Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Pengakuan Hyunji]


__ADS_3

"..............."


Hyunjae tidak pernah seromantis ini di hadapan para wanita di luar sana. Bahkan dirinya menggunakan mereka hanya untuk bersenang-senang atau menghilangkan rasa letih. Tapi... di hadapan Lazel, ia sama sekali tidak menyembunyikan apapun.


Lazel meraih rambutnya kembali, "aku akan membicarakan masalah ini dengan Ian, jadi ikutlah ke tempat tinggal kami malam ini." Ujar Lazel.


"H-Hm!"


"!!!!" Anggukan yang membuat Lazel kebingungan. Tingkah laku yang diberikan Hyunjae dari awal memang berbeda seperti Hyunjae yang dia kenal dulu.


Meskipun belum sepenuhnya mendapatkan Lazel kembali, setidaknya masih ada setitik cahaya harapan dimana dirinya bisa kembali bersama dengan Lazel.


...◇• •◇...


"A-Aku tidak tahu harus berkata apa." Sejak dari tadi Nezra nampak histeris untuk mendengar suara Lazel setelah sekian lamanya.


Terhitung kepergian Hyunjae sudah mencapai empat hari, mereka tidak menyangka jika Lazel akan mendengarkan Adam begitu saja.


Dibandingkan mereka yang terlihat begitu senang dengan kabar Lazel, saat ini Hyunji hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Bagaimana bisa Lazel begitu patuh pada Ayah? Dan juga kesepakatan? Apa yang mereka sepakati? Kergian apa yang dimaksudkannya?" Pikirannya saat ini penuh dengan tanda tanya.


Bukan tidak senang dengan kabar akan kembalinya Lazel dan Ian, namun ia merasa sedikit ada yang menjanggal. Karena keinginan mereka sama sekali tidak ada berkaitan dengan persyaratan apapun.


"????" Kara melihat Hyunji yang terdiam dengan wajah yang serius, "oh... bukankah Lazel akan kembali? Pasti membuatnya sedikit grogi untuk bertemu dengan wanita yang disukainya." Ucap Kara dalam hati.


...◇• •◇...


Jika dikatakan cemburu, iya, dirinya sangat cemburu. Tapi Lazel tidak pernah melakukan apapun atau mengatakan apapun yang membuat temannya sakit hati. Lagipula Lazel pernah mengatakan padanya jika tidak pernah meletakkan rasa suka pada Hyunji atau membalas perasannya. Justru Lazel menganggap Hyunji sebagai Kakak Kandung dan tetap menghormatinya dengan menyebut Kakak pada nama depan yang dia miliki.


Dan disaat tiba masalah Lazel dan Hyunjae selama sepuluh tahun membuat dirinya menyalahkan Lazel, tanpa sadar ia berpikir bahwa Lazel menyukai Hyunji, oleh karena itu ia meninggalkan mereka.


Dan ternyata... ada begitu banyaknya alasan mengapa Lazel pergi. Salah satunya adalah pernikahan yang direncanakan dengan saling memanfaatkan satu sama lain dan memiliki untung yang sama. Kedua dendam antara keluarga kecilnya dengan keluarga besarnya.


Pada saat itulah Kara merasa sangat bersalah pada Lazel, karena kurang mempercayainya.


"Kara, apa kau mau pulang?" Tanya Hyunji yang melihat Kara yang sudah meninggalkan ruangan dan menuju sebuah mobil berwarna kuning.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Tunggu, aku akan mengantar-"


"Aku akan pulang bersama Gyuu dan juga Vicy. Jadi tidak perlu repot-repot mengantarkanku." Sela Kara dengan ekapresi yang seperti biasanya.


Kedua alisnya tertekuk, "apa kau baik-baik saja?"


"Hm? Memangnya aku kenapa?"


"Kau... terlihat berbeda."


"Haaah~ itu hanya perasaanmu saja."


Pada akhirnya Hyunji hanya menerima keputusan Kara dan pergi bersama Vicy dan Gyuu.


...◇• •◇...


"Maaf..." ucapnya dengan wajah yang sedikit bersalah.


"Hm... kupikir kau akan lebih senang jika pulang bersama dengan Kak Hyunji." Ujar Vicy yang duduk di sampingnya dan menggunakan kesendirian Gyuu sebagai supir.


"T-Tidak perlu, lagipula aku bisa ikut dengan kalian."


"Apa kau masih memikirkan rasa sukanya pada Lazel?" Tanya Vicy yang begitu mudah memahami perasaan Kara.


"..............." sebenarnya Kara tidak ingin membahas apapun yang berkaitan dengan Hyunji, namun Vicy kembali membahasnya.


