
Tokyo terlihat begitu cantik jika di malam hari. Gedung-gedung tinggi terdapat beberapa layar lebar yang menunjukkan sebuah iklan atau hal-hal lainnya.
Seperti biasa, pejalan kaki memenuhi jalan raya. Karena menyambut awal Musim Panas pertama, di sebuah gang yang terdapat kuil akan diadakan festival. Bahkan tanpa bantuan Jean, Hyunjae sendiri bisa menemukan tempat itu dengan bertanya.
Sebuah pakaian adat atau yang disebut dengan Kimono. Namun pakaian itu jauh terlihat simpel untuk digunakan dan sepertinya akan cocok dikenakan oleh Hyunjae.
Sebuah kimono yang berukuran pas dengan tubuhnya, dengan motif garis vertikal berwarna abu-abu.
Ia mencoba mengenakannya dan berdiri di hadapan cermin. Karena memiliki badan yang atletis, tubuh atas bagian dadanya sedikit terlihat atau terbentuk.
Pria berwajah tampan itu berpikir sejenak sembari menatap dirinya di pantulan cermin, "apa aku harus mengenakan pakaian dalam?" Ujarnya.
"T-Tidak, kurasa akan terlihat aneh." Ia mengambil sebuah benda yang sempat ia pakai sebelumnya untuk menutupi bagian kepala. Meskipun berada di tempat yang jauh, ia harus tetap menjaga identitas dirinya, untuk saat ini dirinya tidak perlu menarik perhatian siapapun dan fokus pada Lazel dan juga Ian.
Menurut yang Jean jelaskan, Lazel selalu tertarik dengan Festival apapun yang diadakan disini. Oleh karena itu mustahil jika Lazel tidak menghadiri Festival untuk menyambut awal Musim Panas.
...◇• •◇...
Untuk menikmati suasana malam hari, ia membiarkan jendela mobil terbuka sedikit. Lagipula lumayan transparan jika di malam hari.
Dirinya tidak bisa pergi tanpa membawa kendaraan pribadi, oleh karena itu sebelumnya Hyunjae menyewa sebuah mobil di sebuah hotel yang dia tempati. Beberapa menit yang lalu, Jean memberikan sebuah peta yang menunjukkan sebuah gang dimana Lazel tinggal.
Saat dirinya membawa mobil dengan perlahan, ia melihat sebuah toko yang begitu antik dan juga unik. Ditambah dengan warna serta hiasan di dindingnya, "butik?" Ujarnya dengan sedikit terpukau.
Kini kedua tatapannya kembali pada jalan dan akhirnya menemukan sebuah gang yang memungkinkan untuk bisa membuat mobil melaluinya.
Hyunjae yang baru saja membelokkan mobilnya seketika menginjak rem dan berhenti di tepat persimpangan.
"I-Ini memang lebar, tapi..." Hyunjae tidak memikirkan ini sebelumnya. "Begitu banyak pejalan kaki disini, bagaimana aku bisa sampai di tujuan?"
"Nak... apa kau turis?" Tanya seorang pria tua dengan bahasa asing yang menghamipiri Hyunjae dengan kaca jendela yang terbuka.
"O-Oh! Ya." Jawab Hyunjae.
"Haha! Begitu rupanya. Kau tidak bisa membawa kendaraanmu masuk, jadi ku persilahkan untuk memarkirnya disana." Seorang pria asing dengan ramah berbicara pada Hyunjae serta menunjukkan sebuah tempat parkiran dimana disana terdapat beberapa petugas untuk menjaganya.
"Anda baik sekali, terima kasih."
"Bukan masalah."
...◇• •◇...
"Hm... jalanan disini cukup menanjak." Ujarnya dengan kedua kaki yang sudah menempel pada aspal.
Lampu yang sudah disiapkan di langit-langit menerangi malam dan juga jalanan. Terdapat beberapa jajanan lokal yang berasal dari sana yang mereka jual.
Suara-suara ramai memeriahkan di bawah langit gelap berbintang. Suara tawaran dan ajakan untuk mencoba makanan mereka dengan ramah dan juga penuh semangat.
Pria bertopi hitam itu berhenti sejenak karena beberapa gadis berhasil menghampirinya.
