
Semua wartawan berkumpul di depan gerbang sehingga membuatnya sulit bergerak. Dengan adanya beberapa bodyguard yang terlibat, pergerakkannya pun sedikit demi sedikit bisa teratasi.
Sebagai seorang Kakak yang terduga memiliki Adik yang terlibat dalam sebuah skandal, hal ini tidak mudah bagi Hyunji yang mulai saat ini harus menangani sekumpulan wartawan.
"Bisakah Anda membuka sedikit pendapat untuk masalah Adik Anda sendiri?"
"Mohon pengertiannya, kami meminta pada kalian semua untuk pergi menjauhi Tuan Hyunji." Ujar salah satu bodyguard yang bertugas menjaga dan menuntun Hyunji menuju mobilnya.
"Jika seperti ini terus, media masa akan semakin menggila." Batinnya dengan perasaan yang khawatir.
...◇• •◇...
Di waktu yang bersamaan, salah satu di antara mereka sudah menghabiskan ide bagaimana untuk menemui Ja Heul. Sedangkan disisi lain terus berpikir keras mengenai rencana ke depan.
Lazel mungkin saat ini akan mendengarkan ucapannya dan mengikuti dirinya untuk tetap kembali, namun masalah utama sebenarnya adalah bersama Ian. Lazel tidak pernah berpikir untuk memilih satu diantara kedua hal tersebut.
"Aku ingin menghubungi mereka, tapi..." ia merasa canggung dan juga bersalah karena terus membebani mereka.
Saat ini Hyunjae telah kembali ke tempatnya, sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari Ibu Kota. Untuk saat ini dirinya akan tetap tinggal disana hingga Lazel dan Ian memutuskan untuk kembali.
"Oh, aku tahu apa yang dia suka."
...◇• •◇...
Kakinya melangkah dengan biasa hingga mendapati sebuah ruanhan yang terang karena paparan cahaya langit yang terik, "Ian apa kau-"
"Kak, ada kiriman untukmu." Ujar Adik laki-lakinya dengan menyerahkan sebuah benda berbentuk segi empat berwarna cokelat muda yang masih rapi terbungkus dengan plastik atau pengaman lainnya.
"????"
"Apa kau memesan sesuatu?" Tanya Ian yang melanjutkan aktivitasnya pada ponsel genggamnya.
"Tidak."
"Hm... mungkin itu adalah kiriman dari teman kerjamu."
"Aku akan membawanya ke dalam."
"Oke."
Benda itu cukup besar namun tidak begitu berat, ditambah dengan tanpa tanda pengirim namun tujuannya memang mengarah pada dirinya.
Karena merasa penasaran terhadap benda tersebut, ia pun segera membukanya dan akhirnya mendapatkan apa yang tidak pernah ada di dalam pikirannya.
"S-Semua ini..." entah mengapa beragam macam benda yang membuatnya mengingat sebuah masa yang mengharukan. "Kupu-kupu... semua benda ini bersangkutan dengan ku-"
Ucapannya terhenti disaat melihat secarik kertas yang berisi beberapa kalimat, sekaligus nama pengirim.
Ekspresinya berubah disaat mengetahui siapa dibalik pemberian tersebut, "Hyunjae." Gumamnya.
Lazel hampir menyukai semua benda yang berkaitan dengan kupu-kupu, entah bagaimana bentuk benda tersebut. Mulai dari pita rambut yang selalu ia kenakan, lalu beberapa lampu tidur mini yang dapat melekat di dinding.
'Jika bagi Wonhae kau adalah cahaya ataupun harapan baginya... maka aku adalah sarang tempatmu bersinggah'.
Meskipun hanya sesaat dan juga singkat, hal itu tidak mengubah fakta jika dirinya pernah hadir di dalam hidup Hyunjae. Dimulai dengan pertemuan yang mendadak, di hadapkan oleh seseorang yang asing atau bahkan tidak diberikan kesempatan untuk saling mengenal. Hingga menuju ke sebuah pernikahan yang sama sekali tidak pernah mereka setujui.
Lalu dihadapkan dengan setumpuk masalah disela-sela berjalannya waktu pernikahan mereka.
Menikah bukanlah keinginan Lazel, karena dirinya sendiri masih tidak yakin dengan nasib yang akan dia hadapi. Siapa sangka jika nasib itu akan memperlakukannya seperti pemeran yang jahat.
