
Ia merebahkan tubuhnya yang tepat di samping Lazel. Satu hal yang tidak dia sangka adalah, bagaimana bisa mereka bisa satu pikiran? Bukankah sedikit aneh? Dan lebih anehnya Lazel harus menguras otak demi hal ini dan terus terdiam. Jika memang dirinya tidak peduli atau sama sekali tidak tertarik pada apapun, wanita itu pasti akan berterus terang dan tetap memihak pada keputusannya sendiri.
Namun apa yang Hyunjae pikirankan sama sekali tidak terjadi. Justru sebaliknya, Lazel khawatir jika perjanjian itu mendapatkan kesepakatan terakhir dan membuat mereka akan tinggal disana.
"Sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama..."
Lazel menolehkan wajahnya.
"Sepertinya kau tidak akan suka tinggal disana, a-"
"Hm! Aku tidak suka tinggal disana," sela Lazel dengan anggukan kepalanya yang cepat. "M-Maksudku bisa. Aku tidak keberatan." Sambungnya dengan semburat merah di wajahnya.
Sepertinya keajaiban benar-benar terjadi dan akan memihak pada dirinya. Tanpa wanita itu sadari, Hyunjae terlebih dulu menyadarinya, dan hal itu membuatnya merasa senang bukan main.
Namun ia tidak akan gegabah. Setidaknya ia akan membuat Lazel akan jujur pada dirinya sendiri tanpa ada penekanan darinya.
"Baiklah! Sudah ku putuskan," Hyunjae membangkitkan tubuhnya. "Aku akan pindah kesana."
"H-Ha? Jadi kita- ti-tidak... lupakan." Entah mengapa belakangan ini Lazel terlalu bodoh untuk mengendalikan dirinya sendiri.
"Lalu... aku akan mengatakan hal yang sebenarnya padamu." Ucap Hyunjae yang berdiri dari duduknya dan berdiri di hadapan Lazel yang masih dalam posisi duduk.
"????"
Pria berambut hitam itu terlebih dahulu mengusapkan rambutnya ke belakang lalu kedua tangannya mulai meraih baju bawahnya dan akan ia tarik ke atas.
"Tu-Tunggu! Apa yang kau lakukan! Jangan-"
"Kau melihatnya bukan?" Tubuh atas Hyunjae benar-benar tidak tertutupi sehelai kain.
"T-Tidak."
Melihat tingkah laku Lazel yang dikenal sebagai wanita yang menyeramkan ternyata masih memiliki rasa malu. Hal itu membuat Hyunjae tidak bisa menahan rona merah di wajahnya dan juga senyuman tampannya pada Lazel.
Tangannya perlahan membantu Lazel yang menutupi wajahnya agar tidak melihat apapun yang ada di hadapannya, "tenang, bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Aku tidak akan melewati batas sampai kau memberikanku izin atas kewajiban itu."
Ya... Hyunjae memang mengatakan hal itu secara berulang kali pada Lazel agar memastikan wanita itu merasa nyaman bersama dirinya.
Karena terus mendapat bujukan halus dari Hyunjae. Wanita berkaos hitam itu pada akhirnya menuruti permintaan Hyunjae dan akan membuka kedua matanya.
"Sebenarnya aku ingin terus menutupinya hingga kau mau melakukan kewajibanmu untukku, tapi... aku juga tidak bisa terus membohongi dirimu."
"!!!!" Bagaikan memori yang memaksa masuk pada pikirannya. Apa yang dia lihat adalah sebuah masa lalu yang sangat ingin dia lupakan.
Dengan gemetar, tangan kanannya berusaha meraba luka itu. Luka yang berada di bawah perutnya.
"I-Ini..." tanpa ia sadari, tetesan air mata mulai membasahi kedua pipinya. "Ini... bukankah ini..." Lazel tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, sebuah luka yang berada di masa lalu, sebuah luka akibat perbuatannya sendiri.
Lazel menutup mulutnya dan berusaha menahan tangisnya.
"Ini sudah cukup lama... jadi kau tidak perlu kha-"
"Bagaimana bisa kau menyembunyikannya..." lirih Lazel dengan suaranya yang pelan. "Tusukan itu disebabkan olehku." Sambungnya dengan kedua tangan yang memegang kepalanya seperti depresi.
"..............."
Siapa sangka Lazel akan bereaksi seperti ini. Hyunjae meraih kepala Lazel lalu ia bawa ke dalam pelukannya dan membiarkan wanita itu menangis sepuasnya.
