Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 90 : Jia Wu


__ADS_3

Keesokan harinya Ming Fengying dan Soo Yun bersikap seperti biasanya. Mereka berdua bersenda gurau dan saling bercanda. Namun ketika sore hari, Ming Fengying meninggalkan Soo Yun sendirian di kamar.


"Yunyun, aku keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Kakek Lin." Hanya kata-kata tersebut yang keluar dari mulut Ming Fengying sebelum meninggalkan Soo Yun.


Di dalam Ruang Awan Merah Muda, Ming Fengying sedang duduk bersama Shingen dan Lin Kin. Di tangan Ming Fengying terlihat Kitab Bintang Surgawi yang dipegang erat oleh Ming Fengying.


"Kakek Lin. Kitab Bintang Surgawi adalah ilmu yang diwariskan oleh seorang pendekar silat dari Benua Raya yang bernama Prabu Banyu Sukma." Ming Fengying menggunakan kekuatan mata Tsukuyomi hingga bola matanya yang hitam berubah menjadi merah. "Di sini tertulis jika 283 tahun yang lalu Benua Raya telah jatuh ke tangan Kekaisaran Bahamut. Namun di kitab ini tidak dituliskan secara mendetail bagaimana perang dan penjajahan yang dilakukan Kekaisaran Bahamut."


Lin Kin dan Shingen mencoba mendengarkan perkataan Ming Fengying. Tidak berapa lama Ming Fengying kembali membuka bagian demi bagian dari halaman Kitab Bintang Surgawi. Hingga akhirnya dia menemukan secarik kertas yang terselip di antara lembaran halaman.


"Prabu Banyu Sukma, Lutung, Raden Bara dan Putri Sekar Arum. Tiga nama ini sangat mirip dengan nama-nama orang dari Negeri Wulan. Tetapi dua nama yang lainnya terdengar seperti nama orang Yamato." Ming Fengying menunjukkan kertas yang dia baca pada ayahnya.


Shingen menggunakan kekuatan Tsukuyomi miliknya. Lin Kin terbelalak kaget melihat rambut Shingen yang memanjang dan berubah menjadi warna putih, sedangkan kedua mata Shingen juga berwarna merah darah.


"Nekomata Nekoma... Enma." Shingen mengernyitkan dahinya. "Kenshin, coba perlihatkan pada ayah, tulisan seperti ini yang lainnya."


Ming Fengying membuka halaman yang berisikan cerita Prabu Banyu Sukma ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Benua Jiu.


"Aku meninggalkan Kitab Bintang Surgawi di sebuah lembah yang berada di antara pegunungan indah dan terbelah. Orang-orang disana sangat ramah. Aku menulis kisah seorang pasangan pendekar dan samurai yang menikah sebagai balas budi atas kebaikan hati mereka. Kedua pasangan yang bahagia itu bernama Lin Yue dan Tsukuyomi Ryouta-" Shingen menelan ludah tidak melanjutkan perkataannya. Sementara itu Lin Kin baru pertama kali mendengar cerita tersebut.


"Tuan Shingen, bisa bacakan lagi. Aku ingin mendengarnya." Lin Kin terlihat sangat antusias, namun Ming Fengying menatap Lin Kin dengan tajam.


"Kakek Lin. Aku ingin memberitahu Kakek Lin tentang cerita ini, namun ada sesuatu yang lebih penting dari ini." Ming Fengying memejamkan matanya dan memijat keningnya. "Pendekar yang bernama Jia Wu memiliki hubungan dengan Pangeran She yang terlibat dalam perdagangan manusia!"


Lin Kin mengernyitkan dahinya. "Tuan Muda! Wu'er adalah murid yang berbakat dan tidak mungkin dia melakukan tindakan hina seperti itu!" Lin Kin mengelak dan tidak terima dengan perkataan Ming Fengying.


"Aku telah menggunakan ilmu pengendali hati pada burung dan mengamati Jia Wu di kediamannya. Kediaman itu adalah tempat maksiat. Di sana ada puluhan gadis yang di siksa dan di paksa melayani nafsu bejat orang itu!" Ming Fengying berdiri dan meninggalkan Lin Kin maupun Shingen.


