
Sebuah agensi kecil namun mendapatkan dukungan dari Perusahaan Pietra. Mereka sungguh luar biasa karena berhasil meyakinkan Direktur dari perusahaan tersebut . Dan lagi, bukankah biayanya sangat besar?
Sebenarnya agensi tersebut sudah dikenal sejak tahun lalu, namun saat ini mereka mulai berkembang secara perlahan dan membuat permohonan pada Perusahaan Pietra agar menjadi sponsor mereka.
Hyunjae tidak mempermasalahkan apapun selagi uang dapat mengalir lebih dari yang dia bayangkan.
Seperti yang dia ucapkan, saat ini Hyunjae tengah keluar dari ruangannya dan berniat mengunjungi seseorang.
Banyak pegawai yang beramai-ramai menyapa dirinya dengan ramah. Untuk menjaga image, Hyunjae pun meladeni mereka satu persatu. Meskipun suasana hatinya tidak secerah wajahnya.
Saat mulai mengubah arah langkahnya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
"M-Maaf." Ucap Hyunjae yang sedikit tidak fokus pada langkahnya.
"Saya menjatuhkan ponsel Anda," perempuan itu menunduk lalu meraih ponsel silver yang diketahui jatuh dari genggaman Hyunjae. "..............."
Dengan ramah ia menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.
"Terima ka-"
"Foto yang bagus. Apa Saya bisa menjadikannya model?" Tawar perempuan itu dengan senyuman yang sedikit aneh?
"Hm?"
"Kunci layar yang bagus." Ia berusaha memperjelas kalimatnya.
"Hahaha~ terima kasih. Dia adalah Istriku." Ucap Hyunjae dengan senyum.
"..............." perempuan itu mengelikkan kedua matanya. "Bisa kita bicara sebentar?"
...◇• •◇...
Jika diperhatikan dari dekat, perempuan itu hampir memiliki umur yang sama seperti Ibunya, atau lebih muda lagi. Pakaian yang dia kenakan juga sedikit berlebihan dan merek yang tertera begitu jelas sehingga mudah ditebak.
Seharusnya saat ini Hyunjae menemui seseorang, namun bukan perempuan asing yang saat ini sedang duduk berhadapan di sebuah kafe.
Mereka memilih tempat yang terang dan tertutup. Sebuah pojokan yang hanya bisa diisi dengan dua orang saja.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Kini Hyunjae mulai bertanya pada intinya, karena merasa tidak nyaman dengan perempuan asing tersebut.
Ia menunjukkan jari telunjuknya pada ponsel silver yang berada di genggaman Hyunjae, "Saya ingin menjadikan wanita itu sebagai Model." Ucapnya dengan tersenyum.
"Tidak." Hyunjae menolak permintaan itu tanpa pikir panjang.
"Hm? Mengapa tidak?"
"Bukankah lebih baik kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?"
"Jean Kris. Aku merupakan salah satu pengurus di agensi permodelan yang baru saja melakukan ikatan kerja sama dengan Anda." Jelasnya.
"Mengapa harus Lazel?"
"Dia cantik, aku menyukai ciri-ciri yang dia miliki. Agensi kami akan sangat berkembang dengan adanya Nona tersebut."
"Aku adalah Suaminya. Maaf, aku menolak permintaan ini." Kini Hyunjae tidak berniat untuk membawa Lazel kemanapun selagi ia belum menemukannya.
"Haah~ apa boleh buat. Baiklah." Perempuan yang bernama Jean itu bangkit dari kursinya dan berbalik dan meninggalkan Hyunjae.
"H-Huh?"
"Sampai jumpa~" tangannya melambai seiring dirinya menjauh.
__ADS_1
Hyunjae menatap Jean dengan penuh pertanyaan. Perasaannya juga sedikit kesal karena mendapatkan permintaan yang sangat sulit untuk dia penuhi. Belum lagi, dia memiliki ekspresi wajah yang aneh.
Jean yang sudah meninggalkan tempat itu menatap langit dengan seringai di wajahnya, "sudah kuduga."
...◇• •◇...
Lazel telah menghilang selama empat bulan. Dalam beberapa hari lagi akan berganti dan menjadi lima bulan. Pelarian yang dilakukan Adik Kakak itu tidak setengah-setengah, mereka benar-benar sudah memikirkan hal ini jauh dari sebelumnya.
"Walaupun kau tidak meminta aku akan melakukannya demi diriku sendiri."
