
Ia memberikan tanggapan dengan wajah yang sedikit kesal. Bukan hanya wajah, namun sikapnya juga sangat aneh. Tentu saja itu sangat mengganggu Hyunjae.
Hyunjae memaksa wanita itu untuk melepaskan tanganya darinya, "kau selalu menggangguku, bisa kau hentikan?" Ujar Hyunjae yang kini turun tangan sendiri.
"Ehh~ tapi aku mau bermain denganmu." Ucap Jean dengan wajah yang berkerut.
"Nona, tolong mengertilah. Apa kami harus menggunakan kekerasan pada Anda?" Sahut Sekretaris tersebut.
"Aku adalah perempuan, apa kalian benar-benar akan melakukan hal itu padaku?" Ucap Jean yang merasa kasihan pada dirinya sendiri.
"Jangan ba-"
"Jika kau seperti ini, wanita manapun akan mendekatimu karena modal wajah dan black card." Sela Jean.
"..............."
Karena ucapan itu membuat Hyunjae dan kedua bawahannya terdiam. Sudah jelas jika perempuan aneh itu berusaha untuk mengganggu atau menggoda Hyunjae, namun berhasil membela diri sendiri dengan argumen yang sedikit berkelas.
Wanita berpakaian pink itupun melepaskan Hyunjae lalu berdiri menghadapinya.
"Hadiah, apapun yang kau tanya akan ku jawab." Ujarnya dengan sombong.
...◇• •◇...
Bagai rembulan di malam hari. Hamparan angin meniup daun-daun yang gugur dari pohonnya.
Kedua orang itu sudah dipastikan akan selalu bertemu di setiap waktu.
Di sebuah taman kota, di bagian tengah-tengah terdapat air mancur yang besar dan berwarna putih. Di sekelilingnya ada begitu banyak pengunjung yang berdatangan. Beberapa pajangan atau hiasa dapat ditemui, pemandangan taman itu cukup menarik.
Dirinya yang mendapatkan tawaran untuk pergi ke suatu tempat menyetujui hal itu begitu saja. Pada akhirnya ia tidak menyangka akan berakhir di tempat seperti ini.
Cahaya matahari tidak begitu terik, lagipula saat ini sebuah pohon yang rimbun melindungi mereka dari panas tersebut.
Kedua matanya menatap ke depan dengan sipit, "apa kau bisa pergi sendiri?"
"Tapi aku sudah terbiasa denganmu."
"Aku senang, tapi... bukankah ini waktu yang tidak tepat?" Pikirnya.
Di satu sisi Kara tentu saja akan senang dengan ajakan itu. Tapi, melihat kondisi yang belum stabil selalu membuatnya merasa tak enak.
"Setidaknya kita akan beristirahat sejenak, dan membiarkan Hyunjae melakukannya sendiri." Ucap Hyunji sembari menikmati jajanannnya.
"Lazel pernah mengatakan padaku, jika kami adalah teman pertamanya." Kara tidak menyangka bahwa kalimat itu pernah terlontar dari mulut Lazel, saat mendengarnya tentu saja membuatnya terkejut.
Meskipun Lazel memiliki mulut yang kasar, namun kekasarannya itu selalu berunjung baik. Memang sulit untuk memahami dan mengerti wanita perak itu tapi, tanpa sepengetahuan siapapun, dirinya menanggung begitu banyak masalah, sehingga kesulitan untuk membuka dirinya.
"Kau sudah mengetahui sebagian asal usul Lazel tapi, jika kau telusuri lebih dalam, wanita itu sebenarnya selalu mencoba untuk mengorbankan dirinya atas kesalahan apapun."
"Setelah datang pada kalian, masalah yang dia miliki tidak berkurang. Sejujurnya aku tidak akan berharap bahwa Lazel akan kembali pada kalian."
"Uhuuuk!" Kara membuat Hyunji tersedak karena makanan, "k-kupikir kau akan mencarinya."
"Tanpa kalian, dia masih memiliki Ian. Memangnya apa yang jauh berharga dibandingkan darah sendir?"
Hyunji awalnya berpendapat jika Kara akan tetap mencari keberadaan Lazel dan Ian. Namun dirinya lebih memilih untuk membiarkannya begitu saja dan berharap akan semakin jauh.
Keputusan yang dilakukan Lazel tidak main-main. Semuanya akan berakhir di tangan Hyunjae sendiri. Pria itu yang akan mengakhiri atau memulai kembali.
"Hm~ sebenarnya kau itu cantik. Hanya suaramu begitu serak." Ucap Hyunji yang memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.
