Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 49 : Sampai Bertemu Empat Tahun Kemudian


__ADS_3

Satu minggu telah terlewati, di ruang makan megah yang ada di Istana Pinyin, meja makan disana penuh dengan makanan mewah. Di kursi yang ada di depan meja makan terlihat Shingen, Ming Lian, dan Ming Fengying sedang makan bersama. Keluarga bahagia itu sedang menikmati makanan yang telah disiapkan pelayan Istana Pinyin.


Selesai makan bersama kedua orang tuanya, sebenarnya Ming Fengying berniat pergi menemui Yuan Shi tetapi Ming Lian masih ingin Ming Fengying agar tetap di Istana Pinyin. Tidak menolak dan tidak membantah perintah ibunya, Ming Fengying menemui Tao Lulu dan memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh Tao Shi.


Tao Lulu dan Toramasa adalah sepasang suami istri yang aneh di mata Ming Fengying, memang keduanya telah menikah tetapi Tao Lulu lebih sering tinggal di Istana Pinyin daripada rumah yang dibeli Toramasa di Kota Pinyin. Toramasa sendiri jarang tidur di rumahnya yang ada di Kota Pinyin, Asrama Sepuluh Pilar Rembulan menjadi pilihan bagi Toramasa untuk menjadi tempat istirahatnya ketika Tao Lulu tidak pulang ke rumah.


"Bibi Lulu, apa sudah jadi manisan jahenya?" tanya Ming Fengying pada Tao Lulu.


Tao Lulu tersenyum dan memberikan dua minuman pada Ming Fengying, minuman yang satu manisan dan yang satunya adalah pahitan.


"Sudah jadi Ying'er. Minum dua - duanya dan harus habis." Tao Lulu memberikan minuman manisan dan pahitan pada Ming Fengying.


"Walau telah hidup selama 122 tahun tetap saja aku masih tidak menyukai minuman pahit. Hidupku saja saat itu sudah pahit, jika aku harus minum pahitan setiap hari maka hidupku saat itu akan lebih pahit lagi." ucap Ming Fengying ketika kedua tangannya menerima manisan dan pahitan yang diberikan Tao Lulu.


"122 tahun? Kamu ngomong apa Ying'er?" Tao Lulu menaikan alisnya mendengar ucapan Ming Fengying. Terlihat senyuman lebar di wajah tabib perempuan tersebut karena penasaran.


"Bibi Lulu, aku tidak mau minum ini." Ming Fengying menyodorkan pahitan yang dia pegang pada Tao Lulu. Ming Fengying sengaja bersikap seperti anak kecil pada umumnya tetapi Tao Lulu tidak menerima pahitan yang telah dibuat olehnya hanya untuk diminum Ming Fengying itu.


"Ying'er, ambil pelajaran dari dua minuman ini. Dua minuman manis dan pahit ini sama dengan kehidupan. Hidup jika terlalu manis atau lancar tidak ada hambatan dan tidak pernah merasakan pahitnya kehidupan maka orang itu tidak akan pernah berkembang." ujar Tap Lulu sambil menyentuh gelas minuman manisan yang dipegang Ming Fengying.


"Dan pahitan, tentunya banyak orang yang tidak ingin hidup sengsara dan susah seperti rasa minuman pahit ini. Tapi, mereka tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh tuhan pada mereka, pada akhirnya hidup mereka tidak bahagia dan selalu resah, semua sudah ada porsinya masing - masing tinggal bagaimana cara kita menyikapinya dan mensyukurinya," tangan Tao Lulu menyentuh gelas minuman pahitan yang dipegang Ming Fengying, tidak berapa lama kedua jari telunjuk Tao Lulu menyentuh kedua gelas minuman pahitan dan manisan, "pahit dan manisnya kehidupan ini sama seperti dua minuman ini, orang sukses pasti pernah merasakan pahit sebelum membuahkan hasil yang manis. Untuk lebih berkembang seseorang harus merasakan maupun mengalami pahit dan manisnya kehidupan, Ying'er."


Ming Fengying menghela napas panjang, "Tapi ini lain ceritanya, Bibi Lulu," tangan Ming Fengying kembali menyodorkan minuman pahitan pada Tao Lulu, "Aku sangat menyukai minuman manisan yang dibuat Bibi Lulu."


Ming Fengying sengaja merayu Tao Lulu dan tersenyum tipis ketika melihat tangan Tao Lulu menutup mulutnya.


"Ying'er!" suara Ming Lian dari belakang Ming Fengying terdengar.


"Ternyata Bibi Lulu sedang menahan tawa!" umpat Ming Fengying karena mengira Tao Lulu terharu dengan ucapannya.


Ming Fengying duduk di kursi dan langsung meminum habis pahitan yang dibuat Tao Lulu, "Enak, minuman buatan Bibi Lulu enak kok, Bunda," Setelah meminum habis pahitan, Ming Fengying kembali meminum manisan, "Manisan buatan Bibi Lulu memang yang terbaik."


"Ying'er, burung beo di kamarmu itu belum dikasih makan. Kalau pelihara hewan, yang bener peliharanya." tegur Ming Lian dengan dua tangannya yang memegang pinggangnya.

__ADS_1


Ming Fengying tersenyum sambil menggaruk kepalanya dan berjalan kembali ke kamarnya. Akhir - akhir ini dia selalu diawasi Ming Lian dengan ketat, belakangan ini Ming Fengying selalu kabur dari rumah dan pergi entah kemana. Ming Lian khawatir pada Ming Fengying, bagaimanapun juga Ming Fengying adalah putra kesayangannya.


