
EMPAT BULAN KEMUDIAN...
Matahari sudah meninggi semenjak pagi tadi. Belakangan ini cuaca tidak begitu baik. Hujan dan panas terkadang berganti begitu saja. Beberapa orang merasa terganggu dan juga risih terhadap cuaca yang menyebabkan penyakit tersebut.
"T-Tuan... apa Anda baik-baik saja? Sepertinya-"
"Serahkan beberapa dokumen lainnya."
"B-Baik!"
Sekretaris itu terkejut dengan kerja keras yang diberikan oleh Direkturnya. Sejauh ini ia sudah mendengar kabar buruk mengenai Direktur dari Perusahaan Pietra Aplic Enterteiment, tak lain adalah Istri dari Hyunjae.
Menurut yang mereka dengar jika Nona Lazel memiliki beberapa urusan mendadak yang harus dilakukan sehingga harus vakum dari pekerjaannya. Hal itu sudah berjalan selama empat bulan berturut-turut.
"Apa Nona Lazel baik-baik saja?"
...◇• •◇...
Beberapa bodyguard yang berdiri di sisi mobil itu mempersilahkan Bosnya untuk memasuki kendaraan tersebut.
"Bos, hingga kini kami belum menemukan petunjuk mengenai Nona Lazel maupun Ian." Ujar supir tersebut yang merupakan salah satu dari bawahan terpercayanya.
"..............."
"Teruskan pencarian."
"Baik."
Meskipun waktu sudah berlalu begitu cepat, Hyunjae masih belum bisa melepaskan Lazel dari dalam pikirannya. Sebaliknya, ia akan melakukan apapun demi menemukan Lazel dan juga Ian.
Seharusnya saat ini ia terus merasa frustasi karena kehilangan sosok yang penting di dalam hidupnya. Namun ia mulai berpikir, tidak ada masalah yang akan selesai jika selalu mengandalkan emosi.
Pekerjaan juga merupakan bagian hidup yang harus ia pertahankan selagi mencari keberadaan Lazel dan Ian.
Hal ini memang baik di hadapan orang lain namun tidak dengan dirinya. Hari demi hari tanpa istirahat yang cukup, selalu mengandalkan beberapa minuman agar pikirannya tidak terbebani. Semua hal itu bisa saja mempengaruhi kesehatan atau mental Hyunjae.
Tapi apa yang bisa dilakukan lagi. Jika dirinya diam maka Lazel dan Ian tidak dapat ditemukan. Lagipula lelah yang dia alami tidak seperti lelah yang Lazel rasakan.
Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, dalam kondisi apapun. Hyunjae tidak pernah melonggarkan sedikit waktunya untuk bersantai selain secara tidak sengaja tertidur dalam pekerjaannya.
Selain itu... perusahaan yang seharusnya di tempati oleh seorang wanita yang bernama Lazel. Saat ini posisi wanita itu benar-benar kosong, bahkan para staf dan juga sekretaris Lazel harus selalu turun tangan pada setiap masalah. Terkadang Hyunjae mendatangi perusahaan tersebut sebagai pemilik sah yang sebenarnya.
Hyunjae berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan perasaan curiga mengenai Lazel dari para karyawannya.
Sejauh ini alasan yang dia berikan berjalan cukup baik. Semuanya pun mulai mempercayai jika Lazel memiliki sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan. Sosok sibuk seperti dirinya sangat mudah mengelabuhi pemikiran para pekerja.
...◇• •◇...
"..............."
Pandangan orang lain terhadapnya penuh dengan rasa hormat, kecuali untuk Vicy dan Gyuu. Kedua orang itu sudah cukup jauh mengetahui sisi buruk Hyunjae yang selalu bermain-main dengan wanita di luar sana.
Kepergian Lazel sudah memberikan alasan yang sangat jelas. Wanita berambut perak itu hanya berusaha menyelesaikan semuanya dengan cara melarikan diri, karena dirinya tahu, pengungkapan apapun tidak akan mengubah keadaan, apalagi mengenai keadaan hatinya yang harus terluka berkali-kali.
__ADS_1
"Harus kuakui... meskipun dirinya sangat buruk. Setelah melihat kerja kerasnya selama Nona tidak ada, hal itu membuat ucapannya sangat yakin untuk membawa Nona dan Ian kembali." Pikir Vicy.
