Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Hyunjae & Lazel]


__ADS_3

"J-Ja Heul?"


"Itu hanya perumpamaan Kara sa-"


"Aku yakin." Selanya dengan wajah yang serius.


"Sepertinya Kara memang memikirkan hal ini dengan benar." Pikir Gyuu.


Nezra sudah mendengar informasi dari Kara yang mereka dapatkan dari Yana. Meskipun belum sepenuhnya benar atau salah, namun Kara menyimbangkan kedua perihal itu.


"Hyunji, apa Hyunjae pernah menjalin hubungan dengan Ja?" Tanya Nezra pada Putranya.


"Entahlah, justru aku sedikit tidak menyangka jika bocah itu pernah menjalin hubungan dengan salah satu Putri dari Keluarga Heul," ujarnya. "Disisi lain, masalah ini tidak perlu dikejutkan lagi atau dipertanyakan lagi. Karena hampir dari kita semua sudah mengetahui masa lalunya." Sambungnya.


"Ck! Entah mengapa aku masih begitu sulit untuk memaafkan Hyunjae," ucap Nezra dengan amarah yang mulai memuncak. "Seharusnya dia menyelesaikan masalah ini sendirian."


"Jika Ibu berpikir seperti itu, maka kita tidak perlu repot-repot menyewa Hyunjae untuk pergi menuju Jepang." Sahut Hyunji sehingga membuat Ibunya terbungkam.


Bukan hanya Nezra saja, bahkan semua orang yang berkumpul di rumah itu masih tidak bisa menerima sikap bodoh Hyunjae. Tetapi, apapun yang pria itu lakukan saat ini begitu serius, bahkan dirinya berkali-kali menunjukkan rasa pedulinya pada Lazel meskipun wanita itu tidak bersamanya.


"Aku akan membicarakan beberapa hal dengan Hyunjae." Ucap Hyunji lalu pergi dari Ruang Tengah menuju lantai atas dengan ponsel yang berada di genggamannya.


...◇• •◇...


Kedua langkahnya terlihat goyah, sebuah kardus besar yang berisi dengan beberapa barang membuatnya harus mengeluarkan tenaga yang ekstra.


Rambut perak panjangnya terikat biasa ke belakang tak beraturan. Sepuluh jarinya terus mencengkram benda besar itu dengan erat tanpa merasa lelah sedikit pun.


Tirai-tirai terbuka dengan lebar, di balik jendela yang menghembuskan angin membuat kain-kain bergoyang. Suasana hari ini selalu baik seperti sebelumnya, meskipun di tengah-tengah Musim Panas yang begitu membara.


"Hm? Apa yang sedang kau pindahkan?"


Butuh konsentrasi yang penuh untuk melakukannya, namun kedatangan seseorang membuatnya terkejut sehingga hampir menjatuhkan benda besar tersebut.


"Siapa ka!-"


"Ada apa? Mengapa kau ingin menjatuhkannya begitu saja?"


Seorang pria berkacamata bening serta ganggang berwarna hitam bertengger di batang hidungnya yang mancung. Tangannya yang besar dan berurat itu ikut memegangi kardus yang hampir saja Lazel jatuhkan.


"K-Kenapa kau ada di rumahku!"


BRUAK!


...◇• •◇...


"Hm... seperti itu..." angguknya paham.


Pada akhirnya kepala yang terkena kepalan maut itu mengikuti perintah dari Istrinya.


"Ck! Ini salahmu karena datang seenaknya dan menggangguku." Ujar Lazel yang merasa kesal dengan tingkah Hyunjae sebelumnya. Oleh karena itu ia menyuruh Hyunjae untuk melakukan sisanya.


Beberapa kardus yang berisi benda-benda yang tidak dipakai dan memiliki berat yang luar biasa. Lazel berniat membuangnya atau memanggil beberapa orang untuk mengolahnya kembali, lagipula dirinya tidak memiliki waktu begitu banyak untuk mengurusi benda-benda yang tidak berguna.


Wanita itu hanya duduk manis di atas tangga dengan matahari yang sangat terik sehingga membuat seluruh tubuhnya kembali terbasahi oleh sinar matahari.


Hyunjae kembali lagi dan membawa benda berat lalu melihat Lazel yang sedang menikmati waktu luangnya di bawah panasnya matahari, "d-dia benar-benar tidak membantuku." Pikirnya


Membutuhkan sekitar tiga sampai empat menit untuk dari kamarnya menuju lobby apartemen. Namun dengan tenaga yang dimiliki Hyunjae, pria itu sama sekali tidak terlihat kelelahan. Namun tetesan keringatnya hampir menyamai Lazel yang berjemur.