"Beo... beo..." Ming Fengying menyanyi pelan sambil membawa kurungan burung beo yang ia taruh di pojok kamarnya keluar Istana Pinyin.


Sesampainya di depan Istana Pinyin, Ming Fengying duduk di bangku taman dan bersantai sambil melepaskan burung beo betina yang telah menjadi peliharaannya.


"Anak lembah batu itu, apa dia baik - baik saja?" Ming Fengying menyandarkan kepalanya di bangku taman sambil matanya menatap langit.


Angin sepoi - sepoi yang menerpa tubuhnya membuat dirinya begitu menikmati suasana yang sedang dia nikmati ini, perlahan matanya memejam dan terlintas bayangan sosok perempuan yang tersenyum padanya.


Feng Huang


Suara Harumi terdengar di telinga Ming Fengying, sangat tidak dia sangka walau bereinkarnasi kembali tetap saja Ming Fengying masih memikirkan Harumi.


"Tuan muda!" teriak Yuan Shi dari arah depan Kota Pinyin.


Mata Ming Fengying terarah pada Yuan Shi yang melambaikan tangan padanya, tubuhnya penuh luka dan terlihat anak muda itu seperti habis bertarung dengan seseorang.


"Tidak sopan. Aku Yuan Shi, namaku Yuan Shi." celetuk Yuan Shi sambil mencium badannya yang bau keringat karena dia habis berlatih bersama anggota samurai Sepuluh Pilar Rembulan.


"Tuan muda-" raut wajah Yuan Shi terlihat serius.


"Panggil aku Feng saja..." potong Ming Fengying dengan santai sambil menatap Yuan Shi serius.


"Feng? Fengying maksudmu?" tanya Yuan Shi kebingungan.


"Feng Huang itulah namaku di kehidupan lamaku," jawab Ming Fengying santai.


"Tuan muda, aku tahu tuan muda bertemu dengan Penjaga Ding tetapi aku tidak menyangka tuan muda akan terpengaruh halusinasinya." balas Yuan Shi sambil menjaga jarak dengan Ming Fengying.


Ming Fengying baru sadar jika dirinya telah mengatakan hal yang tidak perlu, komunikasinya masih kurang ketika berbicara dengan orang lain selain Shingen, Ming Lian dan Tao Lulu.


"Lupakan perkataanku tadi. Panggil aku Ming, Feng, Ying, Fengying ataupun Ming Fengying juga boleh. Terserah kau panggil aku apa diantara lima pilihan itu." ujar Ming Fengying dengan nada yang masih santai.

__ADS_1


"Aku panggil Feng saja." sahut Yuan Shi sambil duduk di samping Ming Fengying.


"Feng, aku akan berlatih bersama samurai di Asrama Sepuluh Pilar Rembulan. Aku mengikutimu karena aku mewarisi kekuatan batu surgawi dari leluhur Lembah Batu." ucap Yuan Shi pada Ming Fengying.


"Aku mempunyai ambisi sendiri, aku akan berlatih menjadi seorang samurai selama empat tahun, sampai saat itu tiba aku tidak akan menemuimu. Apa kau setuju dengan permohonanku ini?" tambah Yuan Shi.


"Aku tidak masalah dengan itu. Lakukan sesukamu saja, tapi lupakan dulu hal itu. Tadi aku dengar kau memiliki kekuatan batu surgawi?" Ming Fengying menatap Yuan Shi tajam penuh rasa penasaran.


"Baiklah. Tentang itu aku harus ceritakan dari mana ya, di Kuil Batu ada cawan yang berisi air tetapi air di dalam cawan tersebut tidak penuh, ketika airnya berwarna terang maka orang yang terpilih akan meminum air di dalam cawan tersebut." Yuan Shi memijat keningnya mencoba menjelaskan pada Ming Fengying karena dia tidak terlalu mengerti tentang air yang ada di cawan suci.


"Lebih tepatnya, setelah meminum air itu aku mempunyai kekuatan memanipulasi batu." tambah Yuan Shi.


Yuan Shi berdiri dan tangannya mengepal, "Lihat ini, Feng," tangan Yuan Shi dilapisi batu bahkan kulitnya berubah menjadi batu, "Ini adalah kekuatan dari air yang ada di cawan suci itu."


Ming Fengying mengerutkan dahinya, "Hebat, kau seperti manusia batu," wajahnya kembali tenang dan terlihat tidak peduli, "tanganmu bahkan menjadi batu."


"Jangan mengejekku!" bentak Yuan Shi pada Ming Fengying.


"Tidak. Tidak. Aku memujimu, beneran aku memujimu." Ming Fengying tersenyum sambil menahan tubuh Yuan Shi.


"Oh, baiklah, jika kau berkata seperti itu..." emosi Yuan Shi mereda.


"Kenapa kau tertarik menjadi seorang samurai?" tanya Ming Fengying pada Yuan Shi.


"Apa? Apa kau ingin menghina impianku juga? Hanya karena aku bukan orang Yamato, aku tidak boleh menjadi samurai?" Yuan Shi terlihat sinis menatap Ming Fengying.


"Tidak. Aku hanya ingin bertanya saja." jawab Ming Fengying sambil berdiri dan beranjak pergi untuk membersihkan sangkar burung beo peliharaannya.


"Kita akan bertemu empat tahun lagi. Saat itu tiba umurku telah sembilan tahun." Ming Fengying melambaikan tangannya pada Yuan Shi dan beranjak pergi.


Yuan Shi tersenyum karena Ming Fengying sama sekali tidak menertawakan impiannya, matanya menatap punggung Ming Fengying yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


"Cucu kaisar yang aneh."

__ADS_1


__ADS_2