
"Hm, aku adalah anak yang baik dan ramah."
"Y-Yah, kami memang setuju mengenai hal itu tapi..."
"Hm?"
Jean Kris, seorang perempuan yang bekerja di sebuah agensi permodelan. Melihat dari cara kerjanya, ia seperti menduduki posisi staff. Warna rambut serta irisnya memiliki warna alami, yaitu hitam dan setara dengan tinggi bahunya.
Semua orang yang ada di agensi itu sudah mengenal Jean cukup lama, bahkan mereka juga mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Namun ada sedikit pertanyaan dari beberapa kalangan, yaitu ekspresi.
Jika diperhatikan baik-baik, Jean merupakan perempuan yang sedikit memiliki darah Jepang, namun nama yang memiliki gaya Luar Negeri. Mudah saja, caranya berbicara, bersikap dan juga memberi salam. Dan akhirnya menuju ke permasalahan utama.
Banyak orang yang berkata jika Jean selalu membuat wajah yang aneh, walaupun hal itu sudah terbawa sejak lahir. Kedua matanya mirip dengan kelopak mata laki-laki dan sedikit sipit, senyuman di wajahnya seperti penjahat. Oleh karena itu orang-orang merasa was-was dengan raut wajah yang Jean tunjukkan.
Akan tetapi, meskipun Jean seperti itu, semua orang yang dekat dengannya sudah terbiasa dengan perihal itu.
Namun... semenjak kehadiran Hyunjae, wanita itu sedikit bertingkah, dan membuat para krunya kerepotan untuk memisahkan Jean dari Hyunjae.
"Kalian memikirkan apa?" Tanya Jean yang merasa jika beberapa temannya terdiam setelah melontarkan pertanyaan padanya.
...◇• •◇...
Beberapa saat yang lalu, hampir terjadi sebuah perdebatan besar. Dan untuk pertama kalinya mereka semua melihat raut wajah Jean yang sama sekali tidak pernah ia tunjukkan.
'Permainan' yang diawali dengan ajakan Jean berunjung pertikaian. Bahkan Hyunjae yang selalu berusaha menjaga image bisa terlihat emosi di depan semua orang. Oleh karena itu, setelah pertikaian itu usai, beberapa temannya berusaha untuk menanyakan penyebab dari pertengkaran yang Jean dan Hyunjae lakukan.
Saat ini, di sebuah ruangan khusus para staff untuk beristirahat. Semua orang berkumpul dan sedang membicarakan sesuatu yang serius.
"Apa kau yakin tidak mengatakan sesuatu yang salah?" Tanya temannya dengan khawatir.
"Tidak." Jawabnya santai.
"Jean, jangan membuat masalah. Kau sebelumnya tidak seperti ini."
"Apa kau benar-benar menyukainya? Kau dengar sendiri bukan, jika Direktur sudah memiliki seorang Istri."
"Menyukainya? Aku membencinya kalian tahu." Ucapnya dengan dingin.
Untuk sesaat semuanya terdiam setelah mendengar jawaban Jean yang berucap mengenai kebencian terhadap Hyunjae.
"B-Benci?"
"Kau serius? Apa kau tidak menerima penolakan langsung darinya?" Sedikit aneh jika mendengar ada seorang perempuan yang membenci wajah tampan Hyunjae meskipun sudah memiliki Istri.
"Hahahaha! Bercanda, aku hanya bercanda," Jean menggeser bangkunya ke belakang lalu berdiri dari tempatnya. "Aku menyukainya kalian tahu~" sambungnya dengan lambaian tangan yang semakin menjauh.
...◇• •◇...
Bruak!
"!!!!"
Semua pegawai cukup terkejut mendengar suara bantingan yang berasal dari Ruangan Pribadi milik Direktur. Mereka mulai bertanya-tanya mengenai apa yang sedang terjadi.
"Apa Leo mendapat hukuman?" Tanya Gyuu yang membelokkan kepalanya hanya untuk menyaksikan suara dari pintu yang tertutup itu.
__ADS_1
Sedangkan yang terjadi di dalam ruangan itu sangat berbeda dengan apa yang orang-orang bayangkan.
Leo yang berdiri tak jauh dari jangkauan Hyunjae berusaha menenangkan Bosnya, "T-Tuan, ada apa? Mungkin Anda bisa mengatakannya pada-"
"Perempuan itu... dia mengetahuinya." Ucap Hyunjae yang meletakkan kedua tangannya di atas meja kerjanya dengan keadaan yang berantakan.
