
Terlihat mata kanan Shingen menatap tajam anak semata wayangnya. “Duduk kembali!” Semua orang terdiam dan melihat Shingen yang memiliki aura berbeda dari mereka semua.
“Tetapi—”
“Duduk!” Tanpa membantah lagi, Ming Fengying kembali duduk dengan wajah yang merah padam karena menahan amarah.
“Mohon maaf atas ketidaksopanan anakku ini.” Shingen berbicara cukup keras pada semua orang yang hadir di Aula Langit Suci.
“Aura miliknya...” Xiao Long membatin. Kemudian dia menelan ludah sebelum kembali menatap Shingen.
“Saudara Xiao, memang semua orang mengenalmu dan mengetahui julukanmu, tetapi alangkah lebih baiknya kita dengarkan perkataan Saudara Tian dan Tuan Shingen.” Sosok pria paruh baya dengan rambut putih mulai angkat bicara. Pria paruh baya tersebut bernama Jiang Tian dan merupakan Ketua dari Sekte Pedang Langit.
“Mungkin kita tidak sadar. Walau kalian semua tidak menerima keberadaan Tuan Shingen. Kalian memanggilnya dengan sebutan Tuan. Sama sepertiku. Kesabaran dan kewibawaan, Tuan Shingen, membuat kita tanpa sadar menghormatinya walau kita menyindir beliau.” Jiang Tian menambahkan.
Lin Kin menatap Xue Jingyi. Kemudian mereka berdua mengangguk pelan. Sebelumnya Xue Jingyi mengamati beberapa perubahan raut wajah pendekar yang hadir di Aula Langit Suci, perempuan berparas cantik itu merasa ada hawa nafsu membunuh yang samar-samar di sekitar tempat berkumpulnya pendekar yang sedang duduk di Aula Langit Suci.
Kemungkinan terburuk yang dikhawatirkan Xue Jingyi adalah adanya seorang penyusup di pertemuan ini. Xue Jingyi berbisik pelan pada pendekar perempuan yang menemani perjalanannya. Pendekar tersebut bernama Xue Li.
Tak lama Xue Li mengangguk pelan dan berdiri menghampiri Tao Shi. Karena kemarahan Ming Fengying dan provokasi Xiao Long, pertemuan kali ini sedikit canggung.
Beberapa saat kemudian para pendekar yang hadir di Aula Langit Suci mulai memuji Shingen karena sikap rendah dirinya, sebagian lainnya diam dan mengamati arah pertemuan ini akan berjalan.
“Kita tidak tahu seberapa luasnya dunia. Tetapi peradaban dari luar Benua Jiu sangat maju. Aku yakin, makhluk yang kulihat adalah Naga. Dan bukan kadal, Saudara Xiao.” Shingen berkata pada Xiao Long yang terdiam dan menatapnya geram.
Semua orang terkejut mendengar suara Shingen yang terdengar ramah. Bahkan suaranya terasa sangat nyaman di telinga mereka.
“Shingen! Seberapa batas kesabaranmu itu! Sembilan tahun lalu kami menginjak-injak harga dirimu, tetapi, kenapa kau tidak marah dan tetap bersikap tenang seperti itu!” Xiao Long berteriak keras karena merasa geram dengan sikap Shingen.
Senyuman tipis menghiasi wajah Shingen. Lalu pria dengan mata kiri yang terluka itu menatap langit-langit Aula Langit Suci.
__ADS_1
“Dengar, Saudara Xiao. Aku tidak akan marah dan hanya diam saat kalian menghinaku sebagai orang asing. Semua perkataan itu hanya akan membuatku diam. Tapi...,” Shingen menekan perkataannya cukup keras di kalimat terakhirnya. Semua orang menelan ludah dan menatapnya. “Apapun alasannya jika kalian berani menghina temanku, maka itu urusannya sudah berbeda!”
Xiao Long terdiam seribu bahasa. Hari ini akhirnya dia mengerti perkataan mendiang orang tuanya. Orang yang lebih banyak diam akan menakutkan ketika dia sedang marah. Kini dihadapannya sosok Shingen bagaikan orang yang dimaksud mendiang orang tuanya itu.