Ucapan kejujuran itu sedikit membuat Kara merasa malu dan juga kesal. Di kondisi seperti ini pria itu selalu memiliki sesuatu untuk di ocehkan.
Kara memperbaiki tasnya lalu berdiri dari kursi yang ia duduki, "aku mau pulang."
__ADS_1
"B-Bercanda!" Hyunji segera menahan wanita itu, "aku akan membelikan apapun yang kau mau." Tawarnya dengan ancaman sebuah kartu.
"Memangnya kau Ibuku?"
...◇• •◇...
Para pekerja sibuk seperti biasa. Ucapan dan tindakan yang mereka tunjukkan seolah-olah tidak memiliki masalah apapun. Hal itu untuk tidak membuat orang-orang bertanya. Menghilangnya Lazel, mereka menggunakan beberapa alasan yang dapat dipercaya.
"Empat bulan... apa ini akan berkelanjutan di bulan yang akan datang?" Vicy semakin khawatir dengan perushaan yang mereka tempati tanpa Direktur.
"Kita tidak bisa berbohong seperti ini terus. Semakin lama waktunya, semakin membuat mereka curiga." Sahut Gyuu.
Keduanya sibuk di hadapan komputer masing-masing, namun pemikiran mereka selalu menyatu.
Sudah sepuluh tahun lamanya Lazel berjuang seorang diri. Menjadi seorang wanita yang akan melakukan apapun demi uang, pada akhirnya setelah sekian banyaknya masalah yang timbul, membuat dirinya harus usai begitu saja.
Membalaskan apa yang sudah dilakukan Luo pada kedua orang tuanya dan juga pada dirinya serta Ian.
Lazel tidak mengalami hal itu secara tiba-tiba, bahkan disaat umurnya masih sangat muda dan kecil, dirinya harus berdebat dengan keluarga besarnya mengenai keadilan.
Dan disaat inilah ia menunjukkan pada semua orang bahwa tugasnya cukup sampai disini. Tidak perlu berkelanjutan karena dirinya sudah tidak memiliki apapun.
Tidak mudah untuk berdiri di puncak. Mau sekuat apapun jika selalu ada sebuah bentrokkan akan membuatnya rubuh seketika.
...◇• •◇...
"Apa kau sudah menemukan jejak Lazel?"
^^^"Tidak."^^^
"..............." Nezra memegang dahinya dan menghela nafas. "Apa kau pernah berpikir jika Lazel akan kembali?" Tanya Nezra melalui ponsel yang menempel pada telinga kirinya.
Disaat bekerja pun, Nezra akan meluangkan waktunya untuk bertanya dan mencari informasi mengenai keberadaan Lazel dan Ian.
Ruangan bernuansa putih serta terdapat pendingin, itu merupakan ruangan pribadi miliknya.
Nezra mengangkat wajahnya dengan sedikit tekukan dari kedua alisnya, "darimana kepercayaan diri itu datang?"
^^^"Sulit untuk menjelaskannya. Selama kita berhasil menemukannya, dia akan mendengarkan apa yang kita ucapkan."^^^
Nezra berpikir bahwa Adam memiliki rencana tersendiri, bahkan ia selalu melihat Suaminya yang berusaha keras untuk mencari Lazel. Bagaimanapun juga, selain Putranya, Hyunji. Adam mengetahui secara rinci latar belakang terjadinya pernikahan di antara Lazel dan juga Hyunjae. Oleh karena itu dia akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukan Lazel dan Ian.
Ia mematikan panggilan itu begitu saja.
Ia ingat, dimana wajah bahagia Lazel yang ditunjukkan padanya. Bagaimana wanita itu berpendapat dan juga berbicara. Bersenang-senang dengan apa yang dia miliki. Dan ternyata, itu adalah kebohongan.
Nezra sama sekali tidak dapat berpikir, bagaimana bisa Lazel begitu mudah memperlihatkan kebagiaan palsunya di hadapan orang lain, padahal itu bukanlah dirinya yang asli.
Namun wanita yang hingga saat ini merupakan Menantu Nezra, tidak pernah mengeluh atau membiarkan semua orang tahu apa yang sedang dia alami.
Sebagai seorang Ibu, Nezra merasa tidak berdaya menghadapi kedewasaan Lazel yang mampu melakukan apapun sejak kecil.
...◇• •◇...
"Hm... apa kau pikir jika kepompong itu menarik?"
"Tidak, mereka jelek dan berlendir."
"B-Berlendir? Memangnya kau tahu dari mana?" Untuk pertama kalinya ia menunjukkan raut yang lain setelah mendengar jawaban asal-asalan dari Hyunjae.
