Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Perasaan Iri]


__ADS_3

Gyuu, Lazel dan Vicy. Mereka bertiga berusaha untuk menyingkirkan perasaan khawatir dan takut dalam diri Kara. Yang namanya pernikahan memang harus dan diusahakan berlangsung dan bertahan hingga akhir atau tetap akan melakukannya dalam satu kali. Karena perasaan kedua hanya terbumbui dengan paksaan.


Ian yang belum atau masih jauh untuk mendengarkan hal-hal seperti ini menyingkir dan ikut dalam pembicaraan serius antara dua keluarga yang kemungkinan besar akan menyatu.


"Kara, kalau begitu kau tidak boleh beraktivitas seperti biasa, itu akan membuat tubuhmu lelah." Ujar Gyuu dengan wajahnya yang sok tahu.


"Huh?? Benarkah?" Toleh Lazel dengan raut polosnya.


"Hm? Apa kau tidak tahu?" Tanya Vicy pada Lazel.


"Tidak, itu karena sebelum menikah aku mengikuti turnamen taekwondo sebagai terakhir kalinya."


Gyuu meneguk liurnya dengan wajah yang sedikit bergidik ngeri, "k-kau ini mengerikan sekali..."


"Apa kau benar-benar manusia?" Heran Vicy.


"Ehehehehehehe~"


Diam-diam Kara memperhatikan Lazel yang sudah menjalani pernikahan selama sepuluh tahun. Bahkan itu semua berdasarkan drama yang hampir mereka lakukan di setiap waktu. Lazel merupakan sosok yang luar biasa baginya, karena tidak banyak wanita akan memiliki tekad dan keteguhan diri yang kuat seperti Lazel.


Dalam hal ini Lazel sangatlah berpengalaman dan sudah sangat tahu manis pahit dalam sebuah Rumah Tangga. Namun ia selalu berhasil menangkisnya dengan mudah dan tidak membiarkan dirinya terjatuh begitu saja.


...◇• •◇...


"Lazel, mulai besok apa kau bisa membantu Ibu pergi ke sebuah butik? Kita akan memesan baju disana." Ucap Nezra pada Lazel yang sibuk berbincang dengan kedua orangtua Kara.


"Hm, aku akan ikut." Jawabnya sopan.


"Dan... HYUNJAE! JAGA HYUNJI AGAR TIDAK BERKELIARAN! KALAU PERLU KURUNG DIA DI DALAM KAMAR!" Teriak Ibunya dengan khodam yang bukan main.


"Aye Aye Captain!" Seru Hyunjae.


Mulai besok mereka akan sibuk, karena dua minggu lagi adalah acara pernikahan Hyunji dan Kara. Sebelumnya mereka sudah membahas hal ini dengan pendeta.


Sedangkan tempat yang mereka gunakan adalah di aula dimana tempat perusahaan Lazel berada. Meskipun perusahaannya tidak sebesar Perusahaan Pusat yang dipegang Hyunjae, namun aula di tempat Lazel dua kali lipat lebih luas dibandingkan di tempat Hyunjae.


...◇• •◇...


"HAHAHAHA! AKU MENANG!" Ucap Lazel dengan kedua kakinya yang menginjak sofa.


"Kau curang! Turun!" Ujar Hyunjae yang merasa ternistakan oleh permainan Lazel.


Untuk kesekian kalinya Rumah Utama ramai seperti dulu. Dipenuhi dengan berbagai macam orang yang awalnya dibawa oleh Lazel. Hal itu membuat Nezra sangat senang jika masih ada seseorang yang meramaikan rumah hampa itu.


Waktu itu, Putra keduanya mulai meninggalkan rumah dan akan menjadi Suami dari seorang wanita yang amat cantik. Mulai dari saat itu ia merasa bahwa kesepian akan melanda Rumah Utamanya. Karena Hyunjae yang belum menikah ia akan tetap tinggal disana untuk menemani Ibunya dan menjaga Ibunya. Adam yang memiliki pekerjaan di malam hari membuat Nezra terkadang merasa kesepian.


Dan kini... keduanya perlahan mulai pergi. Putra yang dulu ia didik untuk menjadi orang baik melainkan bukan untuk menjadi orang pintar. Keduanya harus memiliki akhlak yang baik maka kepintaran yang mereka miliki akan berguna dengan baik.


Ia selalu disibukkan dengan kedua Putra kecilnya yang sering bertengkar karena berebut mainan atau hal yang menurut mereka menarik. Pergi ke sekolah bersama dan pulang dalam keadaan lapar.