"Apa kau tidak takut hitam?" Tanya Hyunjae yang melihat ke bawah, dimana Lazel duduk.


"Apa aku akan mati dengan damai jika memiliki kulit yang cerah?"


"T-Tidak."

__ADS_1


"Jadi diamlah."


"..............."


...◇• •◇...


Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam, akhirnya pemindahan pun usai. Sebuah mobil yang memiliki tempat kosong di bagian belakangnya akan digunakan sebagai tempat barang-barang tersebut. Bahkan Hyunjae ikut memberi bantuan dengan membawakan barang-barang itu.


"Haaaah~ apa kedatanganku kesini hanya untuk menjadi babumu?" Hyunjae tidak mempercayai kekejaman Lazel padanya.


"Baiklah," Lazel berdiri dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Kau bisa pergi." Ujarnya dengan kedua mata yang menyipit karena sinar terik dari matahari.


"H-Ha?! Pergi? Aku bahkan belum melakukan apapun."


"Membantuku membawa benda-benda itu sudah cukup membantu. Jadi pergilah."


"Hei... bisakah kau menawariku masuk ke dalam? Setidaknya kau tahu bagaimana cuaca saat ini." Ujar Hyunjae yang mengibaskan pakaiannya serta terus mengusap rambutnya.


"Apartemen ini melarang seorang laki-laki asing untuk masuk."


"Ian?"


"Apa kau bodoh?"


"Aku adalah Suami mu, mengapa tidak-"


"Ha?" Lazel menunjukkan raut wajah yang tidak enak untuk dipandang. Siapapun pasti akan merasa canggung atau hal lain saat menatapnya.


"..............."


"Bisakah kau mengoreksi ucapanmu sendiri? Bukankah aku sudah tidak memiliki urusan apapun denganmu?" Lazel mengucapkan sesuatu yang mungkin bisa saja menyakiti perasaan seseorang, apalagi dengan wajah tak pedulinya.


"Selama aku tidak membalas hal yang sama pada surat penceraian itu. Kau tetap menjadi Istriku."


"Dan kau pikir aku peduli?" Seringainya.


"Jangan mengharapkan belas kasih dariku. Bahkan aku bisa bertindak lebih jauh hanya untuk menendangmu keluar dari sini." Jelas Lazel yang sama sekali tidak merubah sifatnya. Karena mau bagaimanapun juga, sikap seperti itu adalah sosok aslinya yang selalu ia sembunyikan.


Siapapun yang mendengarnya pasti akan sakit hati atau merasa putus asa. Ucapan Lazel sama sekali tidak memiliki penyamaran atau sebuah saringan. Entah baik ataupun buruk, perkataan yang muncul dari benaknya akan terlontar begitu saja.


"Ayo jalan." Hyunjae merubah topik dan membuat Lazel pangling.


"Hei, apa kau mendengar ucapanku?"


"Bukankah akan menyenangkan jika kau mau menunjukkan beberapa tempat yang bagus disini?"


"H-Ha? Kubilang aku tidak mau!"


...◇• •◇...


Setelah bertemu dengan Lazel, semuanya perlahan merubah dirinya seperti yang dulu. Bahkan dirinya tidak sadar, meskipun rasa benci Lazel terus terlihat secara terang-terangan. Namun Hyunjae tidak peduli mengenai masalah itu dan tetap akan berusaha menarik perhatian dari Lazel.


Jalanan terlihat cukup ramai dengan kendaraan maupun pejalan kaki. Jepang memang memiliki sesuatu yang sangat unik, belum lagi jika gedung-gedung tinggi mereka memiliki layar lebar dan memperlihatkan film animasi yang mereka buat.


Urat-urat di kedua tangannya terlihat sangat jelas. Kedua matanya terpajang kacamata hitam agar menghindari pantulan atau sinar matahari.


Sedangkan wanita yang ada di sampingnya hanya memasang wajah datar dan juga sedikit kesal.


"Mengapa aku harus ikut bersamanya..."


Saat ini keduanya masih melakukan perjalanan yang entah kemana. Di bawah sinar matahari yang terik Lazel hanya mengenakan celana panjang tipis dengan atasan pakaian hitam polos dan tipis, sehingga jika dirinya berdiri membelakangi matahari, pakaian atau lekukan tubuh dalamnya akan terlihat begitu jelas.


"Hei, apa kau tahu." Kini pria beranting itu mulai bersuara.


"????"

__ADS_1


"Gilver selalu mengginggit kepalaku di setiap pagi." Ujarnya.


"Ohh! Gilver! Lama tidak berjumpa dengan dia." Seketika mood buruk Lazel kembali bangkit dan perlahan-lahan terlarut dalam ucapan Hyunjae.


