
Suara kicauan burung terdengar jelas di depan Istana Pinyin. Sementara itu kabut tipis dan embun pagi yang mendekap dedaunan membuat suasana pagi di Istana Pinyin menjadi begitu sejuk.
Di halaman depan Istana Pinyin sudah terlihat Fujin, Sanada dan Yuan Shi yang memakai kimono berwarna putih. Sementara itu Shingen dan Ming Fengying juga memakai kimono berwarna putih, mereka berdua sedang berpamitan dengan Ming Lian.
"Ying'er, jaga dirimu baik - baik dan ikuti perkataan ayah, ya." Ming Lian mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang. Ming Lian begitu khawatir pada anaknya yang hendak pergi meninggalkan wilayah Bei.
"Bunda tenang saja. Ying'er akan mengikuti perkataan ayah dan menjaga amanah dari bunda," jawab Ming Fengying sambil tersenyum selembut - lembutnya pada Ming Lian.
Shingen dan Ming Fengying menunduk pelan pada Ming Lian sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Istana Pinyin. Bahkan sebelum pergi, Ming Lian membenarkan kimono yang dipakai Shingen.
"Jaga Ying'er baik - baik, sayang..." ucap Ming Lian pada Shingen.
"Sayang, sini. Aku akan pergi lama jadi tolong berikan kecupan perpisahan disini..." bisik Shingen dengan wajah memohon pada Ming Lian. Permintaan Shingen membuat wajah Ming Lian merah merona.
Tidak lama Ming Lian menjinjit mengecup kening Shingen selama beberapa detik, Shingen tersenyum lebar dan mengecup kening Ming Lian tanpa malu - malu. Kedua tangannya menyentuh pipi Ming Lian dengan lembut.
"Dasar..." pekik Ming Lian sambil mendorong tubuh Shingen tak bertenaga. Wajahnya memerah, kemudian dia melirik Ming Fengying yang memandang dirinya bersama Shingen tanpa ekspresi.
Shingen mengelus rambut Ming Lian dengan penuh kelembutan sebelum kakinya melangkah mendekati Ming Fengying.
Ming Fengying tersenyum lembut pada Ming Lian sambil melambaikan tangannya, tidak berapa lama Fujin, Sanada dan Yuan Shi menyapa Shingen yang datang bersama Ming Fengying.
Shingen menatap Toramasa dan yang lainnya sebelum meninggalkan wilayah Bei.
"Kalian harus menjaga Bei dengan baik," Shingen menatap Toramasa dan tujuh samurai yang lainnya. "Jangan biarkan orang lain mengusik kedamaian di Bei. Tetap buat Bei seperti biasa, sampai aku kembali nanti." tambah Shingen sebelum membalikkan badannya meninggalkan Kota Bei.
__ADS_1
Ming Fengying dan Yuan Shi menatap Kota Bei penuh makna, bagi Ming Fengying melihat wilayah Bei tetap ada hingga umurnya sembilan tahun adalah sebuah keajaiban. Sementara itu bagi Yuan Shi yang berlatih menjadi seorang samurai di wilayah Bei bersama anggota Sepuluh Pilar Rembulan membuatnya secara tidak sadar sudah jatuh cinta pada wilayah Bei.
Tidak berapa lama mereka mendekati lima kuda hitam yang gagah perkasa, Ming Fengying dan Yuan Shi juga diajari bagaimana caranya berkuda dan menjinakkan kuda oleh anggota Sepuluh Pilar Rembulan yang bernama Ryunosuke dan Mamorusuke.
"Kenshin. Apa kau bisa mengendarainya?" tanya Shingen pada anaknya yang sedang mengelus punggung kuda hitam yang menjadi pilihannya.
Ming Fengying mengangguk pelan dan tersenyum tipis menatap Shingen.
"Tenang saja ayah. Kenshin akan lebih cepat mengendarai kuda hitam ini daripada ayah," celetuk Ming Fengying sambil tertawa pelan. Shingen meremas pelan rambut anaknya yang sedang mengeledeknya.
"Baiklah. Bagaimana jika kita berdua berlomba?" tantang Shingen sambil tangan kanannya mengelus dagunya, sedangkan mata kanannya menyipit melihat Ming Fengying.
Mendengar perkataan Shingen tentu saja Fujin, Sanada dan Yuan Shi berpikir Ming Fengying anak menolaknya, tetapi tidak berapa lama mereka dikagetkan dengan Ming Fengying yang menerima tantangan ayahnya.
Shingen tertawa mendengar jawaban anaknya, kemudian dia naik ke atas punggung kuda hitam yang gagah perkasa. Seekor kuda yang akan menjadi rekan perjalanannya, membuat Shingen semakin bersemangat ketika melihat Ming Fengying dengan mudahnya menunggangi kuda hitam yang menjadi pilihannya.
