Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 23 : Kota Pinyin


__ADS_3

Beberapa hari setelah menggagalkan rencana licik Pangeran She, bayi mungil ajaib yang dapat berbicara anak dari Shingen dan Ming Lian mulai memikirkan rencana selanjutnya. Ming Fengying dengan senang hati meladeni rencana licik Pangeran She dengan siasat cerdiknya.


Saat ini sebgaian besar penduduk wilayah Bei sedang ramai dan berbondong - bondong untuk menyambut kedatangan Kaisar Ming Long. Walaupun beberapa dari mereka sebenarnya tidak peduli. Kebanyakan penduduk asli yang sudah hidup di Bei sejak lahir, mereka begitu mengagumi sosok Ming Lian, tetapi tidak dengan keluarga kaisarnya. Karena saat itu Kaisar Ming Long juga sama seperti kaisar sebelumnya, mereka tidak mengakui wilayah Bei menjadi bagian dari Kekaisaran Kuru. Dan, kini kunjungan Kaisar Ming Long terlihat seperti menjilat ludah yang telah dibuang oleh dirinya sendiri.


Ming Fengying mengingat kembali di kehidupan sebelumnya tentang kejadian penting yang dekat dengan hari ini. Setelah rencana pembunuhan Kaisar Ming Long gagal, maka sudah pasti Pangeran She menggunakan rencana licik yang lebih besar untuk menjalankan rencananya.


"Aku sudah memikirkan rencana, hanya saja yang membuatku pusing adalah siapa pengkhianat di antara 22 samurai pengikut ayah?" batin Ming Fengying yang sedang digendong oleh Ming Lian di Istana Pinyin.


Wilayah Bei lebih hidup dari biasanya terutama di dalam Kota Pinyin, ribuan orang berbaris dan desak - desakan hanya untuk melihat wajah Kaisar Ming Long. Sepanjang jalanan terdapat ukiran kayu yang dibuat oleh penduduk Kuru dan Yamato yang menetap di Bei. Sedangkan penduduk asli Bei membuat dekorasi di sepanjang jalanan dengan beberapa lampion untuk mereka terbangkan malam ini. Di antara semua itu ada sebuah tulisan kain yang sangat mencolok di gantung di tembok bangunan di Kota Pinyin. Tulisan itu betuliskan selamat datang di tempat para orang buangan, tulisan yang disengaja untuk menyindir Kaisar Ming Long. Tulisan itu dibuat oleh beberapa penduduk yang masih tidak menerima dengan keputusan Kaisar Ming Long dan keluarganya di masa lalu.


Kereta megah yang dinaiki Kaisar Ming Long yang di sampingnya ada pengawal yang tak asing namanya di wilayah Bei sendiri yaitu Shingen, Lin Kin dan Zhang Bingjie. Mereka bertiga berjalan di samping kereta kuda megah tersebut, hanya saja wajah Kaisar Ming Long terlihat murung dan tidak sehat.


Di dalam kereta Tao Lulu sudah memberikan pertolongan pertama kepada Panglima Lu Chen, yang dimana pria paruh baya tersebut masih pingsan dan terbaring di bangku kereta ditemani oleh tabib perempuan tersebut.


Ming Lian membawa malaikat kecilnya keluar dari dalam Istana Pinyin menuju luar Istana Pinyin ditemani tabib perempuan yang menjadi murid Tao Lulu.


"Ying'er, hari ini kakek akan berkunjung ke Istana Pinyin." Senyuman lembut menyungging di wajah cantik Ming Lian yang sedang menggendong Ming Fengying.


Ming Fengying turut bahagia melihat ibunya kembali ceria dan tersenyum, dengan senyuman lembutnya yang seperti biasanya.


Rombongan kereta kuda megah berhenti di depan Istana Pinyin, terlihat wajah murung Kaisar Ming Long, tetapi setelah dia melihat bayi mungil yang menggemaskan yang sedang digendong Ming Lian. Raut wajah Kaisar Ming Long berubah cerah dan senyuman menghiasi wajahnya ketika melihat wajah Ming Fengying.


"Lian'er? Apakah ini anakmu yang baru lahir lima bulan yang lalu?" tanya Kaisar Ming Long menghampiri anak perempuannya, kemudian menatap wajah cucunya yang imut dan menggemaskan sedang melihatnya penuh keheranan.


"Apa dia juga perempuan?" tanya Kaisar Ming Long kembali sambil menyentuh pipi Ming Fengying.

__ADS_1


"Ying'er? ... dia adalah laki - laki." jawab Ming Lian pelan sambil tersenyum karena ayahnya sampai ke Bei dengan selamat.


"Ying'er? Siapa namanya?" Kaisar Ming Long tersenyum sambil terus memainkan jarinya di pipi Ming Fengying.


"Ming Fengying." jawab Ming Lian dengan singkat.


"Nama yang bagus." Kaisar Ming Long tersenyum bahagia melihat Ming Fengying, kemudian Ming Lian menyuruh ayahnya itu untuk masuk ke dalam Istana Pinyin.


