Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Kembali]


__ADS_3

Pesawat dengan merek Pietra itu sudah berada di atas aspal dan melaju dengan sangat cepat. Hyunjae sudah mempersiapkan beberapa barangnya dan juga barang Lazel. Saat ini wanita itu tengah membangunkan Adiknya yang tertidur.


Untuk beberapa saat ke depan, pesawat pun berhenti bergerak dan seorang Marshaller atau Juru Parkir Pesawat sudah membuat aba-aba sebagai arah untuk pesawat itu terparkir.


"Iaaaan, bangunlah, kita sudah tiba." Ujar Lazel dengan pelan sehingga Adiknya mau terbangun.


"Hm..." pria berjaket abu-abu dengan selimut tebal iru akhirnya terbangun dan melihat Kakaknya yang ada di hadapannya.


Ia mengusap kepala Adiknya layaknya anak kecil, "kau lelah? Maaf, seharusnya aku membiarkanmu istirahat dalam sehari." Ucapnya dengan khawatir.


"Tidak apa." Ujar Ian dengan wajah yang terlihat kusut dan juga kedua matanya yang memerah.


Para petugas pun sudah melakukan tugas mereka, sehingga pintu pesawat terbuka lebar, ketiga orang itupun akhirnya menunjukkan dirinya dibalik pintu itu.


"Aku akan memesan hotel untuk saat ini." Ujar Hyunjae yang langsung melakukan sesuatu.


"Kak, apa kau baik-baik saja?"


"Hm? Memangnya kenapa?"


"Tidak apa..."


"Anak ini selalu bicara yang tidak-tidak saat tertidur."


...◇• •◇...


Saat ini mereka sudah di dalam mobil untuk perjalanan selanjutnya menuju hotel. Pergi menuju kediaman mereka cukup jauh, jadi setidaknya mereka akan menginap di hotel.


Pesawat itu seharusnya terletak di lapangan, dimana letaknya bersebelahan dengan Kediaman utama Pietra. Namun saat ini Hyunjae akan membawanya ke bandara utama, agar tidak membuat keributan sehingga mereka mengetahui keberadaan Lazel dan Ian begitu cepat.


Keputusannya untuk membawa Ian dengan terburu-buru memang salah, pria itu selalu nampak kelelahan jika harus melakukan aktivitas tanpa beristirahat. Awalnya Lazel berniat untuk pergi setelah Ian beristirahat satu hari di liburan pertamanya. Namun dengan mendadak Lazel memutuskan untuk kembali begitu saja.


Akibat ulahnya itu, Ian kembali tertidur di kursi belakang. Padahal mereka baru saja tiba.


"Haha~ lama tidak berjumpa Nona Lazel. Jika Anda lelah sebaiknya Anda beristirahat sejenak." Ujar supir itu dengan ramah yang sangat mengenal Lazel dengan baik.


"Haha tidak apa, aku baik-baik saja."


Bruk!


"????" Lazel menoleh ke samping dan melihat Hyunjae yang sudah tumbang setelah Ian, "dia tertidur?" 


"Sialan... jangan gunakan pundakku sebagai bantal...mu." Pada akhirnya ia pasrah.


Ian kelelahan karena tidak mendapatkan istirahat dalam seharian, sedangkan Hyunjae tidak ada henti-hentinya bergerak atau bekerja. Lagipula karena Hyunjae lah semua persiapan ini begitu tepat. Jadi sudah sewajarnya pria itu akan tumbang.


Yang tersisa hanyalah Lazel, wanita itu sama sekali tidak kelihatan lelah sama sekali. Padahal perjalanan saat ini sangatlah jauh.


...◇• •◇...


"Baiklah anak-anak, saatnya kalian bangun." Ujar Lazel.


Ian sudah mulai begerak dengan panggilan pertama Kakaknya, sama halnya seperti Hyunjae.


"Aku ketiduran." Ujar Hyunjae yang belum bisa membuka kedua matanya.


Lazel yang masih menjadi bantalnya bukannya melepaskan wanita itu, melainkan memeluknya layaknya guling.


Duak!


"Bangun!"


...◇• •◇...


Sebuah hotel yang memang tidak terlalu jauh dengan bandara, untuk saat ini mereka akan beristirahat disana.


Karena panggilan Hyunjae sebelumnya, hotel yang mereka datangi di pagi buta masih terbuka lebar dan masih memberikan pelayanan pada mereka bertiga.

__ADS_1


Hyunjae yang masih berjalan cukup sulit pada akhirnya Lazel yang akan memesan kamar sendiri.


