
"Jadi apa maumu?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu aku akan kem-"
"T-Tidak tidak, kau disini saja."
"Untuk apaa, bukankah kau sedang membantu mereka?"
"Y-Yah itu tadi, tapi sekarang karena ada kau jadi masalah sebelumnya sudah selesai."
"Apa-apaan, padahal kau mendapatkan getah dari permasalahan Hyunjae dan Vicy. Namun masih bisa berkeliaran sesuka hatimu."
"Harus menggunakan trik untuk dapat bebas dari para wartawan."
Vicy meninggalkan dirinya, pada akhirnya ia harus berdia bersama dengan Hyunji. Pertemuan yang tidak disangka. Tapi jika seperti ini... Kara juga tidak berniat untuk berlama-lama disana, apalagi bersama dengan seseorang yang dia suka.
"Aku akan kembali." Ujar Kara yang mulai menggeser kursinya.
"H-Ha? Kenapa kau ingin pergi terburu-buru?"
"Karena aku tidak pernah berniat untuk bertemu denganmu." Jawabnya dengan tatapan biasa.
"..............."
...◇• •◇...
Yang mengetahui rahasiannya besarnya hanyalah Ibunya, mau bagaimana lagi, dirinya sendiri bahkan bingung pada perasaannya. Menyukai seseorang bukan yang pertama kali baginya, Lazel adalah sosok yang pernah Hyunji sukai meskipun sudah memiliki seorang Suami. Pernikahan yang mereka jalin juga berdasarkan drama, oleh karena itu perasaannya pada Lazel terus bertahan, atau mungkin dirinya pernah berharap jika Lazel akan berpaling padanya.
Akan tetapi... perasaannya yang belum hilang memunculkan Kara di dalam hidupnya. Mengenai wanita itu, ia sudah mendengar beberapa informasi dari sekitar. Dan pertemuan mereka dimulai saat dia menjadi salah satu teman Lazel yang bekerja di bawah perintah Hyunjae untuk menjadi salah satu bodyguardnya.
Kara tidak memiliki apapun dibandingkan Lazel, namun karena tidak memiliki apapun itu membuatnya menyukai wanita bersuara serak itu.
Untuk saat ini ia berusaha untuk mempertahankan Kara untuk tetap bersamanya.
Di Musim Panas seperti ini semua tempat hiburan terbuka lebar, mulai dari Fun Fair, pantai dan tempat-tempat lainnya.
Ia berjalan tepat di belakang wanita itu dengan santai sembari melihat sekeliling, "Kara, apa kau mau kesana?" Ujarnya.
"Tidak."
"Oh! Lihat itu."
"Tidak."
"Hei, ada apa denganmu?"
"Tidak."
Langkah kakinya sama sekali tidak berhenti, namun Hyunji tetap mengikutinya seperti anak ayam.
Di saat seperti ini bukanlah waktu yang pas untuk berbicara yang tidak-tidak. Mulai dari pagi ini hingga menjelang siang, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menghubungi Hyunjae. Kara sudah mengkhawatirkannya sejak tadi pagi. Oleh karena itu Vicy mengajaknya berjalan-jalan sejenak untuk menghilangkan stres, tapi siapa sangka jika stresnya akan bertambah karena kehadiran Hyunji.
Bertemu dengan sosok yang disukai memang luar biasa senangnya, tapi untuk saat ini Kara tidak ingin melakukan apapun. Karena kesenangan yang dia lakukan tidak akan mendapatkan Lazel kembali.
"Aku memang menyukai Hyunji, tapi..." ia menggigit bibir bawahnya dengan pelan. Ia berbalik dan menemukan Hyunji yang berhenti di hadapannya. "Aku lelah, sebaiknya kita pulang sa-"
"Ayo duduk~" Hyunji menarik lengannya begitu saja dan membawanya ke tempat teduh dimana setumpuk pohon menutupi cahaya matahari.
"Kenapa jadi seperti ini..."
Pada akhirnya mereka duduk berdua dengan suasana panas yang menyengat. Terlebih lagi karena panas itu aroma tubuh Hyunji keluar begitu saja karena dia terus mengipas kerah lehernya.
"Hyunji." Panggilnya dengan suara yang sedang.
"Hm?" Pria yang memiliki sedikit kemiripan dengan Hyunjae itu menoleh dan melihat Kara dari samping.
__ADS_1
"Bukankah saat ini kau harus mengkhawatirkan Lazel."