"..............." pria beranting itu tidak berkutik pada ucapan atau sindiran yang dilontarkan oleh Gyuu. "Aku tidak peduli apa yang akan menjadi bagian rencanamu. Tapi aku berusaha untuk mendapatkan Lazel kembali."
"Sangat sulit jika hal ini disebut dengan saingan. Karena pada awalnya kau lah penyebab dari semua-humph!"
"M-Maaf karena ucapannya. Pria ini memang tidak bisa menyaring sesuatu yang keluar dari mulutnya." Sambung Vicy yang duduk bersampingan dengan Gyuu.
Seseorang yang seharusnya ia temui adalah Vicy, namun entah mengapa Gyuu juga ikut ke dalam permasalahan ini.
Hyunjae menggunakan kafe yang sama saat berbincang dengan Jean sebelumnya. Namun tempat yang mereka pilih jauh lebih luas.
"L-Lepas! Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika aku mati sebelum melihat Lazel kembali?" Protes Gyuu menggebu-gebu dan berusaha menyingkirkan tangan Vicy dari wajahnya.
"Mau bagimanapun juga. Disini Lazel yang hanya menerima keputusan dari Hyunjae," untuk pertama kalinya Vicy menyebut nama seseorang tanpa gelar. "Jika Hyunjae mengakhiri semuanya, maka Lazel tidak perlu melakukan apapun lagi. Dengan kata lain dia akan menerima apapun."
"..............." begitu banyak kesalahan sehingga pikirannya sedikit buntu tanpa bantuan siapapun. Wajahnya yang tertunduk perlahan bangkit dan merubah ekspresinya. "Tunggu dulu... dia akan menerima apapun?"
"Hm." Angguk Vicy.
"Hah? Ada apa? Siapa yang menerima siapa?"
"Menemukan atau tidak, mengakhiri atau tidak. Lazel hanya akan menerima semuanya. Dan semua keputusan itu berada di tanganmu sendiri." Jelas Vicy.
Hyunjae berdiri dari tempatnya dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja serta menatap Vicy yang baru saja memberikan sebuah harapan padanya, "j-jadi... masih ada harapan untuk bertemu dengannya lagi?!"
Jika dipikirkan dengan baik-baik, ucapan dan juga penjelasan yang diberikan Vicy sangat masuk akal. Selalu ada harapan untuk dapat kembali melihat Lazel, namun tidak ada jaminan untuk membawanya kembali.
Hyunjae sudah memantapkan hatinya. Dibandingkan membawanya kembali, justru ia lebih memilih untuk melihat wajah itu kembali lalu berusaha membujuknya untuk kembali.
...◇• •◇...
Cahaya atau flash yang diberikan kamera terus menyala. Suara pemotretan terus berdecak. Para wanita ataupun pria secara bergantian atau dapat bersama-sama melakukan sesi pemotretan.
Tepat di sisi tempat pemotretan, seorang wanita dengan ID di lehernya tengah menatap lurus ke depan tanpa memperhatikan apa yang sedang dia lihat.
"Hm? Ada apa denganmu?" Seseorang berhenti dari langkahnya dan memperhatikan wanita itu dari jarak dekat.
"Apa wajahku aneh?" Tanya Jean yang mendapatkan perhatian langsung dari sesama temannya.
"Dari dulu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kau bisa melakukan banyak hal dengan ekspresi anehmu itu."
"Aku akan membunuhmu loh~"
"Aku berkata jujur!" Ucap temannya lalu memilih untuk pergi.
Jean kembali berpikir mengenai sesuatu yang sudah terjadi. Terutama pertemuan uniknya dengan pemilik Perusahaan Pietra. Seharusnya ia menyadari hal ini dari awal. Tidak... ia memang menyadarinya dari awal, namun keraguan masih terbesit di dalam pikirannya.
Belum lagi orang itu tidak mengatakan apapun mengenai kehidupannya. Bahkan semua orang sama sekali tidak mengetahui apa yang pernah dia jalani selama ini. Lagipula pertanyaan yang mereka berikan tidak akan mendapatkan jawaban.
Ia meraih ponselnya dari saku dan membuka daftar kontak yang dia miliki. Sebuah nama yang unik itu, ia menekannya dan sedang dalam pemanggilan.
^^^"Apa?"^^^
__ADS_1
"Ohh~ kupikir kau tidak akan mengangkatnya."
^^^"..............."^^^
"Ayolah~ aku memiliki sebuah berita yang mungkin panas untuk kau dengar." Ucapnya dengan wajah yang seperti orang pemabuk.