“Jangan gegabah, Shingen. Saat ini kau adalah menantu dari Kaisar Long. Kami semua belum menerimamu sepenuhnya. Hanya karena kau dan Tuan Putri Kelima berhasil mengubah Bei menjadi wilayah yang makmur. Bukan berarti kau bisa ikut campur dalam urusan pendekar di dunia persilatan.” Saat semua orang mulai mengagumi Shingen, sebagian menoleh ke arah Ling Han yang kembali menyinyir Shingen.
“Tidak apa jika kalian tidak menerimaku. Namun, aku ingin kalian melihat pengikutku dan keluargaku sebagai orang yang harus kalian terima,” jawab Shingen. Kemudian pandangan matanya menatap ke arah Ling Han.
Jiang Tian menatap raut wajah pendekar yang hadir di Aula Langit Suci, kebanyakan dari mereka terlihat bingung harus berkata seperti apa, karena kebanyakan dari mereka adalah pendekar yang baru mengikuti Pertemuan Putih Suci untuk pertama kalinya.
“Saudara Ling, kupikir Pedang Naga Sakti sedang mengadakan latihan tertutup? Bukankah kalian tidak menerima undangan yang dikirimkan, Saudara Lin? Apa penyebab Saudara Ling menjadi berubah pikiran?” Jiang Tian terlihat tenang. Pria paruh baya tersebut menatap pendekar dari Pedang Naga Sakti yang jumlahnya lebih banyak dari sekte lainnya.
“Latihan tertutup adalah masalah pribadi sekte, jangan terlalu ikut campur, Saudara Jiang! Kami, Pedang Naga Sakti tidak butuh undangan dari sekte yang lebih kecil dari kami! Alasan kami datang menghadiri pertemuan ini karena orang-orang dari Bei ini!” Ling Han tersenyum dan berusaha memprovokasi Shingen beserta pengikut samurainya.
Jiang Tian tertawa kecil begitu juga dengan pendekar yang mulai menerima Shingen. Perbedaan pendapat dan mencari ketenaran adalah pertemuan yang sebenarnya dari Pertemuan Putih Suci.
“Jadi begitu,” sahut Jiang Tian menanggapi jawaban Ling Han dengan cuek. Melihat sikap Jiang Tian tentu Ling Han mengernyitkan dahinya.
“Ada rumor jika Pedang Naga Sakti membeli sumber daya dari Kekaisaran Shi...”
“Pedang Naga Sakti selama beberapa bulan terakhir mengalami kemajuan pesat, sumber daya yang besar menjadi pendukung utama mereka.”
“Jadi ini alasannya kenapa Ketua Pedang Naga Sakti sangat berani berbicara panjang lebar di pertemuan ini...”
Ming Fengying mengernyitkan dahinya mendengar para pendekar yang duduk di dekatnya saling berbisik. Ming Fengying juga menyadari adanya hal yang aneh dari sikap pendekar Pedang Naga Sakti.
“Silahkan, Saudara Lin. Dilanjut kembali acara ini,” ucap Jiang Tian memecah keheningan.
“Terimakasih, Saudara Jiang.” Lin Kin tersenyum pada Jiang Tian yang memberinya kesempatan untuk kembali memimpin Pertemuan Putih Suci.
__ADS_1
“Kita kembali ke topik utama yang dibawa oleh Ketua Lembah Es Rembulan.” Semua orang melihat gerak-gerik Lin Kin yang terlihat telah mengenal Xue Jingyi yang kecantikannya nomor satu sebagai pendekar perempuan di dunia persilatan Kekaisaran Kuru.
“Untuk masalah politik Kekaisaran Kuru. Mungkin banyak pendekar yang memegang prinsip untuk tidak terlibat dalam masalah politik. Tetapi, jika ada pendekar aliran putih ataupun netral terlibat dalam masalah politik yang baru-baru ini menghebohkan Kekaisaran Kuru, aku yakin saudara semuanya sadar. Jika tindakan saudara sekalian sama halnya dengan pendekar aliran hitam,” ucap Lin Kin tegas. Semua orang mendengarkan perkataan Lin Kin baik-baik, walau sebagian merasa kesal dengan perkataan Lin Kin seperti pendekar dari Pedang Naga Sakti.