Di dalam ruangan istana yang megah sudah terdapat banyak makanan untuk menyambut kedatangan Kaisar Ming Long. Kemudian Shingen mengajak masuk mereka yang telah membantu, baik dari 22 samurai pengikutnya maupun pendekar dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah.


Beberapa jam setelah penyambutan, mereka semua memasuki ruangan perjamuan tersebut di sana ada Kaisar Ming Long, Panglima Lu Chen, Zhang Bingjie, Lin Kin, perwakilan 22 samurai, kemudian tentunya juga ada Shingen dan seluruh keluarganya. Shingen dan Ming Lian tidak membeda - bedakan kasta, hanya saja ketua dari dua sekte tersebut menyuruh anggota pendekarnya untuk makan di kedai makan yang ada di Bei.


Semua yang berada di dalam ruangan itu dalam keadaan suka cita dan penuh tawa walau mereka telah melewati pertempuran yang mematikan.


Kamejiro dan Fujin melaporkan kepada Shingen tentang banyaknya bandit di desa - desa yang dekat dengan wilayah Bei, sehingga perjalanan mereka menuju perbatasan terhambat karena harus menghabisi kelompok bandit terlebih dahulu.


Ming Fengying menatap Kamejiro dan Fujin dari mata mungilnya. Dia berharap bukan salah satu dari mereka berdua pengkhianatnya, karena ayahnya begitu mempercayai mereka. Ming Fengying tidak ingin ayahnya merasakan pengkhianatan.


Ming Fengying merasa matanya akan kembali memerah. Karena ketika perasaannya gundah dan cemas, Ming Fengying mungil akan dengan mudah menangis.


"Eh... Lian'er... kenapa Ying'er menangis?" ucap Kaisar Ming Long ketakutan karena dia tidak terlalu pandai membuat seorang bayi yang masih kecil tertawa. Menurutnya dia yang telah menyebabkan Ming Fengying menangis.


Ming Lian berjalan pelan menghampiri ayahnya, kemudian dia mengambil Ming Fengying yang menangis dari gendongan ayahnya.


"Cup... cup... cup... ini bunda nak..." ucap Ming Lian sambil mencoba menenangkan Ming Fengying digendongannya.

__ADS_1


"Lulu, temani aku... biar yang lain mengurus itu." perintah Ming Lian menyuruh Tao Lulu menemai dirinya, mereka berdua pergi ke kamar megah yang menjadi tempat tidur Ming Lian bersama Shingen.


Tao Lulu tidak menolak perkataan Ming Lian, dia langsung beranjak pergi mengikuti Ming Lian dari belakang.


Selesai acara jamuan makan malam di ruangan Istana Pinyin, Shingen mengobrol bersama ayah mertuanya di kursi yang terlihat elegan yang berada di ruangan Istana Pinyin.


Sementara itu, Ming Lian dan Tao Lulu sedang mengobati Ming Fengying yang terus menangis ketika matanya berwarna merah kembali, kondisi ini terus membuat Ming Fengying kesulitan selama akhir - akhir ini. Namun, anehnya mata Ming Fengying berwarna merah ketika malam saja.


Yang paling membuat Ming Lian khawatir ketika mendengar Ming Fengying menangis, kemudian mata merahnya mengeluarkan darah segar walaupun cuma sedikit, tetapi bagi Ming Lian itu membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Karena dia adalah seorang ibu dan sudah pastinya seorang ibu tidak tahan melihat bayi mungilnya kesakitan.


"Tuan Putri, saya tidak mengerti penyebab dari mata merah Ying'er... tetapi Tuan Putri jangan khawatir... saya akan menemukan obatnya sesegera mungkin." ujar Tao Lulu meyakinkan Ming Lian yang sedang menangis tersedu - sedu melihat Ming Fengying menangis.


Ming Fengying sendiri tidak mengerti kenapa matanya bisa menjadi merah, dia mencoba mengingat kembali tentang kehidupannya yang sebelumnya. Tetapi, Ming Fengying tidak menemukan jawabannya karena lupa.


"Kalau tidak salah aku pernah menemukan cermin di Hutan Kumalawyuha..." batin Ming Fengying mencoba mengingat bentuk cermin tersebut.


Ming Lian terus menangis melihat Ming Fengying yang matanya berubah menjadi merah darah menyala. Mendengar isakan tangis ibunya, membuat Ming Fengying berhenti menangis dan memandang wajah Ming Lian yang basah karena air matanya.


"Maaf bunda, karena telah membuat bunda khawatir..." ucap Ming Fengying dengan suara yang terdengar imut dan menggemaskan.


Ming Lian mengusap air matanya kemudian dia mendekat pada Ming Fengying, sambil mengusap pipi malaikat kecilnya tersebut dengan penuh kasih sayang.


Kelembutan kasih sayang Ming Lian membuat Ming Fengying tenang. Tao Lulu yang melihat Ming Lian tersenyum jadi ikut turut berbahagia.


"Sebenarnya apa penyebab, mata Ying'er berwarna merah? Aku harus lebih giat mempelajari ilmu pengobatan!" batin Tao Lulu bertekad menyembuhkan Ming Fengying dan berlatih ilmu pengobatan lebih dalam lagi.

__ADS_1


__ADS_2