
Kedua matanya menatap benda menjulang tinggi itu dengan perasaan yang sedikit tidak beraturan.
Hampir dua hari ini Lazel seperti mengabaikan dirinya, padahal setelah dia ingat-ingat kembali, dirinya tidak merasa atau tidak mengingat bahwa sudah melakukan kesalahan.
"Ck! Apa ini faktor pekerjaan?" Pikirannya berusaha untuk mengingat kembali apa yang membuat Lazel seperti ini, "tapi... bukankah ini masuk akal? Dia melakukan dua pekerjaan sekaligus tanpa bantuan siapapun. Mungkin saja itu faktor kelelahan."
Mungkin tanpa Lazel sadari, sifatnya yang berubah seperti itu pada akhirnya mendapatkan kesan yang aneh bagi Hyunjae. Hanya sebuah kesalah pahaman harus membuat Hyunjae yang tidak memahami apapun menjadi ikut kebingungan.
"Pada akhirnya dia tidak menghubungiku kembali." Ucapnya dengan menatap ponselnya yang berada di atas ranjang.
Pria bertubuh tinggi besar itu menghela nafanya dengan panjang. Ia mengambil kembali ponselnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi terlentang.
Panggilan masih tersambung, namun belum mendapatkan jawaban.
"Apa dia se-"
^^^"Apa kau tidak lelah terus menghubungiku?"^^^
Tiba-tiba panggilan video itu aktif dan memperlihatkan Lazel yang tengah duduk menatap dirinya dari balik layar ponsel, "whoaaa!!!"
^^^"A-Ada apa?"^^^
"Akhirnya aku bisa menelponmu."
^^^"..............."^^^
"Apa kau sibuk?"
^^^"Tidak, besok aku mulai menemui pemimpin perusahaan."^^^
Melihat Lazel setelah beberapa hari sudah membuatnya tidak bisa bertahan. Padahal tanpa Lazel ketahui kebenarannya, mereka berada di satu negara dan di satu kota yang sama. Tapi semua itu tidak akan jadi romantis jik terbongka di awal rencana.
Hyunjae berniat akan memberitahukan Lazel saat semua pekerjaannya di Prancis selesai.
^^^"Ada apa dengan ekspresimu itu?"^^^
"Tidak apa, hanya memandangmu dari jarak dekat seperti ini membuatku sedikit gugup."
^^^"Apa otakmu tidak waras??"^^^
Hyunjae mengubah posisi terlentangnya menjadi telungkup dengan sebuah bantal yang ia gunakan sebagai penyanggah dadanya.
"Aku menci-"
^^^"Ah~ Hyunjae."^^^
"H-Hm? Ada apa?"
^^^"Selagi aku disini, apa kau menginginkan sesuatu? Aku bisa membelikannya untukmu."^^^
"Hm... sebenarnya ada."
^^^"Apa itu? Katakan saja."^^^
"Tapi apa kau tahu. Itu tidak bisa dibeli atau didapatkan dengan uang."
^^^"Ha?? Tidak bisa dibeli atau didapatkan dengan uang?"^^^
"Hm!" Angguknya dengan mantap.
^^^"Aku tidak paham maksudmu."^^^
"Caranya adalah... dengan menghamburkan uang di seluruh tubuhku maka orang itu akan tertarik dengan sendirinya."
^^^"Uang?? Tubuh?? Menghamburi?"^^^
"Hahahaha! Sudah kuduga kau tidak akan memahaminya. Intinya..."
^^^"????"^^^
"Yang ku inginkan itu tidak bisa dibeli atau di dapatkan dengan uang. Selain aku sendiri yang melakukannya."
^^^"ARGH!! Terserahmu! Jika kau mau pergi sendiri! Aku tidak paham ucapanmu!"^^^
Setelah sekian lamanya ia ingin mendengar Lazel akhirnya terkabulkan. Ia dapat bercerita atau melakukan apapun yang bisa menghibur Istrinya. Yang perlu Hyunjae lakukan adalah bersabar hingga Lazel menyelesaikan tuntas pekerjaannya.
Sebenarnya melihat Lazel yang sibuk pindah negara demi mengatur pekerjaan sama sekali tidak membuat Hyunjae nyaman. Namun wanita itu bersikeras untuk melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan siapapun.
__ADS_1
...◇• •◇...
Tangan kanannya menutup laptop hitam itu dengan pelan dan meghembuskan nafas panjang.
Ia merasa jika rahangnya sangat sakit karena terus berbicara tanpa henti. Pada akhirnya Hyunjae tertidur tanpa sengaja dan membuat Lazel mematikan laptopnya dengan sengaja tanpa membangunkan pria itu.