"Yang paling membuatku geram dia mengincar Yunyun! Ini adalah pertaruhan, karena aku meninggalkan Yunyun sendirian di kamar!" Ming Fengying membuka pintu Ruang Awan Merah Muda. "Tadi aku sempat melihat dia berada di sekitar Istana Langit menyambut kedatangan pendekar dari sekte besar. Sekarang Kakek Lin ikut aku! Kita buktikan perkataanku!"


Shingen bisa melihat anaknya dapat berusaha untuk tetap tenang dan melakukan pertaruhan yang berbahaya, namun dia tidak menyangka Ming Fengying akan bertindak secara diam-diam. Bahkan dia sendiri tidak menyangka Ming Fengying akan berurusan dengan masalah internal Sekte Taman Langit.

__ADS_1


Shingen dan Lin Kin menyuruh Ming Fengying dan Soo Yun agar tetap berada di kamar beberapa hari belakangan ini karena suatu alasan. Dan alasan itu karena keberadaan Ming Fengying yang sudah tidak asing lagi.


Rumor tentang bayi ajaib yang dapat berbicara masih tidak dapat dipercaya oleh sebagian orang, namun Lin Kin berpendapat jika banyak orang yang salah paham dan mengartikan tentang Ming Fengying yang bisa melihat masa depan.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Shingen dan Lin Kin mengikuti Ming Fengying menuju kamar yang ada di lantai sembilan.


Lantai teratas masih sepi, samurai seperti Fujin, Sanada dan Yuan Shi sedang mengobrol bersama Zhang Bingjie dan dua pendekar dari Sekte Sungai Merah di lantai bawah. Sedangkan pendekar dari Sekte Harimau Putih dan Lembah Bunga Persik Tersembunyi belum ada satupun pendekar dari kedua sekte tersebut yang datang ke Lembah Pegunungan Tiangan.


Kekhawatiran Ming Fengying semakin menjadi karena suasana di lantai sembilan yang sangat sepi. Setelah sampai di depan kamar, kekhawatirannya terbukti karena pintu kamar terkunci dari dalam.


Shingen dan Lin Kin berada di samping kiri dan kanan Ming Fengying. "Aku akan mendobrak dengan caraku sendiri!" Kaki Ming Fengying dilapisi aura tubuh berwarna putih. Tendangan secepat cahaya itu menghancurkan pintu kamar.


Di dalam kamar, Ming Fengying mendapati Soo Yun yang ketakutan dan berdiri di sudut dinding. Matanya langsung beralih tertuju pada pria berparas tampan yang sudah melepas pakaiannya dan sekarang dia hanya mengenakan celana pendek.


Ming Fengying tidak dapat berpikir jernih lagi. Matanya melebar dan melesatkan pukulan pada wajah Jia Wu. Tangan Ming Fengying mencekik leher Jia Wu dan melemparnya ke arah Lin Kin.


"Kakek Lin! Inilah wujud asli manusia yang baik dan tampan. Tapi hati maupun sifatnya sangat busuk!" Ming Fengying memegang sarung katananya. "Aku sudah melihat lusinan manusia seperti dia!"


Lin Kin tak habis pikir Jia Wu akan melakukan tindakan tercela. "Wu'er! Aku tidak menyangka kau akan melakukan tindakan tercela seperti ini!" Lin Kin menatap tajam Jia Wu.


Soo Yun menatap wajah Ming Fengying. "Fengfeng, laki-laki itu datang membawa makanan, namun dia tiba-tiba melepas seluruh pakaiannya." Suara isakan tangis Soo Yun terdengar menyayat.


Ming Fengying menatap mata sayu itu. "Apa dia telah menyentuhmu?" Soo Yun menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Dia datang dan langsung melepas pakaiannya. Aku ketakutan. Tapi aku bersyukur kamu datang kembali." Soo Yun membenamkan wajahnya pada dada Ming Fengying. "Aku takut, Fengfeng!"


Ming Fengying merasa lega karena Jia Wu belum menyentuh Soo Yun sedikitpun. "Ya, tenang saja. Ini kesalahanku. Kupikir dia tidak akan berani bertindak seperti ini. Tetapi aku tidak menyangka dia akan terang-terangan untuk menuntaskan nafsu bejatnya."


Ming Fengying mengecup kening Soo Yun. "Yunyun, ini kesalahanku. Aku berniat meninggalkanmu karena ingin memancing orang ini. Dia memiliki hubungan dengan kegelapan yang terjadi di Kota Jinning," terang Ming Fengying.