"Kak, siapkan aku ruangan sendiri." Ujar Ian yang menghampiri Kakaknya.


"Tidak tidak, kau harus bersamaku."


"Aku sudah besar, lagipula aku sudah memiliki privasiku sendiri." Ujar Adiknya dengan kesal.


"Haah... baiklah."


Di sela-sela perdebatan kecil di antara Kakak dan Adik, Hyunjae masih tidak bisa menahan degup jantungnya. Sungguh tidak dia sangka jika akan tertidur di pundak Lazel, wanita itu bahkan tidak berniat untuk membangunkannya dan tetap membiarkannya tertidur disana. Ditambah dengan adegan baru-baru ini, awalnya ia bermimpi atau menduga bahwa sedang tertidur pulas di aats kasur, oleh karena itu tanpa sadar dirinya membutuhkan sesuatu untuk dipeluk, pada akhirnya ia melakukan sesuatu yang tak terduga, sehingga mendapat pukulan telak dari Lazel.


Kamar yang Lazel pesan ada di lantai lima, setelah melewati lorong dan lift akhirnya mereka tiba. Dengan kecepatan kilat Ian memasuki kamarnya dan membanting kopernya sehingga terdengar dari luar.


"D-Dia pasti sangat mengantuk." Ujar Lazel.


Cklek!


"Ayo Lazel." Ujar Hyunjae yang sudah membuka pintu kamar.


"Astaga!" Ucap Lazel dengan wajah yang sangat panik.


"A-Ada apa?! Apa ada yang kau lupakan?!" Justru Hyunjae lah yang lebih panik darinya.


"Aku lupa jika aku hanya memesan dua kamar! Seharusnya-"


Tanpa menunggu Lazel mengucapkan begitu banyak kalimat, Hyunjae pun langsung menariknya ke dalam.


Lazel terdiam dengan posisi berdiri menatap kesal ke arah Hyunjae yang sudah melonggarkan seluruh pakaiannya, "apa maksudmu menarikku begitu saja?"


"Shh! Lebih baik kau tidur, aku juga sudah sangat lelah." Ujarnya dengan wajah yang terlihat kelelahan.


Rasa lelahnya mulai terasa disaat memasuki sebuah ruangan yang nyaman seperti ruangan yang saat ini mereka tempati.


Lazel yang berjalan memasuki ke bagian ranjang langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja. Rambutr-rambut peraknya bertebaran ke sembarang arah. Hanya beberapa detik wanita itu sudah menutup kedua matanya dan mulai mengeluarkan lahar dari mulutnya.


Hyunjae yang mendatanginya tersenyum kecil, "sepertinya kami bertiga memang kelelahan."


...◇• •◇...


"!!!!" Kedua matanya terbuka lebar dan terbangun dari tidurnya, "gawat! Aku ingin buang air kecil."


Dengan langkah yang gesit dan juga terburu-buru, akhirnya Lazel berlari layaknya rosi.


Beberapa menit kemudian, akhirnya ia merasa lega dengan pencernaan di pagi buta.


Hal itu membuktikan bahwa ia tertidur belum cukup lama. Di tengah-tengah pikiran yang masih ruyam dan mengantuk, ia menyadari sesuatu jika ternyata Hyunjae tidak berada di satu ranjang dengannya.


"Di mana dia tertidur?"


Nuansa hotel itu adalah putih, sehingga apapun yang dia lihat hampir memiliki warna yang sama


Sebuah sofa berukuran besar itu akhirnya ia temukan sosok yang menempatinya, "mengapa dia tidur disini? Bukankah... tidak, dia tidak akan kubiarkan untuk tidur bersamaku." Gelengnya.


Hyunjae terbiasa untuk tertidur tanpa busana atas dan membiarkannya terbuka begitu saja. Lantas Lazel yang melihatnya tidak begitu terkejut karena memang seperti ini gaya pria itu tertidur.


"..............." tanpa berpikir panjang, wanita dengan rambut perak itu berlari dan meraih selimut lain yang ada di atas meja dan mengenakannya pada Hyunjae.


Kondisi ruangan cukup gelap, hanya sinar malam yang menjadi penerang.


"Baiklah~ saatnya kembali tidur." Ucapnya dengan menguap.


Tanpa dia sadari, meskipun dirinya jahat. Perasaannya terhadap sesuatu mungkin tidak akan pernah berubah.


...◇• •◇...


Hanya satu gerakan lagi, mungkin dia akan menghantam lantai.