"Bagaimana dengan bonekaku?" Tanya wanita itu dengan penasaran.


"Semuanya sudah dialiri dengan sungaiku."


"Ha? Sungai?" Butuh beberapa detik untuk berpikir keras mengenai kalimat terakhir itu, "d-dasarr jorok! Bagaimana bisa kau melakukan itu pada mereka!"


"AHAHAHAHAHAHAHA!"


"Ck! Tenang saja, aku akan menyelamatkan kalian." Gumamnya dengan semangat yang membara.


Diam-diam Hyunjae tersenyum manis bukan main, Lazel yang dulu selalu terpukul dengan masalah yang dirinya perbuat kini dapat terbawa suasana tanpa melakukan drama.


Hyunjae melepaskan salah satu tangannya dari stir dan melemparkan ponselnya ke arah Lazel, "lihatlah beberapa foto yang ada di galeri." Ujarnya.


Tanpa menunggu Lazel pun segera membukanya. Namun sebelum itu, layar pada kunci maupun layar utama sedikit membuatnya terheran.


"B-Banyak sekali! Kapan kau mengambil fotoku dasar sialan!" Lazel terkejut dengan banyaknya foto mengenai dirinya yang bahkan tidak pernah dia sadari sendiri.


"Meskipun kau menghapusnya, aku masih memiliki salinan yang lainnya." Ucapnya dengan bangga.


"S-Sialan..."


"Ahaha, bohong." Ucapnya dalam hati.


Hyunjae membawa mobil dengan perlahan agar Lazel bisa bermain ponselnya tanpa kendala.


Perempuan beriris merah muda itu selalu tersenyum saat menemukan beberapa foto yang berisi teman-temannya di sana.


Dirinya begitu bersyukur, karena tidak semua wanita seperti Lazel. Hidupnya yang dari awal penuh dengan penekanan namun masih sanggup untuk menjalaninya. Begitu banyaknya pertikaian yang terjadi di masa lalu sehingga dirinya sedikit sulit untuk berpikir.


Saat ini yang ia perhatikan dengan serius adalah wajah Lazel serta senyuman yang dimilikinya. Bulu mata berwarna hitam pekat, iris mata yang berwarna pink, serta rambut lurus panjang berwarna perak. Lazel memiliki banyak keunikan, selain dari wajah yang dimilikinya, wanita itu juga memiliki sifat yang sangat baik. Meskipun kebaikannya tidak pernah terlihat secara terang-terangan.


"Hyunjae! Aku akan-" ucapannya terputus begitu saja saat melihat beberapa tetesan air di balik kacamata yang pria itu kenakan. "Hyunjae, kau menangis?"


"Tidak, ini adalah akibat debu yang menusuk mataku." Jawab Hyunjae yang langsung mengusapnya tanpa memberitahu kebenarannya.


"Debu? Bukankah kita di dalam mobil? Lagipula jendelanya juga tertutup."


Kekurangan Lazel hanya satu... dia sama sekali tidak mengerti sebuah perasaan, perasaan yang bersangkutan dengan hati ataupun pengakuan seperti cinta.


...◇• •◇...


"Di sini?"


"Hm, lagipula aku tidak bisa bertahan lama untuk duduk di dalam." Ucapnya lalu keluar dari mobil, sehingga semua pandangan orang-orang mengarah padanya.


Pria itu mengunci mobil dengan menekan tombol pada kunci yang ia pegang, lalu berjalan mendekati Lazel.


"Kau cantik sekali." Ucap Hyunjae tanpa sadar.


"Memang." Sahutnya dengan wajah yang polos.


Mereka berhenti di sebuah tempat yang sama seperti yang lainnya, namun yang membedakannya adalah fasilitas yang dimiliki.


Taman maupun pantai sudah menjadi tempat wisata yang menarik. Namun saat ini Lazel tidak ingin pergi kemanapun selain taman, lagipula hembusan angin di taman tampak sejuk dibandingkan di pantai.


Sebuah air mancur besar sebagai penghias di bagian tengah dengan warna putih polos. Corak-corak unik menggambarkan khas dunia laut, salah satunya adalah duyung.


Ia melihat Lazel yang berjalan lebih dulu darinya, "Lazel." Panggilnya.


"Hm?" Wanita itu menolehkan kepalanya ke belakang dengan memutar sedikit tubuhnya.

__ADS_1


"Apakah kau benar-benar menyukai lampu itu?" Tanya Hyunjae yang tersenyum di hadapannya.


"Lampu?" Awalnya ia tidak sadar dengan ucapan Hyunjae, namun akhirnya sesuatu membuatnya tersadar. Sehingga tidak bisa menyembunyikan rasa malu di wajahnnya, "!!!!"


__ADS_2