Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Hyunjae & Lazel 2]


__ADS_3

Para orang-orang yang berwisata kesana tidak lupa untuk mengambil gambar atau melakukan hal yang menarik lainnya. Sinar matahari menyinari secara menyeluruh tanah yang ditutupi dengan rerumputan yang hijau. Karena mungkin mendapatkan perawatan, tumbuhan disana nampak indah dan juga asri.


Air mancur putih itu menjadi sorotan utama. Pendatang mungkin akan berpikir jika di malam hari suasananya akan semakin indah.


Untuk mengakses kesana membutuhkan sekitar tiga puluh menit atau lebih. Jaraknya dari tempat tinggal Lazel maupun Hyunjae cukup jauh.


Niatnya hanya berkeliling tanpa tujuan, namun Lazel tidak pernah tahan untuk duduk terlalu lama. Oleh karena itu ia memutuskan untuk berhenti di sebuah taman dimana mereka lewati bersama mobil.


...◇• •◇...


Mungkin pertemuan mereka tidak begitu klise atau mengharukan. Namun tidak ada yang tahu bagaimana isi hati kedua orang itu. Salah satu dari mereka bisa saja memutuskan untuk tetap diam dan menganggap bahwa semuanya bukanlah apa-apa.


Hyunjae yang dulunya sangat depresi karena kehilangan Lazel kini kondisinya jauh lebih baik. Justru ia masih tidak sadar bahwa sosok yang membenci dirinya masih bisa bertemu dengannya.


Lagipula ucapan terang-terangan itu terkadang dilarang, karena pihak tidak dapat mengontrol perasaan yang tiba-tiba. Terutama pada wajah.


Rambut perak yang terikat ke belakang dengan sebuah pita kupu-kupu menghiasinya. Kini wanita itu menatapnya dengan wajah yang setengah terkejut, meskipun awalnya tidak seperti itu.


"B-Bukankah kau membelikannya untukku?" Lazel berusaha untuk tetap tenang dan tidak terbawa arus perasaannya.


"Hm~ benarkah?" Pria berkaos hitam itu berjalan santai melewatinya dan meninggalkan wanita itu sendiri, "aku sangat terkejut jika benda sesederhana itu bisa menggerakkan hatimu."


"Ha? Itu hanyalah benda, lagipula aku menyukai-"


"Mengapa kau tidak mencoba untuk menyukai seseorang yang telah memberikannya?" Sela Hyunjae yang kembali menoleh ke belakang dengan senyuman mautnya.


"Menyukai seseorang yang menyebabkan begitu banyak masalah terhadapku?" Kini Lazel membalas tingkah angkuh Hyunjae, "jangan bercanda, karena aku tidak ingin memasuki lubang yang sama untuk kedua kalinya." Ujarnya dengan tersenyum sinis.


Pada akhirnya mereka bertemu dengan perdebatan.


...◇• •◇...


"Lazel, apa kau benar-benar tidak menyukaiku?"


"Tidak, memangnya kenapa?"


Hyunjae membentangkan kedua tangannya pada senderan kursi yang mereka duduki, "yahh... aku hanya sedikit heran. Wanita lain begitu terobsesi padaku, sedangkan kau tidak. Bukankan dirimu sangat beruntung jika disukai oleh pria tampan sepertiku?" Ucapnya dengan menatap Lazel yang ada di sampingnya.


"Jika kau ingin membuat lelucon maka lakukanlah di depan semua orang," sahutnya. "Lagipula kebodohan mereka itu sama dan datar, sedangkan aku jauh lebih berkelas dibandingkan mereka semua."


"Berkelas?"


"Untuk apa aku menyukai pria dengan modal wajah serta dikelilingi oleh para wanita? Apa kau berniat menjadikanku salah satu dari mereka?" Lazel sempat menyeringai tajam, "bahkan aku juga bisa melakukan hal seperti yang kau lakukan. Tapi maaf... aku tidak pernah mencoba untuk menjadi orang bajing*n." Sambungnya.


"..............." Hyunjae tidak memberikan jawaban apapun, karena setiap kata yang Lazel lontarkan selalu mengenai hatinya. Mau bagaimanapun juga, kesalahan awal semua ini dimulai oleh dirinya. Oleh karena itu ia tidak berniat memberikan perlawanan pada Lazel.


"Lazel, ba-"


Drrt!


Getaran ponsel membuat ucapannya terpotong, saat ia melihat siapa yang menghubunginya itu membuatnya sedikit terkejut, ditambah dengan keberadaan Lazel di dekatnya.


