
Beberapa pertemuan sudah dihadiri, sedangkan rapat akan berjalan dua jam ke depan. Hyunjae menggunakan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan pekerjaannya yang baru saja berdatangan bersama dengan Leo.
"Hm... Tuan..."
"Ada apa?"
"Apa Anda baik-baik saja bekerja disana? Kurasa Anda telah melakukan hal yang sia-si-"
"Tidak apa. Selama itu berkaitan dengan La-"
"La??"
"L-Lupakan," Hyunjae hampir saja mengatakan apa yang tidak perlu ia katakan. "Sialan..." umpatnya dalam hati.
...◇• •◇...
"Terima kasih atas kerja samanya!"
Ruangan yang dikhususkan untuk rapat telah ditinggalkan satu persatu orang. Rapat baru saja usai, Hyunjae banyak berperan disini sebagai Ketua Perusahaan yang terkenal.
Akan tetapi... pertanyaan yang sama kembali terulang. Dimana mereka terus menanyakan tentang keberadaan Lazel. Sebagai seseorang yang memegang kekuasaan tertinggi, Hyunjae berusaha membuat alasan yang logis dan masuk akal, sehingga dapat dipercaya.
Mengatakan hal sebenarnya yang terjadi pada Lazel hanya akan memperburuk keadaan. Hyunjae berusaha untuk tidak membiarkan siapapun tahu, terkecuali beberapa bawahannya yang ditugaskan untuk mencari keberadaan dua orang tersebut.
...◇• •◇...
Tangan kanannya membuka pintu ruangannya sendiri dan lalu memasukinya dengan santai. Sebuah dinding yang terbuat dari kaca dapat memperlihatkan segalanya yang ada di luar sana.
Pria berjas hitam itu berjalan mendekati dinding yang membelakanginya saat duduk dan melihat ke bawah dengan tatapan yang biasa.
"Haah~ besok aku akan kembali bekerja di tempat itu," keluhnya dengan ekspresi menyedihkan. "Jean... apa aku harus memanggilnya Bibi Jean? Bukankah dia sudah mempunyai anak? Dan seorang..." Hyunjae tak melanjutkan ucapannya.
Ia kembali teringat pada cerita Jean mengenai kehidupannya yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Belum lagi dirinya memiliki seorang Putri yang kira-kira berumur tujuh tahun.
Hyunjae sedikit meletakkan rasa prihatin pada Jean yang harus melakukan semuanya sendirian tanpa seorang Suami. Ia juga mulai berpikir mendalam mengenai alasan Jean yang tidak ingin menikah kembali, dan itu mengingatkannya pada masalah yang terkait dengan Lazel.
Jean terus mengulangi ucapan yang sama, dimana dia mengkhawatirkan hubungan Hyunjae dan Lazel. Wanita itu bisa saja tidak akan menerima kembali dana tetap teguh pada keputusannya. Terima atau tidaknya, Lazel mungkin tidak berniat untuk ikut terseret dalam permasalahan Hyunjae. Itulah titik utama yang ia takutkan.
Siapa bilang hidup itu mudah? Tidak aja jalanan yang mulus tanpa berbatu. Sama seperti ujian dalam hidup.
...◇• •◇...
Rambut panjang peraknya terikat menjadi satu di belakang punggungnya. Wajah yang sama sekali tidak memiliki perubahan selalu membawakan kesan yang indah. Kedua iris mata yang begitu anggun membuat siapa saja luluh saat memandangnya.
"Kak, apa kau memiliki kegiatan untuk Festival Musim Panas?" Tanya Sang Adik yang muncul dari balik dinding dan mendapatkan Kakaknya tengah mengerjakan sesuatu.
"Entahlah."
"..............." keputusan Kakaknya untuk mengakhiri hubungan dengan mereka sudah sangat baik baginya, namun entah mengapa. Semakin ia lupakan semakin berat untuk menjalaninya. "Apa kau sedih?"
"Itu lebih baik daripada harus menerima paku yang sama." Ujar Kakaknya.
"Aku akan pergi membeli bahan makanan."
Hanya berdua di dalam rumah yang sama. Salah satu yang akan pergi membawa kesunyian. Bahkan ia tidak pernah berpikir jika akan mendapati hal yang seperti ini. Tapi apa boleh buat, ia sudah cukup lelah dengan semua masalah yang ada di rumah lamanya. Sedih atau tidak, dirinya harus bisa bertahan dan melupakan kilasa masa lalu.
...◇• •◇...
Drrt!