"Lazel? Oh ku dengar dari Ibu jika Hyunjae tidak bisa dihubungi."
"Lalu?"
"Hm... kupikir mereka baik-baik saja."
Kedua tangannya terkepal cukup kuat tanpa sepengetahuan Hyunji.
"Aku akan kembali." Ucap Kara sambil berdiri.
"H-Ha? Bukankah aku sudah-"
"Haaah~ dasar kau ini," Kara menyela sembari menggelengkan kepalanya. "Seharusnya kau itu mengkhawatirkan Lazel, karena mau bagaimanapun juga kau menyukainya bukan? Meskipun sainganmu adalah Adikmu sendiri." Ucapnya enteng yang diakhiri sebagai tawa kecilnya.
"Kenapa kau terus membawa Lazel dalam setiap pembicaraan?"
"Membawa Lazel? Karena dia adalah satu-satunya sosok yang paling kuhormati, meskipun dia lebih muda dibandingkan diriku." Ucap Kara dengan bangga.
Hyunji tidak membalas apapun dan hanya menunjukkan wajah yang kebingungan, "aku tidak paham..."
...◇• •◇...
Kembali pada perasaannya, sesuatu yang belum bisa dia ungkapkan. Bahkan tidak memiliki kepastian jika dirinya akan diterima begitu saja, ditambah ia sama sekali tidak mengetahui tipe-tipe pria yang Kara sukai.
Daripada memikirkan masalah rumit seperti itu, Vicy dan Gyuu tahu bagaimana tipe Kara. Namun kedua orang itu memutuskan untuk tetap diam dan membiarkan alurnya yang menentukan nasib mereka berdua. Lagipula bukankah sedikit menyenangkan jika melihat kedua orang itu memendam perasaan sendiri-sendiri?
"Haaah... kira-kira apakah kita harus melakukan sebuah hiburan di tengah Musim Panas ini?" Hyunji berusaha mencari sensasi di Musim Panas tahun ini.
"Haa? Memangnya kau memiliki rencana apa?" Sahut Kara yang hampir meleleh sama halnya seperti Hyunji.
"Pantai? Bukankah disana sangat ramai di tengah-tengah Musim saat ini?"
"Hm! Ide bagus!" Kara dengan semangat menyetujui ide Hyunji itu.
"K-Kau mau?" Hyunji terkejut dengan tanggapan Kara mengenai usulan yang dia berikan.
"!!!!" Karena begitu senangnya, rona merah di wajahnya terlihat, ditambah karena teriknya matahari.
"Wajahmu merah, ada apa?" Tanya Kara yang merasa penasaran dengan wajah merah Hyunji.
"T-Tidak ada apa-apa," jawabnya dengan memberikan jarak sedikit renggang. "A-Apakah aku harus melamarnya saat disana nanti?"
Hyunji senang melihat reaksi Kara setelah dirinya memberikan sebuah ide hiburan di tengah Musim Panas. Lagipula ia tidak menyangka jika Kara akan setuju begitu saja.
...◇• •◇...
"Hm! Setuju!"
"T-Tunggu Kara..."
^^^"..............."^^^
"Ahahaha! Ini adalah ide Hyunji."
"U-Um..."
^^^"..............."^^^
"Baiklah."
Hyunji tidak menyangka jika idenya itu sedikit terpeleset dari rencana awalnya.
Karena begitu senang dengan usulan Hyunji, Kara langsung menghubungi Ibu Hyunji untuk mengajaknya pergi bersama. Menurut apa yang dia lihat, sepertinya Nezra sangat setuju dengan rencana itu dan kemungkinan besar akan ikut bersama mereka.
Hyunji yang mengetahui itu merasa pasrah dan tidak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
"Sial... padahal aku ingin hanya kami berdua." Tuturnya dalam hati dengan perasaan yang tersakiti.
"Baiklah!" Kara berdiri dari duduknya dan membuat kedua tangannya berada di kedua sisi pinggangnya, "kita akan pergi saat Lazel, Hyunjae dan Ian kembali." Ucapnya dengan tegas.
"M-Mereka juga?!"
"Tentu saja, bukankah akan menyenangkan jika ada mereka?"
"Y-Ya, kau benar," dengan berat hati ia menunjukkan ekspresi setuju. "Kurasa untuk saat ini tidak apa..." Hyunji mengembalikan moodnya setelah melihat Kara yang cukup senang.
...◇• •◇...