"Ada apa lagi sekarang, aku harus menemukan Lazel dan membawanya bersamaku." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"A-Apa Kakak mau berfoto dengan kami?" Ketiga gadis dengan kimono yang begitu cantik berbicara dengannya menggunakan bahasa asing. Hal itu membuat Hyunjae menebak bahwa mereka tahu jika dirinya berasal dari luar.
Tapi, secantik apapun wajah mereka. Hyunjae sudah menempatkan stampel besar di hatinya dengan nama Lazel, oleh karena itu mereka tidak membuatnya terpengaruh.
Hyunjae sedikit terjolak saat mereka memanggilnya dengan sebutan aneh, "K-Kakak? Hei, aku sudah memiliki seorang Istri. Apa aku masih sesuai dipanggil seperti itu?" Batinnya. "Haha~ ku hargai permintaan kalian, tapi aku harus menemui Istriku secepat mungkin."
"I-Istri?!"
"Hm? Memangnya ada apa?"
"Y-Yah... Anda masih terlihat begitu muda untuk menikah."
"Tidak juga, lebih tepatnya aku adalah Sugar Daddy Lazel," umpatnya dalam hati dengan bangga. "Kalau begitu sampai jumpa~" ia memberikan lambaian tangan dan meninggalkan ketiga gadis itu.
Menggunakan piyama, serta topi untuk menyamarkan wajahnya dan juga identitasnya. Semua itu ia pakai agar tidak terlibat dengan masalah yang sama seperti sebelumnya. Tapi ia menduga bahwa itu tidak berguna atau tidak mempan.
Hyunjae pun berpikir mengenai apa yang harus dia lakukan untuk bisa menutupi wajahnya tanpa harus memberikan kesan yang berlebihan.
"Sepertinya kau cukup populer Anak Muda." Ucap seorang Paman yang menjual beberapa topeng dengan bentuk yang berbeda-beda.
Hyunjae menghampirinya dan melihat beberapa topeng yang bergantung dengan bentuk-bentuk yang unik.
"Jika kau ingin mengihindarinya, maka gunakanlah topeng. Itu akan membuatmu susah dikenali."
"Oh! Ide yang bagus!" Hyunjae mendapatkan sebuah penawaran yang berguna untuknya agar tidak menarik perhatian.
"Biasakah aku memilih ini?" Tawarnya dengan memilih sebuah topeng kucing yang memiliki warna putih dengan beberapa garis merah di lekukannya.
"Tentu saja."
Hyunjae melepas topinya dan meletakkan pada Paman tersebut dengan wajah yang tersenyum ramah, "sebagai ucapan terima kasih." Ujarnya lalu mengenakan topeng itu dan bergegas pergi setelah membayar dan juga memberikan topinya.
Paman itu terlihat kebingungan, bahkan uang yang dia dapatkan cukup banyak. Ia pun merasa tak enak dengan pemberian seperti itu, namun pria dengan kimono hitam bergaris itu sudah pergi entah kemana.
Kedua matanya memperhatikan sebuah lambang berwarna emas yang ada di balik topi itu dengan tulisan,
"G-Gucci?"
...◇• •◇...
Dapat dilihat dari kejauhan jika jalan poros itu sangat ramai dengan pengunjung. Toko terbuka lebar di sepanjang jalan dan menawarkan berbagai macam barang atau makanan yang unik.
"Ramai sekali, bagaimana aku bisa menemukan Lazel jika di kerumunan seperti ini." Gumamnya.
Berkat topeng pemberian Paman tadi, dirinya tidak mendapatkan gangguan lagi. Mungkin jika ada seseorang yang mengenal dirinya, kedua antingnya bisa menjadi sebuah pembuktian.
Ia terus memperhatikan dan mulai terbawa arus keseruan di malam itu. Suara musik-musik mulai terdengar, beberapa panggung penari sudah disiapkan dengan pakaian yang sangat unik.
"Musim Panas, Musim Dingin... belum lagi acara tahunan seperti Natal. Mungkin di kota ini akan semakin ramai." Pikirnya.
Kedua matanya dapat melihat dengan puas dibalik topeng yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
...◇• •◇...
Warna yang sesuai dengan kondisi malam hari, serta corak kupu-kupu itu terlihat cukup terang jika diperhatikan dengan benar. Rambut perak yang panjangnya terikat menjadi satu ke belakang dengan beberapa hiasan kesukaannya. Membuat model rambut yang lain begitu merepotkan, oleh karena itu ia akan menatanya seperti biasa. Namun tetap memberikan kesan lembut dan anggun.
