dengan ucapan atau sindiran orang lain, selagi dia senang maka tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi dirinya.


"Haaah~ udara di sore hari cukup bagus." Ucapnya yang berjalan di sisi pinggir dengan menatapi seluruh bangunan yang unik.


Meskipun hari yang menjelang sore, namun pemandangan disana masih cukup cerah. Sedangkan malam yang masih menunjukkan pukul tujuh tetap diucapkan untuk kalimat sore.


Lazel memperhatikan beberapa poster unik yang tertampang di beberapa dinding.


"Oh! Festival Musim Panas! Bukankah besok akan diadakan di kota?" Ucapnya dengan senang.


Beberapa orang di sekitarnya juga bereaksi yang sama, sebuah perayaan selalu diadakan di negara itu. Mulai dari Musim Panas, Musim gugur, Musim Semi, Musim Dingin, Natal, Tahun baru atau pasca panen. Atau bahkan perayaan lainnya.


Wanita bertopi putih dengan kaos hitam itu berpikir sejenak, "hm... sepertinya aku harus membeli kimono. Lagipula Ian pasti juga menginginkannya."


...◇• •◇...


Untuk saat ini hampir banyak tempat yang Lazel ketahui mengenai Jepang. Terutama tempat hiburan seperti taman bermain, onsen atau tempat pemandian air panas hingga beberapa tempat unik lainnya.


Sebelumnya Jean ada bersamanya dan menunjukkan beberapa daerah atau tempat di Jepang terutama yang dia tempati saat ini, yaitu Tokyo. Dimana Ibu Kota Jepang berada.


Beberapa kedai terus mempromosikan dagangan mereka pada siapapun yang melewatinya. Serta jejeran toko pakaian yang cukup besar untuk dibilang sebuah mall.


Bahkan jika harus sendiri, Lazel dapat bersenang-senang dengan apa yang dia inginkan. Meskipun rambut panjangnya dikkat dan ditutupi oleh sebuah topi. Makna dirinya tidak pernah lepas, yaitu pita kupu-kupu yang selalu dapat ditemukan dimanapun Lazel kenakan.


Kaos hitam dengan bawahan yang berwarna sama membuat dirinya terlihat simpel untuk dilihat. Lagipula rata-rata pakaian perempuan disana mengenakan rok, hanya dirinya saja yang masih sulit mengenakan benda seperti itu.


...◇• •◇...


"Ini! Aku pilih ini!" Ucapnya dengan suara yang cukup kuat.


Seperti biasa, sebuah kimono dengan corak kupu-kupu. Namun yang satu ini sedikit berbeda. Warna yang kimono itu miliki adalah biru gelap yang memiliki bercak bintang dan kupu-kupu. Sepertinya saat ini Lazel sedang beruntung.


Sebelum ada yang meliriknya, ia akan membeli kimono itu dengan cepat. Sebelum itu dirinya harus memilih untuk Ian. Pria itu, jika tidak bergerak sendiri tidak akan pernah membelinya. Oleh karena itu Lazel selalu membelikannya untuk Ian, namun dirinya masih meminta uang ganti untuk kimono yang dia belikan.


"Hehehehehe~"


...◇• •◇...


23.59

__ADS_1


Sebuah pesawat dengan warna yang cukup gelap untuk dilihat dan juga memiliki lambang yang cukup dikenali oleh banyak orang baru saja mendarat di sebuah bandara terbesar di Tokyo, Ibu Kota Jepang.


Lampu-lampu yang berkelip di sayapnya terus menyala, dan kelajuan masih berjalan di atas aspal hingga membutuhkan beberapa menit untuk berhenti.


__ADS_2