"Mengapa ada jahitan disana... mengapa saat itu kau tidak mengatakan apapun padaku... jika seperti ini kau membuat diriku merasa lebih bersalah."
"Bersalah? Lagipula aku tidak akan mati hanya kerena luka sekecil ini."
Lazel benar-benar kembali sejenak ke masa lalu. Dimana dirinya pernah berniat menyakiti salah satu anggota keluarga besarnya karena terlibat dengan kematian Wonhae. Ia melakukannya tanpa pikir panjang dan membuat Hyunjae menggunakan dirinya sebagai tameng dan melindungi Istrinya dari berbagai macam tuduhan yang tidak berguna.
__ADS_1
Kejadian saat itu juga membuat Lazel hilang kendali dan mengalami kecelakaan.
Kini Lazel mulai perlahan menyadari kesalahannya, kekeliruannya di masa lalu. Dimana dirinya pernah tak sadarkan diri namun Hyunjae selalu berusaha ada di sisinya.
Dirinya yang terus mendapatkan perawatan lengkap. Sedangkan Hyunjae harus menahan sakitnya tusukan yang dia berikan.
Apa yang dialami Lazel tidak begitu serius dibandingkan apa yang dialami Hyunjae. Pecahan pada beling sama sekali tidak beraturan, sehingga akibatnya juga fatal. Itu adalah salah satu pola pikiran Lazel yang sangat egois.
Selalu merasa dirinya yang paling tersiksa tanpa melihat wajah dibalik orang lain yang berusaha menenangkan hatinya.
Pada hari itu Lazel benar-benar tidak dapat memaafkan perbuataannya pada Hyunjae. Luka yang dia berikan bukanlah luka ringan. Bahkan dengan jelas ia dapat melihat bekas jahitannya.
Jika dirinya tidak akan pernah tahu, perlakuan serta tindakannya pada Hyunjae akan jauh lebih menyakitkan.
...◇• •◇...
"Haah... sepertinya dia mulai hobi tertidur."
Ia mengangkat tubuh cantik itu ke tengah ranjang. Tanpa melakukan apapun lagi. Hyunjae segera membuat dirinya berbaring di hadapan wanita itu.
Sekarang suasana kamar cukup gelap, yang menjadi penerang hanyalah cahaya rembulan dan cahaya dari lampu luar.
Entah mengapa rasanya ia membuat Lazel merasa bersalah atas luka itu. Hyunjae juga tidak berniat untuk memperlihatkannya sekarang, namun kondisi tadi memaksanya untuk memberitahu Lazel. Namun berkesan seperti seolah-olah menyalahkan Lazel atas semua yang terjadi.
Ia dapat membayangkan bagaimana wajah menyesal Lazel terhadap luka yang Hyunjae alami. Lagipula yang Hyunjae inginkan hanyalah hati wanita itu, jika seperti ini kesannya malah menjijikan.
Hal ini juga menjadi sebuah penyesalan terbesar bagi Hyunjae karena memberitahu Lazel di waktu yang belum tepat.
...◇• •◇...
Meskipun rasa curiga dan rasa penasarannya tidak memiliki alasan yang akurat. Dirinya masih tidak menyangka jika tangannya pernah membuat seseorang seperti itu. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melakukan sesuatu yang kejam seperti itu.
Dan kini... Hyunjae yang selalu berusaha menutupi dirinya dari Lazel ternyata memiliki alasan lain, yaitu demi menutupi apa yang telah berlalu.
Siapa sangka jika dirinya akan terbangun selarut ini. Pukul dua malam dimana tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah.
Pria berambut hitam itu tengah tertidur dengan pulas. Tangannya terbentang panjang ke arah Lazel, sedangkan satunya menyilang di hadapannya.
Ia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Hyunjae saat ini, ataupun apa yang dia rasakan. Lekukan tubuhnya sangat terlihat jelas karena dilatar belakangi dengan cahaya dari luar. Sejauh ini dirinya tidak pernah memperhatikan Hyunjae dengan deail. Tanpa ia sadari, pria itu memiliki tubuh yang sangat besar, bahkan kedua lengan yang dimilikinya melebihi kedua lengan Lazel.
Wanita berambut perak itu meletakkan bantalnya lebih rendah atau tepat di bawah lengan Hyunjae yang terjulur panjang. Selimut ia kenakan sebagai guling tanpa mengenakannya.
Malam masih cukup lama, oleh karena itu Lazel memutuskan untuk kembali tidur dan sedikit merapat pada Hyunjae. Perihal jendela yang terbuka di malam hari sudah cukup membuatnya trauma.
