
Tiga penjaga yang mencegat Shingen langsung menunduk.
"Bukankah Anda Tuan Zhao Meng." Penjaga gerbang kota memberi jalan pada pria sepuh yang bernama Zhao Meng untuk masuk ke dalam Kota Jinning.
"Mari Tuan Shingen," ajak Zhao Meng sambil melangkahkan kakinya memasuki Kota Jinning.
Shingen tetap bersikap seperti biasa, walau direndahkan, dia tidak merasa direndahkan. Mengingat di perjalanan kehidupannya banyak orang yang merendahkannya dan ujung-ujungnya mereka semua menjadi teman atau pengikut setia Shingen.
"Penjaga belagu," ejek Yuan Shi sambil meniup jari kelingkingnya ke arah tiga penjaga.
Ming Fengying menggelengkan kepalanya melihat sikap Yuan Shi. Sementara tangannya yang lain menutupi mata Soo Yun agar tidak melihat tingkah Yuan Shi.
"Fengfeng," gerutu Soo Yun sambil memegang tangan Ming Fengying yang menutupi matanya.
Ming Fengying hanya tersenyum tipis memegang tangan Soo Yun. Kemudian dia menarik Soo Yun dengan lembut mengikuti Shingen.
"Bocah tengil ini!" Penjaga kota menggertakkan giginya berdecak kesal melihat tingkah Yuan Shi.
Pria sepuh yang bernama Zhao Meng terus menuntun Shingen menuju rumahnya yang berada di pinggiran kota. Rumah Zhao Meng sangat luas, di sebelah rumahnya terlihat sebuah panti asuhan yang dia bangun.
Shingen tersenyum melihat beberapa pedagang sedang memberikan uang kepada panti asuhan untuk diberikan pada anak-anak yang membutuhkan.
"Sepertinya Zhao Meng ini menyembunyikan sesuatu." Shingen menatap tajam Zhao Meng yang sedang tersenyum ramah pada pedagang yang telah memberikan sebagian harta mereka pada anak-anak panti asuhan.
"Mari Tuan Shingen. Silahkan masuk..." Zhao Meng tersenyum ramah kepada Shingen dan anggota samurainya. Dia mempersilahkan mereka semua untuk masuk.
"Fengfeng, lihat itu." Soo Yun mendekap tangan Ming Fengying sangat erat. Bahkan sentuhan bagian sensitif Soo Yun sangat terasa di tangan Ming Fengying.
"Cukup banyak penduduk di sini." Ming Fengying melihat penduduk yang bertemu dengan rombongannya di pelabuhan. Mereka sedang membawa potongan daging ikan bawal dan beberapa yang lainnya sedang mempersiapkan alat masak di lapangan.
"Malam ini kamu makan yang banyak ya." Ming Fengying mengelus rambut Soo Yun dengan lembut.
Soo Yun merasa sedikit kesal walau sebenarnya dia merasa senang.
"Kamu lebih muda dariku tapi sikapmu seolah-olah lebih tua dariku!" Soo Yun menatap Ming Fengying lurus.
"Kamu lebih tua dariku tetapi sikapmu malah seperti adik kecilku." Ming Fengying membalas perkataan Soo Yun dengan sengit sebelum dia berkata, "Walau aku belum pernah mempunyai seorang adik."
__ADS_1
Soo Yun menjijit kemudian dia berbisik di telinga Ming Fengying.
"Bagaimana jika kamu menganggapku sebagai adikmu," bisik Soo Yun lirih.
"Aku tidak bisa," balas Ming Fengying singkat.
Soo Yun melebar matanya, walau sayu tetapi matanya sekarang mendelik mendengar perkataan Ming Fengying. Dan tentu itu membuat Ming Fengying semakin gemas dengan Soo Yun.
"Fengfeng!" Soo Yun memukul lengan Ming Fengying.
"Jangan paksakan khayalanmu kepadaku. Masih untung aku mau menganggapmu sebagai calon selir. Aku ikuti permainanmu itu, Yunyun." Ming Fengying memegang tangan Soo Yun dan menariknya.
"Aku tahu kamu tertarik padaku. Kamu pura-pura saja kan. Apa aku terlihat seperti kekasihmu yang kau maksud itu?" Ming Fengying mencengkeram tangan Soo Yun sangat erat sampai membuat gadis bermata sayu itu memekik kesakitan.
"Sakit," pekik Soo Yun ketika tangannya dipegang erat Ming Fengying.
"Maaf," ucap Ming Fengying tanpa menoleh melihat Soo Yun yang meringis kesakitan. Sentuhan tangan Ming Fengying sekarang terasa dingin di kulit Soo Yun.
"Fengfeng beraninya kamu..." Soo Yun terdiam tidak menyelesaikan perkataannya. Dia bisa melihat wajah Ming Fengying yang berubah. Akhirnya Soo Yun sadar jika dirinya telah menyinggung perasaan Ming Fengying.
Soo Yun hanya ingin diperhatikan, dia ingin menemukan seseorang yang dapat membuatnya merasa bahagia dan menerima dirinya apa adanya. Gadis bermata sayu berharap jika orang yang menjadi pengharapannya adalah Ming Fengying.
Nama Zhao Meng cukup terkenal di Kota Jinning karena dia merupakan satu-satunya pengusaha transportasi kapal di Danau Qing.
