
Hanya melihat dan mengetahui namanya saja, orang-orang disana langsung mengenal dirinya dengan baik sekaligus memperlakukan mereka berdua layaknya tamu penting. Lagipula mereka juga akan melakukan hal yang sama pada pelanggan yang lain, karena pada awalnya tempat itu memang memiliki harga yang tinggi, namun tetap mendapatkan pelayanan yang ramah. Apalagi setelah mereka tahu jika tamu mereka saat ini adalah salah satu pengusaha terbesar yang hampir menyaingi perusahaan lain di negara yang berbeda.
Nuansa tempat itu berwarna krim dan cokelat susu. Koridor yang mereka miliki sangat berbeda dengan koridor hotel biasa. Beberapa halaman dan kamar-kamar perlu dilalui agar mereka sampai pada tujuan.
Arah yang mereka tuju hampir menuju pojok belakang.
Lazel yang dari tadi tidak paham apa yang sedang Hyunjae lakukan hanya bisa mempercayai pria itu. Lagipula Hyunjae tidak akan melakukan macam-ma-
"M-Macam-macam? Bahkan jika dia memang melakukannya aku tidak berhak untuk menolak." Pikirnya.
Setelah menelusuri panjangnya koridor, akhirnya mereka tiba di sebuah pintu kamar yang sama desainnya dengan pintu kamar lainnya yang sama-sama memiliki dua daun pintu berwarna putih susu dengan ukiran-ukiran tertentu.
Namun saat pintu itu terbuka fasilitas yang ada di dalamnya sangat luar biasa. Bahkan Lazel yang selama ini sudah terbiasa dengan aroma kekayaan masih tidak menyangka jika kekayaan itu tidak terbatas. Hal itu dia pikirkan setelah memasuki ruangan itu.
Hyunjae berbincang-bincang sejenak dengan pemandu sebelumnya untuk melakukan sesuatu. Sedangkan Lazel langsung memasukinya dan menjelajahi ruangan di dalam ruangan itu secara bergantian.
Mulai dari sebuah tempat tidur besar yang berkelambu berwarna putih dan cokelat susu, sesuai dengan desain hotel tersebut.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah lokasi ranjang yang berhadapan dengan kolam renang yang terlihat jelas. Mungkin sekitar sepuluh atau lima belas langkah dari ranjang akan tiba di hadapan kolam renang.
"K-Keren... bagaimana bisa mereka mendesain tempat ini begitu teliti?" Ucap Lazel yang terus menelusuri seluk beluk ruangan itu dengan rasa penasarannya.
Sebuah tangan merambatnya dari belakang dengan lebih menusuk, "bagaimana apa kau suka."
"GYAAHHH!!!" Lazel yang tiba-tiba dikejutkan seperti itu langsung mengaktifkan mode petarungnya hingga membuat Hyunjae terhempas ke atas ranjang putih tersebut.
"Kau mengejutkanku..."
"Aku juga terkejut kau tahu! Bagaimana jika Paman tadi melihat tindakan bodohmu!"
"Hm~ kini aku tahu," Hyunjae yang terhempas di atas ranjang mengubah posisinya seperti menyamping dengan menyanggah kepalanya dengan salah satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengusap perutnya hingga pakaian yang ia kenakan terangkat ke atas. "Apa kau lebih suka jika hanya berdua?" Ucapnya dengan seringai tajamnya.
"Tidak seperti itu bodoh!" Semburnya.
...◇• •◇...
Beberapa peralatan mulai dari peralatan pribadi hingga ke lainnya sudah tersedia. Saat Lazel masih sibuk mengitari ruangan yang luas itu Hyunjae mengganti pakaiannya dengan piyama yang sudah tersedia di dalam kamar itu.
"Hm... apa lebih baik aku merekrut pendesain itu agar mau bekerja sama denganku?" Ucapnya dengan wajah yang brilian.
"Hentikan pekerjaan tanpa henti itu. Ayo makan." Sahut Hyunjae dari tempat sofa.
"Makan? Kapan kau memesannya?" Tanya Lazel yang mulai berlari menuju makanan.
"Saat kau langsung memasuki kamar seperti orang kesurupan."
"..............."
Di atas meja kaca dengan hiasan mozaik tertera beraneka macam makanan.
"Huh??"
"Ada apa?"
Telunjuknya mengarah pada piyama yang Hyunjae kenakan, "sejak kapan kau berganti?" Tanya Lazel yang masih sibuk memilih makanan.
"Huft... sepertinya kau benar-benar menyukai kamar ini sehingga tidak menyadari apa yang kulakukan."