Pekerjaan kali ini sepertinya akan membutuhkan mental dan tutur bahasa yang kuat.
"Apa ini akan selesai dengan cepat?" Gumamnya.
...◇• •◇...
Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Lazel sudah siap dengan segalanya dan akan mulai pergi beberapa saat lagi. Kedua bodyguard yang beliau kirimkan sangat membantu dirinya, setidaknya perhiasan yang dia bawa cukup terjaga dengan baik. Lagipula tanpa bantuan siapapun Lazel sendiri sudah sangat siap mematahkan tangan siapapun yang menyentuh aset berharganya.
Sebagai pekerja kantor dan juga sekaligus pemegang saham nomor dua. Hampir di setiap harinya Lazel selalu mengenakan jas. Kali ini ia mengenakan berwarna merah untuk mengunjungi perusahaan XXX yang kabarnya dipimpin oleh CEO muda yang bernama Jason Ćalē.
Ada yang bilang bahwa dia merupakan satu-satunya pengusaha yang sangat muda. Muda dalam memiliki wajah, bukan umur. Mendengar hal seperti itu Lazel teringat pada dirinya sendiri dan juga Hyunjae. Suaminya itu sudah menginjak umur tiga puluh ke atas, namun wajah rupawannya sama sekali belum luntur. Begitupula dengan Lazel.
Oleh karena itu ia tidak terlalu terkejut saat mendengar hal itu. Namun sudah memiliki anak merupakan hal yang lain.
...◇• •◇...
"G-Gila... apa ini perusahaannya?"
"Benar. Kami akan mengantar Anda pada Tuan Presdir."
"Y-Ya, mohon bantuannya."
Sebelum memasuki gerbang perusahaan, ketinggiannya hampir menyamai kantor pusat Pietra yang berada di bawah kendali Hyunjae.
Fasilitasnya cukup mewah, beberapa Staff yang bekerja dan pegawai lainnya memberikan senyuman ramah padanya. Setiap negara pasti memiliki adab maupun sifat yang berbeda-beda. Oleh karena itu Lazel yang sempat tinggal di Jepang selalu berusaha memberikan salam dengan punggung yang sedikit membungkuk.
Tidak salah, lagipula perbedaan itu sedikit unik dilihat.
Kedua bodyguard itu berhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna perak yang tertutup rapat.
Tok! Tok! Tok!
"Maître, Mlle Lazel est arrivée."
"Laisse-le entrer."
...◇• •◇...
"Eh??" Ia menatap layar ponselnya yang mati total, "aku tertidur?"
Hyunjae mengacak rambutnya lalu perlahan turun dari ranjang dan melihat sekitar dengan kedua mata yang baru terbangun dari tidur.
Baru beberapa hari tidak bekerja rasa kantuk terus menguasai dirinya. Di ruangan yang sepi itu ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Tempat GYM disini kira-kira dimana ya?"
Daripada menghabiskan waktu dengan hal yang tidak berguna, ada lebih baiknya jika ia sedikit berolahraga."
...◇• •◇...
Dibandingkan mengharapkan internet, ada kala lebih baik jika Hyunjae bertanya langsung pada orang-orang sekitar.
"GYM?"
"Ya, apa Anda mengetahuinya?" Hyunjae menghentikan beberapa pejalan kaki dan menanyakan letak GYM.
"Tuan, tepat di hotel penginapan itu merupakan tempat GYM. Bukankah sudah tertera di papannya?" Ujar orang itu dengan mengarahkan tangannya pada tempat yang ingin dituju.
"!!!!" Hyunjae tidak menyangka jika tempat yang dia cari bersebelahan dengan hotel yang dia tempati, "Me-Merci." Ucapnya yang artinya 'terima kasih'.
Tanpa menunggu, Hyunjae pun mengunjungi tempat itu.
Bukan hanya pria. Beberapa wanita juga berada disana dengan wajah-wajah yang cantik dan beragam. Mereka melatih diri dengan berbagai alat yang berbeda-beda.
Menurut Hyunjae ini cukup mudah, selagi ia memahami bahasa. Semua akan berjalan dengan lancar.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan data, ia diperbolehkan untuk melatih diri menggunakan apapun selagi tidak ada yang menggunakannya.
Hyunjae mengambil ikat rambut mini berwarna perak dari sakunya yang diduga adalah milik Lazel. Ia mengikat bagian poninya hingga kedua matanya terlihat jelas dan juga rupa wajahnya yang tampan.
Di saat berlatih seperti ini Hyunjae lebih nyaman untuk tidak mengenakan atasan, alias bertelanjang dada.
