Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
JEPANG!


__ADS_3

Hyunji tidak mempercayai ini, bagaimana bisa kedua orang tuanya berakting hanya untuk menguji keberanian Hyunjae untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.


Jujur saja, apa yang Nezra bayangkan sangat berbeda. Awalnya ia berpikir jika Hyunjae akan meninggikan suaranya dan berusaha untuk berdebat argumen dengan Ibunya. Tapi ternyata... pria itu berusaha untuk tetap menghargai seseorang yang pernah melahirkannya dengan tidak memberi tanggapan apapun selain mengucapkan sebuah kalimat dimana dia harus melakukannya.


Hyunjae yang banyak berbicara membuat Nezra tidak dapat membalas ucapan Hyunjae. Pria itu lebih memilih untuk membuktikannya tanpa berbicara. Dan saat ini ia sadar bahwa perubahan yang waktu itu diucapkan oleh Hyunjae merupakan hal yang serius untuk dilakukan.


"Haaah~ tapi aku tidak menyangka jika kalian akan melakukan ini," Hyunji terkulai lemas di atas sofa. "Apa para pelayan juga ikut dalam rencana ini? Karena sebelumnya mereka juga terlihat tegang." Ia menatapi para pelayan yang berlalu lalang mengerjakan tugas mereka.


"Hm, aku yang menjadi sutradaranya." Sahut Nezra dengan perasaan yang bangga.


"Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana untuk meyakinkan kalian jika Hyunjae tidak bersalah."


"Ibu bangga padamu," senyum Nezra dengan tulus. "Berani berdebat dengan Ibumu demi membela saudaramu sendiri."


"T-Tapi, aku sudah berteriak di hadapan Ibu."


"Yang kau miliki saat ini adalah kami," kini Nezra mulai menatap Putranya dengan serius. "Namun setelah kami tiada, yang kau miliki adalah Hyunjae, Adikmu satu-satunya. Begitupula sebaliknya."


"Kau tidak boleh merasa ragu hanya untuk membela seseorang yang benar, selagi mereka adalah keluargamu sendiri."


Hyunji bersyukur jika semua itu adalah drama yang orang tuanya berikan.


"Tapi..." kini Nezra mulai mengeluarkan aura yang sedikit membuat manusia tegang. "Apa maksudmu menggenggam vas bunga itu dengan tanganmu? Apa kau berniat memecahkannya? Vas bunga itu memiliki harga yang sama seperti kedua ginjalmu. Jadi jangan coba-coba membawa benda sekitar untuk melawan orang lain."


"Bukankah kau sama saja?" Sahut Adam yang tengah duduk manis memperhatikan kedua Ibu dan Anak itu.


"Apa kau baru saja menyebut namaku?" Tanya Nezra yang kini beralih pada Adam.


...◇• •◇...


"Bagaimana bisa hal ini terjadi?"


"Ada dua kemungkinan," Jean membuat perhitungan terlebih dahulu sebelum mencari pelakunya. "Pertama, orang itu pernah meletakkan dendam padaku. Kedua... seseorang yang meletakkan dendam pada Hyunjae." Jelasnya.


Gyuu dan Vicy mulai berpikir jika dua kemungkinan itu bisa saja terjadi.


Saat ini mereka berhasil membawa Jean pergi dari studio untuk menghindari media masa. Bagaimanapun juga, para wartawan dapat melipu dengan mudah sehingga akan memperburuk keadaan.


"Lalu, kita akan pergi kemana sekarang?" Tanya Gyuu.


"Hubungi Kara, bagaimana kondisi disana?" Ujar Jean pada Vicy.


Vicy mencoba menghubungi Kara melalui ponsel. Kara saat ini berada di tempat tinggal Jean dan juga Putrinya.


"Apa kita harus pergi ke tempat Hyunjae? Disana mungkin lebih aman." Gyuu memberikan pendapatnya pada kedua perempuan yang duduk di kursi bagian belakang.


"Tidak," tolak Jean. "Saat ini... aku tahu apa yang harus kulakukan."


...◇• •◇...


"Sibuk?" Ia berkali-kali menghubungi Jean, namun selalu mendapatkan sambungan yang tidak sesuai.


Saat ini Hyunjae memutuskan untuk berbicara serius dengan Jean. Salah satu pembahasan yang akan mereka lakukan adalah menangkap pelaku ini. Ia merasa sangat bersalah, karena Jean yang tidak pernah memiliki niat jahat harus terseret ke dalam sebuah masalah yang besar, belum lagi jika dirinya memiliki seorang Putri.