"Aku akan mengangkatnya sebentar." Ucap Hyunjae pada Lazel yang sedang terduduk menatapi sekitar.


Lazel tidak peduli, dirinya hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Hyunjae menjaga jaraknya dari Lazel sebisa mungkin, karena bukan hal yang bagus jika wanita itu mengetahuinya. Apalagi jika itu berkaitan dengan masalah baru yang kabarnya dibuat oleh Ja Heul.

__ADS_1


"Ada ap-"


^^^"Hyunjae! Kabar mengenai dirimu semakin parah!"^^^


Suara Kara menggema di telinganya, "h-ha?! Bagaimana bisa?!"


^^^"Sepertinya Heul sudah memperkirakan hal ini, sehingga dia tidak memikirkan dampaknya."^^^


Baru saja dirinya akan menghabiskan waktu dengan Lazel, namun masalahnya terus menghantui dirinya. Karena mau bagaimanapun juga, ia harus berusaha untuk menyingkirkan masalah itu secepat mungkin tanpa sepengetahuan Lazel.


"Jika kalian-ahh tidak-tidak," Hyunjae menghentikan ucapannya dan lebih memilih untuk berpikir. "Aku tidak bisa meminta pada mereka secara terus-menerus." Batinnya.


^^^"Kau harusnya bersyukur jika masalahmu ada kaitannya dengan Jean. Jika tidak, mustahil bagi kami untuk menolongmu."^^^


Hyunjae cukup tertekan untuk beberapa hari ini, semua perkataan yang ia dengar hampir memiliki sindirian kuat terhadapnya.


"Dengarkan aku..."


...◇• •◇...


"Bagaimana bisa... kupikir dia tidak akan memperhatikan masalah seperti itu," ia berusaha keras untuk berpikir. "Bukankah dia membelinya saat berada di Amerika? Yah... itu sudah jelas tidak masuk akal."


Lazel sedang memikirkan lampu tidur yang diberikan Hyunjae padanya. Barang itu adalah barang pemberian atau hadiah tanpa alasan. Hyunjae memberikan benda itu padanya.


Karena memiliki bentuk yang unik dan corak yang cantik. Lazel pun tertarik pada benda itu, bahkan ia sering menggunakannya jika sedang tidur sendiri.


Barang seperti itu tidak akan menimbulkan pertanyaan apapun. Lagipula itu adalah haknya karena sebuah pemberian. Akan tetapi, siapa sangka jika Hyunjae menyadari bahwa ia membawa lampu pemberiannya.


"Ck! Daripada memikirkan hal seperti itu," kini sorot kedua matanya kembali tenang. "Bagaimana... bagaimana dengan nasibku jika aku kembali ke rumah itu lagi." Perasaan khawatirnya benar-benar keluar.


"Ian... sejujurnya aku juga tidak ingin kembali. Namun Ayah Adam berhasil menjebakku, aku tahu jika dirinya sudah berpikir jauh sebelum membuat keputusan di hari itu. Sehingga aku harus melunasi ucapanku sendiri."


Lazel sama sekali tidak tahu apa efek dari tindakannya nanti. Bahkan mengingat kembali saja ia tidak menginginkannya.


Akan tetapi... ia sudah menetapkan hatinya, tidak ada seorang pun yang bisa membuka hatinya kembali atau ia akan meletakkan persaannya pada orang lain, meskipun terkadang sangat sulit mengartikan sesuatu.


Hamparan angin melewati wajahnya dan menerbangkan beberapa helai rambutnya yang cantik. Wajah seriusnya terus menatap air mancur tersebut.


Tap!


"Kau memikirkan apa?" Hyunjae menghampiri Lazel dengan menepukkan tangannya pada pundak wanita itu.


"Hm? Bagaimana kabar Kekasihmu?" Ia bertanya balik dengan ekspresi yang biasa.


Kedua matanya membesar serta wajahnya sangat terkejut, "h-ha?? Kekasih?"


Wanita berambut perak itu mengangguk santai, "Heul... bagaimana kabarnya?"


Dari sekian banyaknya masalah dan perbincangan. Lazel justru membahas wanita yang saat ini menjadi incaran temannya sendiri.


"Lazel... aku tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan Heul." Ujar Hyunjae yang berlutut di hadapan Lazel yang duduk di atas kursi taman yang berwarna cokelat tua.


"Hm, ku anggap itu sebagai lelucon."


