Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 43 : Berumur Lima Tahun


__ADS_3

"Ying'er!" teriak Ming Lian ketika membuka kamar anaknya yang tidak terdapat orang di dalamnya.


Tao Lulu menghampiri Ming Lian, tidak disangka oleh Tao Lulu melihat kenakalan Ming Fengying yang selalu pergi keluar Istana Pinyin selama berhari - hari.


"Tuan Putri, kemarin Ying'er pergi ke Hutan Impian..." ucap Tao Lulu mencoba menenangkan Ming Lian yang sedang terlihat marah karena anaknya yang telah berumur lima tahun itu tidak ada di dalam Istana Pinyin.


"Saat itu Ying'er begitu menggemaskan, sebenarnya Ying'er mengikuti sifat siapa?" ucap Ming Lian geram melihat Shingen yang baru bangun dan terlihat suaminya itu sedang menguap.


"Ada apa sayang?" tanya Shingen ketika melihat Ming Lian menatap dirinya dengan tatapan tajam.


Ming Lian berdecak kesal kemudian dia memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh dari Shingen.


"Tuan Putri ngambek..." batin Tao Lulu melihat Ming Lain yang kembali masuk ke kamarnya.


Shingen keheranan melihat istrinya yang pagi - pagi sudah marah kemudian dia membuka pintu kamar anaknya.


"Kenshin!" teriak Shingen ketika melihat kamar anaknya kosong.


Tao Lulu menghela napas panjang karena melihat reaksi Shingen yang sama dengan Ming Lian.


"Sayang, anak kita namanya Ming Fengying!" teriak Ming Lian dari dalam kamarnya.


Shingen berkeringat dingin ketika ditegur Ming Lian kemudian dia bergegas pergi ke pemandian air panas yang ada di Istana Pinyin.


Setelah Ming Fengying berumur lima tahun, Shingen membuatkan kamar pribadi untuk anaknya itu. Setiap hari Ming Fengying selalu pergi entah kemana dan membuat kedua orang tuanya khawatir.


Ming Fengying tumbuh menjadi lelaki berparas tampan dan sama seperti Shingen dia mempunyai perawakan yang dingin dan terkesan garang.

__ADS_1


Banyak yang berubah semenjak pertempuran malam berdarah di Bei. Empat tahun lalu Tao Lulu dan Toramasa telah menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri. Tao Lulu sampai saat ini belum mempunyai seorang anak.


Sifat Tao Lulu tidak banyak berubah setelah menikah dengan Toramasa, kesukaannya dalam mempelajari ilmu pengobatan sampai - sampai melupakan Toramasa yang telah menjadi suaminya.


Nama Tao Lulu semakin di kenal dalam dunia persilatan setelah menemukan beberapa obat untuk penyakit yang sulit disembuhkan. Empat Peri Obat Kuru bukan julukan semata untuk Tao Lulu, semakin terkenal namanya semakin membuat nama Ming Lian disegani karena mempunyai seorang tangan kanan yang sangat berbakat.


Tao Lulu mengikuti resep yang ditulis Minh Fengying, semua butuh perjuangan yang berarti karena Tao Lulu tidak dengan mudah membuat obatnya. Resep yang diberi Ming Fengying berkali - kali mengalami kegagalan dan yang menjadi bahan percobaan untuk mencoba obat buatan Tao Lulu tak lain adalah suaminya sendiri yaitu Toramasa.


Di dalam pemandian air panas, Shingen sedang berendam sambil menikmati setiap sensasi panas yang menyeruak masuk ke seluruh sela - sela tubuhnya.


"Tidak kusangka Kenshin tumbuh menjadi anak yang bebas..." gumam Shingen mengingat Ming Fengying ketika masih bayi tetapi setelah berumur empat tahun anak kesayangannya itu menjadi seorang anak yang bebas berkelana.


"Sepertinya Kenshin mengikutiku. Seorang anak memang sangat mirip dengan ayahnya." ucap Shingen sambil tertawa terbahak - bahak.