Sebuah topeng berbentuk kucing berwarna hitam bergaris merah menutupi wajahnya. Untuk saat ini ia berharap agar tidak membuat kehebohan, terutama untuk para pria yang terus mencoba mengganggunya. Memberi mereka pelajaran tidak begitu baik untuk dilakukan di tengah acara seperti ini.
"Kau mengenakan topeng? Apa tidak panas?" Seseorang muncul dan mendahului dirinya dan mulai memasuki area.
"Aku hanya berusaha untuk melindungi diriku dari hal-hal yang tidak berguna." Jawabnya dengan nada yang datar dan mengikuti pria berambut perak itu dari belakang.
Di malam Festival Musim Panas pertama. Lazel akan menghabiskan waktunya dengan Saudaranya sendiri. Bukan tidak memiliki teman, ia hanya berusaha untuk menghindari kalimat itu agar tidak menimbulkan rasa tahu untuk mereka.
Lagipula ia tidak pernah berbicara pada siapapun jika pernah menikah dan bahkan sudah bercerai. Ia tidak tahu harus merahasiakan masalah ini hingga kapan, karena butuh waktu untuk benar-benar lepas dari bayangan mereka.
"Oh! Aku mau kesana," ujar Ian yang melihat arena permainan. "Apa kau mau ikut Kak?" Tawarnya pada Lazel.
"Tidak, kau bisa bermain sendiri."
"Baiklah~"
Lazel melihat punggung Ian yang menjauh serta mengenakan kimono yang dia belikan sendiri tanpa suruhan Adiknya. Tanpa tahu pakaian itu cukup pas dan bagus dilihat.
...◇• •◇...
Tanpa sadar... ketiganya sudah berada di satu tempat yang sama. Tidak akan ada yang tahu bagaimana yang akan terjadi jika mereka bertemu. Bahkan Hyunjae yang mulai terbawa suasana Festival malam hari mulai melupakan tujuan utamanya untuk menghadiri acara tersebut.
Ian lebih memilih untuk memuaskan dirinya dengan berbagai macam permainan yang ada disana. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah berupa barang, cukup unik. Bahkan beberapa toko yang menerapkan permaian seperti itu terkadang melakukan sesuatu agar dirinya untung tanpa mengorbankan barang pada pemenang.
Kedua kakinya terus melangkah ke depan, dengan kedua tangan yang bersilang di depan dada. Namun pandangannya kesana kemari.
Sedangkan seseorang yang berjalan melawan arah hanya menatap ke depan tanpa perasaan apapun. Semuaya hampir sama dan juga asing karena topeng yang digunakan. Kimono kupu-kupu yang dia kenakan cukup membuat banyak perhatian, serta rambut panjangnya yang berwarna perak.
Hyunjae yang belum mengubah posisi kepalanya dan juga tidak memperhatikan jalan dengan benar. Tanpa sadar ia menabraks seseorang yang mengenakan topeng.
"M-Maaf." Ujar Hyunjae yang membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan seseorang yang memiliki tinggi yang hampir mencapai dirinya.
"Hm." Orang itu hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Begitupula dengan Hyunjae.
"..............." namun entah apa yang terjadi, mereka merasa jika ada sesuatu yang sangat mengganjal pada pertemuan asing sebelumnya.
Dengan langkah yang terhenti, keduanya menoleh tanpa aba-aba. Seseorang yang mengenakan kimono kupu-kupu sudah diduga jika dia adalah seorang perempuan.
Sedangkan apa yang wanita itu lakukan adalah. Berbalik dan mengangat topeng yang ia kenakan ke samping dan menunjukkan sebagian wajahnya sehingga memperlihatkan iris mata caramelnya.
"!!!!" Kedua tangannya terturun begitu saja dan cukup kikuk untuk menghadapi situasinya.
"Anting-anting?" Ia memperhatikan sepasang benda yang sangat tidak asing baginya.
"L-Lazel?" Ucap pria itu dengan suara yang cukup jelas untuk di dengar.
__ADS_1
Awalnya dia yang memiliki nama itu cukup terkejut pasa seseorang yang tidak dia kenal mengetahui namanya. Namun perlahan-lahan kedua matanya membesar dengan ekspresi wajah yang terkejut, dan tanpa sadar menurunkan sepenuhnya topeng yang ia pegang.
"Hyunjae?"