...◇• •◇...
Dan di pagi hari tanpa matahari. Ia berdiri di pinggir ranjang sembari menatap pria itu yang masih tertidur.
"Kenapa harus aku lagi yang terbangun lebih dulu?" Pikirnya.
Saat ini Lazel berencana akan mengukur tubuh Hyunjae karena waktu pemesanan baju tinggal hari ini. Mau tak mau Lazel harus membangunkan Hyunaje terlebih dahulu.
Akan tetapi... apa yang dia lihat tadi malam masih membayangi pikirannya. Tusukan karena pecahan botol kaca itu masih terlihat jelas dengan bekas-bekas jahitan yang terletak di bawah perutnya.
Lampu sudah menerangi kamar itu, Lazel berharap bahwa Hyunjae akan terbangun sendiri karena cahaya lampu. Namun ternyata tidak.
"Haah... aku harus membangunkannya, jika tidak Ibu pasti akan marah." Keluhnya pelan.
Kedua tangannya yang tertutupi oleh pakaiannya mencoba memegang lengan besar Hyunjae yang tidak tertutupi oleh apapun. Bukan hanya itu, belum menyetuhnya saja sudah membuat kedua tangannya bergetar.
Tap!
Tangannya tidak sesuai rencana. Bukannya menyentuh lengannya, wanita itu justru meletakkan tangannya pada dahi Hyunjae.
__ADS_1
"Bangun," ucapnya dengan nada yang datar. "Dulu waktu kecil cara Ibu membangunkanku seperti ini."
"Hm?" Tubuhnya yang awalnya menghadap ke arah lain seketika berbalik dan menghadap ke arah Lazel yang berdiri di samping ranjang.
"Bangunlah, aku harus mengukur tubuhmu." Ucapnya lagi.
Kedua matanya masih terlihat memerah, tangannya mulai bergerak mengusap wajahnya dan juga melakukan peregangan disaat ingin beranjak dari ranjang.
"Jam berapa ini?" Tanya Hyunjae yang masih dalam proses pengumpulan nyawa.
"Basuh wajahmu lalu kembali kesini." Ujarnya.
"Hm."
Jujur saja, Lazel sempat bergidik ngeri pada badan yang dimiliki Hyunjae. Pria itu menggerakkan kedua tangannya sehingga penekanan terhadap uratnya semakin terlihat jelas, belum lagi tengkuk leher, punggung dan perut yang terbentuk dengan sempurna.
...◇• •◇...
"T-Tanganmu besar sekali." Ucap Lazel yang benar-benar akan memegangnya.
"Hm? Bukankah bagus. Kau juga akan puas jika merasakannya." Jawab Hyunjae yang berdiri sesuai dengan permintaan Lazel.
"!!!!"
"Hm?" Hyunjae kini mendapatkan reaksi aneh dari Lazel. Padahal baru saja ia memberi godaan pada Istrinya, namun wanita itu sama sekali tidak membatah atau memberi perlawanan apapun selain rasa malu yang terlihat jelas di wajahnya.
Lazel mulai mengukurnya dengan pelan-pelan dan teliti, tak lupa untuk mencatatnya dengan jelas. Setelah itu ia akan menyerahkannya pada penata busana.
Ia memperhatikan Istrinya yang terus meraba anggota tubuhnya untuk mengukur besar pada tubuhnya, "Lazel." Panggilnya
"Hm?" Wanita beriris merah muda itu hanya menyahut tanpa menoleh.
"Cium aku."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Bodoh, jika aku mengizinkannya apa kau juga akan menanyakan alasannya?"
"Tidak, jadi apa boleh?"
"Tentu saja tidak! Dan diamlah sejenak!"
"..............."
Setelah beberapa anggota badan telah terukur. Terakhir adalah pelebaran tubuh yang dia miliki.
"T-Tubuhmu lagi." Ucapnya dengan wajah yang sedikit gugup.
"Haaah... rasanya enak sekali jika harus seperti ini setiap-"
Buak!
"Bisakah kau diam?" Ucap Lazel yang terus merasa emosi.
"B-Baik sayang."
Lazel menggogit pengukur itu di giginya dan memerintahkan Hyunjae untuk merentangkan kedua tangannya.
Tap!
Hyunjae meraih tangan Lazel lalu ia letakkan pada perut seksinya sambil menyeringai, "hei, apa tubuhku terlihat luar biasa?" Tanya Hyunjae dengan wajah yang penuh hasrat.
__ADS_1