Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Pergi Menuju Jepang


__ADS_3

"Bagaimana bisa Lazel berada disana?" Pikir Kara, "apa dia berniat melakukan pelarian begitu jauh?"


"Dengan akses yang dimiliki oleh Keluarga Pietra. Mereka pasti akan menemukan Lazel dengan mudah tapi, Lazel yang hidup selama bertahun-tahun di Keluarga Pietra sudah pasti tahu trik apa yang akan mereka lakukan untuk menemukannya. Oleh karena itu Lazel mampu mencegah agar tidak seorang pun tahu jika dirinya berada disana." Jelas Jean.


"..............."


Jean telah mengatakan semuanya pada Hyunjae, sisanya akan bergantung dengan keberuntungan dan juga nasib. Disaat publik heboh dengan berita baru ini, sudah pasti mereka akan melupakan sejenak mengenai Lazel yang hingga saat ini tidak pernah kembali. Meskipun sedikit merepotkan dirinya, ia sedikit berpikir mengenai masalah ini. Jika Lazel mendengarkan Hyunjae untuk kembali, maka semuanya dapat diatasi dengan mudah.


"Mengenai dirimu dan juga Lazel... bagaimana kalian bisa saling kenal? Setahuku Lazel tidak memiliki teman di waktu dia kecil."


"Hm? Memang. Siapa bilang Lazel dan aku berteman sejak kecil," Jean menyilangkan kakinya dan menatap Gyuu dengan seringainya. "Aku dan Lazel... adalah musuh~" ucapnya dengan bangga.


Kara tidak memahami apa yang dikatakan wanita itu, "a-apa yang kau katakan..."


"Cukup panjang jika terus ku katakan, setidaknya Hyunjae yang akan lebih tahu mengenai hal ini." Keluhnya.


Beberapa menit yang lalu Hyunjae telah meninggalkan kediaman Jean dan pergi ke Jepang, mungkin. Untuk itu, mereka harus menjalankan rencana mereka sendiri, terutama untuk menumpas habis seorang pelaku yang membuat berita tidak masuk akal mengenai dirinya dan juga Hyunjae.


"Apa kita harus pergi ke Rumah Utama Keluarga Pietra? Sepertinya aku harus meminta maaf terlebih dahulu." Ujar Jean yang masih sangat merasa bersalah karena menodai nama seseorang yang berasal dari keluarga yang terkenal.


...◇• •◇...


Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan wajah yang tiada henti-hentinya terus tersenyum. Jean sudah memberitahunya mengenai lokasi Lazel dan Ian, oleh sebab itu ia tidak habis pikir, jika Lazel berada di sebuah negara yang dia sukai.


Sebelum itu... ia tidak mungkin pergi begitu saja. Selain menyiapkan pesawat, ia juga harus menunggu paspor dibuat. Dan semua itu telah diurus oleh Leo, sedangkan pesawat berada di tangan Adam. Seusai paspornya dibuat, maka dia akan memberitahukan pada kedua orang tuanya dimana Lazel berada, dan meminta izin pada Adam untuk meminjamkannya pesawat.


Pria yang hanya bercelana panjang itu bangkit dari kasurnya lalu beralih pada sebuah koper hitam yang berada di bawah lemari. Ia mulai menyusun pakaian dan peralatan lainnya yang akan dibutuhkan saat disana.


"Aku akan menjemputmu... Lazel."


...◇• •◇...


"APA?! JEPANG?! LAZEL DAN IAN BERADA DI JEPANG?! MENGAPA KALIAN TIDAK MEMBERITAHUKU MASALAH INI DENGAN CEPAT!" Nezra terlihat sangat berapi-api setelah mengetahui dimana Lazel dan Ian berada, dan lebih parahnya lagi, Hyunjae duluan yang mengetahuinya dibandingkan dirinya.


"!!!!" Mereka tidak menyangka jika marahnya Nona dari Keluarga Pietra akan separah ini.


"Sepertinya Ayah pernah memeriksa di beberapa negara untuk mencari Lazel." Ujar Hyunji yang ikut berkumpul dengan temannya.


"Itu benar, tapi Lazel memiliki cara khusus, agar tidak dapat ditemukan oeh siapapun," jelas Adam. "Lazel sudah lama bersama kita, bukankah dia juga belajar dari apa yang kita lakukan?"