__ADS_1
Orang-orang yang ada disana terkejut bukan main melihat postur tubuh yang dimiliki Hyunjae. Semua lekukan yang dia miliki terlihat sempurna sehingga membuat para wanita mulai mencuri-curi pandangan.
"Lazel menyukai otot pria. Oleh karena itu aku akan membuatnya semakin tertarik denganku." Ucapnya dengan rasa percaya diri yang tinggi.
...◇• •◇...
Sepertinya apa yang dia pikirkan jauh berbeda, seharusnya hal ini sudah menjadi sesuatu yang sederhana, yang sering ia jumpai di manapun.
"Perkenalkan, nama Saya Lazel Pietra. Pemegang perusahaan Aplic Pietra."
"Bahasa inggris?"
"??!!"
"Jason Ćalē."
"Apa-apaan dengan nada bicaranya?" Pikir Lazel dalam hati.
Pertemuan antar dua pimilik saham besar saling berhadapan dan saling memperkenalkan diri dengan baik. Lazel yang masih kesulitan menguasai bahasa Prancis lebih memilih menggunakan bahasa nasional, meskipun mendapatkan tanggapan aneh dari Jason.
Bukan hanya mereka berdua, ada seorang gadis lain yang katanya adalah Putri dari Jason. Lazel tidak menyangka jika Putrinya sudah akan menikah, sedangkan rupa Ayahnya masih sehat bugar, bukan hanya itu.
"W-Wajahnya tampan sekali sialan!"
Lazel beralih pada seorang gadis yang duduk bersampingan dengan Jason, "hm... Anda pasti adalah Putri dari Tuan Jason."
"Ah.. mengenai itu," Jason menyahut dengan menggunakan bahasa yang sama dengan Lazel gunakan sebelumnya. "Ada kesalahan sedikit. Dia adalah Adikku, bukan Putriku."
"Ahahaha!! Kakak saja belum menikah sampai sekarang!" Sahut perempuan berkacamata bundar itu dengan nada yang mengejek.
"Diam Lim."
"B-Belum menikah?!"
"Hm! Sangat aneh bukan? Padahal wajahnya sangat tampan."
"Y-Ya Anda benar."
Lazel sedikit bersyukur jika Jason masih perjaka atau belum menikah. Wajahnya itu sangat muda, namun sesuai dengan biodata yang dia dapatkan, umurnya hampir mencapai empat puluh.
...◇• •◇...
Pembahasan mereka mengenai perhiasan akhirnya dimulai. Tidak semua perhiasan Lazel dapat membawanya, setidaknya ada beberapa rekomendasi darinya.
Wajahnya putih, rambut tebalnya berwarna biru gelap. Cahaya yang menerangi kepalanya membuat pantulan biru terlihat. Kedua matanya yang terlihat datar dan juga dingin membuat Lazel merasa tidak enak. Namun yang dia pikirkan sekarang adalah wajah tampan milik Jason yang sangat awet muda.
"Di mana Suami Anda?"
"Itu diluar kekuasannya," Lazel langsung menjawab ke intinya. "Anda pasti bertanya-tanya mengapa hal ini dilakukan sendirian."
"Tidak. Tapi ada benarnya juga"
"Tuan Hyunjae bekerja di Perusahaan Pusat Pietra. Dimana dia adalah akar atau induk dari semua perusahaan yang ada disana. Oleh sebab itu masalah ini bukanlah urusannya." Jelas Lazel.
"Nona Muda dari Pietra grup memang menarik."
"Terima kasih.
Lazel melanjutkan pembicaraannya dan menunjukkan beberapa hal yang menarik dari rancangannya.
...◇• •◇...
Setelah menjelaskan beberapa hal, Lazel mempersilahkan bagi pihak melihat-lihat sendiri perhiasan lainnya melalui gambar di laptop.
"Apa merancang adalah salah satu kemampuan Anda?" Tanya Jason pada Lazel yang kini kembali pada posisinya
Wanita berambut perak itu menyilangka kedua tangannya di depan dada dan membalas tatapan langsung dari Jason, "tidak juga."
"Lalu?"
"Ada sesuatu yang membuat diriku bisa menguasainya dalam waktu singkat."
Di sela-sela pencarian Adiknya untuk cincin pernikahan dan perhiasan lainnya. Jason, pria muda itu mulai mengajak Lazel berbincang satu sama lain untuk lebih saling mengenal satu sama lain.
"Nona Lazel."
"Hm?"
__ADS_1
Pria berwajah dingin itu memperbaiki posisi duduknya dengan benar dan terus menatap lawan bicaranya, "apa Anda tidak berencana menjadi salah satu desainer perhiasan di tempat ini? Aku bisa menaikkan pembayarannya sebanyak tiga kali lipat, empat kali lipat. Atau... kehendak Anda sendiri"