"Sebenarnya apa maksud dari permainan ini?" Tanya Hyunjae.
"Main? Ini bukanlah bagian dari permainan." Jawab Jean yang terlihat membodoh-bodohi Hyunjae.
Hyunjae menggebrak meja cukup kuat, "sialan! Aku tidak memiliki waktu yang banyak denganmu!"
__ADS_1
"AHAHAHAHAHAHAHA! Ternyata kau pria yang lucu." Tawa Jean.
Saat ini Hyunjae meluangkan waktunya sedikit untuk meladeni keanehan Jean dengan kesabaran yang tinggi. Mereka menggunakan satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan.
"Hei... bunga dan pohon? Menurutmu dimana letak kecantikan mereka?"
"Bunga? Bentuknya? Wanginya?"
"Pohon?"
"Tinggi? Besar? Bisa di panjat?"
"Sebenarnya apa saja yang ada di pikiran pria ini... jawabannya sedikit mendorong untuk kembali ke masa kanak-kanak." Batin Jean.
Setelah Hyunjae mengungkapkan pendapatnya dan juga jawabannya akhirnya Jean yang menentukan benar atau salahnya. Dan itu adalah... salah, terutama bagian pohon.
"Apa kau ingin mencoba untuk menguji kesabaranku?"
"Tinggi? Besar? Apakah itu merupakan kecantikan dari pohon"
"Ha?"
"Bayangan... sebelum kau menilai diri mereka, lihatlah apa yang belum kau lihat. Kecantikan yang mereka miliki adalah dari bayangan." Jelas Jean dengan wajah yang percaya diri.
Hyunjae mengangkat tangan kanannya, "maaf, aku tidak paham."
"Aku tidak menyuruhmu untuk memahami ucapanku."
Sepertinya hari ini ia memang mendapatkan sebuah ujian kesabaran dari seorang perempuan yang beberapa hari sudah saling mengenal.
Pada akhirnya hanya satu saja yang benar, yaitu mengenai bunga meskipun ada yang sedikit menjanggal.
"Karena hanya bagian sedikit yang benar, aku akan membiarkanmu bertanya hanya satu hal saja." Tawar Jean pada Hyunjae.
Sebenarnya menanyakan apapun pada Jean tidak akan merubah keadaan. Memangnya apa yang perempuan itu ketahui mengenai apa yang akan ia tanyakan. Terutama mengenai masalah pribadi atau Rumah Tangga.
"Cepat, aku tidak memiliki waktu ba-"
"Aku ingin melihat kupu-kupu yang kau bicarakan di tempo hari."
"Kupu-kupu?" Jean mengingat kembali saat ia mengucapkan tentang hewan mungil bersayap itu, "oh! Lupakan saja." Ucapnya dengan santai.
"Bodoh! Apa aku harus menuntutmu?!"
"Hahahahaha! Bercandaa~" ia terlihat sangat menikmati permainan ini. "Sebentar." Ujarnya.
Jean mengutak-atik ponselnya dan membiarkan Hyunjae menunggu sejenak.
"Dapat!" Jean mencerahkan layar ponselnya lalu menghadapkannya pada Hyunjae.
"!!!!"
"Cantik bukaaan~"
Hyunjae sontak berdiri dari kursinya dan menatap layar ponsel Jean dengan perasaan tak percaya, "d-dari mana... dari mana kau mendapatkan gambar itu." Saat ini wajah tenang Hyunjae dipenuhi dengan keringat dingin serta perasaan kejut yang luar biasa.
...◇• •◇...
Di bawah cahaya yang terik, jujur saja. Memakainya di bawah sinar matahari sedikit membuatnya gerah. Belum lagi soflen yang ia kenakan untuk tidak menarik perhatian.
Sebuah tower atau menara tinggi berwarna merah membelakangi dirinya. Jalanan penuh dengan orang-orang, bahkan transportasi manapun mereka tetap mengandalkan kedua kaki untuk bergerak.
Pakaiannya terlihat santai seperti biasa. Raut wajah yang tidak ramah sudah menjadi ciri khasnya selama ia hidup. Tas mini yang menyilang di dadanya itu baru saja mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam.
Sebuah nontifikasi memasuki ponselnya, seorang teman yang ia kenal selama tinggal di negara itu mengirimi sebuah gambar dan juga pesan singkat yang tertera seperti orang tertawa.
__ADS_1
"..............." kedua matanya kembali mengecil dan datar, ia tidak menyangka sejauh apapun dia pergi masih terdapat bayangan seseorang. "Jean... bagaimana bisa dia bertemu dengan Hyunjae." Ucapnya dengan kedua alis yang tertekuk.