"..............." penjelasan yang diucapkan Adam sepemikiran dengan Jean. Sebelumnya ia juga menduga hal ini lebih dulu, Lazel tidak bisa diremehkan, bahkan tanpa bertemu langsung dengan tidak di sengaja mungkin tidak dapat menemukan mereka kembali.


Jean mulai mempercayai takdir. Terkadang memberikan sebuah rasa sedih yang sulit untuk menghilang, namun dibalik perasaan itu ada sebuah kebahagiaan sehingga melupakan tentang kesedihan.


Kara, Gyuu, Vicy dan Jean beserta dengan Putrinya. Mereka semua datang mengunjungi Kediaman Utama Keluarga Pietra. Mungkin ada beberapa hal yang perlu dibahas, namun sebelum itu Jean akan mempertanggungkan kesalahannya terlebih dahulu. Dibodohi atau tidak, seorang wanita yang bergelar di hadapannya itu tidak pernah bermain-main dengan hidup.

__ADS_1


"Maaf." Ujar Jean dengan membungkukkan tubuhnya.


"J-Jean!"


"Ibu?" Putrinya yang bersama dengannya menatap Sang Ibu dengan bingung.


"Seharusnya dari awal aku tidak melakukan ini,"  ucapnya dengan nada yang datar dan sedikit ada  penyesalan. "Bagaimanapun juga, aku akan memper-"


"Namamu... Jean bukan?"


"E-Eh?! Y-Ya..."


"Aku Nezra. Meskipun kau sudah memiliki seorang Putri, namun aku tetap lebih tua dibandingkan dirimu," ucap Nezra yang tidak disadari oleh Jean atas kehadiran wanita itu di hadapannya. "Karena kau dengan mereka tidak ada bedanya." Sambungnya sembari memperhatikan para kumpulan anak muda yang bersama dengan Putranya.


"M-Maaf..." untuk pertama kalinya ia tidak dapat berpikir di hadapan Nezra, aura yang dia miliki sangat berbeda dengan orang lain yang pernah ia temui.


"Ini bukanlah kesalahanmu. Meskipun awalnya aku sempat ingin memanggilmu kesini," Nezra membuat Jean kembali berdiri dengan biasa, lalu membujuk anak kecil itu untuk bermain dengan para pelayan. "Aku tidak akan pernah menyalahkan seseorang yang memang tidak melakukan apapun. Ayah Hyunjae sudah melakukan banyak pengamatan pada sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan Putranya, oleh karena itu kami tidak membebanimu dengan masalah ini." Jelasnya dengan panjang lebar.


Gyuu bangkit dari duduknya dan menghadap pada Nezra, "seiring berjalannya waktu Hyunjae membawa mereka kembali. Bukankan lebih baik kita menangani masalah ini dengan cepat? Aku tidak ingin berlama-lama di kondisi ini, mungkin ada saatnya kita akan terlibat."


"Sejak kapan Putra Eun ada disini?" Tanya Nezra dengan wajah yang menyindir.


"Apa kau mau berjudi dengan Ayahku? Dia mungkin akan merima Anda."


Nezra terdiam, dan sedikit memutar pikirannya, "Suami kedua? Tidak buruk." Pikirnya.


...◇• •◇...


Di hari selanjutnya, ia sudah mempersiapkan segalanya untuk pergi ke sebuah negara yang cukup terkenal dengan fenomena alamnya.


"Aku mau ikut." Ujar Nezra dengan wajah yang menyedihkan.


"Kau hanya akan menjadi pusat perhatian disana." Ujar Adam.


"Haaah?! Apa kau baru saja mengejekku?!"


"T-Tidak. Kau salah dengar."


Sebuah pesawat pribadi milik Keluarga Pietra akan digunakan oleh Hyunjae menuju Jepang. Matahari samar-samar mulai terlihat dan akan menerangi di pagi buta.


Nezra dan Adam sudah mendengar semuanya dari Jean serta teman-teman Lazel. Jika mereka terus menunda penjemputan Lazel dan Ian, ada kemungkinan besar jika kedua orang itu akan pergi lebih jauh lagi. Karena Lazel dan Jean terus bertukar pesan, sehingga Jean selalu melaporkan apapun yang dia kerjakan bersama dengan Kara dan yang lainnya.


Untuk masalah baru itu akan mereka selesaikan tanpa bantuan Hyunjae. Lagipula kedua orang tuanya mau untuk bekerja sama, ditambah dengan bantuan Gyuu.