Kara merasa jika sebelumnya itu lebih baik dibandingkan seperti ini. Karena kesibukkan yang dibuat Hyunjae membuatnya lupa tentang rasa romantis. Tapi nasib begitu jahat padanya sehingga harus membuat hatinya semakin melekat pada Hyunji.


"Tapi... aku merasa jika Hyunji menyukaimu Kara. Padahal tingkah lakunya sudah sangat jelas." Gyuu akhirnya angkat suara setelah mendengar kedua perempuan itu berbincang.


"Hahaha~ terima kasih atas guraunnya." Ucap Kara.


"H-Hei, itu bukan gurauan kau tahu."


"Aku tidak berpikir jika hal itu akan terjadi. Bahkan aku sendiri tidak pernah membayangkan bagaimana hal itu akan terjadi." Jelasnya.

__ADS_1


...◇• •◇...


"Ibu, apa kau tidak akan bermain denganku?"


"Diam, kau menggangguku. Bermain sendiri saja." Ujar Nezra dengan tatapan kesal pada Hyunji yang terus menggoyangkan tubuhnya.


Saat ini Nezra sedang berdiri di hadapan sebuah ponsel dan menunggu panggilan dari Lazel. Sedangkan Hyunji yang terus duduk di sampingnya tidak mendapat perhatian dari Ibunya sendiri.


"Bu... apa pendapatmu jika aku menyukai seseorang?" Tanya Hyunji yang menyandar pada lengan Ibunya.


"Hm... jadi kau-" seketika kacamata yang dikenakan Nezra mendapat retakkan sedikit akibat kedua matanya yang melebar saat mendengar sesuatu yang asing keluar dari mulut Putra Tertuanya.


"Bu? Apa kau-"


"Apa kau akhirnya menemukan Cinta Sejatimu?" Kini Nezra melupakan tentang ponsel dan juga Lazel dan lebih memilih Putranya yang terus mengemis perhatian di sampingnya, "jika kau bercanda aku akan menendangmu dari sini." Ujarnya dengan tatapan maut.


"Haaah~ aku serius."


Hyunji pernah mengatakan pada Ibunya tentang rasa sukanya pada Lazel. Namun hal itu ditanggapi dengan biasa, lagipula Hyunji sendiri tidak terlihat begitu depresi. Namun saat ini Nezra benar-benar tidak menyangka jika Hyunji mulai menyukai seseorang.


"Siapa dia? Apa dia mengenalku?"


"Sangat, tapi..."


"Tapi?"


"Kurasa dia terganggu dengan sesuatu pada saat dia tahu jika aku pernah menyukai Lazel."


"AHAHAHAHAHAHAHA!!!" Nezra tertawa dengan lepas dan membuat Hyunji sangat kesal dengan tanggapan Ibunya.


"Sudahlah-"


"T-Tidak! Ibu tidak akan tertawa." Ucap Nezra dengan raut wajah yang lebih serius.


Sebagai seorang Ibu yang memiliki dua orang Putra, tidak semestinya mereka akan dibesarkan dengan belas kasih. Terkadang mereka harus mengetahui bagaimana rasa emosional dari Sang Ibu atau bahkan mendapat hukuman keras dari Ibunya. Hal itu Nezra lakukan demi masa depan kedua anaknya.


Hyunji dan Hyunjae adalah karunia Tuhan yang berarti harus ia jaga sebaik mungkin. Karena itu akan berdampak pada masa depan.


Mereka adalah seorang laki-laki yang akan datang masa kepemimpinannya.


"Bu... aku menyukai Kara."


...◇• •◇...


"Hatchuu!!"


"Hei, ini baru saja memasuki Musim Panas." Ujar Vicy pada Kara.


"Siapa yang membicarakanku? Tapi... aku memang cukup cantik untuk dibicarakan." Ucapnya dengan berbangga hati.


Vicy dan Kara tinggal bersama karena keluarga mereka berada di tempat yang cukup jauh dari perkotaan.


Vicy mulai mengkhawatirkan Sepupunya itu, disaat Hyunji dan dia semakin dekat, Kara semakin dibuat bingung. Ia terkadang bingung harus mengucapkan apa untuk Kara sebagai kalimat pendukung.


"K-Kara."


"Hm? Apa?" Wanita dengan suara serak itu menyahut tanpa menoleh.


"A-Apa kau benar-benar menyukai-"


"Vii, untuk saat ini tolong jangan bahas hal itu," Kara kembali pada fase murungnya. "Aku akan kembali tidur."


...◇• •◇...


Kedua matanya masih menatap langit yang gelap berbintang. Dia memiliki harapan namun tidak pernah berpikir akan terwujud.


Dirinya tidak hebat seperti Lazel, dirinya tidak sekeren Lazel atau bahkan tidak sepintar Lazel. Memangnya apa yang patut dibanggakan darinya?