^^^"..............."^^^
Lekukan di bibirnya mulai terbentuk, "hei... bukankah pria yang bernama Hyunjae Pietra itu terlihat tampan?" Seringainya.
...◇• •◇...
"Hatchuu!"
"Ini belum memasuki musim dingin, bahkan musim panas masih terhitung jauh." Sindir Kara yang tengah duduk dengan wajah datar di samping kursi mengemudi.
"Kupikir ada seseorang yang sedang membicarakanku." Ujar Hyunji yang tengah fokus mengendarai mobil.
"Ngomong-ngomong... mengapa kau terus meminta padaku untuk menemani kemanapun kau pergi?" Tanya Kara yang sedikit risih dan juga senang.
"Apa aku harus membawa wanita lain?"
"Tidak! M-Maksudku, memangnya apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada."
"..............."
"Aku sudah cukup terbiasa pergi bersamamu. Oleh karena itu rasanya sedikit aneh jika berpergian tanpamu."
"Hm..." Kara tidak begitu heboh dengan apa yang menjadi jawaban Hyunji. Tapi... perasaan ataupun hatinya sama sekali tidak terkendali. "A-APA YANG INGIN DIA LAKUKAN?! KENCAN?! APA INI YANG DINAMAKAN KENCAN?!" Ucapnya dalam hati dengan perasaan yang membara.
Separuh jalanan dipenuhi dengan hutan serta angin yang cukup dingin. Langit masih menunjukkan kecerahan dengan sensasi matahari yang terik. Menikmati udara luar tanpa pendingin itu memang luar biasa. Namun... Kara memutuskan untuk menutup jendela tersebut dan mengalihkan pandangannya dari jendela.
Hyunji sedikit heran karena Kara secara tiba-tiba menutup jendelanya, "ada apa?"
"Sebenarnya kemana kau ingin membawaku?" Tanya Kara dengan raut wajah yang sedikit tidak merasa tenang.
"Ah! Apa ini adalah pertama kalinya bagimu?"
Wajahnya pun memerah, "h-huh?! P-Pertama kali?! A-Apanya?!"
"Hm... tempatnya memang jauh, tapi kau akan suka jika sampai disana."
"Kencan! Ini adalah kencan!"
"Haha~ jangan khawatir. Selama ada diriku, tidak seorang pun berani menyentuhmu. Selain wanita liar, yaitu Lazel."
Mendengar nama Lazel kembali membuatnya merasa bersalah. Jujur saja, selama Lazel dan Ian menghilang dan pergi entah kemana. Kara yang dulunya hingga sekarang mengagumi atau menyukai Hyunji semakin merasa jika hubungan mereka semakin mendekat.
Terkadang Kara merasa sangat bersalah. Memanfaatkan situasi seperti ini untuk berharap lebih pada Hyunji.
Meskipun yang dia tahu jika Hyunji memiliki mulut yang rajin menggoda wanita. Mau bagaimanapun juga, Kara tetap menganggapnya sebagai candaan, tak lebih dari itu.
Di sela-sela pemikiran Kara yang tertuju pada rasa bersalah pada Lazel. Hyunji menambah kecepatan mobilnya disaat jalanan terlihat sepi.
...◇• •◇...
Punggung tangan yang sangat kentara dengan urat-urat itu menggenggam sebuah ponsel dan memandangnya dengan penuh kasih sayang.
Sebagai lookscreen, Hyunjae menggunakan foto Lazel yang pernah digunakan wanita itu untuk memotret dirinya sendiri. Sedangkan di bagian bagroundnya merupakan foto yang dia ambil dengan diam-diam saat Lazel menggunakan wajah emosinya sembari membawa boneka raksasa yang mereka dapatkan di pusat permainan.
__ADS_1
Bukan hanya itu, ada banyak lagi gambar yang diambil menggunakan ponselnya. Dan rata-rata gambar tersebut adalah penuh dengan foto Lazel. Dibandingkan menggunakan ponselnya sendiri, wanita berambut perak itu lebih suka menggunakan ponsel orang lain.
"Cepat atau lambat... aku akan menemukanmu, dan membawamu kembali," Hyunjae menyandarkan kepalanya pada kursi yang dia duduki dan menatap ke seisi ruangan pribadinya. "Aku akan mendengarkan keluh kesahmu, atau rasa suka dan tidak suka terhadap diriku."