"Hyunjae, aku menganggapmu sebagai saingan. Tapi... perbuatanmu itu diluar batas, sehingga aku tidak tahu harus membantumu menemukan Lazel atau tidak." Batin Gyuu.
Semua orang merasa dan berpendapat bahwa kepergian Lazel akan mengubah segalanya menjadi lebih baik. Namun ternyata tidak... banyak teman yang dia miliki terus merasa khawatir.
Kemana Lazel pergi? Mengapa dia pergi tanpa mengucapkan kalimat apapun pada temannya sendiri?
Hal itu merupakan bagian tersulit untuk dihadapi.
...◇• •◇...
Berbagai tempat telah dia lewati bersama dengan Lazel. Wanita bermulut kasar sepertinya memang sulit untuk dilupakan, belum lagi ciri-ciri yang begitu mencolok mengenai dirinya.
Rambut perak panjang yang indah, warna iris mata yang merah muda layaknya caramel. Serta pita kupu-kupu yang selalu menghiasi rambutnya.
Mengenang semua itu kembali membuatnya meneteskan air mata. Di bawah lampu jalanan yang berwarna putih serta langit yang menunjukkan beberapa bintang. Tangan kanannya memegang stir dengan kecepatan pelan, serta tangan yang lain terus mengusap wajahnya yang mulai kembali merasa frustasi.
"Lazel... apa kau memang tidak ingin kembali?"
"Jika tidak... lalu sampai kapan aku terus menangisimu..."
Mencintai seseorang yang tidak ada di sisinya begitu menyakitkan. Bahkan ia tidak mengetahui secuil informasi mengenai Lazel dan juga Ian. Kemana mereka pergi? Apa mereka baik-baik saja? Apakah Ian mudah untuk diatur? Apakah Lazel masih memiliki nafsu makan yang banyak seperti dulu?
Cukup banyak yang dia ketahui mengenai Lazel, namun rasa egoisnya membuat wanita itu pergi dari sisinya.
Untuk saat ini Lazel belum memutuskan ikatan pernikahan dengan Hyunjae. Karena ia merasa bahwa tidak ada gunanya melakukan atau meneruskan hubungan yang tidak masuk akal. Bahkan tanpa dirinya sendiri, ia tahu jika Hyunjae bisa melakukan apapun, termasuk berpisah.
Namun Hyunjae tidak pernah berpikir untuk melepaskan Lazel meskipun wanita itu entah berada dimana.
Cincin atau apapun itu, Hyunjae tidak memikirkan lainnya selain membawa Lazel dan Ian kembali.
...◇• •◇...
Pagar besar itu terbuka dengan lebar dan menampakkan dua buah Villa besar dengan Rumah Kaca yang membatasi keduanya.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan kediaman yang dulu Lazel tempati.
Rasa sunyi mengusik kedua telinganya. Pintu yang menciptakan suara saat membukanya tidak mendapatkan kalimat 'selamat datang' dari penghuni rumah tersebut. Yang dia rasakan hanyalah hampa.
Kedua kakinya melangkah dengan berat, lalu seekor hewan kecil mendatanginya dan menggesekkan tubuhnya pada kaki Hyunjae.
"Miaaw~"
"Gilver." Lirihnya.
Kucing yang pernah Lazel bawa dari suatu tempat, dan hingga saat ini mendapatkan perawatan lengkap darinya. Tapi... setelah Lazel menghilang, Hyunjae lah yang memutuskan untuk merawatnya.
Jujur saja... hanya melihat Gilver sangat menenangkan baginya. Warna bulu yang dimilikinya sangat serupa dengan rambut Lazel. Bahkan berapa kali dirinya salah sangka pada Gilver yang dia kira adalah Lazel.
Tanpa sadar senyuman menyedihkan itu tercipta.
Seisi rumah yang dulu penuh dengan bising teriakan Lazel yang menonton televisi atau sedang berdebat dengan Gilver. Saat ini sama sekali tidak ada apapun.
__ADS_1
Ia mengangkat Gilver ke dalam pelukannya dan berjalan menuju Ruang Tengah. Dimana ruangan tersebut selalu menjadi tempat favorit untuk bertengkar satu sama lain.
Ia meletakkan Gilver di atas sofa lalu menaiki tangga yang dapat menemukan sebuah kamar yang dulunya adalah kamar Lazel. Namun terkadang Hyunjae terus mengikuti wanita itu pergi hingga berbagi ranjang bersama.
