
Gyuu berhasil membuat langkah utama dengan membuat Kara menunduk. Pintu masuk yang membelakangi mereka rusak total, serpihannya berhamburan kemana-mana. Gyuu juga berhasil melindungi Kara dari beberapa bagian yang keras.
"H-Hancur... pi-pintu itu sangatlah ku-"
"Aku hampir lupa jika Kara dan Gyuu memasuki rumah ini." Ucap Lazel yang saat ini terlihat sangat marah.
"L-Lazel! Dia memegang senjata!" Ucap Gyuu yang sangat panik.
"Ja! Apa yang kau lakukan pada benda itu?! Jatuhkan cepat!" Teriak Ibunya yang sama sekali tidak memahami keadaan maupun keburukan Putrinya.
"Seharusnya ini menjadi negosiasi tanpa kekerasan. Tapi kenapa kau berani bertindak sejauh ini karena ulahmu sendiri..." saat ini Lazel bertindak sendirian di hadapan Ja Heul yang menggenggam pistol.
"Lazel hentikan! Kau tidak perlu melakukan apapun!" Teriak Jean yang baru saja keluar dari mobil dan menangis histeris.
Keadaan disana saat ini cukup parah, hanya karena Lazel yang bertindak semuanya menjadi berantakan.
"K-Kau! Kau selalu menghalangi jalanku! Bukankah kau seharusnya tidak kembali dan akan pergi sejauh mungkin!" Teriak Ja Heul yang terus menodongkan pistol ke arahnya.
"!!!!" Lazel cukup terkejut dengan ilmu pengetahuan Ja Heul mengenai kehidupan pribadinya maupun masalah yang sedang ia hadapi bersama dengan Hyunjae.
"H-Hahahaha! Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku bisa mengetahuinya." Kini gadis itu mulai merasa jika kemenangan sudah berada di pihaknya.
"Lalu jika aku memang pergi dan menceraikan Hyunjae, mengapa aku kembali? Mengapa aku bisa tinggal dengannya lagi?" Lazel menjebak Ja Heul dengan pembahasan yang sama.
"!!!!"
"Jika dari awal Hyunjae adalah milikku, mau sekeras apapun usahamu untuk mendapatkannya akan tetap sia-sia," ucapnya dengan sombong. "Lagipula... aku juga tidak pernah berniat untuk kembali." Sambungnya.
Ekspresi Ja Heul seketika berubah, hal itu membuat Gyuu dan Kara terheran. Saat Gyuu mengambil kesempatan untuk menoleh ia melihat seseorang di belakang Lazel.
"H-Hyunjae..." ucap Ja Heul dengan bergetar.
"??!!" Wanita beriris merah muda itupun menoleh ke belakang dengan wajah yang terkejut, "k-kau... kenapa kau ada disini."
"Hentikan permainan ini. Jatuhkan pistol itu atau aku sendiri yang akan menjatuhkannya." Ucap Hyunjae yang tidak terlalu memasang wajah seram.
"A-Apa kau tidak takut?! I-Ini akan!-"
"Pistol dengan jenis seperti itu akan menulikan pendengaranmu sendiri disaat kau menggunakannya karena tekanan dan juga daya suara yang kuat." Jelas Hyunjae yang menarik Lazel ke belakang dan dirinya yang akan melangkah ke depan.
"Hei... apa yang kau lakukan..." Lazel seketika tidak bisa mengekspresikan wajahnya. "Hyunjae apa yang kau lakukan! Hyunjae!"
"Lazel! Tetaplah disini." Jean menahan Lazel sekuat mungkin meskipun wanita itu terus berusaha untuk menerobos pertahanan Jean.
"Jean lepaskan! Hyunjae... Hyunjae akan terkena serangan itu!"
Jean benar-benar memegang Lazel dan tidak akan membiarkannya terlepas, "tidak boleh! Kau tidak boleh kesana!"
...◇• •◇...
Situasi saat ini memburuk, penjelasan Hyunjae membuat semua orang merasa histeris karena dampak serangan Ja Heul nantinya. Apalagi Lazel yang saat ini tidak bisa mengendalikan dirinya karena tindakan Hyunjae.
"Hyunjae apa yang kau lakukan! Cepatlah mundur!" Teriak Gyuu yang masih melindungi Kara. Saat ini keduanya tidak mampu melakukan apapun lagi karena hidup mereka berada di genggaman Ja Heul sendiri.