Kehadiran Pedang Naga Sakti di Pertemuan Putih Suci membuat pertemuan menjadi penuh kecanggungan karena sering kali terjadi perbedaan pendapat yang berakhir dengan kata-kata sindiran.
Meskipun demikian, Lin Kin tetap melanjutkan Pertemuan Putih Suci sambil mengawasi gerak-gerik pendekar yang mencurigakan.
“Situasi semakin runyam. Jujur Sekte Taman Langit bekerjasama dengan Tuan Putri Kelima bukan karena masalah politik atau kami mengemis sumber daya. Kejujuran hati beliau dan setiap tindakan maupun perkataannya adalah hal yang nyata. Beliau sangat cinta pada rakyatnya. Aku mendengar gosip miring tentang perseteruan Pangeran She dan Tuan Putri Kelima. Tetapi aku tidak ingin saudara sekalian memilih orang yang salah.” Perkataan Lin Kin kembali menuai amarah Ling Han.
“Jangan bicara seolah-olah kau lebih hebat dariku, Junior Lin! Atas dasar apa Pangeran She memiliki masalah dengan Tuan Putri Kelima?!” Dengan sinisnya Ling Han menatap dingin Lin Kin.
“Jangan terlalu angkuh, Saudara Ling! Aku semakin lama disini, semakin muak melihat sikapmu yang arogan itu!” Kini justru Ketua dari Sekte Harimau Putih yang angkat bicara. Sosok pria dengan wajah garang yang bernama Fang Baihu menatap dingin Ling Han.
“Jangan membahas hal yang di luar pertemuan. Lebih baik pendekar dari aliran putih atau netral yang terlibat dalam masalah Kota Jinning segera mengaku di tempat ini. Kalian adalah manusia yang dididik bela diri dan ilmu kerohanian dari kecil. Seharusnya kalian tahu tentang kejujuran!” Liang An yang sedari tadi diam mulai geram mendengar perkataan yang terus berbeda pendapat.
Fang Baihu tersenyum sinis ke arah Ling Han sebelum memejamkan matanya, sedangkan Ling Han membuang wajahnya dan tidak mempedulikan perkataan Liang An.
“Maaf memotong perkataan saudara semua. Ada sedikit kata yang ingin kusampaikan tentang perkataan, Saudara Lin.” Tian Yang menatap semua orang yang hadir di Aula Langit Suci.
“Tentang masalah keluarga Kaisar Long. Kita sebagai pendekar harus mempunyai prinsip sendiri dan tanamkan itu dalam hati. Jika ingin bekerjasama dengan salah satu dari lima anak Kaisar Long, maka bekerjasama lah dengan orang yang benar. Jangan memungkiri sebuah kebenaran walaupun kalian telah mengetahuinya. Dan jangan menghalalkan kesalahan demi tujuan pribadi atau nafsu belaka.” Perkataan Tian Yang membuat sebagian pendekar menunduk dan merenung.
Ming Fengying mengamati jalannya pertemuan ini, perlahan emosinya mereda karena sentuhan tangan Soo Yun yang menggenggam tangannya.
“Sejauh ini tidak ada orang yang mengejek ayah lagi. Bahkan pria tua itu hanya diam setelah mendengar perkataan ayah.” Ming Fengying membatin sambil menatap tajam Xiao Long.
Ming Fengying sendiri tidak mengetahui alasan Xiao Long terdiam, namun dirinya sangat mengagumi sosok ayahnya yang tetap berwibawa dan membuat orang-orang yang tidak menerimanya justru sekarang mulai kagum dan menerima ayahnya.
Sedari kecil Ming Fengying sangat mengagumi sosok ayahnya, sekarang dirinya lebih kagum pada ayahnya yang menjadi panutannya.
__ADS_1
Shingen tetap rendah diri tanpa direndahkan walau banyak sindiran yang menerka dirinya. Bahkan orang yang menyindirnya, justru terlihat mulai menghormatinya. Dari situ Ming Fengying belajar dari perkataan Shingen kepadanya tentang seorang pendekar yang harus tetap merunduk seperti padi. Semakin tinggi ilmunya maka akan semakin merunduk, bukan mendongak ke atas.