Karena sudah melewati beberapa upacara saat menikah. Keduanya pun tidak mempermasalahkan hal itu. Meskipun Lazel tahu jika Hyunjae selalu bermain dengan wanita lain di luar sana.
Cklek!
Di balik sebuah pintu, terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Ranjang besar terletak di bagian tengah yang menempel pada dinding. Beberapa lemari mini penuh dengan boneka-boneka pemberiannya untuk Lazel.
"Rumah besar seperti ini akan tetap terasa sunyi tanpamu, Lazel..."
"Aku tidak tahu apa yang saat ini kau rasakan. Tapi, aku sulit hidup jika seperti ini,"
"Aktivitas yang kulakukan selalu sama di setiap harinya, dan itu terasa amat berat tanpamu,"
"Bertengkar denganmu sudah menjadi ritual rumah ini."
...◇• •◇...
"Ibu, kau belum tidur?" Ucap Hyunji yang menoleh ke bawah tangga dan menemukan sosok wanita dengan pakaian yang masih lengkap.
"Hyunji..."
Nezra yang mendapatkan Putranya yang menghampiri dirinya tiba-tiba menangis tanpa bersuara.
"..............." ia tidak perlu mendengar apapun, karena perasaan Ibunya sangat tidak stabil.
Ia memeluk Nezra yang terus terisak dalam tangisan kecilnya. Malam yang sangat larut masih membuat Nezra terjaga karena rasa khawatirnya pada kedua anak yang saat ini sudah dia anggap sebagai anak kandung sendiri.
Hyunjae sudah berbuat sangat jauh, sehingga Ibunya tidak mampu berbuat apapun lagi. Adam yang menjadi bagian hal ini tidak ingin berkomentar dan diam-diam terus mencari keberadaan Lazel dan Ian. Sebenarnya hal ini tidak perlu di pikirkan lagi, karena Hyunji sudah menduga bagaimana reaksi Ibunya saat mendengar rahasia Hyunjae. Dan ternyata lebih buruk dari apa yang dia bayangkan.
Hyunji ikut duduk di samping Ibunya dan menatap beliau dengan lekat, "ada yang ingin ku bicarakan dengan Ibu."
Hyunji menarik napas secara perlahan, "aku akan membantu Hyunjae mencari keberadaan Lazel dan Ian."
Mendengar hal itu dari Putra tertuanya membuat Nezra terkejut.
"Ibu, saat ini yang perlu kita hadapi adalah Lazel dan Ian. Mereka saat ini sangat jauh dari pandangan kita, mereka hidup tanpa seorang Ayah dan Ibu,"
"Lazel yang sudah beranjak dewasa, bahkan sudah menikah belum tentu bisa melepaskan rasa sakitnya dari masa lalu,"
"Kematian Wonhae, lalu disusul dengan Ibunya, dan seluruh keluarganya masuk ke penjara karena terlibat dengan hal itu. Apa Ibu tidak memikirkan bagaimana perasaan Lazel?"
Lazel memiliki keluarga yang buruk. Mereka pecah begitu saja hanya karena reputasi belaka yang tidak berguna. Tidak ada yang bisa diandalkan selain kedua Adik Kakak tersebut.
"Lalu apa yang harus ku lakukan? Membawa Lazel dan Ian kembali? Jika kembalinya mereka hanya membuat keadaan semakin memburuk bagaimana aku bisa mengatasinya?" Kini Nezra berbicara secara terbuka dengan Hyunji mengenai keluh kesahnya.
"Lazel adalah anak yang baik, begitupula dengan Ian. Tapi aku tidak ingin membuat mereka kembali,"
"Akan lebih baik-"
"Ibu... tanpa sadar kedua pasangan yang buruk itu mulai mengasihi satu sama lain," kini Hyunji mulai memberi sebuah pencerahan untuk Ibunya. "Hyunjae sama sekali tidak pernah dalam fase terbaiknya, bahkan setiap tindakan yang dia lakukan bisa saja membuatnya rubuh."
__ADS_1
"Sedangkan Lazel...wanita itu harus terus terlihat tegar demi Adiknya. Karena memang tidak ada orang lain yang harus dia lindungi selain Ian, padahal masalah yang menimpa dirinya berusaha untuk memutuskan semangat hidupnya."
"Bagaimanapun juga... aku akan memutuskan untuk mencari keberadaan Lazel dan Ian."