__ADS_1


Pria yang mengenakan kaos itu hampir tidak bisa berkata-kata saat membiarkan wanita itu tidur sendiri di atas ranjang. Hal seperti itu memang kebiasaan Lazel jika tidur.


"Memiliki ranjang besar atau kecil tidak ada bedanya bagimu. Sepertinya kasur lebar hanya akan menunda dirimu jatuh, wanita yang beruntung." Sindir Hyunjae.


Ia segera memperbaiki posisi tidur Lazel agar menjadi sedikit ke tengah.


"Terima kasih untuk selimutnya, tapi..." seketika wajahnya sedikit ruyam untuk diperlihatkan. "Setidaknya aku berharap jika kau tidak melihat apapun pada saat itu." Ucapnya dengan nada kecil.


Lazel masih memejamkan kedua matanya dan mengubah posisi tidurnya menjadi telentang.


"Baiklah, aku akan memesan makanan." Ia meninggalkan Lazel dan segera memesan makanan.


...◇• •◇...


Kecerahan langit sudah dapat terlihat jauh, meskipun si Jepang merupakan Musim Panas, disini pun sama. Rasa dingin hanya mereka rasakan di pagi buta, bahkan matahari yang baru muncul saja sudah membuat gerah.


"..............." samar-samar ia membuka kedua matanya dan segera mengambil posisi duduk. Wajah yang kusut, pandangan yang ling lung. Hal itu terjadi pada Lazel yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Namun sebelum itu ia memperbaiki branya yang mengarah ke posisi lain karena posisi tidurnya yang mungkin sedikit liar.


"Aku lapar..."


Tanpa sadar seseorang dengan kedua lengan besarnya menghampiri dirinya.


"Oh, baru saja aku ingin membangunkanmu," ujar Hyunjae. "Ayo makan." Ajaknya.


"Hm!" Angguknya.


...◇• •◇...


Di tengah-tengah sarapan paginya. Lazel langsung melakukannya begitu saja tanp merapikan rambutnya terlebih dahulu. Hyunjae yang sudah selesai lebih dulu langsung merapikan rambut panjang Istrinya.


"Hm... kira-kia saat aku punya anak nanti, apa dia akan mengikuti rambut Ibunya? Ataukah rambutku?" Tanya Hyunjae yang mendapat kebingungan.


"Ha?? Tentu saja rambut dan juga wajahmu. Lagipula aku sudah punya Ian yang meng-copy paste wajahku." Jawabnya tanpa sadar.


"Oh, apa kau benar-benar ingin punya anak?" Tanya Hyunjae yang sedikit terpukau karena tanggapan dari Lazel.


"Ka-" ucapannya terputus. Merasa seperti di hipnotis sehingga ia sama sekali tidak mengedipkan kedua matanya.


Lazel berbalik ke belakang dan meraih rambutnya sendiri dari Hyunjae dengan kasar, "dasar sialan! Topik apa yang kau bahas di pagi ini?!"


"Ahahahahhaha! Aku tidak menyangka jika kau akan sejujur itu," tawa Hyunjae. "Lagipula bukankah kau sudah mengatakannya jika anak kita nanti rambutnya berwarna sepertiku?" Ucapnya dengan wajah yang sedikit menggoda.


"Tidak! Itu merepotkan!" Lazel kembali pada posisi sebelumnya, "anak? Lagipula aku tidak bisa hamil."


"Oh! Apa aku harus memanggil Ian?"


"Tidak perlu, lagipula kau harus mendobrak pintunya baru dia akan terbangun."


"O-Oh..."


...◇• •◇...


Pagi hari yang cerah, dimana ia dapat melihat semuanya kembali. Sungguh tak masuk akal, dirinya sudah berusaha untuk berlari, namun pada akhirnya tetap berakhir di titik awal. Sungguh peristiwa yang aneh.


"Hyunjae, apa kau bisa memesankan sebuah jas untukku? Lengkap dengan almamater lainnya." Ujar Lazel pada Hyunjae yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Untuk?"


"Cepat lakukan."


"Baik Sayang." Dengan gesit Hyunjae bangkit dari ranjang putih itu.


"Hm bagus, ce-APA YANG BARUSAN KAU  UCAPKAN?!"


Brak!

__ADS_1


Sebelum mendapatkan amukan lebih parah, Hyunjae memutuskan untuk cepat pergi dari sana.


Entah rencana apa yang akan Lazel lakukan di pagi hari seperti ini. Dari wajahnya saja ia sudah yakin jika akan ada sesuatu yang menarik menanti semua orang.


__ADS_2