Di sebelah pemandian pribadi air panas yang digunakan Shingen di sana ada Ming Lian bersama Tao Lulu.


Shingen membagi dua pemandian air panas, pemandian sebelah kanan adalah pemandian yang sering dia gunakan bersama Ming Fengying sedangkan pemandian sebelah kiri adalah tempat mandi Ming Lian bersama Tao Lulu.


Tao Lulu sedang menggosok punggung Ming Lian yang mulus dan putih itu dengan lembut. Ming Lian menikmati sentuhan tangan Tao Lulu yang terasa memijat seluruh bagian kulitnya dengan sangat lembut.


Ming Lian mendengar Shingen tertawa terbahak - bahak di sebelah. Mengingat dirinya yang khawatir pada Ming Fengying akhir - akhir ini membuat Ming Lian langsung berdiri dan mengambil ember kemudian melemparnya ke arah pemandian air panas yang digunakan Shingen.


Tao Lulu menahan tawa melihat tingkah Ming Lian yang sangat lucu di matanya itu. Suara teriakan Shingen terdengar ketika kepalanya terkena lemparan ember yang dilempar Ming Lian.


"Sayang, kenapa kamu melemparku!" teriak Shingen dari sebelah.


Ming Lian tidak peduli dan berendam di kolam air panas sambil menikmati sensasi air panas yang menyeruak masuk ke dalam sela - sela tubuhnya.

__ADS_1


"Dasar suami tidak peka..." gumam Ming Lian membuat gelembung di dalam air.


Tao Lulu kemudian membasuh kembali badan Ming Lian seperti biasa. Sudah biasa bagi Tao Lulu yang melihat Ming Lian ngambek dan marah pada Shingen.


"Tuan Putri tenang saja. Aku yakin nanti sore Ying'er kembali." ujar Tao Lulu mencoba menenangkan Ming Lian.


"Lulu, menurutmu Ying'er pergi kemana? Aku takut kalau dia tersesat?" tanya Ming Lian sambil mengembungkan pipinya.


"Eh... sepertinya Ying'er pergi ke Hutan Impian..." jawab Tao Lulu pelan karena dia sendiri tidak tahu Ming Fengying pergi kemana.


Ming Lian menghela napas panjang setelah mendengar jawaban Tao Lulu yang tidak meyakinkan. Tubuh Ming Lian terasa lebih segar kemudian dia keluar dari pemandian air panas menuju kamarnya.


Tao Lulu merasa bersalah karena membiarkan Ming Fengying keliaran dan tidak mengawasinya dengan benar. Puas berendam di pemandian air panas, Tao Lulu juga keluar mengikuti Ming Lian dari belakang.


Shingen yang sedang di sebelah pemandian air panas menghela napas panjang sambil memegangi kepalanya yang benjol karena lemparan ember Ming Lian.


Sementara itu sosok anak muda yang telah berumur lima tahun tersesat hingga dirinya berada di sebuah tempat yang penuh dengan bebatuan.


"Tempat yang dulu dikenal dengan Lembah Batu..." gumam Ming Fengying menatap bebatuan yang bermacam - macam bentuknya dari yang kecil seperti seekor semut hingga yang besar sebesar seekor gajah.


Ming Fengying sedang berlatih mengolah pernapasan dan berlari semalaman untuk meningkatkan staminanya tetapi tanpa sadar dia pergi terlalu jauh dari Kota Pinyin.


"Sepertinya aku bisa melihat Sekte Lembah Batu di kehidupan kali ini..." gumam Ming Fengying ketika melihat tempat kediaman Sekte Lembah Batu yang berada di antara bukit yang dipenuhi bebatuan.


Ming Fengying mempercepat langkahnya kemudian dia melihat sebuah gerbang yang terbuat dari batu. Mata Ming Fengying tertuju pada dua penjaga berbadan besar dan kekar yang menjaga pintu masuk Sekte Lembah Batu.


"Sepertinya akan merepotkan..." batin Ming Fengying menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung pada dua pria yang berbadan besar dan kekar menatap tajam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2