Remaja hingga dewasa, dimana didikannya untuk membesarkan kedua Putranya usai. Namun tanggung jawab seorang Ibu pada anak tidak akan pudar bahkan hingga maut menjemputnya.


Wanita berambut hitam sependek pundak itu mengusap wajahnya, dan tiba-tiba sebuah pelukan datang dari belakang hingga mengejutkan dirinya.


"Haah~ daripada menangisi Kak Hyunji, lebih baik Ibu menangisiku dan mengkhawatirkanku saja." Ucap Hyunjae dengan kedua tangan yang memeluk seorang wanita yang lebih pendek darinya dan memiliki rupa yang hampir sama dengannya.

__ADS_1


"Bimbinganku selesai, giliran kalian yang akan memberi bimbingan pada penerus kalian nanti," ujar Nezra yang mengusap wajah Putra keduanya. "Sebagai seorang Ibu, amarahku masih berlaku, pukulanku juga berlaku, begitu juga kekerasanku pada kalian. Karena kalian masih berstatus sebagai Putra-Putraku." Sambungnya.


Nezra membalikkan tubuhnya dan memluk Hyunjae, pria beranting itupun membalas pelukan dari Ibunya.


Duak!


"Ack!"


"Sialan! Aku tidak akan mengampuni nyawamu jika  membuat Lazel kembali menangis!" Ucap Nezra dengan kepalan tangan yang mendarat di kepala Hyunjae.


...◇• •◇...


Setelah rasa haru yang Nezra alami, kini perasaan khawatir masih tetap melekat pada diri Kara yang akan menjadi Istri dari seorang pria bermarga hebat. Teman-temannya memang berhasil menyingkirkan perasaan apapun di dalam dirinya, namun ada sesuatu yang masih menjanggal, sehingga untuk  melangkah akan begitu menakutkan baginya.


Tatapannya terlihat datar dengan kedua alis yang sedikit berkerut.


"Ternyata kau disini." Ucap seseorang dari belakangnya yang perlahan membuat berdirinya sejajar dengan Kara.


"????"


Seorang pria dengan rambut hitam yang terturun hingga menutupi dahinya menghampiri Kara yang tengah sendiri dengan wajahnya yang terlihat kusut.


Hyunji memberikan senyumannya, "apa yang kau lihat? Masa depan kita nanti? Atau bagaimana wajah anak kita nan-"


"Jika kau menikahiku hanya karena pelampiasan, maaf... aku tidak sanggup untuk melakukannya." Sela Kara dengan wajahnya yang terlihat serius dan juga tenang.


"Ha??"


"Masalah utamanya adalah aku tidak sekuat Lazel, bahkan saat aku mendengar kerasnya kehidupan yang dia jalani aku sudah tidak sanggup melakukannya." Jelasnya dengan kekehan kecilnya.


Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, Kara khawatir jika perasaan Hyunji masih tetap sama seperti dulu, dan melakukan semua ini demi melepaskan kekesalannya pada Kara.


"Haah~ sepertinya akan merepotkan memiliki Istri sepertimu, mau tak mau aku harus terus memanjakannya hingga merasa puas dengan pelayananku nanti."


"??!!" Wajahnya memerah seketika saat Hyunji menanggapi curahan hatinya dengan godaan seperti itu.


"Hahaha! Wajahmu memerah!" Tawa Hyunji.


"Aku sedang serius! Bisakah kau menanggapinya dengan serius juga?!" Geram Kara pada Hyunji hingga menarik pipi pria itu dengan kuat.


Dengan cekatan ia menangkap tangan itu dan memberinya kecupan kecil, "kau adalah kau, dan Lazel adalah Lazel. Meskipun aku dulu menyukainya, tidak ada jaminan jika wanita yang sudah bersuami akan terus kusukai." Jelas Hyunji yang perlahan membuat raut wajah Kara kembali berwarna seperti sebelumnya.


...◇• •◇...


"Besok pagi kesini, kita akan pergi bersama." Ujar Nezra dengan semangat tingginya.


"Haha iyaa." Jawab Lazel yang hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku Ibunya.


Setelah berbincang-bincang begitu panjang, Hyunjae dan Lazel pun berniat untuk kembali ke rumah.


Di esok hari, selain memesan baju, mereka pun akan menyewa pendekorasi untuk menghias aula dan mempersiapkan lainnya.


...◇• •◇...