Zhao Meng memiliki sebuah perkumpulan bekas nelayan yang sekarang bekerja sebagai awak-awak kapal miliknya. Nama perkumpulan yang dipimpin Zhao Meng bernama Sakura Jernih Berguguran.
Nama Sakura Jernih Berguguran adalah nama naungan bisnis Zhao Meng. Banyak hal yang tidak di ketahui Ming Fengying tentang hal-hal yang terjadi pada periode di umurnya sekarang yang sekarang ini.
Ming Fengying hanya mengingat kejadian besar saja dan beberapa nama-nama yang dia kenal saat dirinya berkelana. Saat dirinya bernama Feng Huang kebanyakan dia menghabiskan waktu di Sekte Taman Langit.
Sangat jarang bagi Ming Fengying yang bernama Feng Huang saat itu keluar dari kediaman Sekte Taman Langit.
Namun Ming Fengying tidak bisa terus menerus menyesali kehidupan sebelumnya. Dia dahulu hanya berkelana tanpa arah dan tidak peduli dengan yang terjadi pada dunia, namun kini dia harus berubah.
Ming Fengying sampai saat ini merasa bahwa kehidupan sebelumnya hanya sebuah mimpi panjang, semakin lama dia menjalani hidup, semakin Ming Fengying menganggap dirinya datang dari masa depan bahkan terkadang dia merasa dirinya datang dari masa lalu.
Semua pertanyaan itu akan terjawab ketika dirinya melihat kebenaran tentang mengapa dirinya menjadi bayi yang berbeda dari bayi biasanya karena Ming Fengying adalah sosok bayi ajaib yang dapat berbicara.
__ADS_1
"Fengfeng," ucap Soo Yun dengan suara lembut merasa bersalah. Gadis bermata sayu itu melambaikan tangannya tepat di mata Ming Fengying yang melamun.
"Eh ... kenapa ... Yunyun." Ming Fengying menggelengkan kepalanya karena terlalu banyak berpikir.
"Kamu membawaku ke kamar yang sama denganmu. Ternyata kamu cukup agresif," ujar Soo Yun terlihat dia bersikap malu-malu di depan Ming Fengying.
"Sial! Aku kebanyakan berpikir! Aku bisa menemukan jawaban tentang kebenaran masa lalu atau masa depanku di Hutan Kumalawyuha!" Ming Fengying membatin sambil menatap Soo Yun.
"Entah aku bereinkarnasi, atau atau aku datang dari masa lalu bahkan jika aku datang dari masa depan. Aku akan menemukan jawabannya saat aku melihat cermin dan cawan yang ada di hutan itu," batin Ming Fengying menambahkan.
"Nanti malam kamu tidur di kasur. Biar aku tidur di lantai." Ming Fengying melepas pegangan tangannya. Kemudian dia menatap ke luar jendela kamar.
Sementara itu Shingen sedang berbincang dengan Zhao Meng. Dia benar-benar habis pikir melihat anaknya membawa seorang gadis masuk ke dalam kamar yang telah di siapkan pelayan kediaman Zhao Meng.
"Tuan Shingen. Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya yang menatap sinis Tuan Shingen bersama Tuan Samurai yang lain," ungkap Zhao Meng sambil menundukkan kepalanya kepada Shingen.
"Jangan menunduk." Shingen menatap tajam Zhao Meng. Kemudian dia meminum teh yang masih panas.
"I-Iya." Zhao Meng menatap Shingen. Dirinya merasakan kharisma Shingen hingga membuat tubuhnya menjadi gemetar dan merasa gugup.
"Tuan Shingen pasti telah menyadarinya, bukan?" Zhao Meng menatap Shingen serius.
Shingen tersenyum tipis menatap raut wajah Zhao Meng. Kemudian dia kembali meminum teh hangat.
"Ceritakan saja padaku. Setelah kau menyambutku seperti ini, kau telah kuanggap sebagai temanku, Zhao Meng!" Shingen tertawa pelan.
"Aku rasa hal yang ingin kau katakan itu ada kaitannya dengan Walikota Kota Jinning dan pendekar suruhannya." Shingen menambahkan.
Zhao Meng hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Tuan Shingen ini akan menjadi cerita panjang. Tapi aku akan menceritakannya tentang kebenaran Kota Jinning." Zhao Meng menggigit bibirnya sambil menjambak rambutnya.
Shingen bisa melihat kegelisahan dan kemarahan di wajah Zhao Meng.
"Aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Tetapi setelah melihat Tuan Shingan aku berpikir bisa meminta bantuan kepada Tuan Shingen." Zhao Meng tidak berani menatap wajah Shingen.
"Tenang saudaraku Zhao Meng. Kekaisaran Kuru adalah tempat mertuaku. Aku akan melindunginya. Ceritakan saja padaku." Shingen merasa jika Zhao Meng bukanlah orang sembarangan. Hidup mewahnya saja menandakan jika Zhao Meng seperti seorang bangsawan.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Shingen..." Zhao Meng menghela napas panjang kemudian dia berusaha untuk tidak menangis dan marah.
Shingen menatap Zhao Meng cukup tajam. Sembari menunggu makan malam bersama penduduk yang sedang memasak daging ikan bawal di depan kediaman rumah mewah Zhao Meng. Lapangan yang luas akan menjadi tempat mereka berpesta nanti, sekarang Shingen hanya fokus mendengarkan cerita Zhao Meng tentang kegelapan yang membayangi Kota Jinning.