"Tentu saja! Semua orang pasti akan melakukan hal yang sama denganku saat berada di dalam ruangan mewah seperti ini."
"Ya~ ya~ habiskan makanmu lalu bicara lagi."
Saat ini Hyunjae akan memutuskan untuk bermalam di hotel tersebut. Lagipula Lazel juga sangat menyukainya, oleh sebab itu ia juga tidak keberatan untuk tinggal lebih lama.
...◇• •◇...
Sebagai jaga-jaga, Hyunjae memesan makanan sangat banyak. Lazel, meskipun dia adalah perempuan. Namun porsi makannya seperti puasa selama berabad-abad, siapa sangka jika semua makanan akan habis tuntas.
__ADS_1
"Pwah... aku kenyang," wajahnya menoleh ke arah Hyunjae. "Ayo pulang." Ucapnya dengan kedua iris yang membesar.
"Pulang? Lalu untuk apa aku memesan tempat ini?"
"??!!" Bagaikan disambar dan dipatahkan oleh petir dan juga badai, "j-jangan bilang..."
"Hm, kita akan bermalam disini."
Setelah mendengar Hyunjae berkata seperti itu, ekspresinya seketika berubah.
"S-Serius! Aku tidak menyangka jika terkadang otakmu itu berfungsi dengan baik!" Ucapnya dengan nada tinggi dan juga ceria, "AHAHAHAHAHA! Aku sangat menyukai tempat ini!"
Wanita yang masih memakai pakaian lengkapnya itu langsung berlari-lari puas di dalam ruangan itu seperti anak kecil.
"Lazel, jangan berlari di area kolam." Ucap Hyunjae.
Langkahnya terhenti di pinggir kolam dan menatap ke atas, "apa tidak ada papan loncat? Aku ingin lompat dari atas dan menyebur ke dalam kolam." Ucapnya dengan polos.
"Ahahahahaha! Kara, Hyunji, Gyuu dan Ian pasti akan cemburu!"
"Oh tidak! Koperku! Barang-barangku yang lain!"
"Ah sudahlah... itu tidak penting."
"AHAHAHAHAHAHAHAHA!!!"
...◇• •◇...
Sepertinya ini sudah lebih dari cukup, wanita berambut perak itu terus berlari tanpa henti karena merasa senang.
Hyunjae yanh sudah menyiapkan dirinya mulai beralih pada Lazel yang tidak henti-hentinya berlari.
Hingga pada dekat ranjang, dimana Hyunjae mendudukan dirinya bersamaan dengan Lazel yang mau melewati dirinya. Dengan cekatan, Hyunjae menangkap lengan wanita itu dan memaksanya duduk di atas pangkuannya dengan tatapan ke depan.
"Apa kau tidak lelah? Keringatmu mulai tercium." Ucap Hyunjae dengan memberikan ciuman kecil pada leher Lazel.
"Kau suka tempatnya?"
"Hm, aku menyukainya. Oleh karena itu lepas-"
"Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" Sela Hyunjae yang menatap Istrinya dari samping.
"!!!!"
"Apa kau tidak mau melakukan apapun sebagai rasa terima kasih? Padahal cukup mengeluarkan banyak biaya untuk menyewa tempat i-"
"Baiklah. Ayo kita pulang." Sela Lazel dengan menghentikan pemberontakan yang ia lakukan pada Hyunjae.
"????" Ia terkejut saat Lazel benar-benar mendengarkan ucapannya, "t-tidak! Itu hanya bercanda. Tapi jangan dekati kolam saat kau berlari."
"Oke!"
Pada akhirnya ia hanya bisa melepaskan wanita itu dan hanya bisa menatapnya tanpa mendekapnya.
...◇• •◇...
"Hm... sepertinya itu keputusan Ibu."
^^^"..............."^^^
"Ha?? Kurasa aku tidak mengatakannya."
^^^"..............."^^^
"Haah... aku juga tidak tahu. Lagipula pekerjaanku juga tidak ada habisnya meskipun terus berada disana seharian."
Di sisi lain, seorang wanita berpiyama putih sepanjang kakinya baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Hyunjae yang masih berbicara dengan Adam melalui ponsel untuk membahas sesuatu.
__ADS_1
Rambut peraknya tergerai panjang dengan kedua iris merah muda yang tertutupi poni panjangnya.
"Apa kau tidak mau melakukan apapun sebagai rasa terima kasih?"
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Lagipula ia tidak pernah berpikir bahwa akan berakhir di tempat seperti ini.