Sepertinya usulan tadi tidak begitu buruk, sebagai balasan atau gantinya, Kara akan menemani dan memenuhi permintaan Hyunji untuk menemani pria itu menghabiskan waktu lebih lama.
"Aku tidak menyangka jika kami akan menghabiskan waktu berdua," ujar Kara dalam hati yang merasa sangat senang sehingga melupakan masalah-masalah sebelumnya. "Mau bagaimana lagi... dia sudah memberikan usulan disaat pikiranku tidak bekerja, jadi setidaknya aku harus memenuhi permintaannya sedikit."
Wanita berambut cokelat gelap itu berjalan nampak kelelahan dan mungkin akan mencair, lalu seseorang memanggil namanya dengan suara yang familiar.
"Kara, kemari." Hyunji memanggil Kara untuk berjalan mendekatinya. Hanya melihat dari ekspresinya saja, Kara sudah mengetahui jika pria itu ingin menunjukkan sesuatu padanya.
"Apa..." wajah lesunya sangat terlihat jelas.
"Kau mau naik itu?" Ujarnya dengan telunjuk yang mengarah pada sebuah bundaran besar yang berdiri tegak di tengah-tengah taman.
"Bianglala?"
"Hm, aku tidak pernah naik. Jadi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Serius?! Kau tidak pernah-"
Kara tidak berniat melanjutkan ucapannya karena pria bertubuh tinggi dengan wajah yang tegas itu saat ini terlihat seperti anak kecil dengan wajah yang berseri-seri menatap bianglala yang berputar pelan.
Ia hanya bisa menghela nafas dan tetap menuruti ucapan pria itu.
...◇• •◇...
Karena usaha kecil yang dilakukan Kara, akhirnya Hyunji dapat merasakan apa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sedikit ingin tahu alasan bagaimana bisa orang kaya sepertinya tidak pernah memainkan permainan seperti ini. Namun Kara berniat untuk tidak mengucapkannya dan berusaha untuk tidak menggali apapun tentang kehidupan Hyunji.
Pemandangan disana sangatlah indah, sinar matahari sebagian mengenai mereka, namun di tengah-tengah keseruan itu, terik matahari tidak terasa sedikit pun.
Kara hanya tersenyum melihat Hyunji yang sedikit merasa terhibur karena Kara.
"Hahaha! Kara, terima kasih." Ujar Hyunji.
"Ha! Ini bukan a-"
"Kau memang gadis yang baik." Senyumannya nampak polos dan juga indah sehingga membuat Kara hampir kehilangan akal.
"G-Gadis?!"
...◇• •◇...
Angin-angin menderu dengan kuat, jalanan lebar itu selalu nampak sangat luas layaknya tidak memiliki ujung. Dari ketinggian yang tidak seberapa, gedung-gedung tinggi mulai terlihat, terutama gedung bandara yang biasanya dipenuhi dengan orang-orang untuk melakukan cek sebelum penerbangan.
Wajahnya menoleh ke samping dimana ia dapat menemukan sayap pesawat dengan lampu kelap-kelip yang terus menyala.
"Hyunjae, apa kau pikir ini baik-baik saja?" Tanya wanita berambut perak itu dengan tangan yang menyanggah wajahnya sembari memperhatikan keadaan luar dengan kondisi pesawat yang mulai mendarat.
"Hm? Apanya?"
"Kau tidak memberitahukan apapun pada mereka. Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka saat melihatku dan Ian kembali."
"Yah... tidak perlu dipikirkan lagi," Hyunjae meletakkan beberapa kertas di atas meja lalu melihat hal yang sama seperti yang Lazel lakukan. "Paling standar mereka akan terkejut setengah mati sehingga syok." Ucapnya dengan terang-terangan.
"Ck! Apa-apaan ucapanmu itu."
Satu hal yang Lazel pikirkan adalah bagaimana dan apa yang akan dia katakan saat bertemu nanti. Maaf? Atau apa? Bahkan tidak satupun keterangan yang melintas di pikirannya.
__ADS_1
"Untuk apa aku memikirkan hal itu, bukankah aku datang hanya untuk memenuhi perjanjiannya?" Batinnya yang seketika merasa tidak peduli.
Merasa jahat maupun baik, saat ini Lazel mungkin tidak seramah yang dulu. Karena niatnya memang untuk pergi, bukan kembali. Dan meskipun dirinya memutuskan untuk kembali karena sebuah masalah, bukan berarti dirinya akan sama yang seperti dulu.