__ADS_1
Semua ucapannya terdengar kasar agar Hyunjae melepaskan dirinya dan memilih orang lain. Membiarkan dirinya menjauh dan mencari yang lain.
Pada akhirnya tidak... justru seseorang dengan berat hati ingin dia tinggalkan kembali datang dan menyambut kembali dirinya yang sudah sangat rapuh untuk memikirkan masa depan.
Perlahan bulir-bulir air menetesi lantai dan benda-benda pemberian itu. Saat ini Lazel tahu arti pemberian itu. Bukan uang melainkan memori. Salah satunya adalah setumpuk pita rambut dan hiasan rambut lainnya, dimana ia pernah mengenakannya pada Hyunjae dan tertawa bersama.
...◇• •◇...
"Hm? Apa yang Kakak lakukan? Kupikir dia akan kembali dan memperlihatkan siapa pengirim barang itu." Gumamnya.
Ian beranjak dari tempatnya dan perlahan ingin mengejutkan Kakaknya.
"..............." pintu yang tidak tertutup rapat, dengan keadaan yang sunyi sepi. Dirinya pun mendengar isakan pelan yang berusaha ditahan agar tidak terdengar terlalu kuat. "Mengapa dia menangis?"
Diam-diam ia mengintip dari sela pintu dan melihat Saudaranya.
"Kenapa... kenapa kau melakukan semua ini..."
"Aku menyebutmu orang brengs*k yang pernah kutemui, tapi mengapa kau tetap kembali..."
"Aku berusaha mengeluarkan seluruh perkataan buruk tentang dirimu agar kau menjauh..."
"Aku tidak memberikan harapan padamu itu karena aku sudah tidak ingin berharap pada apapun..."
"Tapi kenapa lagi, lagi, lagi dan lagi hingga seterusnya kau masih kembali. Memangnya hal baik apa yang kulakukan sehingga kau terus mau bersamaku?"
"Aku tidak pandai bergaul, aku tidak pandai memasak, aku hanya pandai berkelahi dan berbicara kotor. Tapi kenapa harus aku..."
"Ja Heul adalah gadis yang pertama kali ku pandang jika dia pantas untukmu... tapi kenapa harus aku? Memangnya dari mana kau lihat jika diriku baik?"
"Aku sudah melepaskanmu tapi mengapa kau harus kembali. Kau pikir aku sanggup mengulang kejadian yang sama? Saat ini aku harus menjadi sosok Ibu, Ayah sekaligus Kakak bagi Adikku..."
"Oleh karena itu Ian adalah sosok yang berharga bagiku, aku tidak mampu melindungi kedua orang tuaku. Dan disaat inilah aku harus membuktikan bahwa aku mampu melindungi Saudaraku sendiri."
Pria yang hanya mengenakan kaos polos dan celana pendek berwarna hitam itu hanya bisa berdiri dengan tatapan kosong ke bawah. Rasanya mendengar semua itu membuat dirinya ditampar habis-habisan. Permintaan Kakaknya mengenai ajakan untuk kembali sangat dia perhitungan dengan benar, karena bagaimanapun dirinya adalah prioritas utama Lazel.
Tidak ada yang bisa dia pikirkan, bahkan untuk melangkah dan memberikan pelukan maaf untuk Kakaknya saja sudah sangat sulit untuk dia lakukan.
Kini yang tersisa hanyalah isakan pelan dari seorang wanita yang terperangkap di antara hubungan Saudara dan pernikahan.
...◇• •◇...
Cahaya senja menerangi seluruh ruangan yang terdapat jendela kaca. Matahari yang bulat nampak seperti buah jeruk yang bercahaya. Sejak saat itu, ia sama sekali tidak menghampiri Kakaknya atau mulai melakukan hal lain. Saat ini pikirannya penuh dengan tanggung jawab yang terus Kakaknya lakukan.
Mulai dari dirinya berkuliah di Jepang dan mengambik jurusan Kedokteran. Keinginannya itu tercapai karena usaha Kakaknya, bahkan bahasa yang belum sama sekali ia pelajari Lazel ada untuknya dan terus membuat dirinya memahami kosakata yang benar dalam menggunakan bahasa Jepang yang benar.
Semua itu adalah demi dirinya seorang.
Lazel meminta padanya untuk bekerja bukan berarti ingin meringankan bebannya sendiri, melainkan karena tidak selamanya Lazel ada untuk Adiknya. Bahkan hingga saat ini dirinya tidak pernah melihat Kakaknya meminta uang atau apapun darinya.