"Seharusnya kau mencintaiku... bukan wanita keparat itu..." ujar Ja Heul yang merasa depresi karena saingan cinta terhadap seorang pria yang sudah memiliki Istri.
"Ahh~ tapi aku terlanjur mencintainya. Jadi apa yang harus ku lakukan?" Hyunjae hanya terlihat santai dan tetap berjalan ke arah Ja Heul yang sudah menarik pelatuk.
"K-Kau akan mati." Ucap Ja Heul dengan tubuh yang semakin bergetar hebat.
__ADS_1
"Mati? Apa itu candaan?" Sahut Hyunjae dengan tawa.
"HYUNJAE! APA KAU TIDAK BERPIKIR BAHWA TINDAKANMU ITU BERBAHAYA! CEPATLAH PERGI!" Teriak Lazel dengan sekuat tenaga.
"Maaf Lazel... sepertinya setelah ini kau akan sangat terkejut, setidaknya Jean akan menjelaskan padamu apa yang terjadi, lihatlah... Suamimu akan melakukan atraksi yang luar biasa." Batin Hyunjae.
Suara teriakan semakin menjadi, hentakkan dan bentakan Lazel menjadi tangisan yang histeris. Begitupula dengan Gyuu dan Kara, mereka terus berusaha untuk membujuk Hyunjae agar menjauh dari sana. Namun pria beranting itu tetap melangkah ke depan yang diiringi dengan tangisan Lazel yang kuat.
Langkahnya terus terjadi hingga ia berdiri tepat di hadapan Ja Heul dan merebut pistol itu dengan tangan kosong. Hingga akhirnya, tindakan Ja Heul tidak mengakibatkan apapun selain kepanikan dan juga kebohongan.
"Kau pikir aku akan tertipu dengan benda ini? Aku jauh berpengalaman menggunakannya dibandingkan dirimu." Seringainya.
"Lazel... senjata itu memang asli dan juga sangat berbahaya. Namun tanpa peluru, benda itu tidak ada apa-apanya." Jelas Jean pada Lazel yang mulai merasa terkendali.
"A-Apa..."
"Maaf lambat memberitahukanmu... ini adalah permintaan Hyunjae. Setidaknya dia ingin menunjukkan sesuatu pada-"
"L-Lazel?" Seketika tubuh Lazel memberat dan kehilangan kesadarannya.
"Lazel! Lazel bangun!"
"????"
"Gyuu Kara Hyunjae! Lazel tidak sadarkan diri!" Teriak Jean yang kembali panik karena kondisi Lazel yang seketika drop.
Di saat kondisi seperti itu, Vicy yang hanya bertugas sebagai pengamat akhirnya berhasil membawa polisi di tempat kejadian.
Hyunjae pun menyita senjata yang dia dapatkan dari Ja Heul dan membantingnya ke atas aspal dengan kuat hingga hancur berkeping-keping. Lalu menyerahkan sisanya ke Polisi dan beralih pada Lazel yang sudah tidak sadarkan diri.
Beberapa kelompok Polisi sudah mengepung area sekitar dan mengamankan tersangka dan juga memberikan keamanan pribadi terhadap Ibunya. Keduanya harus dibawa menuju pengadilan dan harus menjelaskan apa yang terjadi.
...◇• •◇...
"!!!!"
"W-Whoa aku terkejut." Ucap Kara yang melihat Lazel membuka kedua matanya dengan tiba-tiba.
"Hm? Apa Lazel sudah sadar?" Tanya Hyunjae yang baru saja berganti pakaian.
Kara mengelus punggung Lazel yang langsung mengambil posisi duduk, "sebelum kau meneriaki Suamimu tenanglah dulu dan minum air ini." Ujarnya pada Lazel.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Lazel yang kehilangan suaranya.
"Pfft!" Tidak mengenal kondisi, Gyuu hampir mengeluarkan tawa yang bisa saja mendapatkan maut dari Lazel.
Plak!
Vicy pun dengan cepat memukul kepala pria kuning itu dengan kuat.
"Maaf." Ucap Gyuu.
Semua orang tahu jika tindakan Hyunjae tadi begitu mengerikan, bahkan tidak akan ada yang tahu bagaimana ke depannya. Apalagi Lazel yang berusaha melepaskan diri dari Jean untuk menghentikan tindakan bodoh Hyunjae.
Saat ini Jean dan Putrinya sudah kembali terlebih dahulu. Kejadian tadi membuat Putrinya ketakutan hingga terus menangis. Oleh karena itu Jean hanya bisa menanyakan keadaan Lazel dan yang lainnya melalui ponsel.