Fujin, Sanada dan Yuan Shi menunggangi kuda hitam yang sudah disiapkan Shingen. Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka bertiga memacu kuda yang mereka tunggangi mengikuti Shingen dan Ming Fengying yang sedang berjalan memutar menunggangi kuda.
"Mari kita mulai perjalanan kita! Semoga keberuntungan berada di pihak kita!" seru Shingen pada Ming Fengying, Fujin, Sanada dan Yuan Shi sebelum memacu kudanya, memulai perjalanannya.
"Haa!" teriak Fujin dan Sanada secara bersamaan, kemudian mereka berdua memacu kudanya mengejar Shingen.
Ming Fengying dengan cepat memacu kudanya mengejar ayahnya yang berada di depannya, dengan mahir dia tersenyum ketika dirinya berada di samping ayahnya. Ming Fengying menoleh ke arah Shingen sebelum memacu kudanya lebih cepat lagi.
"Ayah! Kejar aku!" teriak Ming Fengying pada Shingen setelah kudanya mulai memimpin di depan, Ming Fengying tertawa ketika memimpin.
__ADS_1
Melihat tingkah maupun sikap Shingen dan Ming Fengying yang hampir sama kelakukanya membuat Fujin, Sanada dan Yuan Shi menggelengkan kepalanya, mereka bertiga hanya mengikuti kecepatan kuda dari Shingen dan Ming Fengying agar tidak tertinggal jauh dari mereka berdua.
Shingen tersenyum lebar melihat Ming Fengying yang memimpin di depan, tidak berapa lama dia lebih cepat memacu kudanya mengejar Ming Fengying.
"Kenshin!" teriak Shingen memacu kudanya lebih cepat mengejar Ming Fengying. Kecepatan kudanya hampir sama dengan kecepat kuda yang ditunggangi Ming Fengying.
"Ayah! Sangat menyenangkan sekali hari ini!" teriak Ming Fengying ketika Shingen berada di sampingnya, posisinya agak jauh darinya. Ming Fengying tertawa lepas karena baru pertama kali ini dia merasakan persaingan dengan ayahnya sendiri, dan menurutnya perasaan bahagia ini membuatnya ingin tertawa lepas.
Hembusan angin menerpa wajahnya, Ming Fengying kembali memacu kudanya lebih cepat lagi untuk kembali memimpin. Tetapi Shingen tidak membiarkannya, dengan seluruh pengalamannya, Shingen tetap berada di samping Ming Fengying mengikutinya.
Tidak berapa lama Shingen dan Ming Fengying tertawa lepas menikmati angin yang menerpa tubuh mereka, sedangkan Yuan Shi tersenyum lebar melihat Ming Fengying begitu dekat dengan ayahnya.
Perkataan dan tindakan Ming Fengying selalu membuat Yuan Shi bertanya - tanya, karena Ming Fengying selalu mempunyai maksud di setiap tindakannya. Tidak berapa lama dirinya tertarik mengikuti Shingen dan Ming Fengying yang sedang balapan di depan, Yuan Shi melirik Fujin dan Sanada di samping kiri dan kanannya.
"Guru Fujin! Guru Sanada! Kalian akan kalah jika tidak menyusulku!" teriak Yuan Shi sambil memacu kudanya lebih cepat mengejar Shingen dan Ming Fengying di depannya, menjauh dari Fujin dan Sanada yang sekarang berada dibelakangnya.
Fujin dan Sanada menatap satu sama lain, kemudian mereka tertawa dan memacu kudanya lebih cepat lagi. Kini Fujin, Sanada dan Yuan Shi mengikuti Shingen dan Ming Fengying yang sedang berlomba dan bersaing satu sama lain.
Setelah menempuh waktu hampir seharian, mereka berlima tidak bertemu dengan suatu halangan yang membuat perjalanan mereka terhambat. Tidak berapa lama Ming Fengying melihat siluet sebuah pemandangan desa yang dia lihat dengan matanya. Bayangan - bayangan desa membuat mereka berlima tersenyum lebar karena mereka berlima beranggapan desa tersebut adalah garis akhirnya.
Ming Fengying yang berada paling depan memacu kudanya lebih cepat dari sebelumnya, tetapi Shingen melewati dirinya dengan mudah sambil melambaikan tangan ke arah Ming Fengying.
Sesampainya di desa tersebut, Shingen sampai di garis akhir pada posisi pertama, sedangkan Ming Fengying berada di posisi kedua disusul Sanada, Fujin dan Yuan Shi.
Satu hal yang mereka berlima tidak sadari, mereka semua telah memasuki desa terbengkalai yang menjadi markas dari sebuah kelompok pencuri yang namanya dikenal dengan Organisasi Bertudung Putih.
__ADS_1