Uang yang dia hasilkan dari bekerja biasanya terus berada di genggamannya. Jika ia tidak berinisiatif untuk membelikan apapun untuk Kakaknya secara diam-diam, mungkin Lazel akan menolaknya secara mentah-mentah.
Pada akhirnya... Lazel melakukan semuanya demi Adiknya. Berusaha menghidupi Adiknya melalui keringatnya sendiri.
Tubuhnya kembali bergerak dan mengambil ponsel yang berada di atas meja berwarna cokelat.
Jarinya mulai menggeser dan mencari sesuatu lalu menempelkannya pada telinga kirinya.
^^^"Hm? Siapa ini?"^^^
__ADS_1
"Temui aku di..."
...◇• •◇...
"MAU KEMANA KAU MALAM-MALAM BEGINI?!"
"BERMAIN! LAGIPULA AKU TIDAK PERNAH PULANG TELAT BUKAN?!"
"HAAAA?! KAU BERANI MENINGGIKAN SUARAMU DI DEPANKU?!"
"Haah~ aku akan menyogokmu nanti."
"Haah~ sudah kubilang untuk tidak membuang-buang uang. Lagipula kau bisa membeli apapun yang kau-"
"Aku pergi."
"AKU BELUM SELESAI!!"
...◇• •◇...
Sesuai dengan kesepakatan mereka sebelumnya, sebuah gedung tinggi yang terletak di kota, mereka akan bertemu disana atas permintaan sepihak.
Saat dimulainya Musim Panas, hujan sama sekali tidak turun, bahkan cahaya bintang di langit begitu cerah dan terlihat cantik.
"Oh, apa kau yang tadi-UWAAAA IAAAN?!"
"Berisik."
"K-Kenapa kau di-tidak tidak, dari mana kau mendapatkan nomor ponselku?" Hyunjae terkejut bukan main saat melihat siapa yang sebelumnya menghubungi dirinya tanpa mengenalkan identitasnya.
Awalnya mulai dari suaranya dan bahasa yang digunakan. Hyunjae merasa jika panggilan itu adalah salah satu panggilan penting dari suruhan Adam. Dan ternyata... orang itu adalah Ian.
"Sebenarnya kau menganggap Kakakku sebagai apa?"
"Maksudmu?"
"Sebagai Kakak, dia tidak akan membiarkanku lepas dari pengawasannya. Lalu sebagai Adik aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun." Jelasnya.
Hyunjae masih tidak mengerti pembahasan apa yang sebenarnya Ian lakukan.
Cahay dari sana cukup mendukung karena pantulan ragam cahaya dari kota. Sehingga dari sana semuanya nampak luar biasa.
"Kakakku sudah tidak mampu untuk mengulangi hal yang sama. Apalagi jika hal itu bersangkutan dengan hatinya dan juga mentalnya..."
"Lazel memang kuat, tapi hatinya lemah. Dia mudah jatuh pada siapapun, perasaan jatuh itu sangat berlawanan dengan kalimat romantis..."
"Artinya, dia dapat mengubah bencinya menjadi suka karena tindakan orang lain terhadapnya. Begitupula sebaliknya..."
"Jadi... aku tidak ingin dia merasakan keduanya lagi. Bahkan aku yang sebagai Adik Kandungnya sama sekali tidak mengetahui apapun tentang sepuluh tahun."
Ian sudah mendengar semuanya... tangisan serta rintihan hati Kakaknya yang selama ini tidak pernah dia ketahui. Meskipun rasanya tidak mungkin, namun takdir tidak berpihak bersamanya. Ataukah takdir ingin menguji coba Kakaknya lagi dengan permasalahan yang sama?
Untuk saat ini Hyunjae akan mendengarkan semua yang ingin Ian katakan. Karena pembicaraan yang diiringi dengan tanda tanya tidak akan pernah mencapai penyelesaian.
"Jika kau membawa Kakakku kembali, apakah kau sanggup membawaku juga?" Tanya Ian tanpa menoleh.
"Tentu saja, karena aku berusaha menyingkirkan rasa mustahil sebelum mencobanya."
"..............." untuk beberapa saat ia terdiam dan memejamkan mata, lalu ia membukanya kembali dengan pikiran yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. "Kalau begitu... bawalah Kakakku kembali." Ujarnya dengan senyuman yang terlihat sangat tipis.
__ADS_1