Setelah mengantar Ian kembali ke hotel, ia sempat menghusir keduanya agar tidak mampir. Hal itu membuat Lazel mati penasaran hingga hampir menendang pintu kamar Ian, dan ternyata ruangannya terlihat berantakan. Setelah mendapatkan pukulan telak dari Kakaknya, Ian lekas membersihkan ruangan itu agar Kakaknya segera pergi dari sana dan tidak mengganggunya untuk nolep.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, sehingga Hyunjae yang sempat meminta izin dari Lazel untuk singgah ke sebuah restoran untuk memesan makanan.


Sembari menunggu Hyunjae kembali, Lazel hanya berdiam diri di dalam mobil dan terus menatapi ke arah yang berbeda-beda. Kedua kakinya ia naikkan dan memeluknya hingga merapat ke perutnya.


Seketika senyuman kecilnya terlihat.


"Syukurlah jika dari awal aku hanya salah paham." Tuturnya dengan lega.


Sangat senang rasanya mimpi Kara dapat terwujud begitu saja, dapat menikahi sosok yang benar-benar dia cintai tanpa alasan atau paksaan tertentu.


Akan tetapi... sedikit perasaan aneh mulai bersemayam di dalam hatinya hingga ia hanya menginginkan kesunyian tanpa suara apapun.


Kepalanya bersandar hingga menatap ke langit dimana awan-awan putih terus bergerak secara perlahan dan mengubah bentuknya seperti gumpalan-gumpalan kapas kecil.


"Silau..."


...◇• •◇...


Keringat mulai membasahi wajahnya dan ujung-ujung pelipisnya. Pendingin ruangan langsung membuatnya menggulung kedua lengan baju yang panjang.


Tapakkan kakinya mengitari ruangan yang luas itu dengan rambut perak cantiknya.


"Ada apa dengannya?" Pikir Hyunjae.


...◇• •◇...


"Sayang, pinjam chargermu."


Ia langsung menyodorkannya begitu saja tanpa mengucapkan apapun.


Aneh, benar-benar aneh. Semenjak kembali dari Rumah Utama Lazel terus memasang wajah yang biasa namun tetap terlihat aneh menurut Hyunjae. Terkadang ia ingin bertanya pada Lazel tentang apa yang dia pikirkan.


Namun dari segi tindakannya tidak ada yang aneh justru membuat Hyunjae pangling. Dimana saat dirinya menggoda Lazel dengan menyebutnya 'sayang', wanita beriris merah muda seperti caramel itu tidak melemparkan apapun padanya.


Seharusnya hal ini menjadi kebanggaan atau kebahagiaan bagi Hyunjae, namun ia tidak merasakannya sama sekali, tindakan Lazel saat sudah di luar batas sehingga membuat Hyunjae ingin bertanya langsung pada Istrinya itu.


...◇• •◇...


Perasaannya tak kunjung berubah, ia berusaha mengartikan perasaan itu meskipun sangat sulit mengakuinya. Fakta memang tidak dapat diubah, mau seburuk apapun masa lalu, itu adalah ketentuan takdir dan tindakanmu sendiri.


Malam hari selalu berteman dengan kesunyian. Warna gelap dan tenangnya membuat suasanya nampak dingin.


Lokasi kediaman Lazel dan juga Hyunjae tidak dapat memperlihatkan cahaya-cahaya kota. Untuk pergi ke rumah itu semua orang harus memasuki jalan poros yang merupakan jalan yang lurus menuju langsung pada gerbang Villa Lazel dan Hyunjae.


Oleh sebab itu di malam hari hanya pada bintang dan rembulan ia mengalihkan pandangannya. Tidak cukup buruk untuk tinggal disana, kota juga tidak jauh dari tempat tinggalnya.


Kedua kakinya menggeser selimut yang menutupi dirinya lalu perlahan beranjak ke bawah tanpa alas kaki.


Rambut yang hanya diberi pengait kanan kiri membuat rambutnya terlihat cantik dan sangat panjang.


"Iri... aku iri pada seseorang yang memikirkan banyak hal mengenai acara besarnya,"


"Aku iri terhadap seseorang yang memikirkan dengan benar bagaimana hubungan mereka di masa depan nanti,"


"Ternyata hidup yang selama ini kujalani begitu menyedihkan."

__ADS_1


Tanpa ia sadari, pintu yang tidak tertutup rapat terdapat seseorang bertubuh besar tengah berjalan ke arahnya.


__ADS_2