Hyunjae mendapatkan dua kesulitan. Pertama, ia harus mencari Lazel di waktu terdekat. Sedangkan yang kedua, ia harus mencari pelaku yang melibatkan dirinya dan juga Jean ke dalam sebuah skandal.


"Maaf Lazel... sepertinya aku akan membantu Jean terlebih dahulu. Karena mau bagaimanapun juga, dialah satu-satunya yang mengetahui tentang keberadaanmu dan juga Ian."


Sebelumnya ia menghentikan mobilnya di daerah perusahaannya. Untuk melanjutkan tujuan, Hyunjae tidak tahu dimana mereka sekarang.


Drtt!


Hyunjae memperhatikan sebuah nama yang tertampang di layar ponselnya, "Vicy?"


Hyunjae mengangkat panggilan itu tanpa menunggu lama, "ada apa?"


^^^"Datanglah ke tempat Jean. Aku akan mengirimkan alamatnya."^^^


Vicy tidak berbicara banyak dan langsung mengatakan ke intinya. Beberapa detik ke depan, sebuah pesan pun masuk dan memperlihatka sebuah alamat yang ditulis oleh Vicy.


"Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi aku akan ikut terlebih dahulu."


Hyunjae mengganti gigi mobil lalu menancapkan gas dan pergi dari sana secepat mungkin.

__ADS_1


...◇• •◇...


"Ibuu~" seorang anak kecil dengan rambut panjangnya menghampiri Jean yang sedang duduk bersama dengan teman-teman Hyunjae.


Sebuah ruangan yang minimalis, tidak begitu besar dan juga mewah. Namun sebagai single parent, Jean mampu menanggung semuanya seorang diri.


Jendela berukuran sedang tepat berada di balik sofa yang Gyuu tiduri. Sedangkan yang lainnya lebih memilih untuk duduk di atas lantai yang beralaskan sebuah ambal yang lembut.


"Wah, dia sangat mirip denganmu." Ujar Kara yang memperhatikan wajah kedua Ibu dan Anak itu dengan detail.


"Hm, matanya juga sedikit sipit." Sahut Vicy.


"Aku berasal dari Jepang, dan Suamiku dulu adalah orang dari Negara ini." Jelas Jean.


"O-Oh! Benarkah?" Kejut Kara dan Vicy bersamaan.


"Apa aku tidak pernah mengatakannya pada kalian?"


"Tidak."


"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Gyuu yang tidak menginginkan basa basi.


Pertanyaan Gyuu membuat keadaan kembali tegang. Seperti ucapan Jean sebelumnya. Bahwa dia tahu apa yang harus dia lakukan.


"Aku memutuskan untuk... mengirim Hyunjae ke tempat Lazel dan Ian berada."


"??!!"


...◇• •◇...


"Kupikir gang ini memiliki jalan yang cukup sempit, ternyata cukup lebar." Ujar Hyunjae yang sudah memasuki sebuah gang sesuai dengan alamat yang diberikan Vicy.


Mobil hitam itu terus bergerak dengan perlahan, hingga menemukan sebuah rumah yang memiliki dinding berwarna krim berpadu cokelat.


Dua buah mobil juga terparkir di depan rumah itu. Salah satunya memiliki warna yang mencolok seperti pemiliknya. Hyunjae tidak perlu melihat alamat lagi, ia beruntung karena mobil kuning itu.


Tok! Tok! Tok!


"Hyunjae!" Ucap Vicy dengan terkejut.


"Hei, apa kau baru saja bertengkar dengan Ibumu? Siapa yang menang?" Tanya Gyuu.


Plak!


Baru saja kepalan Vicy mendarat dengan sempurna di atas kepala Gyuu sehingga membuat pria berambut kuning itu terdiam, "bisakah kau bertanya mengenai poin-poin pentingnya saja?"


"Apa kau bertengkar dengan Ibumu?" Tanya Vicy.


"Bagaimana Hyunji? Apa dia berhasil meleraikan kalian?" Tanya Kara yang berdiri di hadapan Hyunjae.


Jean terkejut dengan bibir Hyunjae, "ada apa dengan bibirmu?"


"Untuk saat ini aku tidak bisa menjelaskan apapun. Namun semuanya sangat baik, dan jauh berbeda dengan apa yang kalian pikirkan." Jelas Hyunjae.


Akhirnya mereka kembali berkumpul, terkecuali bagi Hyunji. Hyunjae tidak tahu apa tujuan mereka berkumpul disana, tapi ada sesuatu yang ingin dia katakan.


Hyunjae melihat seorang anak perempuan yang ia pikir adalah Putri dari Jean, "tenanglah, aku akan mencari pelakunya." Ujarnya yang mengarah pada Jean.


"Pergilah." Sahut Jean dengan wajah yang serius.