Lazel tahu bahwa hubungan seperti itu memang harus dilakukan, apalagi di dalam sebuah hubungan Rumah Tangga antara Suami dan Istri. Namun perasaannya masih belum stabil untuk menerima kenyataan.
Dirinya harus ingat bahwa rasa sakit di masa lalunya bisa saja menusuknya secara tiba-tiba. Sedangkan hal lainnya ia memiliki perasaan yang masih tidak bisa diungkapkan karena masih bimbang pada perasaan masa lalu.
Rasa takutnya saat memikirkan sesuatu yang seperti itu terus menghantui dirinya. Selama ini, ia berusaha menjaga diri dengan tidak membiarkan seorang pun menyentuhnya tanpa izin darinya.
Akan tetapi... kali ini berbeda. Perasaannya tidak seperti perasannya yang dulu. Lagipula rasa sakit itu akan tetap ada dan membekas di hati. Namun dari lubuk hati terdalam dia ingin menguburnya dalam-dalam dan memberikan haknya pada pria itu secara utuh.
Setahu yang dia amati, seorang pria terkadang tidak bisa menahan apa yang harus menjadi sumber kepuasan mereka. Itu akan menyiksa mereka, apalagi jika telah berada di dalam hubungan Suami-Istri.
"Iyaaaa! Aku juga tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Lazel. Lagipula aku sudah memikirkannya lebih awal dibandingkan Ayah."
^^^"..............."^^^
"Selamat malam. Sampai jumpa." Dengan kesal ia langsung menutup panggilan itu tanpa perasan.
"Apa Ayah Adam baik-baik saja?"
"Hm, dia baik-baik saja. Tapi Ibu ti-" ucapannya terhenti saat menoleh ke sisi lain. "!!!!"
"Ibu? Ada apa dengan-"
Belum selesai ia berbicara, namun Hyunjae sudah menerjangnya terlebih dahulu.
Kini Lazel terlentang bebas di bawah tubuh Hyunjae yang dalam keadaan mengurung dirinya, "lepaaas! Kenapa kau selalu seperti ini! Bukankah kau sudah terbiasa saat menghadapi seorang wanita di luar sana?"
Di bandingkan memberikan jawaban. Hyunjae justru merebahkan tubuhnya dan tetap mendekap Lazel di dalam pelukannya.
"Ada apa? Perkataanku tidak salah bukan?" Tanya Lazel pada Hyunjae yang meletakkan kepalanya tepat di samping kepala Lazel.
"Ya, itu tidak salah, tapi..."
"Tapi??"
"Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun selain mereka yang menyentuhku."
"Aku tahu, lagipula kau sudah memberitahuku sebelumnya," batin Lazel dengan wajah yang memerah tanpa diketahui oleh Hyunjae. "Lalu?"
"Kau spesial... hanya kau perempuan pertama yang mendapat sentuhanku. Dan untuk yang pertama kalinya aromamu menghapus kotoran yang dulu." Ucap Hyunjae yang mungkin disalah artikan oleh Lazel.
"Brengs*k! Tanganku bukan pembersih!"
Cup!
Karena merasa terkejut dengan tindakan mendadak dari Hyunjae, Lazel pun berusaha untuk memberontak. Sebelum ciuman itu berakhir, Hyunjae sedikit memperdalam ciumannya dan membersihkan bagian pinggir bibir Lazel menggunakan lidahnya.
"Hukuman, karena kau berbicara kasar."
"!!!!" Hyunjae yang mulai mengangkat kepalanya kembali kini langsung ditekan kembali oleh Lazel sehingga menjadi gilirannya untuk memeluk kepala Hyunjae.
"Hm?? Ada apa?" Tanya Hyunjae sembari merasakan sesuatu yang empuk dari pipi kirinya.
"J-Jangan lihat!" Ucap Lazel.
"Hahaha! Kau malu?"
"..............."
Dalam posisi seperti itu, Lazel belum bisa mengembalikan warna wajahnya seperti semula. Hyunjae yang disela-sela kebingungannya mendapatka sebuah keberuntungan juga. Dimana Lazel memeluknya tepat di dadanya, sehingga pria berpiyama biru tua itu dapat merasakan jelas tonjolan yang ada di bawah pipinya.
Ia tidak tinggal diam, tangannya yang tidak mendapat pekerjaan kini mulai mengelus dan menerobos secara perlahan di dalam sela-sela piyama Lazel. Dan langkah awal itu dia lakukan pada kaki kanan Lazel yang dalam posisi tertekuk ke atas.
__ADS_1