__ADS_1
"????" Sebuah panggilan masuk yang bertuliskan salah satu nama yang sangat dia kenal. Melihat namanya saja sudah membuat Hyunjae mengehela nafas panjang.
"A-"
^^^"Hei hei, kami sedang berkumpul di tempat biasa. Apa kau tidak mau ikut?"^^^
"Aku sedang bekerja. Dan kalian... ini bukan waktunya untuk istirahat."
^^^"E-Ehehehehe~"^^^
"Hentikan. Itu menjijikan." Hyunjae langsung memutuskan panggilan itu dan melanjutkan pekerjaannya.
Barusan ia mendapatkan panggilan dari Gyuu untuk mengajak dirinya berkumpul di tempat biasa. Sudah dapat terbaca jika disana sudah berkumpul para pasukan Anak Ayam yang selalu mendapatkan topik pembicaraan dengan mudah.
"????" Sebuah pesan masuk bersamaan dengan gambar.
"W-Waah!" Pria berkacamata itu terkejut sendiri setelah melihat apa yang ia lihat, "aku cukup tampan juga, bukan bukan. Bukankah aku memang tampan?" Ucapnya setelah mendapatkan pesan masuk dari Vicy yang mengirimkan sebuah foto yang berisi diri Hyunjae saat sesi pemotretan.
"Apa aku harus mencetaknya dan memperlihatkannya pada Lazel. Kalau begitu aku harus membuatnya dalam bentuk yang besar."
Hanya karena permasalahan kecil membuat pria itu meninggalkan ruangannya dan berlari ke luar.
Di sisi lain. Dimana teman-temannya berkumpul di sebuah tempat yang sama.
"AHAHAHAHAHAHA! Dia pasti akan merasa malu!" Ucap Gyuu sembari menggebrak meja dengan tangannya dan diiringi dengan tawa.
"Jujur saja, dia memang terlihat luar biasa disini." Ujar Kara.
"..............." Vicy tidak memberi komentar apapun dan hanya menatapi foto itu dengan datar.
Drrt!
"..............." setelah melihat apa yang ada di layar ponsel itu, tak satupun dari mereka yang beniat untuk memberikan komentar, selain...
"Oh, Bos mencetaknya dengan ukuran besar." Ujar Vicy yang melihat Hyunjae mengirim foto sebuah mesin pencetakkan.
...◇• •◇...
Sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh Jean yang berperan sebagai manager Hyunjae. Di hari berikutnya ia kembali hadir untuk melakukan sesi pemotretan yang kedua.
Beberapa staff yang bekerja di bagian pencetakan sudah menerbitkan beberapa majalah hasil kerja mereka di hari yang lalu. Hyunjae yang berperan sebagai model tambahan mendapatkan pencetakkan lebih dulu dan akan dilihat bagaimana hasilnya.
Saat ini Hyunjae tengah bersama dengan staff lainnya untuk menentukan pakaian yang akan dikenakannya sembari menunggu Jean kembali.
"Aku kembali~" seorang wanita muncul dengan wajah yang sedikit kelelahan. "Lihatlah." Jean melempar sebuah buku bergambar pada Hyunjae yang duduk manis menunggu pakaiannya.
"????" Pria itu membuka lembaran demi lembaran dan pada akhirnya mendapatkan beberapa bagian yang terisi dengan fotonya, "a-aku tidak terbiasa dengan ini." Ujar Hyunjae dengan wajah yang sedikit memerah.
"Kau malu? Itu tidak cocok denganmu." Sindir Jean yang memasang ekspresi mengejek.
"Jean, aku memilih ini." Ujar staff itu dengan menunjukkan beberapa pakaian yang akan dicoba oleh Hyunjae.
"Ohoo~ yang mana?"
"Tubuh besar serta warna kulit yang dia miliki cocok memakai apapun asalkan tidak lebih kecil atau ketat dari ukuran tubuhnya, jadi..."
Lima menit kemudian...
"Hyunjae, pakai ini." Sepasang setelan yang akan dikenakan Hyunjae dengan warna yang bagus dilihat.
__ADS_1
Hyunjae meletakkan majalah itu dan meraih pakaian itu, "kupikir kau akan meminta ku untuk bertelan-"
"Kau mau?"
"TIDAK!"
Pria bertubuh besar itu pergi dengan mulut yang terus mengoceh. Sembari menunggu Hyunjae berganti, Jean bersantai sejenak dan memperhatikan foto Hyunjae yang menciptakan banyak penghasilan.
"Bisnis adalah bisnis." Ucapnya dengan tatapan yang serius.