Hyunji berasal dari keluarga yang luar biasa, tidak mungkin akan menikah dengan perempuan seperti Kara yang menganggap dirinya sendiri sebagai beban atau seseorang yang tidak memiliki peran penting dalan hidupnya.


Dirinya bahkan tahu jika Hyunji terlalu jauh untuk dicapai. Oleh karena itu tidak ada jalan lain selain mengaguminya dalam diam.


"Aku lelah." Gumamnya.


...◇• •◇...

__ADS_1


"..............."


Pria yang memiliki penampilan rapi itu hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun setelah membuka sebagian perasannya pada Ibunya.


Lagipula Nezra memang berhak tahu mengenai hal ini dibandingkan siapapun.


"A-Aku tidak menyangka kau menyukai Kara." Nezra cukup terkejut dengan perasaan Hyunji pada seseorang yang sangat dekat dengannya.


"Mengapa? Bukankah Kara itu baik? Bahkan Lazel sangat menyukainya, begitupula dengan-"


"Kau menyukainya karena perasaanmu atau karena melampiaskan kekesalanmu padanya?" Kini Nezra mulai mengintograsi Putranya.


"Aku menyukainya, mengapa Ibu membawa La-"


"Dengar," wanita berambut hitam itu memegang kedua pundak Putranya. "Tidak seorang pun akan menerimamu dengan tumpukkan perasaan seperti itu, jika kau menyukainya maka berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terpengaruh dengan omongan publik. Kau suka maka nikahi."


"N-Nikahi?! Aku bahkan belum menyatakan perasaanku padanya!"


"HAH?! BELUM?! KAU INI PRIA ATAU APA?! KUPIKIR DENGAN UNGKAPAN SEPERTI INI PADA IBUMU SENDIRI SUDAH MENYATAKAN PERASAAN PADA SESEORANG YANG KAU SUKA!"


"Itu karena Ibu langsung menceramahiku!"


"Hahahahahaha!" Nezra tertawa dengan senyuman di wajahnya, "sepertinya aku akan memiliki dua menantu." Ucapnya dengan senang.


"M-Menantu? A-Apa itu artinya Ibu merestui kami?!"


Duak!


"Tentu saja bodoh!" Jawab Nezra dengan kepalan yang mendarat di kepala Hyunji.


"Sakit! Mengapa Ibu memukulku?!"


Para pelayan hanya bisa menggelengkan kepala mereka yang melihat perdebatan kedua Ibu dan Anak itu.


...◇• •◇...


Sesuai dengan keputusan mereka sebelumnya, atau keputusan Lazel tepatnya.


Ia akan membujuk Ian dan membicarakan masalah ini dengan baik, walaupun dirinya sudah menduga bahwa apa yang akan terjadi ke depannya akan terlihat sulit.


"Ngomong-ngomong, apa Ian ada di rumah?"


"Tidak, dia masih berada di kampus."


"W-Wah... aku tidak menyangka dia akan menjadi salah satu Maha Siswa. Apa yang dia ambil?"


"Kedokteran."


"Bukankah itu impianmu waktu masih bersekolah?"


"Ya, setidaknya Ian bisa melakukannya demi diriku."


Saat ini mereka berada di dalam satu mobil yang sama dimana Lazel yang membawanya sendiri atas permintaannya. Jalanan terlihat begitu sangat luas dan juga bersih, cukup mengesankan jika Lazel begitu hafal dengan berbagai jalan di Tokyo.


"Jadi... kalau Ian belum pulang kau akan membawaku kemana?" Tanya Hyunji yang hanya bisa memperhatikan sekitar. Oleh karena itu Lazel menyarankan agar dirinya yang mengemudi.


"Tempat dimana aku bekerja."


"K-Kau bekerja?! Apa yang kau kerjakan?! Apa itu selalu membuatmu sering mimisan?!"


"KAU BERTANYA BANYAK SEKALI! BISAKAH DIAM UNTUK SEMENTARA?!"


"..............." pria itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan tidak akan berbicara apapun lagi.


Sebuah belokan dimana mereka akan berhenti disana. Sebuah butik yang pernah Hyunjae lihat.


Lazel langsung keluar dari mobil diikuti dengan Hyunjae yang tidak bersuara sama sekali.


Suara lonceng pintu terdengar.


"Selamat pagi~" sapaan Lazel membuat seluruh karyawan menoleh.


"Selamat pa-GIIII!!" Semua mata tertuju pada seorang pria yang mengenakan pakaian biasa dengan postur tubuh yang sangat mudah untuk dilihat.


"YANRA! SIAPA PRIA YANG ADA DI BELAKANGMU?!"

__ADS_1


__ADS_2