
Sebuah cermin memperlihatkan bagaimana kondisi dirinya. Wajahnya masih cantik seperti kemarin dan kemarin. Tidak ada yang berubah dari dirinya selain perasaannya. Apa yang dia lihat tadi malam, selalu ia harapkan menjadi mimpi buruk.
Meskipun berniat baik, namun tindakan Hyunjae hampir sempurna membuat Lazel jatuh ke dalamnya. Bagaikan debu yang tertiup angin, begitulah perasaannya yang sesungguhnya. Sulit terucap namun terukir jelas di dalam pikiran dan juga hati.
Drrt!!
Tatapannya menoleh pada ponsel yang ada di atas meja.
"..............." seperti tuli, ia tidak menanggapi panggilan itu.
Ia yakin bahwa kebaikan itu bukanlah segalanya. Terkadang juga perasaan baik itu terlalu jauh sehingga membuat seseorang yang merasakannya ikut terbang lalu terjatuh karena sebuah kenyataan.
Nomor asing yang sering digunakan di Luar Negeri, hotel, serta kondisi Hyunjae yang seharusnya tidak boleh dia lihat. Semua itu adalah penyesalan di dalam hidupnya.
Usai bersiap, Lazel sudah memastikan semuanya secara langsung. Yaitu akan menyelesaikan semuanya dengan cepat lalu kembali pada kehidupan yang dulu. Dan mulai berpikir mengenai rencana ke depannya untuk menghadapi kebaikan Hyunjae.
...◇• •◇...
Sesuai dengan perjanjian yang dia buat sebelumnya dengan William. Lazel meminta pertemuan pribadi untuk membahas hal serius.
Berapa kalipun berusaha untuk dia lupakan ingatan itu masih tertanam pada pikirannya. Seharusnya ia tahu bahwa posisi menyedihkan disini adalah dirinya sendiri. Ditinggalkan oleh orang yang pernah dia cintai untuk yang pertama kalinya, lalu ditinggalkan lagi oleh kedua sosok yang sangat berarti bagi kehidupannya.
Lazel tidak lebih hanya wanita yang menyedihkan. Dibandingkan egois dan juga gengsi yang tinggi. Ia lebih baik bersyukur jika masih ada yang memperdulikan dirinya meskipun berdasarkan oleh rasa kasihan. Karena bersandar pada apapun ia tetap tidak akan sanggup membuat Adiknya kembali bersedih.
Lalu? Apa jawaban yang tepat bagi Lazel adalah menerima dan menjalaninya meskipun perasaannya sendiri yang menjadi korban?
"Nona Lazel?"
"Nona Lazel?"
"Lazel."
"H-Huh?! Ada apa Hyun- m-maksudku Tuan William."
"Apa Anda baik-baik saja?"
"Y-Ya... maaf jika melamun disaat penting seperti ini."
"Hahaha! Anggap saja jika ini pertemuan biasa di antara kedua teman."
Pikirannya yang terlalu fokus pada Hyunjae membuatnya tak sadar jika saat ini ia sedang bersama dengan William untuk melakukan pembatalan pembuatan saham pusat.
William J. Holbert II. Pria itu sangat ramah, bahkan posisinya itu sama atau setara dengan Hyunjae. Lazel sendiri tidak dapat memprediksikannya. Namun menurut pandangannya sendiri, William merupakan pria pendengar yang baik. Bahkan saat mulai mendengarkan lawan bicaranya ia tak pernah berhenti menatap kedua mata serta menganggukkan kepala sebagai tanpa memahami semua penjelasan yang orang lain ucapkan kepadanya.
"Jadi, apa yang ingin Anda katakan?"
...◇• •◇...
"Lazel belum mengangkat panggilan ku pagi ini. Apa dia sesibuk itu sampai harus melupakan Suaminya sendiri?"
Suasana di luar nampak cerah, begitu ramai penduduk memilih berjalan kaki dan menikmati pemandangan atau fenomena langit yang ada. Namun hingga saat ini Hyunjae belum mengeluarkan dirinya dari kamar untuk melakukan refresing.
Yang lebih dia khawatirkan adalah kondisi Lazel yang saat ini sedang melakukan pertemuan dengan William untuk membatalkan apa yang sudah pernah ia jalani dan ia impikan.
Hyunjae menghempaskan tubuhya ke atas sofa dan meletakkan ponselnya di samping kepala sambil berusaha mendapatkan jawaban panggilan dari Lazel.
^^^"Ada apa?"^^^
"Lama sekali! Aku sudah berulang kali menghubungimu."
^^^"Aku sibuk. Bukankah kau tahu sendiri bagaimana jika aku disini bukan untuk bermain atau bersantai-santai."^^^
"H-Hm... maaf. Tapi aku merindukanmu."