"Aku serius! Aku tidak pernah melakukan hu-"


"Lalu malam itu? Kau pikir apa yang kau lakukan? Jika diriku saat itu memanglah diriku yang sekarang. Mungkin aku tidak akan tinggal diam," selanya dengan raut wajah yang tidak main-main. "Aku memang tidak berniat untuk mencampuri asmara kalian. TAPI... aku tidak suka terlibat dengan masalah orang lain, apalagi masalah kalian berdua." Tatapannya saat ini begitu menusuk dan bahkan tidak memberikan ruang untuk berpaling.

__ADS_1


"Aku melakukannya agar kau cemburu!" Ucap Hyunjae dengan lantang sehingga membuat orang-orang menoleh.


"??!!"


"Ku dengar jika kau sedang mendekati pria lain atau pria itu adalah Gyuu. Aku tidak tahu apa yang ku pikirkan saat itu! Tapi aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan!"


Lazel menaikkan salah satu alisnya, "jadi... aku harus merasa cemburu sama sepertimu?"


"H-Hm."


Jawaban yang sangat lucu di dalam pikirannya, bahkan dirinya harus tersenyum remeh saat mendengar omong kosong itu berulang kali, "maaf, tapi aku tidak pernah mencemburui hubunganmu dengan ratusan wanita di luar sana."


...◇• •◇...


Bukankah dari awal semuanya sudah tertera dengan jelas bahwa tujuan Lazel hidup hanyalah untuk uang dan posisi, selebih dari itu ia tidak peduli. Bahkan pernyataan cinta siapapun tidak pernah ia anggap serius, bahkan Lazel rela memberikan dirinya demi harta.


Disini Hyunjae mulai menyadari apa yang sebenarnya Lazel inginkan. Bahkan ia sudah tahu apa yang harus dirinya lakukan.


"Kau menyukai uang bukan?"


"Kenapa? Apa kau mau memberiku black card milikmu?"


Hyunjae membentangkan kedua tangannya pada kedua sisi Lazel dan mendekatkan wajahnya, "kembalilah padaku, maka kau akan bergelimang harta di atas tubuhku." Ucapnya dengan nada yang sedikit... basah?


"Kau bercanda? Apa kau berniat memperk*sa diriku?" Tanya Lazel dengan pemikiran datarnya.


"APA MAKSUDMU DASAR BODOH! HENTIKAN UCAPAN ANEHMU ITU!"


"MENGAPA KAU BERTERIAK PADAKU?! BUKANKAH ITU BENAR?!"


"Hm... benar tapi ada kesalahannya juga."


"????"


"Intinya kau mau seperti itu bukan? Bahkan kau berniat untuk mencari Sugar Daddy sebagai penggantiku."


"Aku tidak tertarik." Tolak Lazel.


"Ha?! Apa kau masih membenciku hingga seperti itu?!"


"Lagipula untuk apa dan pada siapa aku memamerkan uang itu? Aku sudah tidak memiliki keluarga lagi. Paman, Bibi, serta para Sepupuku tidak ada bersamaku lagi."


Hyunjae tercengang. Salah satu kesepakatan Lazel saat menjelang pernikahan mereka adalah menggunakan atau meraup harta Hyunjae sesuka hatinya untuk membalaskan dendam pada keluarganya sendiri. Namun karena sebuah masalah yang serius, hal itu membuat seluruh keluarga besarnya yang bersangkutan masuk ke dalam penjara. Sedangkan Sepupunya hanya mendapat pengurungan biasa di rumahnya sendiri dan tidak diperbolehkan untuk keluar.


Karena sudah tidak memiliki apapun lagi, ia merasa jika tindakannya yang seperti itu tidak perlu dilanjutkan.


Hyunjae sama sekali tidak tahu harus melakukan apa pada Lazel. Wanita itu benar-benar menangkis semua uji coba rasa cintanya.


"Haah~ apa aku benar-benar tidak bisa dimaafkan?" Pria dengan kacamata hitam itu menyandarkan kembali tubuhnya dan juga kepalanya dengan pasrah.


"Hm, bahkan aku tidak berniat untuk kembali."


"Apa menurutmu berpisah adalah jalan yang baik?"


"Tentu saja, untuk apa aku menguji coba diriku lagi pada masalahmu nanti."


Masih di hadapkan pemandangan yang sama, ramai orang tidak berhenti mengeluarkan suara. Gesekan ranting yang ada di atas mereka terus berbunyi sesuai alunan angin.

__ADS_1


Hyunjae memperbaiki duduknya dengan kedua tangan yang berpangku di atas kedua pahanya. Tidak ada yang tahu bagaimana atau kemana pandangannya saat ini karena kacamata hitam yang dia pakai.


"Kalau begitu... ayo berpisah saja."


__ADS_2