"Ini cukup larut, apa kita harus kembali?" Ujar Kara yang memperhatikan jam yang melingkar di tangannya.
"Aku akan mengantar kalian." Ujar Gyuu.
__ADS_1
"Lazel, maafkan kami atas kondisimu saat ini." Ucap Kara dan juga Vicy.
"Tidak tidak, ini bukan kesalahan kalian. Maaf karena tidak memahami situasi dengan benar." Ucap Lazel yang ikut merasa bersalah.
Hyunjae mengantar kepergian teman-teman Lazel himgga ke depan teras rumah.
...◇• •◇...
Di sela-sela permasalahan yang hampir usai itu, Lazel sama sekali tidak bisa membayangkan jika senjata itu ampuh untuk mengambil nyawa seseorang. Beberapa orang sudah meninggalkan dirinya, apakah di malam itu akan menjadi kematian seseorang lagi?
Pikirannya sama sekali tidak terkendali, rasa takut masih menyelimuti dirinya. Wajahnya terlihat sangat sembab dan juga kelelahan.
Jika kejadian yang sama akan terulang kembali, dirinya sama sekali tidak bisa melakukan apapun lagi termasuk hidup. Kehilangan beberapa orang di masa lalu sudah lebih dari cukup baginya, bahkan untuk kehilangan lagi Lazel sama sekali tidak sanggup menanggungnya.
Ia mengingat betapa pasrah dirinya disaat Hyunaje tidak lagi mendengarkan teriakkannya.
Lampu ruangan depan telah mati dan menampilkan sosok pria berwajah tampan mendekatinya.
Dengan sigap Lazel turun dari sofa dan beranjak ke lantai atas.
Hyunjae terkejut dengan tindakan Lazel yang tiba-tiba menjauhkan diri darinya, "L-Lazel, apa kau marah?"
"M-Maaf... kumohon jangan membenciku. Setidaknya aku membutuhkan jarak terdekat untuk memastikan benda itu."
"Li-Lihat, aku baik-baik saja bukan? Jadi tidak perlu mencemaskan di-"
"Kau tidak mengetahui apapun..." wanita berambut perak yang membelakanginya itu mulai bersuara namun terdengar kecil karena suaranya yang hampir habis. "Kau tidak tahu ada berapa orang yang meninggalkanku dan kau tidak tahu bagaimana rasanya..."
"..............."
"Kau beruntung jika senjata itu tidak memiliki peluru, bagaimana jika perhitunganmu itu salah dan akan memperlihatkan kematian lagi di hadapanku. Apa yang akan kau lakukan huh?"
"Kau hanya akan menyamakan masa lalu dengan yang sekarang, kau tidak tahu bagaimana perasaan orang lain, bagaimana perasaan Ayah dan Ibu serta saudaramu. Kau sama sekali tidak ta-"
Tap!
"Ayo tidur, kau sepertinya kelelahan," Hyunjae menutup mata Lazel dari belakang dengan salah satu tangannya. "Aku tahu..."
Perlahan ia menuntun Lazel menuju kamar dan berusaha membuat Lazel melupakan kejadian tadi.
"Aku tahu bahwa bukan itu maksudmu..."
Apa yang Lazel teriakkan sudah terbaca sangat jelas.
"Perasaan khawatir orang lain bukanlah masalah buatmu maupun untukku..."
Kejadian malam ini hanya akan menjadi mimpi buruk bagi Lazel. Dan Hyunjae tidak akan mengulasnya kembali apapun keadaannya.
"Kau khawatir padaku... kau khawatir pada apa yang akan terjadi padaku... kau khawatir pada nyawaku. Itulah yang sebenarnya terjadi."
"Kau berteriak demi keselamatanku namun aku mengabaikannya dan membuatmu marah akan hal itu."
"Di saat kau tertidur nanti, aku akan meminta ribuan maaf padamu."
Bukan hanya keselamatan Hyunjae saja. Seluruh nyawa teman-temannya mungkin saja bisa menjadi pengaruh kuat terhadap mentalnya.
Pada awalnya tindakan Ja Heul cukup menegangkan meskipun hanya menggunakan benda berbahaya tanpa bahan bakar. Rasa takut di dalam tubuhnya menjalar dengan hebat.
Di malam itu... Hyunjae akan menghabiskan sedikit waktunya untuk menenangkan wanitanya.
__ADS_1