Di atas sebuah aspal dengan ukiran-ukiran tertentu dari seniman yang berbakat. Disana langkahnya sempat terhenti lalu mengubah eskpresinya dengan sedikit hampa.
__ADS_1
Tangan kirinya yang menggenggam ponsel dengan genggmannya yang kuat.
"Hyunjae."
^^^"Ada apa?"^^^
"Aku akan langsung melakukan penerbangan menuju Eropa sekarang juga."
^^^"E-Eh!! C-Cepat sekali!"^^^
"Aku ingin segera kembali, apa itu salah?"
^^^"Tentu saja salah-tidak maksudku kau boleh kembali, cepatlah!"^^^
"..............." kepalanya tertekuk ke bawah dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Setelah aku tiba, kau bisa melakukan apa yang kau mau." Ucapnya lalu mematikan panggilan begitu saja.
...◇• •◇...
Sejak setengah jam yang lalu, pria beranting itu tidak pernah duduk dengan santai. Semenjak menghubungi Lazel, wanita itu lebih sering tidak mengatakan sesuatu yang tajam.
Hal ini tentu saja menjadi pusat perhatian Hyunjae. Sebenarnya apa yang terjadi pada Lazel saat ini. Bagaimana dia bisa sangat berubah dan perlahan kembali mendingin.
Lazel mempercepat prosesnya dan beniat langsung pergi menuju Prancis untuk menemui kliennya. Hal ini membuat Hyunjae nampak senang, karena dirinya tidak perlu berlama-lama meninggalkan dirinya.
Dan satu hal lagi adalah, Lazel berkata bahwa Hyunjae akan bebas melakukan apa jika dia sudah kembali. Yang berarti tidak ada penolakan.
Di sini, pola pikir Hyunjae terpusat pada sesuatu yang begitu ingin dia lakukan. Sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Lazel sendiri.
Mau tak mau, ia harus bersabar hingga harinya tiba, dimana Lazel akan membiarkan dirinya melakukan apa yang dia inginkan.
"Tapi... apa maksudnya??"
...◇• •◇...
Rencana yang sudah ia susun secara matang mau tak mau harus dibatalkan. Baru saja kemarin ia tiba di Amerika, namun di hari yang bersamaan dirinya harus terbang lagi menuju Paris. Waktu yang ia sisihkan sehari sebelum melanjutkan penerbangan pada akhirnya dibatalkan. Lagipula tidak mungkin baginy untuk tetap beristirahat dengan pikiran yang seperti ini.
"Perjalanan masih terbilang jauh, pekerjaanku disana juga tidak mesti akan langsung usai begitu saja," Lazel membuka ikatan rambutnya hingga terurai bebas. "Di waktu yang seperti ini... dia juga tidak mendapatkan gangguan dari siapapun."
Wanita berkaos hijau itu berdiri dari duduknya dan menggenggam kopernya.
"Sangat beruntung bagiku bisa mendapatkan tiket pesawat yang mendadak."
"Nona Lazel!"
"????"
Sebuah panggilan berbahasa asing membuatnya reflek menoleh.
Seorang pra berambut kuning dengan pakaian lengkap berjalan tergesa-gesa ke arahnya, "Tuan William?"
"Haah... aku masih tidak percaya, bagaimana bisa Anda membatalkan hal ini begitu saja? Padahal urusannya hampir usai." Jelas William yang mendatangi dirinya hanya untuk membahas hal yang sudah berlalu.
Helaan nafas terdengar pelan, ia mempebaiki posisi berdirinya dengan benar lalu membungkukkan tubuhnya.
"Maaf... ini adalah keputusan kami. Terutama keputusan Tuan Hyunjae."
"Kita sedang tidak bertemu dengan formal, setidaknya anggaplah kita se-"
"Meskipun Saya adalah Istri beliau, namun posisi Saya tidak lebih dari bawahannya. Di hadapan orang penting seperti Anda tidak akan mengubah apapun, termasuk kesopanan Saya." Jelasnya dengan wajah yang ramah.
"Huft... baiklah. Maaf jika seperti memaksa. Saya sendiri mengakui bahwa Anda merupakan sosok pekerja yang bukan main-main. Padahal Anda adalah seorang wanita. Namun masih bisa memikirkan arah jalannya saham."
"Hahaha... terima kasih atas pujiannya. Kalau begitu Saya permisi untuk pergi."
"Baiklah hati-hati. Sampaikan salamku pada Tuan Hyunjae."
__ADS_1
"Baik."
Wanita itu menampakkan punggungnya yang terlihat sedikit lebar.
Kedua tangannya melekat pada pinggang dan menatap kepergian Lazel dari kejauhan, "huft... sayang sekali. Wanita cantik sepertinya sudah memiliki seorang Suami."
...◇• •◇...