"Huh?"


"Pergilah menemui Lazel dan Ian."


"A-Apa yang kau katakan?! Apa kau tahu situasi saat ini seperti apa?!"


"Lalu apa kau mau menundanya lagi? Sehingga dia benar-benar akan hilang dari perkiraanku? Seharusnya kau bersyukur jika ada seseorang yang mengetahui dimana mereka berada." Kini Jean protes dengan ucapan Hyunjae.


"Tapi, kau juga tahu bukan jika-"


"Aku dan yang lainnya akan mengurus hal ini, jadi kau pergi dan bawa keduanya kembali." Sela Jean yang terus meyakinkan Hyunjae.


"Memangnya kalian sudah mendapatkan petunjuk? Mencari tanpa bantuanku? Apa kalian bisa?"

__ADS_1


"Kau pikir posisiku disini apa?" Sahut Gyuu yang bangkit dari tidurnya, "turuti saja permintaan Jean, dan kami akan menyelesaikan masalah ini."


"Hyunjae, apa yang dikatakan Jean itu benar. Kita tidak akan tahu jika Lazel dan Ian akan pergi lagi." Ucap Kara.


Hyunjae tidak memahami jalan pikir mereka. Di tengah-tengah masalah seperti ini, justru mereka meminta pada Hyunjae untuk pergi dan menjemput kedua orang itu.


"Dimana... dimana mereka berada?" Kini Hyunjae mematuhi ucapan Jean dan juga teman-temannya.


"Dari mana asalku?" Tanya Jean.


"Jepang?"


"Apa kau pernah mendengar makanan yang Lazel sukai?"


"Ramen."


"Makanan itu khas dari negara mana?"


"Jepang."


"Kalau begitu pergilah."


"..............." awalnya Hyunjae dan yang lainnya tidak memahami dari pertanyaan itu. Namun setelah dipiki-pikir kembali. Kehilangan Lazel pasti berkaitan dengan tempat atau lokasi. Sedangkan negara adalah pernyataan yang sesuai dengan nama sebuah tempat.


"L-LAZEL DAN IAN BERADA DI JEPANG?!" Gyuu, Vicy dan Kara berteriak bersamaan.


Sedangkan Hyunjae sama sekali tidak menyangka jika Lazel berada di negara itu.


"K-Kau serius?"


"Apa aku memiliki waktu untuk berbohong di tengah-tengah masalah seperti ini?"


Pria berambut hitam itu sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Lazel yang berbulan-bulan tanpa kabar kini telah diketahui jelas dimana dia berada. Jean memberikan informasi detail mengenai Jepang dan juga lokasi Lazel disana.


"A-Apa aku harus pergi sekarang?" Tanya Hyunjae dengan wajah bahagia yang tidak bisa disembunyikan.


Jean mengangkat kedua tangannya kedua sisi dengan menekuk siku serta telapak tangan yang mengarah ke atas, "terserah." Jawabnya dengan sedikit senyuman yang aneh.


"Aku serahkan masalah ini pada kalian." Ucap Hyunjae yang ingin pergi begitu saja.


"Hei hei tunggu sebentar." Jean menarik kerah pria itu agar tidak terburu-buru.


"Ada apa lagi? Bukankah kau-"


"Besok adalah Musim Panas pertama. Gunakan ini disaat yang bersamaan." Ujar Jean dengan memberikan sesuatu di dalam sebuah tas mini berwarna cokelat.


Hyunjae sedikit penasaran dengan isi tas tersebut, "apa in-"


"JANGAN DIBUKAAAA!" Teriak Jean.


"B-Baik!"


"Semuanya sudah ku catat pada kertas itu, jadi ikuti arahannya dengan benar." Ujarnya.


"Aku pergi." Hyunjae pergi begitu saja dan menyalakan mesin mobil lalu menghilang secepatnya.


Semuanya melihat kepergian Hyunjae yang sangat membuatnya bahagia.


"Jean... memangnya apa isi dari tas itu?" Tanya Kara.


"Kimono." Jawabnya.


"Ha? Kinomo?"


Plak!


"Kimono, pakaian khas dari Negara Jepang." Sahut Kara dengan memberi pukulan di kepala Gyuu.


"Hei... bisakah kalian tidak memukul kepalaku?"


"Itu karena kau sendiri yang sangat bodoh."


Jean meletakkan harapan tinggi pada Hyunjae agar bisa membawa Lazel dan Ian kembali. Mungkin menghadapi Lazel tidak begitu sulit, namun yang lebih sulit adalah menyamakan emosinya dengan Ian. Karena siapapun tahu bagaimana pola pikir seorang anak laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2