Hyunji yang menatap dari kejauhan sedang mengkhawatirkan begitu banyak orang. Meskipun terlampau dewasa, namun ia tetap memiliki seorang Adik. Susah senang mereka alami bersama sejak kecil hingga kini, oleh karena itu... dibandingkan apapun, yang ia inginkan hanyalah keselamatan Hyunjae saja, tidak lebih dari itu.

__ADS_1


Dalam beberapa menit, pesawat itupun mulai terangkat sedikit demi sedikit, hingga memasukan kedua rodanya. Dengan suara yang bising, pesawat yang Hyunjae naiki pun telah lepas landas dan meninggalkan area bandara.


...◇• •◇...


Memiliki banyak penghasilan memang luar biasa, ditambah dengan usaha yang ada dimana-mana. Namun menjalankannya tidak semudah orang-orang pikirkan. Menjadi kaya juga membutuhkan proses, tanpa usaha mimpi itupun tidak mungkin terjadi.


Dengan memiliki Asisten ataupun Sekretaris, disaat inilah mereka mulai beraksi untuk menggantikan posisi terpenting atasan mereka hingga ketua mereka datang kembali.


Perusahaan Aplic Pietra dan Perusahaan Pusat Pietra. Saat ini kedua posisi Direktur kosong.


Perubahan mendadak itu membuat mulut para netizen semakin memanas. Kepergian Hyunjae yang mendadak diperkirakan kabur dan tidak ingin mempertanggung jawabkan kesalahannya.


Sedangkan Jean, selama kasus belum terpecahkan. Ia tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah.


...◇• •◇...


Gubrak!


Cklek!


"Kak! Ada apa?" Seorang laki-laki baru saja membuka pintu kamar seorang wanita yang tergeletak di atas lantai begitu saja.


"Adu-aduduh!" Ringisnya sembari mengusap kepala dan tubuh samping kirinya.


"K-Kau terjatuh?"


"K-Kurasa begitu..." Lazel berusaha bangkit dari posisi terjatuhnya dengan memegang sebuah meja. Namun ia memegang pada posisi yang salah, dimana sebuah ujungnya tekanan oleh tangannya sendiri.


"K-Kak!"


Dengan sigap wanita berambut perak dengan wajah yang setengah kusut itu bergerak dan menangkap sebuah lampu mini berbentuk tabung yang hampir terjatuh ke atas lantai.


"H-Hampir saja."


"Ada apa denganmu? Apa kau bermimpi buruk?"


"Tidak! Dan diamlah!" Lazel meletakkan benda itu kembali ke tempat semula dan menjauhkannya sedikit ke bagian tengah, "aku tidak bermimpi apapun, tapi aku terjatuh begitu saja dari ranjang sehingga membuatku terkejut dan terbangun." Ujarnya dengan wajah yang malas.


Lazel cukup terkejut dengan hari ini, banyak hal yang terjadi sehingga ia hampir saja melakukan kesalahan yang fatal.


Meskipun pemberian dari seseorang yang ia anggap tidak ada hubungan lagi. Benda itu merupakan satu-satunya hadiah yang dia dapatkan selain dari orang tuanya sendiri. Singkatnya, benda unik itu merupakan hadiah pertamanya dari orang lain, karena pada awalnya Lazel sama sekali tidak pernah memiliki seorang teman atau orang lain.


Bahkan dirinya selalu hidup dengan kesuraman pada keluarga besarnya sendiri. Namun saat ini ia merasa bahwa semuanya telah usai dan tidak ada lagi masalah yang akan memperlibatkan dirinya lagi.


...◇• •◇...

__ADS_1


Warna iris mata dan rambut yang jarang dimiliki oleh orang lain. Namun ia memiliki semuanya, terkecuali hati. Setelah beberapa insiden yang terjadi, ia merasa yakin dan memutuskan, bahwa hari itu adalah akhir dari segalanya. Karena tidak ada yang bisa diulang atau disambung, ikatan yang rapuh tidak mungkin dipaksa untuk bertahan, apalagi yang telah putus? Tidak ada harapan untuk menyambungnya kembali dan mengembalikannya ke bentuk semula.


Kesalahannya atau tidak, saat ini ia terasa sangat jauh... dan berusaha untuk menjadi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia akan melakukan apa yang dia lakukan saat kecil dulu.


__ADS_2