Tanpa bantuan siapapun, ia mengangkat koper merah berat itu sendirian sembari menapak tangga yang langsung menuju ke dalam pesawat.
"Nona Lazel, Saya akan membawakannya." Salah satu Pramugara menghampiri dirinya dan meraih koper Lazel dan membantu mengangkatnya hingga ke dalam pesawat.
"Hm? Kau mengenalku?"
"Haha tentu saja, pesawat ini khusus VIP. Kami akan mencari satu persatu wajah yang khas atau yang tidak asing bagi kami. Tanpa sadar salah satu penumpang pesawat ini adalah pengusaha besar yang hampir diakui oleh seluruh dunia." Pramugara itu terus berbiacara panjang lebar tanpa henti. Namun Lazel sedikit menikmatinya karena belakangan ini ia cukup stres dengan beberapa hal.
"Haha~ itu hanyalah basa-basi. Seharusnya kau katakan itu pada Hyunjae."
Pramugara berpakaian hitam emas itu juga memberikan bantuan pada Lazel untuk meletakkan kopernya di atas.
"Kau banyak membantu, terima kasih."
"Sama-sama, senang membantu Anda."
Kini setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesawat mulai melakukan pergerakan. Sebelumnya Lazel hanya memperlihatkan penampilannya secara terbuka. Namun setelah pesawat penuh dengan penumpang, ia pun mulai menutupi dirinya atau lebih jelas menyamarkan identitasnya. Karena siapapun yang akan mengenalnya mungkin akan berusaha menjaga image mereka di hadapan Nona Muda dari perusahaan terbesar di pusat Negara Korea.
"Whoaaa... Lazel Pietra. Dia memiliki begitu banyak penegasan dalam setiap tutur kalimatnya." Seseorang yang mendapatkan nomor duduk di sampingnya mulai berbicara sendiri, terlebih lagi jika pembahasannya mengarah pada Lazel.
"..............." dari wajah datarnya saja Lazel sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Namun untuk saat ini dirinya tidak perlu melakukan apapun selain mendengarkan perempuan itu mengutarakan perasaannya mengenai Lazel.
"Aku tidak percaya jika wanita kasar sepertinya akan menjabat sebagai salah satu Nona termuda di seluruh perusahaan. Tapi itu cukup keren."
Sekilas ia melirik ke samping melalui pantulan layar cermin kecil yang dia pegang.
"Seorang gadis? Remaja? Ataukah..."
"Sialan! Padahal aku berharap bisa bertemu dengannya."
"Bertemu denganku? Untuk apa..."
...◇• •◇...
"Hm... dia tidak cukup terkenal. Tapi mengapa seseorang sepertinya sangat jarang mengekspos diri di Media Sosial?"
Sepertinya hampir di permulaan penerbangan perempuan di sampingnya itu tidak berhenti untuk berbicara. Apalagi mengutarakan semua curahan hatinya di hadapan pemilik nama.
Sebenarnya Lazel juga tidak merasa terganggu atau merasa tersindir oleh kalimatnya. Lagipula yang orang itu katakan mengenai dirinya adalah sebuah fakta. Namun Lazel masih tidak bisa memastikan, perempuan itu berada di pihaknya? Pihak Masyarakat? Ataukah pihak yang memiliki pikiran sendiri?
Terkadang semua orang memiliki pandangan yang berbeda dan juga memiliki penyampaian kata yang berbeda. Oleh karena itu Lazel tidak memperdulikan siapapun yang mengata-ngatai dirinya tentang keburukan. Lagipula ia sendiri merasa jika dirinya sama sekali bukanlah wanita yang baik.
"Lazel? Bukankah dia hanya wanita simpanan Tuan Hyunjae?"
"!!!!"
"Seriusan?!"
"Tentu saja! Apa kau tidak tahu sudah berapa lama mereka menikah? Sebagai keluarga terhormat seharusnya penerus sudah harus menempati posisinya. Namun hingga saat ini aku sama sekali tidak pernah mendengar kabar apapun selain konflik dan permasalahan saham."
"Sialan! Apa yang!-"
"????" Semua pandangan tertuju pada perempuan yang duduk di samping jendela itu dengan pandangan tidak suka. Namun seseorang yang berada di sampinynya berhasil membungkam mulutnya sehingga tidak mengatakan apapun lagi yang dapat memicu keributan. Apalagi saat ini mereka berada di dalam pesawat.
"!!!!" Disisi lain, perempuan yang mendapat dekapan dari telapak tangan orang lain sangat terkejut bukan main saat melihat siapa yang dari tadi duduk di sampingnya.
Perempuan berambut perak itu melepaskan tangannya dan membuat perempuan muda itu duduk dengan tenang.
__ADS_1
"N-Nona Lazel?!" Ucapnya dengan kedua pipi yang memerah.