"Memangnya apa yang dia ketahui?" Kini Leo akan mulai bertanya untuk mengalihkan emosi Hyunjae pada benda-benda sekitar.
Leo merupakan Sekretaris yang cerdas. Meskipun Atasannya tengah mengamuk tanpa alasan, ia akan tetap berusaha untuk menenangkannya.
Ia berjalan mendekat sembari bertanya terus menerus lalu menyingkirkan komputer yang saat ini tepat berada di hadapan Hyunjae, "jika Tuan membanting benda pusaka ini, ku jamin jika malam ini aku akan lembur."
"Lazel... wanita bernama Jean itu mengetahui tentang Lazel." Ucap Hyunjae yang masih berapi-api
Leo yang awalnya tidak tahu sumber mengenai emosi Hyunjae, setelah mendengarkan apa yang terjadi, rasa kejutnya sama saja dengan Hyunjae. Bahkan komputer yang ingin ia pindahkan hampir terjatuh begitu saja.
"N-Nona Lazel? Dia mengetahui keberadaan Nona Lazel?"
"Awalnya aku tidak percaya ini, tapi apa yang kulihat membuatku yakin jika dia mengetahui tentang lokasi Lazel saat ini."
Hyunjae sempat mendapatkan tawaran mengenai permainan yang akan dibuat oleh Jean. Mau tak mau ia mengabulkan permintaan wanita itu. Setelah menjawab beberapa pertanyaan yang benar, Hyunjae diperkenankan untuk bertanya mengenai apapun pada Jean.
Ia basa-basi untuk membahas hal yang lalu, dimana Jean pernah bertanya mengenai kupu-kupu serta permintaan untuk menjadikan Lazel yang entah kemana menjadi salah satu model dari agensinya. Namun Hyunjae menolak permintaan tersebut, dan membuatnya terus berpikir, dimana untuk pertama kalinya orang lain berbicara mengenai Istrinya.
Tanpa tahu... Jean menunjukkan sebuah benda yang selalu dikenakan oleh Lazel, yaitu pita kupu-kupu berwarna hitam dengan motif kristal merah.
Hyunjae sangat ingat dimana Lazel menggunakannya, yaitu disaat pemakaman kedua orang tuanya. Di bawah tumpukkan salju yang tebal, di tengah-tengah hawa dingin yang menusuk kulit. Di situlah ia mengingat benda itu.
Sebuah benda tidak mesti hanya satu. Namun ia sempat mendesak Jean dengan membawa nama Lazel. Dan disaat itulah Jean menunjukkan wajahnya yang terlihat tidak menyenangkan. Hyunjae pun berpikir bahwa yang dia ucapkan memang benar, namun Jean berusaha menutup mulutnya.
"Jean mengetahui tentang keberadaan Nona Lazel? Bagaimana bisa orang asing sepertinya mengetahui sesuatu mengenai Nona Direktur dari perusahaan yang terkenal?" Pikir Leo.
Hyunjae sangat mengingat apa yang menjadi ucapan terakhir Jean sebelum ia meninggalkan wanita itu.
'Kau menuai apa yang kau tanam'.
...◇• •◇...
"Jean! Mengapa kau melakukan banyak masalah! Aku penasaran dampak dari perubahanmu itu!"
"..............."
Saat ini atasan mereka sudah mendengar mengenai perdebatan Jean dengan Direktur dari perusahaan yang sangat terkenal. Hal itu membuat atasannya mengamuk habis-habisan karena tindakan ceroboh Jean.
Ia hanya bisa berdiri dan diam bersama dengan salah satu staff yang menemaninya. Saat ini keduanya tengah berhadapan dengan seorang atasan yang memiliki agensi tersebut.
Dengan posisi berdiri dan kedua tangan yang tiada henti memukul meja menatap Jean dengan kesal, "bagaimana jika Tuan Hyunjae membatalkan dan memutuskan kerja sa-"
"Dia tidak akan melakukan apapun menyangkut kerja sama ini." Sela Jean dengan kedua mata yang tertutup sejenak.
Mendengar ucapan tak berdasar itu membuatnya semakin naik darah, "ha?! Dari sisi apa hingga kau bisa meyakinkan beliau?!"
"Jika aku salah mengapa Anda tidak berusaha menendangku keluar?"
"J-Jean..." temannya yang berdiri di belakangnya sangat takut dengan keberanian Jean di hadapan ketua mereka.
__ADS_1
"Ck! Aku berharap banyak padamu tapi ini yang kau lakukan?" Jean melihat atasannya yang kembali duduk dan tenang, "ku pegang ucapanmu. Aku tidak akan segan-segan membuangmu dari sini." Ucapnya dengan serius.