Soo Yun menggelengkan kepalanya. "Aku tahu itu. Tapi aku takut, Fengfeng!" Gadis bermata sayu itu menangis kembali.

__ADS_1


Ming Fengying menjadi merasa bersalah dan menampar pipinya. Tangisan Soo Yun langsung berhenti.


"Fengfeng..." Soo Yun kebingungan melihat Ming Fengying yang terus menampar wajahnya.


"Ini adalah bentuk penyesalanku, Yunyun. Ini yang terakhir. Ini yang terakhir kali aku membuatmu menangis karena ketakutan!" Ming Fengying menatap wajah Soo Yun dengan kedua pipi yang merah. "Lain kali jika kamu menangis, maka tangisan itu adalah tangisan kebahagiaan."


Kemudian Ming Fengying menarik tangan Soo Yun dan mendekati Jia Wu yang sedang di bawa Lin Kin menuju luar kamar.


"Wu'er. Mulai hari kamu bukanlah muridku! Kau suduh bebas! Dan bukan lagi anggota Sekte Taman Langit!" Perkataan Lin Kin membuat Jia Wu tertawa.


"Siapa yang peduli dengan itu, hah!" Jia Wu berteriak pada Lin Kin. "Aku tidak tertarik dengan kursi kepemimpinan sekte! Aku hanya tertarik pada uang dan wanita!"


Lin Kin mengernyitkan dahinya. Sedangkan Ming Fengying merasa Jia Wu lebih cepat berubah menjadi orang seperti sekarang ini dibanding dengan apa yang dia ingat.


"Tunggu saja! Aku yang akan terakhir tertawa! Dan kalian semua akan kubuat menyesal karena telah berurusan denganku!" Lin Kin memukul perut Jia Wu dengan telak. Dalam sekali pukulan, Jia Wu langsung ambruk ke lantai.


Shingen menghela napas panjang. "Lin Kin. Aku rasa dia memiliki informasi yang berharga. Dari perkataannya, dia memiliki keyakinan yang tinggi. Orang seperti dia biasanya telah diam-diam akan melakukan kudeta untuk menjatuhkanmu." Mata Shingen menatap tajam Jia Wu yang meringis kesakitan sembari tertawa lirih.


"Aku akan membawa dia ke Ruang Penghakiman Langit." Lin Kin menarik kerah baju Jia Wu dan menyeretnya.


Shingen mengikuti Lin Kin dari belakang, namun Ming Fengying lebih memilih menenangkan Soo Yun dan mencerna perkataan Jia Wu karena pria tersebut terlihat menyembunyikan sesuatu.


Ming Fengying merasa Jia Wu hanyalah satu dari sebagian pendekar sekte aliran putih yang bekerja sama dengan Pangeran She. Namun yang sedang dia pikirkan sekarang adalah orang yang ada di belakang Pangeran She.


Karena wajah Jia Wu terlihat tidak takut dan tidak peduli dengan keberadaan Shingen maupun Lin Kin. Membuat Ming Fengying beranggapan jika Jia Wu memiliki rekan yang kuat dan tidak terduga olehnya.


"Apa dia menjadi bagian dari Sekte Cakrawala Hitam?" Ming Fengying menebak. Tapi jika dia pikir dengan kasus Yan Xiang yang meninggalkan Sekte Taman Langit dan menjadi salah satu ketua dari Sekte Mawar Hitam maka kemungkinan besar kasus serupa akan terjadi pada Jia Wu. Mengingat Jia Wu dapat membantah perkataan Lin Kin.


"Tapi ini adalah saat yang tepat untuk melemahkan aliran putih. Dan kemungkinan aliran hitam juga akan berpikiran sepertiku," batin Ming Fengying, setelah itu Ming Fengying dan Soo Yun kembali masuk ke dalam kamar.


Setelah sampai di ranjang, Ming Fengying dan Soo Yun tidur seranjang. Ming Fengying menemani Soo Yun hingga gadis bermata sayu itu tertidur lelap.

__ADS_1


Mata Ming Fengying menatap pintu kamar yang hancur setengahnya. "Aku akan mengamati Jia Wu dari sini." Lalu Ming Fengying berjalan menghampiri jendela dan mengambil burung merpati yang dia ikat kakinya di kayu.


Burung merpati yang dia temukan kemarin malam saat sedang melatih mengontrol aura tubuhnya.


__ADS_2