...◇• •◇...
Kedua mata mereka tidak bisa berpaling dari sosok yang berdiri di hadapan mereka. Tubuh besar dan tinggi itu mengenakan atasan berwarna biru tua, dan bawahan berwarna hitam. Bagian baju dimasukkan ke dalam celana dan melonggarkannya sedikit, pada bagian tertentu, mereka menambahkan rantai berukuran sedang pada pengait pinggang sehingga terlihat menawan.
Pakaian yang Hyunjae kenakan hampir sama dengan kaos biasa berlengan panjang, namun yang ini lebih tebal dan terdapat beberapa kancing di bagian dada.
Jean terus mengemis pada Hyunjae untuk memperlihatkan sedikit bagian dadanya agar menarik perhatian yang banyak. Lalu ia menambahkan kalung perak untuk menyamarkan bagian dadanya.
Dengan semua itu penampilan Hyunjae nampak luar biasa. Dari ujung kepala higga ujung kaki tidak ada yang cacat.
"A-Aku sedang melihat Bos kita sendiri bukan?" Ujar Kara yang tidak mempercayai apa yang dia lihat.
Gyuu terus bergetar saat melihat penampilan Hyunjae, "dia bukan Hyunjae yang ku kenal." Ucapnya dengan sedikit dendam.
Merasa terus menjadi sorotan utama, pria berambut hitam itupun mendatangi beberapa teman Lazel yang entah mengapa berada di tempat yang sama dengannya.
Kedua kakinya yang mengenakan sepatu besar berwarna hitam melangkah dengan pelan dan berhenti tepat di hadapan Vicy yang bertubuh mungil.
"Apa aku terlihat luar biasa?" Tanya Hyunjae pada seorang anak kecil di hadapannya.
"Hm." Vicy mengangguk dengan kecepatan super.
Kara menghadang Hyunjae dan Vicy, "jangan nodai anak kecil dengan penampilanmu itu!"
"Berhenti menyalahkanku!"
...◇• •◇...
Cahaya kilat dari sebuah kamera terus menyala. Saat ini Hyunjae tengah melakukan sesi pemotretan secara solo dengan bantuan beberapa staff yang bekerja di bagian pemotretan.
"Jika Hyunji ada disini pasti akan lebih seru." Keluh Kara yang duduk terkulai lemah di atas sebuah kursi yang dia dapatkan dengan perdebatan.
"Kau hanya ingin bersamanya bukan?" Sahut Vicy yang duduk manis di sampingnya dengan pandangan yang lurus menatap Hyunjae.
"T-Tidak! Itu adalah hoax!"
"Hebat bukan~ kami mendapatkan untung yang melimpah dengan adanya Hyunaje disini." Ucap Jean yang mendatangi tiga orang itu dan memberikan beberapa majalah pada mereka.
"Aku merasa jika beberapa orang yang memiliki masalah dengan Hyunjae tidak pernah memanggilnya dengan sebutan yang sopan." Ucap Kara yang mulai memikirkan hal itu.
"Oh, aku baru menyadarinya." Sahut Vicy.
"Itu karena sikapnya yang tidak perlu dihormati." Ujar Gyuu.
Pemotretan untuk kedua kalinya cukup bagus, atau lebih sempurna dibandingkan sebelumnya. Mereka yang datang dan berniat untuk memberi ejekan pada Hyunjae ujung-ujungnya merasa terpukau dengan ketampanan yang dimilikinya. Semua para staff atau anggota pemotretan sangat menghormati Hyunjae, begitupula sebaliknya. Pria bertubuh tinggi itu tidak henti-hentinya membungkukkan badan untuk menghormati orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Dia sedikit berubah," ucap Kara yang memasang wajah datar. "Meskipun begitu... sifatnya dari masa lalu terus terbayang. Dan aku masih tidak bisa menyangkal bagaimana Lazel mengatasi sifat buruknya."
"..............." semuanya terdiam setelah mendengar Kara yang berucap seperti itu. Hanya demi seorang wanita yang merupakan Istrinya, Hyunjae benar-benar berubah. Namun kekhawatiran mereka tidak akan berubah, sifat pria itu tunjukkan, apakah itu hanya angin lalu? Dan pada akhirnya akan mengulangi kesalahan yang sama?
__ADS_1
Mungkin mereka masih sulit untuk menerima maaf yang diucapkan Hyunjae, namun pria itu tidak pernah berharap untuk dimaafkan sebelum Lazel dan Ian memaafkannya terlebih dahulu.