Setelah beberapa pencerahan yang berisi dengan bentakkan, akhirnya mereka berdua berhasil melewati maut itu.
"Jean, bagaimana bisa kau meyakinkan Tuan Hyunjae untuk tidak memutuskan kerja sama ini?"
"Aku tidak perlu melakukan apapun." Jawab Jean yang masih bisa berjalan dengan santai tanpa merisaukan apapun.
"Ha?? Bukankah kau baru saja bertengkar dengan beliau?? Apa kau tidak meminta maaf atau melakukan apapun??"
Jean menggeleng pelan, "tidak, itu tidak perlu."
"Jean... aku tidak bisa membayangkan jika seorang pekerja keras sepertimu akan ditendang dari tempat ini." Ucap temannya dengan wajah yang bersedih.
"Sudah kubilang hal itu tidak akan terjadi!"
Sebenarnya apa yang dia katakan tidaklah salah, melainkan seratus persen benar. Ia juga tidak akan sebodoh ini mengambil tindakan berbahaya tanpa berpikir panjang. Dari awal ia sudah memperkirakan keadaan seperti ini dan sudah memikirkan apa yang akan datang.
"Pria yang bernama Hyunjae itu... sebenarnya dialah yang rugi, dan kamilah yang mendapatkan untung." Seringainya.
...◇• •◇...
"Buftttttt!!!"
Sebuah minuman dengan warna cokelat itu menyembur di pakaian kemeja putih yang dikenakan oleh Gyuu.
"Kara, SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Protesnya.
Kara mengusap mulutnya, "a-apa? Seseorang yang baru kau kenal mengetahui dimana Lazel berada?" Kara begitu terkejut saat orang lain mengetahui dimana Lazel berada, dan orang itu adalah seseorang yang baru-baru saja Hyunjae kenal.
"Aku sudah berpikir mengenai hari itu. Permainan yang kamu lakukan, sengaja untuk dia lakukan agar pembicaraan kami sampai pada permasalahan Lazel dan juga Ian." Jelas Hyunjae.
Hyunjae memanggil Gyuu, Kara dan juga Vicy untuk membicarakan hal itu. Untuk saat ini ia tidak akan membiarkan Hyunji tahu, karena dia begitu patuh pada Nezra dan bisa saja Ibunya akan langsung mengancam Jean.
Bukan ragu, Hyunjae hanya berusaha untuk tetap mengejar Jean agar membuka mulutnya mengenai Lazel dan Ian. Tanpa hal seperti itu, Ibunya bisa saja langsung melepaskan emosinya.
"Tapi, kalimat terakhir yang diucapkan oleh perempuan bernama Jean itu tidak salah. Lagipula Anda yang memulai masalah ini terlebih dahulu." Ujar Vicy yang menilai sisi Hyunjae.
"Whoaaa... aku kagum pada Vicy yang berterus terang pada seorang Bos dimana tempat dia bekerja," sahut Gyuu yang menatap Vicy dengan tatapan luar biasa. "Kara, mengapa kau ada disini? Bukankah kau juga bertengkar dengan Hyunjae?" Kini pria kuning itu menyindir Kara yang sedari tadi menyimak penjelasan Hyunjae.
"Gyuu, tutup mulutmu! Apa kau tidak bisa membaca situasi?!"
Gyuu menghela nafas dan melebarkan kedua tangannya, "yang jelas sudah ada harapan bukan? Setidaknya ada seseorang yang mengetahui dimana Lazel dan Ian, daripada terus berjalan tanpa arah." Ucapnya dengan wajah yang santai.
"K-Keren." Sahut Vicy.
"Hm, kau bijak juga." Angguk Kara.
"..............." Hyunjae masih berpikir bagaimana membujuk Jean untuk memberitahunya dimana Lazel dan Ian berada.
Sangat menyedihkan, orang tanpa dikenal begitu tahu dimana Istrinya berada. Sedangkan dirinya melakukan apa yang baru saja Gyuu ucapkan di kalimat terkahirnya.
"????" Gyuu memperhatikan Hyunjae yang sama sekali tidak bisa menenangkan pikirannya semenjak mulai memiliki masalah baru dengan Jean. Ia pun diam-diam menyeringai tajam, "aku akan mendapatkan Lazel terlebih dahulu." Ucapnya dalam hati.
Kara yang sangat memahami tatapan Gyuu sudah menduga apa yang terjadi, "pria ini... apa yang dia ucapkan tidak selaras dengan apa yang ada di pikirannya." Batinnya.
__ADS_1